
"Pa, kamu dari mana? Kenapa enggak bilang kalau kamu keluar bersama Ahmad? Kalau tahu begitu aku enggak perlu minta si Bibik memasakan makanan kesukaanmu." Miranda bergegas menghampiri Jonathan saat pria dengan tinggi badan hampir mencapai 200 cm baru saja memasuki ruang keluarga.
Jonathan menghentikan langkah dan menatap sang istri begitu lama dalam kediaman. Semenjak kejadian kemarin pagi ia memang sama sekali tidak berbicara dengan Miranda, seakan tengah menunjukan bahwa dirinya kecewa akan sikap istrinya yang tega merusak rumah tangga putra kesayangan mereka.
Miranda mendesaah pelan saat menyadari sorot mata ketidakramahan terlukis jelas di wajah lelaki yang telah mendampinginya bertahun-tahun.
"Pa, aku tahu kamu masih marah soal kejadian kemarin. Namun, sungguh aku melakukan itu semua demi kebaikan anak kita. Xander membutuhkan seseorang yang sepadan dengannya bukan perempuan miskin yang hanya bisa menghabiskan uang suami tanpa membantu perekonomian keluarga."
"Memang apa salahnya jika Tania miskin? Bukankah di mata Tuhan semua orang itu sama? Kaya ataupun miskin bukan jaminan seseorang akan masuk surga. Amal kebaikan yang membawa mereka masuk surga, Ma," sahut Jonathan. Kepala terasa pening karena Miranda tetap menganggap bahwa harta kekayaan adalah hal utama dalam hidup ini.
"Lagi pula, mencari nafkah dan mensejahterakan keluarga merupakan tugas dan tanggung jawab seorang suami. Jadi, jangan salahkan Tania jika saat berstatuskan istri Xander, dia enggak bekerja di kantoran. Jangan juga salahkan Tania jika dia menghabiskan uang pemberian suaminya toh Xander sendiri dengan suka rela memberikan black card miliknya kepada mantan menantu kita. Lalu kenapa kamu malah ikut campur dalam urusan rumah tangga anakmu sendiri?" skak Jonathan yang mana perkataan ini membungkam mulut Miranda.
"Aku memaklumi kenapa kamu enggak bisa menerima Tania menjadi salah satu bagian dari keluarga kita. Namun, menjebak Tania seolah-olah tengah selingkuh dengan Abraham, bukanlah perbuatan terpuji. Kamu lihat sekarang akibat keegoisanmu banyak orang menjadi korbannya termasuk anakmu sendiri." Jonathan menatap nanar akan sosok perempuan di sebelahnya. "Kamu sudah menghancurkan kepercayaan Xander dan merusak hubungan persaudaraan antara anak dan keponakanmu sendiri hingga mereka bermusuhan sekarang."
"Kamu pun tega merusak nama baik Abraham di depan semua anggota keluarga Pramono sampai-sampai dia diusir dan enggak dianggap anak lagi oleh Amanda. Itu semua karena keegoisanmu, Ma." Meluap sudah kekesalan Jonathan yang dipendam sejak kemarin siang.
Kemarin siang Jonathan tidak banyak bicara karena masih syokpl dan membutuhkan ruang agar dapat mengendalikan emosi yang telah mencapai ubun-ubun. Oleh karena itu, ia lebih menghindari daripada terjadi suatu hal yang tidak diinginkan.
"Kenapa kamu begitu peduli terhadap wanita itu? Apa jangan-jangan kamu menaruh hati padanya, iya?" Miranda mengeram dalam. Tidak terima jika dirinya dicecar sedemikian rupa oleh Jonathan.
__ADS_1
Jonathan menghela napas kasar. Kepala bergerak ke kanan dan kiri, tidak mengerti kenapa Miranda bisa berpikiran begitu terhadap dirinya dan juga Tania.
"Omong kosong! Aku udah menganggap Tania seperti anakku sendiri. Jadi, bagaimana bisa aku jatuh cinta pada menantuku sendiri." Jonathan menjeda sejenak kalimatnya. Menarik napas dalam kemudian mengembuskan secara perlahan. "Tania adalah perempuan mandiri, kuat, tetapi lemah lembut di dalam. Hal itulah yang membuat aku yakin bahwa dia adalah sosok perempuan tepat untuk Xander. Mantan menantu kita bisa menerima segala kekurangan yang ada dalam diri Xander, termasuk sifat kekanak-kanakannya."
"Tapi dia miskin, Pa. Enggak sederajat dengan kita." Miranda keukeh dengan pendiriannya.
Jonathan menyunggingkan senyuman sinis kepada Miranda. "Aku ingin tahu apa kamu masih akan bersikap sombong setelah mengetahui bahwa perusahaan kita mengalami kerugian yang sangat besar akibat data perusahaan berhasil diretas oleh seorang hacker. Dia meminta imbalan yang sangat besar, nyaris menguras seluruh tabungan kita di bank."
Miranda yang saat itu tengah mengepalkan telapak tangan sontak dibuat terkejut akan berita yang baru saja disampaikan Jonathan.
"Apa? Jadi maksudmu perusahaan kita terancam bangkrut, begitu?" Jonathan hanya menganggukan kepala sebagai jawaban. "Enggak! Semua ini enggak boleh terjadi! Aku enggak mau miskin, Pa!"
Melihat betapa terkejutnya Miranda setelah mendengar kenyataan bahwa perusahaan nyaris bangkrut membuat sudut bibir Jonathan tertarik ke atas, tersenyum samar bahkan tak ada satu orang pun sadar bahwa lelaki bertubuh jangkung itu tengah tersenyum. Jonathan Vincent--pria kelahiran New York, Amerika Serikat, lima puluh lima tahun lalu terpaksa berbohong mengatakan perusahaan yang dibangunnya sejak dulu tengah dilanda gonjang ganjing karena ingin memberi sedikit pelajaran kepada Miranda agar tidak meremehkan orang yang mana statusnya lebih rendah dari mereka.
Selama ini Jonathan terlalu lembek mendidik Miranda hingga perempuan itu semakin berulah dan puncak kesalahannya saat menjebak Tania dengan tujuan mendepat wanita baik itu menjauh dari keluarga Vincent Pramono.
"Tapi inilah kenyataannya, Ma. Perusahaan yang kubangun dari nol nyaris gulung tikar. Tim IT perusahaan enggak mampu melawan serangan hacker itu. Virus yang diberikan ke perusahaan sangat berbahaya hingga membekukan 80% data perusahaan." Jonathan mulai berakting di hadapan Miranda. Ia kerahkan seluruh kemampuannya untuk mengelabui sang istri.
Persetan dengan prinsip pernikahan yang dijunjung tinggi selama membina rumah tangga bersama Miranda jika pria berwajah tampan itu tak mampu mendidik istrinya agar menjadi insan yang lebih baik lagi.
__ADS_1
Masih diliputi rasa terkejut, Miranda berkata, "Lalu, kenapa orang kepercayaanku enggak ngasih tahu berita ini padaku? Kenapa dia enggak laporan sama aku, Pa?"
Jonathan mengulum senyum saat melihat betapa frustasinya Miranda saat ini. Ingin sekali tertawa terbahak karena sukses membuat istrinya kelimpungan. Namun, ia harus menahan keinginan itu demi menjalankan misinya.
"Karena aku yang meminta orang kepercayaanmu untuk enggak memberitahu kamu. Aku hanya enggak mau kamu jatuh sakit karena terlalu memikirkan berita ini. Akan tetapi, kondisi semakin enggak terkendali dan dengan sangat terpaksa aku harus memberitahumu."
Lemas sudah tubuh Miranda detik itu juga. Punggung wanita itu bersandar dengan tatapan mata kosong, memandang lurus ke depan. Tidak percaya jika saat ini harta kekayaan yang diagungkan sirna dalam sekejap mata.
Ayah satu orang anak duduk di sofa sebelah Miranda. "Oleh karena itu, kita harus mulai hidup hemat, Ma, untuk meminalisir pengeluaran. Kamu enggak bisa shopping sesuka hati, kumpul bareng teman-teman geng sosialitamu demi menghemat pengeluaran. Perusahaan membutuhkan biaya besar agar usahaku enggak tutup," tutur pria itu.
Miranda memaksakan diri menoleh ke arah suaminya. "Apa itu artinya kita akan pindah dari rumah ini dan tinggal di rumah yang lebih kecil lagi? Apa itu artinya aku enggak bisa foya-foya seperti dulu lagi?"
Jonathan mengangguk pelan. "Benar. Mulai malam ini kita harus bersiap untuk pindah ke lingkungan baru. Akan ada satu orang asisten yang ikut bersama kita. Aku enggak sanggup jika harus membawa semua pelayan, tukang kebun dan satpam rumah ini."
"Apes banget hidupku!" tutur Miranda sembari menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
Maafkan aku, Ma. Kamu pasti sulit menerima kenyataan ini. Namun, aku terpaksa melakukannya demi kebaikanmu sendiri. Aku hanya ingin kamu enggak lagi sombong karena merasa lebih tinggi derajatnya dari orang lain, kata Jonathan. Semoga kelak kamu memaafkanku jika kebenaran ini terungkap.
...***...
__ADS_1