Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Rencana Miranda


__ADS_3

Selama berbulan madu, tanggung jawab V Pramono Group diambil alih oleh Jonathan selaku pemiliki sekaligus pemegang saham terbesar di perusahaan. Pria paruh baya yang masih tampak energik di usianya yang tak lagi senja begitu bersemangat menjalankan tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin. Dibantu Ibrahim, ia mengerjakan tugas tersebut dengan baik.


"Permisi, Tuan Jonathan. Di depan ada Nyonya Miranda dan meminta izin untuk menemui Anda." Suara berat Ibrahim menghentikan sejenak kegiatan Jonathan dari layar monitor yang ada di depannya.


Menghunus tatapan tajam ke arah Ibrahim. Tatapan mata pria itu menunjukan ketidaksukaannya atas laporan yang disampaikan asisten pribadi sang putera.


"Kenapa tidak langsung minta istriku masuk ke dalam ruangan? Kenapa kamu malah membiarkan Miranda menunggu lama di luar sana?" ujar Jonathan dengan nada sinis.


Jonathan paling tidak suka jika wanita yang telah memberinya satu orang putera dibuat kesusahan akibat ulah Ibrahim. Terlebih kondisi Miranda masih belum membaik jadi ia sangat mencemaskan keadaan istri tercinta jika menunggunya terlalu lama di luar.


Menundukan kepala, merasa bersalah karena tidak segera memperbolehkan Miranda masuk ke ruangan. "Maafkan saya, Tuan. Tadi saya pikir Anda sedang sibuk makanya meminta Nyonya Miranda menunggu sebentar di luar."


Jonathan mengangkat tangan ke udara, menyela ucapan Ibrahim. "Persilakan Miranda masuk ke dalam. Oh ya, lain kali kalau istriku datang lagi ke sini jangan dipersulit! Segera bukakan pintu dan minta dia ke ruangan ini. Mengerti?"


Dengan cepat Ibrahim menjawab, "Mengerti, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu."


Jonathan bangkit berdiri dari singgasana milik Xander yang dulu sering ia duduki selama menjabat sebagai CEO perusahaan. Ia berjalan menyambut kedatangan istri tercinta. Wajah yang semula terlihat kesal perlahan menerbitkan seulas senyuman manis di bibir.


"Kenapa kamu tidak langsung masuk ke ruangan, sih, Sayang? Kenapa mesti meminta izin terlebih dulu kepada Ibrahim? Kamu itu istriku, pemilik perusahaan ini juga jadi jangan terlalu formal bila ingin menemuiku." Jonathan menangkup wajah Miranda, memandang keindahan sepasang iris coklat di depannya.


Miranda menaikan sudut bibirnya ke atas sehingga membentuk sebuah lengkungan menyerupai busur panah. Ia sentuh punggung sang suami yang masih menangkup wajahnya.


"Aku tahu, tapi rasanya aneh jika tiba-tiba saja masuk ke ruangan ini tanpa meminta izin terlebih dulu. Bagaimana jika saat aku masuk, ternyata kamu sedang sibuk dengan pekerjaanmu? Bukankah kehadiranku malah mengganggu konsentrasimu saja, Pa?"

__ADS_1


Jonathan berdecak kesal mendengarnya. "Mengganggu apa? Justru kehadiranmu memberi semangat kepadaku. Kamu masih ingat tidak betapa bersemangatnya aku saat pertama kali perusahaan ini berdiri? Itu semua karena kamu ada di sisiku, Miranda. Ada kamu, Sayang. Jadi berhentilah berbicara omong kosong seperti tadi."


Miranda terkekeh mendengarnya. "Iya, iya. Lain kali aku akan segera masuk ke ruangan tanpa perlu meminta izin pada Laura maupun Ibrahim."


Dengan gemas Jonathan mencubit ujung hidungnya Miranda sehingga wanita itu mengaduh dibuatnya. "Ini baru namanya istriku."


Jonathan melirik ke arah perawat wanita yang berdiri di belakang kursi roda Miranda. "Sus, kamu bisa tinggalkan ruangan ini sementara. Saya ingin berbicara dengan Miranda secara empat mata."


Suster Nabila yang diamanahkan merawat Miranda mengangguk patuh. "Baik, Tuan."


Sepeninggalnya Nabila, Jonathan mengambil alih tugas perawat wanita itu, mendorong kursi roda Miranda mendekati sofa yang ada di sudut ruangan. Duduk di sebelah sang istri, kemudian menuangkan air putih kepada istrinya.


"Bagaimana terapimu tadi, lancar? Aku harap ada perkembangan setelah mengikuti beberapa kali sesi terapi," ucap Jonathan, berharap banyak Miranda dapat berjalan kembali seperti semula.


Jonathan menarik napas panjang, kemudian mengembuskan secara perlahan. Memaklumi kenapa wajah Miranda berubah murung dari sebelumnya.


"Sabar, mungkin Tuhan masih ingin mengetahui sampai mana batas kesabaranmu. Aku yakin, suatu hari nanti kamu dapat berjalan lagi seperti semula." Jonathan memberi semangat kepada istrinya itu agar tidak mudah putus asa.


Miranda meletakkan gelas bening ke atas meja panjang terbuat dari kaca. Hampir saja melupakan tujuan kedatangannya ke perusahaan Jonathan.


"Oh iya, Pa, aku sengaja datang ke sini karena ingin membahas hal penting denganmu." Wajah yang semula murung berubah serius.


Pria berdarah Amerika mengernyitkan dahi. "Bicara apa, Ma? Kenapa tidak menungguku di rumah saja jika memang ada hal penting yang ingin didiskusikan. Kok kamu sampai repot datang ke kantor segala."

__ADS_1


"Menunggumu pulang kerja, yang ada aku keburu lupa, Pa. Oleh karena itu, aku meminta Pak sopir dan Suster Nabila mengantarkanku ke sini selagi ingat akan hal penting yang mau sampaikan padamu."


"Begini, Pa. Hubunganku dengan Amanda dan Abraham perlahan mulai membaik, kami pun sudah saling memaafkan satu sama lain. Nah, aku berencana meminta Abraham kembali bekerja di perusahaan ini, menempati jabatan yang telah lama ia tinggalkan selama tujuh tahun belakangan karena bagaimanapun, keponakanku punya hak atas perusahaan ini juga."


"Mendiang adik iparku punya beberapa persen saham atas perusahaan ini jadi alangkah baiknya kita meminta Abraham kembali bekerja daripada dia mengurusi perusahaan orang lain, kenapa tidak mengurusi perusahaan ini saja. Aku yakin dengan kekompakan yang dimiliki Abraham dan Xander akan semakin memajukan perusahaan ini."


Miranda melirik ke arah suaminya. "Bagaimana menurutmu? Ideku bagus, tidak?"


"Ide yang bagus." Jonathan menjawab cepat. "Sebetulnya aku sudah memikirkan masalah ini dua atau tiga hari lalu, tatkala menduduki kembali posisi yang Xander tinggalkan untuk sementara. Papa ingin mendiskusikannya denganmu, tapi karena banyak urusan membuatku lupa menyampaikannya kepadamu."


Miranda semringah mendengarnya. "Jadi, kamu setuju untuk menarik Abraham kembali?"


"Tentu saja. Abraham itu pintar, tidak kalah dari putera kita. Jika mereka disatukan maka kejayaan akan diraih perusahaanku ini."


Miranda menepuk tangannya dengan keras sehingga terdengar bunyi nyaring menggema di ruangan. "Yeah, kamu benar, Pa! Baiklah, kalau kamu sudah setuju, nanti malam aku akan pergi mengunjungi Amanda di rumahnya. Sudah dua hari semenjak Xander pergi berbulan madu, kami tak berjumpa. Aku ... merindukan dia."


Jonathan tertawa, perutnya terasa geli melihat ekspresi wajah Miranda saat ini. Istrinya itu seperti tengah merindukan kehadiran sang kekasih, pujaan hati.


"Ya, ya, pergilah mengunjungi adik serta keponakanmu. Aku akan menemanimu menemui mereka. Kita sekalian ajak mereka makan malam di luar, bagaimana?"


Miranda mengangguk tanda setuju. Ia sudah lama tidak makan malam bersama adik serta kedua keponakannya itu. Pertemuan nanti malam bisa dijadikan ajang reuni keluarga setelah tujuh tahun terpisah.


...***...

__ADS_1


__ADS_2