
Melangkahkan kaki, Tania memasuki ruang keluarga dengan jemari tangan masih menggandeng Arsenio. Wajah perempuan itu memerah menahan kekesalan yang ditahan sedari tadi.
"Duduk!" titahnya pada sang anak. Wajah Tania dingin bagaikan es di kutub utara.
Menuruti perintah sang mama, duduk dengan tenang di sofa ruang tamu yang berfungsi juga sebagai ruang keluarga. Bocah kecil berusia enam tahun tampak begitu santai meski tahu telah membangunkan singa betina yang bersemayam dalam diri Tania.
"Arsenio, bisa jelaskan pada Mama, apa yang kamu lakukan di ruangan itu? Bagaimana kamu bisa tahu kalau di hotel itu sedang ada acara pertunangan antara Tuan Xander dan kekasihnya? Lalu, siapa yang mengantarkanmu ke hotel itu, sedangkan Mbak Surti pun sama sekali enggak tahu di mana pesta digelar?" Tania mulai mengintrogasi anak semata wayangnya itu, hasil buah cintanya bersama sang mantan terindah.
Mendongakan kepala, membalas tatapan Tania. Arsenio sama sekali tak terintimidasi dengan sorot mata tajam seakan menghujam sampai ke ulu hati. "Aku sengaja datang ke sana demi membalas kejahatan Om dan Tante jahat pada Mama agar enggak terus menerus menyakitimu. Aku enggak suka ada orang lain menghina dan menjelek-jelekan Mama."
Tania terkejut dan ia memandangi pengasuh Arsenio yang tengah duduk di sebuah sofa terpisah dengan kedua majikannya. Kedua wanita itu saling memandang satu sama lain. Kemudian Surti mengangkat bahu seakan ingin mengatakan jika dia tidak pernah membocorkan percakapan mereka tatkala sedang menggosipkan Lidya.
Selama ini baik Tania maupun Surti beberapa kali terlibat obrolan seru, membahas kelakuan Lidya layaknya perempuan murahan. Wanita pilihan Miranda yang diyakini akan mendatangkan keberuntungan bagi keluarga Vincent dan Pramono, buktinya tidak lebih baik dari Tania bahkan bisa dikatakan Lidya tidak sebanding dengan mantan istri Xander.
Mengembuskan napas kasar, menyingkirkan beban dalam pundaknya. "Lanjutkan ceritamu."
Tampak Arsenio tengah berpikir, apakah ini waktu yang tepat untuk mengatakan pada Tania bahwa sebenarnya dia sudah tahu jika Xander adalah ayah kandungnya atau terus menyembunyikan kebenaran yang ada.
__ADS_1
Setelah menimbang-nimbang akhirnya Arsenio memutuskan untuk mengatakan yang sejujurnya bahwa ia telah mengetahui siapa ayah kandungnya yang sebenarnya.
Kembali menatap iris coklat Tania dengan lekat. Walaupun ragu, Arsenio telah memutuskan berkata jujur pada wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini. "Bagaimana aku bisa tahu kalau Tante jahat itu adalah orang terdekat Om jahat, karena aku pernah melihatnya di kantor Kakek Jonathan sedang bergandengan tangan dan mendengar mereka tampak sibuk membahas urusan orang dewasa."
"Hah? Jadi ... kamu juga kenal dengan Tuan Jonathan?" tanya Tania dengan mata melotot. Belum habis keterkejutannya karena mendapati Arsenio berada di tempat yang sama dengannya, kini ia dikejutkan kembali akan sebuah fakta kalau ternyata Arsenio kenal dengan mantan mertuanya.
Arsenio mengangguk. "Kenal, Ma. Aku pernah beberapa kali datang ke perusahaan Kakek Jo, bahkan Kakek Jo memberikan kartu akses yang bisa kugunakan setiap kali ingin bertemu beliau. Aku tinggal menunjukan kartu itu pada Tante Cantik, kemudian naik ke lantai atas dan duduk di ruang tamu menunggu Kakek Jo.
Detik itu juga tubuh Tania luruh. Ia tak sanggup lagi duduk di posisinya saat ini. Mengusap wajah menggunakan telapak tangan dengan frustasi. Sedikit syok saat mendengar Arsenio mempunyai kartu akses tamu VVIP yang hanya dimiliki segelintir orang penting di perusahaan V Pramono Group. Ia saja yang notabene merupakan orang kepercayaan Johan--untuk mengurusi proyek pembangunan milik V Pramono Group, tak mendapatkan akses khusus padahal sering keluar masuk perusahaan itu, tapi kenapa Arsenio mendapat keistimewaan? Sungguh, Tania tidak mengerti atas apa yang terjadi selama ini menimpa anak tercinta.
"Aku bukan cuma kenal dengan Kakek Jonathan, tapi kami juga punya kesepakatan," sambung Arsenio.
"Kesepakatan untuk membatalkan pesta pertunangan Om dan Tante Jahat. Aku mengajukan syarat itu sebagai upah atas upayaku dalam membantu Kakek Jo, mengembalikan data perusahaan dan menghancurkan virus I hate you, Dad, yang mana virus itu adalah buatanku sendiri."
"Aku terpaksa menciptakan virus itu karena ingin membalas dendam pada Papa. Papa Xander jahat, enggak pernah peduli sama kita berdua. Selama ini Papa Xander enggak pernah pulang ke rumah, dia lupa sama aku dan Mama. Gara-gara Papa Xander, aku sering dihina dan dikatain anak haram." Arsenio menundukan kepala. Kedua tangan itu saling meremas satu sama lain.
Hati Tania bagai ditusuk sebilah pisau yang sangat tajam, menusuk kemudian mengoyaknya hingga menjadi beberapa bagian. Tanpa terasa buliran air mata jatuh membasahi pipi. Perasaan wanita itu hancur berkeping-keping mendengar penuturan Arsenio. Tidak menduga jika selama ini sang anak memendam semua perasaan seorang diri.
__ADS_1
Di saat ini, Tania merasa seperti ibu yang bodoh karena tidak pernah peka terhadap perasaan anak kandungnya sendiri. Dada terasa sesak, seolah udara di sekitar tak mampu menyuplai oksigen ke dalam paru-paru.
Tanpa pikir panjang, Tania segera berhambur mendekati Arsenio. Ia bawa tubuh mungil itu dalam pelukan. "Maafin, Mama, Nak. Mama enggak tahu kalau selama ini kamu hidup menderita. Maafin, Mama, ya, Sayang. Akibat kesalahan Mama yang menyembunyikan sebuah kebenaran membuatmu menjadi bahan bully-an teman-teman sekolah." Jemari tangan lentik mengusap punggung Arsenio dengan begitu lembut. Walaupun air mata terus mengalir di sudut mata, tapi ia tetap membelai lembut anak tercinta.
Surti yang sedari tadi duduk dengan gelisah di sebuah sofa ikut meneteskan air mata. Tak menduga jika anak asuhnya itu mempunyai sebuah kisah yang kurang mengenakan di masa lalu.
Dalam pelukan Tania, Arsenio pun tak kuasa menahan tangis. Untuk pertama kalinya bocah kecil itu menangis, mencurahkan isi hatinya yang terpendam selama ini. "Papa jahat, Ma. Papa tega meninggalkan kita agar bisa hidup bahagia dengan perempuan lain. Aku benci, Papa. Sangat membencinya."
"Sst! Jangan berkata begitu! Papa enggak seburuk yang kamu bayangkan," tukas Tania sambil mengurai pelukan mereka. "Arsenio, sayang-nya Mama, dengarkan baik-baik. Papa bukan orang jahat. Papamu enggak pernah ninggalin kita. Mama dan Papa berpisah karena ada penyebab yang membuat kami harus hidup terpisah."
Bola mata hazel yang memerah dan masih mengeluarkan air mata menatap lekat manik indah sang mama. "Penyebab apa, Ma?" tanya bocah itu polos.
Ya, walaupun kecerdasan Arsenio di atas rata-rata, tetapi bocah itu masih belum mengerti masalah apa yang terjadi pada orang dewasa terlebih dalam hubungan rumah tangga kedua orang tuanya.
Tania mencoba memaksakan diri untuk tersenyum. Ia ulurkan tangan ke depan, mengusut sudut mata anak tercinta menggunakan punggung tangan jari telunjuk. "Ada beberapa hal yang enggak bisa Mama ceritakan ke kamu, tapi hanya bisa dipahami oleh orang dewasa. Namun, satu hal yang pasti Papa Xander bukan orang jahat. Dia enggak pernah ninggalin kamu dan Mama. Mamalah yang salah karena enggak pernah bilang sama Papa, kalau ada kamu dalam kehidupan kami." Tania menjeda sejenak kalimatnya. Menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. "Mama minta, mulai hari ini jangan pernah membenci Papa Xander lagi. Bagaimanapun, dia adalah Papamu. Seseorang yang wajib Arsen hormati selain Mama. Mengerti?"
.
__ADS_1
.
.