Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Gangguan Pencernaan


__ADS_3

"Mbak Surti, buatin aku sayur sop campur bakso dong. Kayaknya enak kalau makan siang nanti menunya itu." Jemari tangan Arsenio menunjuk beberapa sayuran segar yang sudah dipack oleh penjaga minimarket.


Surti yang saat itu sedang membeli beberapa keperluan pribadi menoleh ke sebelah. "Den Arsen mau Mbak buatkan sayur sop bakso?" tanya wanita itu untuk memastikan kembali permintaan sang majikan kecil.


Kepala Arsenio mengangguk cepat. "Hu'um, mau!" jawabnya antusias.


Melihat bola mata indah penuh pengharapan membuat Surti tidak tega jika harus mengecewakan Arsenio. "Baiklah, akan Mbak buatkan. Lets go, kita pilih sayuran dan bakso untuk dimasak siang ini!"


"Siap Kapten!" seru Arsenio dengan mengangkat tangan kanan ke udara seakan tengah hormat kepada atasan.


Hanya membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit, akhirnya Surti selesai berbelanja. Semua kebutuhan pribadi seperti pembalut, handbody dan skin care sudah ada di dalam kantong belanja. Begitu pun dengan bahan membuat sayur sop beserta daging bakso kemasan sudah ada dalam gengamannya.


Jarak antara minimarket dengan unit apartemen Tania hanya sekitar dua ratus meter saja. Oleh karena itu, ketika Surti selesai berbelanja, ia dan Arsenio berjalan kaki untuk pulang ke kediaman mereka.


"Mbak, nanti banyakin bakso dan wortelnya, ya? Aku suka banget kalau makan sop dibanyakin bakso dan wortelnya," pinta Arsenio sambil sesekali menyuapkan es krim ke dalam mulut.


Surti tersenyum lebar mendengar permintaan anak majikannya itu. "Iya, Mbak pasti buatkan sesuai permintaan Den Arsen."


Cuaca terik di siang hari dan bisingnya kendaraan yang lalu lalang di jalanan tak menyurutkan semangat Arsenio untuk menghabiskan satu cup es krim kesukaannya. Bocah itu tampak begitu senang karena sebentar lagi akan menyantap sayur sop buatan sang babysitter.


"Selama Mbak Surti masak, Den Arsen tunggu dulu di kamar. Nanti, Mbak panggil Aden kalau makanan udah matang."


Arsenio dengan patuh menuruti perintah Surti. Setelah mencuci tangan dan kaki, bocah itu melangkah masuk ke dalam kamar. Sementara itu, Surti merapikan barang belanjaan dan mulai mengolah makanan untuk Arsenio.

__ADS_1


Bekerja selama hampir setengah tahun lamanya membuat Surti semakin merasa nyaman bekerja di tempat Tania. Terlebih majikan dan anak asuhnya mempunyai sifat baik hati, tidak pelit hingga wanita itu kerasan tinggal bersama mereka. Jadi tidak heran jika saat ini Surti tampak begitu senang membuatkan sayur sop sesuai request Arsenio.


Merasa bosan menunggu, akhirnya Arsenio memutuskan keluar kami. Kakinya yang mungil mengendap-endap berjalan menuju dapur. Teringat jika tadi Surti membelikan empat cup es krim rasa cokelat sebagai stock selama emoat hari ke depan, si bocah tampan itu ingin kembali mencicipi nikmatnya salah satu makanan kesukaannya.


Matanya yang hazel mengerjap senang saat melihat lemari es dua pintu warna hitam motif bunga-bunga berada tak jauh dari posisinya saat ini. Apalagi saat ini keadaan dapur sepi, mungkin Surti sedang mengangkat jemuran karena keadaan di luar mendung.


"Yes, kesempatan emas! Sebaiknya aku buru-buru ambil es krim itu dan memakannya di kamar sebelum ketahuan Mbak Surti."


Tanpa membuang waktu terlalu lama, Arsenio mendorong tangga yang sengaja disediakan apabila anggota unit apartemen itu kesulitan meraih benda di luar jangkauan. Kemudian ia membuka pintu lemari es dan mulai mengambil satu per satu cup es krim tersebut.


"Ambil dua ah," ucap Arsenio. "Ehm ... tiga aja deh, biar enggak bolak balik." Akan tetapi, bukan tiga cup es krim yang diambil Arsenio melainkan empat cup sekaligus.


Setelah Arsenio meletakkan kembali tangga terbuat dari kayu di tempat semula, bocah kecil itu bergegas kembali ke kamar. Ia nyalakan iPad dan menonton kartun Ipin Upin sambil menyuapkan es krim ke dalam mulut.


"Sekarang tinggal aku panggil Den Arsen. Dia pasti senang karena pesanannya udah matang." Surti meninggalkan meja makan tersebut dan berjalan menuju salah satu kamar di apartemen itu.


"Den Arsen, makanannya udah matang. Yuk keluar dulu. Kalau dingin malah enggak enak dimakan loh." Surti mengetuk daun pintu kamar Arsenio. Akan tetapi, pintu itu tak kunjung terbuka juga.


Surti kembali mengulurkan tangan ke depan, mengetuk daun pintu bertuliskan 'Kamar Little B' di bagian depannya. "Den Arsen? Makanan udah matang. Katanya tadi mau makan sayur sop. Mbak udah buatin tuh." Wanita muda berdiri di depan pintu kamar dengan degup jantung berdetak tak beraturan, khawatir terjadi sesuatu pada anak asuhnya itu.


Perasaan semakin tak tenang kala mendengar suara erangan kesakitan bersumber dari dalam kamar Arsenio. Lantas, Surti segera memutar handle pintu dan mendorong daun pintu tersebut hingga terbuka lebar.


"Astaga, Den Arsen! Aden kenapa?" Surti membelalakan matanya saat melihat tubuh mungil itu tergeletak tak berdaya di atas tempat tidur. Tangan bocah kecil itu menyentuh perut dan posisi tubuhnya melingkar, membentuk huruf C. Lantas, netra wanita itu tak sengaja melihat empat cup es krim berserakan di lantai.

__ADS_1


Surti berhambur dan berjongkok di samping tempat tidur. "Den Arsen menghabiskan semua es krim di lemari es?" desak wanita itu dengan raut wajah penuh kecemasan.


Keringat dingin bermunculan di permukaan kulit Arsenio. Susah payah bocah kecil itu menjawab, "Iya, Mbak. A-aku bosan nunggu, makanya m-makan es krim. T-tapi perutku malah j-jadi sakit." Makin paniklah Surti mendengar penuturan Arsenio.


Sejak kecil, Arsenio memang punya permasalahan pada saluran pencernaannya. Arsenio akan merasakan nyeri pada perutnya apabila terlalu banyak mengkonsumsi minuman dingin. Oleh karena itu, Tania selalu membatasi anak tercinta untuk tak berlebihan dalam mengkonsumsi apa pun.


"Aduh, gimana ini? Apa yang harus kulakukan?" Pikiran Surti kosong, tak dapat berpikir jernih. Ia terlalu panik hingga tidak mengerti harus melakukan apa saat ini.


Jika terjadi hal urgent, jangan sungkan menghubungi saya! Nomor ponsel saya standby 24 jam.


Kalimat itu kembali terngiang di telinga Surti. Dengan gerakan secepat kilat wanita itu meraih telepon genggam miliknya di atas buffet televisi dan menghubungi Tania.


"Duh, Bu Tania, angkat dong teleponnya. Urgent nih."


Surti mondar mandir sambil menggigit kukunya. Dada wanita itu seakan sesak seolah pasokan oksigen di ruangan tersebut tak mampu memenuhi paru-paru.


"Loh, kok enggak diangkat sih! Emang Bu Tania ke mana sih?"


Surti tak menyerah begitu saja. Lantas, ia kembali menghubungi nomor Tania. Namun, berkali-kali menghubungi Tania, sang majikan tak kunjung menerima panggilan tersebut.


"Aargh, gimana ini!" teriak Surti frustasi. Wanita itu mengusap wajahnya dengan kasar. Terbesit rasa bersalah karena membelikan empat cup es krim sekaligus.


...***...

__ADS_1



__ADS_2