Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Papa Siaga


__ADS_3

"Mbak, aku titip Arsen. Kalau ada urusan urgent, jangan lupa telepon aku. Nomor HP-ku selalu standby 24 jam," ucap Tania sambil menarik koper berukuran sedang keluar dari kamar. "Oh ya, berkas yang aku taruh di atas buffet TV, jangan lupa berikan kepada Tuan Xander. Pagi ini dia akan mampir ke sini sebentar sebelum pergi ke sekolah Arsen yang baru."


Surti mengangguk patuh. "Baik, Bu. Ibu tenang aja, segala urusan di sini, serahkan pada saya. Bu Tania fokus aja sama pekerjaan dan jangan mikirin Den Arsen ataupun yang lain, di sini ada saya yang akan handle semuanya."


Bunyi roda koper yang berputar serta suara ricuh di ruang tengah membuat bocah kecil berusia enam tahun terbangun dari tidurnya yang panjang. Bulu mata panjang bergerak perlahan dan tak lama kemudian kelopak mata itu terbuka sempurna.


"Mama!" seru Arsenio. Ia baru ingat jika hari ini Tania akan dinas keluar kota.


Tidak mau berpisah sebelum melihat wajah wanita yang telah melahirkannya ke dunia, Arsenio bergegas menaruh boneka jerapah kesayangannya di ruang kosong sebelahnya kemudian menyingkap selimut dan berlari kencang menuju ruang tamu, tempat Tania dan Surti berada saat itu.


"Mama udah mau pergi, ya?" kata Arsenio dengan raut wajah sedih. Bagaimana tidak sedih, ini merupakan kali pertama Arsenio ditinggal pergi selama lima hari lamanya oleh Tania.


Tatkala mereka masih tinggal di Yogyakarta, sebetulnya Tania pernah beberapa kali pergi dinas keluar kota. Hanya saja tidak sampai lima hari lamanya. Paling banter hanya dua sampai tiga hari saja. Jadi jangan heran kalau saat ini Arsenio memasang wajah murung karena akan ditinggal pergi oleh sang mama.


Tania yang saat itu hendak meninggalkan apartemen, segera menoleh ke belakang ketika mendengar suara yang terdengar begitu familiar. Wanita itu menurunkan lututnya di lantai dan membentangkan kedua tangan ke samping kanan dan kiri. Detik itu juga Arsenio berhambur dalam pelukan.


"Iya, Sayang. Mama harus pergi sekarang juga. Kalau telat, Mama enggak bisa pergi bareng Kakek Johan dan Tante Joana, dong." Tania mengusap helaian rambut coklat keperakan milik Arsenio, sesekali menciumi puncak kepala anak itu. Meskipun Arsenio belum mandi dan masih bau asam, tapi bagi Tania, puteranya itu tetap harum.


"Bukanya akhir pekan ini kita mau jalan ke arena permainan, Ma? Kalau Mama pergi, berarti enggak jadi dong." Bibir merah jambu alami mengerucut ke depan. Tampak jelas raut kekecewaan terlukis di wajah Arsenio.


"Maafin mama, Sayang. Tapi mama janji, kalau semua pekerjaan selesai kita pergi main bersama. Bagaimana?" Tania mencoba membujuk puteranya itu agar tidak kecewa. Ia tidak mau kalau sampai Arsenio bersedih dan itu justru membuat pikirannya tidak tenang.


Tatapan Arsenio berubah seketika. "Janji? Mama enggak bohongin aku?" Jari kelingkingnya yang mungil ia sodorkan ke hadapan Tania.

__ADS_1


"Janji. Kalau mama bohong, kamu boleh minta buku, mainan atau apa pun itu, pasti mama belikan."


"Oke. Kalau gitu Mama hati-hati di jalan. Salam untuk Kakek Johan dan Tante Joana."


Hati Tania pun tenang sudah mendapat izin dari anak kesayangan. Di Kalimantan nanti, ia dapat fokus membantu Johan dan Joana menyelesaikan masalah pembangunan di sana tanpa memikirkan Arsenio dan berkas pendaftaran sekolah anak semata wayangnya karena sudah ada Surti dan Xander yang membantu.


***


Satu jam kemudian, setelah kepergian Tania ke bandara, Xander datang ke apartemen berniat mengambil berkas penting yang telah Tania titipkan kepada Surti.


"Eh Tuan Xander, silakan masuk." Surti segera membuka daun pintu saat mendengar bel pintu berbunyi, rupanya orang yang dinanti sedari tadi sudah tiba.


Dengan gerakan cepat, Xander menggelengkan kepala. "Nanti saja setelah semua urusan selesai. Saat ini saya mesti buru-buru ke sekolahan agar tidak ngantri."


Tak sampai lima menit, Surti sudah kembali dengan membawa berkas penting milik Arsenio. "Ini, Tuan. Bisa Anda cek terlebih dulu sebelum membawanya."


Xander membuka map tersebut, kemudian menarik lembaran kertas tersebut keluar. Matanya yang hazel memeriksa satu per satu berkas tersebut dengan teliti. "Lengkap semua! Ya udah, kalau gitu saya pergi dulu. Kalau Arsen tanya kenapa saya enggak mampir, bilang aja saya buru-buru dan baru bisa ke sini setelah urusan selesai."


Menaiki mobil Alphard hasil kerja kerasnya selama tujuh tahun bekerja sebagai CEO perusahaan, Xander memasuki salah satu sekolah taraf internasional di kawasan Jakarta Pusat. Sekolah ini menggunakan kurikulum juga bertaraf international seperti International Baccalaureate (IB) dan Cambridge International Education (CIE) atau Edexcel. Yang mana kurikulum tersebut sudah sangat maju dan komprehensif untuk memfasilitasi minat dan penyokong prestasi anak.


Biaya untuk kelas 1 sampai kelas 6 SD, total biaya yang dibutuhkan sekitar 500 juta rupiah karena mengingat segala fasilitas yang disediakan sangat lengkap jadi tak heran jika sekolah ini digadang-gadang menjadi salah satu tempatnya para sultan berkumpul. Jadi, tidak sembarang orang dapat bersekolah di sini karena biaya yang dikeluarkan sangat besar.


Seandainya saja Xander tak membantu Tania untuk membiayai pendidikan Arsenio, ia pun tak sanggup jika harus merogoh kocek sampai setengah milyar demi menyekolahkan sang putera. Lebih baik memilih sekolahan lain yang sekiranya bisa dijangkau, tapi sistem pendidikan bagus untuk bekal masa depan anak tercinta.

__ADS_1


Duh, kenapa yang datang ke sini kebanyakan emak-emak? Emangnya suami mereka pada ke mana? keluh Xander saat menyadari hanya dialah satu-satunya pria di antara sekian banyaknya wanita yang sedang mengantri.


Beberapa pasang mata menatap aneh kepada Xander. Bahkan ada pula yang secara terang-terangan menunjukan bahwa mereka mengagumi Xander. Hal itulah yang membuat pria itu semakin risih dibuatnya.


Damn! Kenapa mereka menatapku begitu? Apa mereka belum pernah ngelihat cowok tampan dan keren sepertiku? sungut Xander kesal.


Sumpah demi apa pun, ingin rasanya Xander meminta para wanita itu untuk berhenti memandanginya. Namun, ia tidak ingin membuang tenaganya hanya karena hal sepele.


Persetan dengan mereka. Terpenting bagiku saat ini adalah mendaftarkan Arsenio agar puteraku itu mempunyai masa depan cemerlang yang kelak ilmunya dapat berguna bagi semua orang.


Membawa map coklat dalam dekapan, menaiki anak tangga satu per satu. Saat Xander melintas, ada beberapa mama muda tengah bergosip tanpa mengedipkan mata. Mereka terpesona akan ketampanan mantan suami Tania.


Xander sadar jika saat ini ia menjadi pusat perhatian mereka semua. Namun, ia tak memedulikan semua itu. Ia terus melangkah menuju ruangan untuk menyerahkan berkas kelengkapan pendaftaran Arsenio.


"Papa siaga. Udah ganteng, sayang anak pula. Yang jadi istrinya pasti beruntung."


"Betul, ih. Coba suamiku seperti itu, pasti aku jadi perempuan paling bahagia di muka bumi ini."


Ck, kalian pikir dengan memuji diriku, aku akan tertarik kepada kalian. Begitu? Jangan mimpi! Sekalipun mulut kalian berbusa, memujiku dengan kata-kata manis, aku enggak akan pernah berpaling dari Tania. Di hatiku cuma ada Tania. Dulu, sekarang dan selamanya.


...***...


__ADS_1


__ADS_2