Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Rencana Pertama Xander


__ADS_3

Melihat bagaimana kedekatan Abraham dan Tania tadi siang di café membuat dada Xander kembang kempis. Segala macam umpatan terus meluncur di bibir pria kelahiran tiga puluh tahun silam.


Hari ini Xander berencana menemui Jonathan di perusahaan guna memastikan apakah benar kini kedua orang tuanya sudah tak lagi tinggal di rumah bergaya Eropa, rumah yang sedari dulu menjadi tempat mereka bernaung dari panasnya terik matahari dan guyuran air hujan. Akan tetapi, belum sempat menemui sang papa, lelaki itu mendapati mantan istri tercinta tengah duduk berduaan dengan Abraham.


"Sialan! Abraham, kamu lelaki berengsek yang pernah kutemui. Bisa-bisanya kamu memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan Tania di saat hubungan kami telah usai," seru Xander dengan napas terengah. Tangan memukul stir dengan kencang. Lelaki itu meluapkan kemarahan yang telah mencapai ubun-ubun.


Sejak dulu Xander memang tidak pernah suka apabila ada pria lain yang mendekati Tania. Baginya Tania hanya boleh berdekatan dengannya. Baik Abraham ataupun lelaki lain tidak boleh mendekati mantan istrinya itu.


Xander menatap gusar pada gedung pencakar langit di depan sana. Karena di dalam sana ada Tania dan Abraham yang masih sibuk menikmati secangkir kopi sambil menyuapkan cake kesukaan masing-masing.


Pria tampan berparas rupawan menggelengkan kepala. "Tidak, aku tidak bisa membiarkan Abraham merebut Tania dari sisiku. Tania dan Arsenio hanya akan menjadi milikku, milik Alexander Vincent Pramono, bukan Abraham Pramono."


Sebelah tangan Xander mengepal sempurna. "Aku harus menaklukan hati Arsenio sesegera mungkin sebelum Abraham mencuri start dan justru dia lebih dulu meluluhkan hati puteraku. Ya, aku harus segera mencari cara merebut hati Arsenio. Setelah Arsenio luluh barulah aku mulai mendekati Tania."


Tekad Xander sudah bulat, tidak bisa diganggu gugat. Lelaki itu mulai memikirkan cara mencairkan hati Arsenio yang terlanjut membeku akibat kesalahpahaman. Apa pun yang terjadi, dia tidak akan gentar meski kelak ada banyak kerikil menghalangi jalannya.


"Mbak Surti taxi-nya udah sampai mana, kok belum juga datang sih?" tanya Arsenio sembari mengayunkan kakinya yang menjuntai di atas lantai. Sudah sepuluh menit lamanya ia menunggu taxi yang akan mengantarkannya pulang ke apartemen, tapi hingga detik ini belum juga datang dan itu membuat si bocah genius bosan karena terlalu lama menunggu.


Surti kembali menyalakan telepon genggam miliknya lalu melihat kembali posisi mobil yang ia pesan sepuluh menit lalu. "Duh, masih jauh, Den. Sepertinya supir taxi itu terjebak macet jadi belum sampai hingga detik ini." Timbul perasaan bersalah karena membuat anak majikannya menunggu terlalu lama. Namun, mau bagaimana lagi toh semua ini bukan kesalahannya.


Miss Niken, salah satu guru TK di kelas Arsenio mendekati murid kesayangannya. "Loh, Arsen belum pulang? Memangnya tidak dijemput Mama?" Suara lembut itu mengalihkan atensi Arsenio dari seekor kupu-kupu yang tengah hinggap di bunga.


Menoleh ke samping pada sosok perempuan cantik dalam balutan hijab warna merah jambu. "Motor Mamaku lagi di bengkel, Miss, jadi enggak bisa jemput. Tadi Mbak Surti udah pesan taxi online, tapi kejebak macet," tutur bocah kecil itu polos.

__ADS_1


Miss Niken memandangi Arsenio dan Surti secara bergantian. "Mau ikut bareng saya? Kebetulan kita searah. Jadi saya bisa antarkan kalian terlebih dulu."


Dengan gerakan cepat Surti menjawab, "Tidak perlu, Miss. Kami tidak mau merepotkan." Pengasuh Arsenio menolak dengan halus sebab tidak ingin menyusahkan orang lain. Walaupun Niken baik dan tampak begitu menyayangi Arsenio, Surti tetap tidak enak hati jika meminta wanita muda itu mengantarkan mereka pulang.


"Baiklah, kalau kalian menolak, saya tidak akan memaksa." Miss Niken menghela napas panjang, rasanya percuma saja memaksa toh Surti maupun Arsenio tetap teguh dengan pendirian.


Suasana sekolah sudah mulai sepi, para murid taman kanak-kanak satu per satu meninggalkan gedung dua lantai. Hanya ada beberapa guru tengah duduk santai sambil bercengkrama dengan yang lainnya, membahas soal pekerjaan dan rencana tamasya bersama murid dan orang tua serta wali murid.


Tatkala Arsenio duduk santai di kursi kayu depan sekolah, satu unit mobil harga fantastik berhenti tepat di seberang bangunan dua lantai tempat bocah kecil pencipta virus I Hate You, Dad menimba ilmu bersama teman sekelasnya. Wajah semringah saat matanya yang hazel melihat kembali buah cintanya bersama sang mantan istri duduk manis di depan sana.


Tangan lelaki itu menekan benda kecil di sebelahnya yang secara otomatis membuat jendela mobil turun dengan sendirinya. "Arsen!" teriak Xander. Ya, lelaki itu bernama Xander, ayah kandung Arsenio.


Terlahir dari keluarga kaya raya, terkenal dan mempunyai kekuasaan membuat Xander tidak kesulitan sedikit pun saat mencari tahu alamat sekolah Arsenio. Hanya memerintahkan orang kepercayaan maka semua informasi tentang anak kandungnya bisa dengan mudah didapat.


Xander berjalan ke arah tempat Arsenio berada saat ini. Ia menengok ke kanan dan kiri sebelum akhirnya menyebrang jalan. Sementara Surti bersiap di posisi jika seandainya hal buruk menimpa anak majikan.


"Tuan Xander sedang apa di sini? Tahu Den Arsen sekolah di sini, dari siapa?" Surti mencecar mantan suami majikannya dengan berbagai pertanyaan. Sikap waspada ia tunjukan di hadapan Xander.


Xander menatap Surti dari balik kacamata hitam yang ia kenakan. Memperhatikan wanita muda di hadapanya dengan seksama.


Sejujurnya Xander merasa kesal sebab dirinya seakan tengah diinterogasi seperti seorang penjahat yang kedapatan melakukan tindak kriminal. Padahal ia hanya ingin bertemu dengan Arsenio, anak kandungnya sendiri.


Menghela napas dalam sebelum menjawab pertanyaan Surti. "Saya ingin mengantarkan Arsenio pulang, apa itu salah? Meskipun status saya hanya mantan suami majikanmu, tapi saya juga berhak atas diri Arsenio."

__ADS_1


Xander segera meralat ucapannya tatkala ekspresi wajah Surti berubah dalam hitungan detik. "Jangan salah paham dulu! Saya tidak bermaksud menculik Arsenio. Saya hanya ingin mengantarkan kalian pulang," sambung Xander sebelum kesalahpahaman terjadi di antara dirinya dan Tania. "Lihat, langit sudah mulai mendung, angin pun bertiup cukup kencang. Sebentar lagi pasti turun hujan." Lelaki itu mendongakan kepala, menatap ke atas langit.


"Jam segini Jakarta pasti macet terlebih ada perbaikan jalan tak jauh dari sini. Jadi kemungkinan besar taxi online yang kamu pesan akan telat sampai sini. Daripada menunggu terlalu lama, apa tidak sebaiknya saya mengantarkan kalian pulang?"


Surti terdiam beberapa saat. Wanita itu tidak langsung meng-iyakan ajakan Xander terlebih tahu bagaimana Arsenio begitu membenci sang papa membuatnya berpikir dua kali menerima usulan mantan suami majikannya.


Arsenio yang takut pengasuhnya termakan hasutan Xander, segera turun dari kursi kemudian berjalan menghampiri papanya. "Untuk apa Om jahat mengantarkanku pulang? Apa Om berniat menculikku dan meminta imbalan pada Mama, iya?" ujar bocah kecil itu sembari melipatkan kedua tangan di depan dada. Sorot mata tajam bagai seekor elang yang sedang menatap mangsanya.


Lagi dan lagi Xander menghela napas dalam sembari memejamkan mata sejenak. Sulit sekali berbicara dengan Arsenio, bocah kecil yang mempunyai watak keras kepala seperti dirinya.


Tuhan, kenapa sifat anak ini mirip sekali denganku? Apakah ini balasan karena dulu aku sering membangkang pada kedua orang tuaku? keluh Xander dalam hati.


"Mana mungkin Om tega menculikmu. Lagi pula, enggak ada untungnya menculik kamu, Nak." Xander membungkukan tubuhnya hingga sejajar dengan Arsenio. "Om hanya ingin mengantarmu pulang, enggak ada maksud lain selain memastikan kamu pulang dengan selamat sampai apartemen."


"Om memang pernah melakukan kesalahan, tapi demi Tuhan, Om enggak berniat sedikit pun menyakiti kamu, darah dagingku sendiri. Bagaimana, mau enggak Om anterin pulang? Om janji enggak akan berbuat jahat padamu." Xander menunjukan raut wajah serius di hadapan Arsenio. Mencoba meyakinkan anaknya agar mau diantar pulang.


Tampak Arsenio menimbang-nimbang keputusan apa yang akan diambil olehnya. Apakah ia menerima ajakan Xander ataukah tetap menunggu taxi yang dipesan Surti sebelumnya? Apabila menunggu kemungkinan besar ia akan kehujanan jika melihat cuaca langit yang berubah mendung.


Setelah berpikir cukup lama, Arsenio berkata, "Baiklah, aku mau dianterin Om jahat. Tapi aku mau duduk di belakang sama Mbak Surti."


Seulas senyuman tipis terlukis di wajah Arsenio. Yes, langkah pertama berhasil. Tinggal lanjut ke langkah selanjutnya.


"Oke, enggak masalah! Ayo masuk, sebelum hujan turun." Dengan hati berbunga-bunga Arsenio membantu buah cintanya menyebrangi jalan, lalu membantunya masuk ke mobil.

__ADS_1


...***...


__ADS_2