
Resepsi pernikahan telah selesai. Para tamu undangan kembali ke rumah masing-masing, pun begitu dengan pasangan pegantin yang hari ini baru saja mengikat janji setia sehidup semati. Mereka hendak kembali ke kamar pengantin yang telah didekorasi sedemikian rupa.
"Sayang, kamu betulan akan tidur dengan Nenek Mirandan dan Kakek Jonathan? Tidak mau bobok bareng Mama dan Papa?" tanya Tania sebelum ke kamar pengantin.
"Benar, Mama. Arsen mau bobok dengan Kakek dan Nenek saja. Malam ini Arsen ingin dikelonin Nenek Miranda. Arsen bosan setiap malam bobok dengan Mama," jawab Arsenio mantap.
"Namun, ba-"
"Sudahlah, Nia, jangan paksa Arsen. Kalau dia mau tidur dengan kedua orang tuaku, biarkan saja. Mama dan Papaku pasti tidak keberatan dengan kehadiran Arsen di tengah mereka. Benar begitu, Ma, Pa?" Xander gemas sendiri. Pasalnya sudah lima menit berlalu Tania belum juga mau ikut dengannya ke kamar, padahal ia sudah tak sabar ingin segera menuntaskan hasrat yang dipendamnya selama ini.
Miranda tersenyum samar, mengerti maksud tersembunyi di balik perkataan anak kandungnya itu. "Yang dikatakan Xander benar, Nia. Mama dan Papa tidak keberatan sama sekali jika malam ini Arsen tidur bersama kami. Mama justru bahagia karena bisa menghabiskan malam dengan cucu kesayanganku ini." Mencubit gemas ujung hidung mancung si bocah genius.
"Sudah sana, kalian istirahat. Papa yakin kamu dan Xander lelah setelah menjalankan serangkaian prosesi ijab qabul disusul resepsi pernikahan yang digelar selama kurang lebih dua belas jam lamanya." Jonathan ikut menimpali.
Menarik napas panjang dan berat. Tania tidak bisa membantah lagi jika kedua mertuanya sudah turun tangan.
"Baiklah, kalau begitu aku titip Arsen, Ma, Pa. Kalau dia rewel, Papa bisa menghubungiku. Ponselku stand by 24 jam."
Setelah Tania menitipkan Arsenio, Xander membawa sang istri menuju kamar pengantin mereka yang ada di lantai lima belas. Arsenio menatap kepergian kedua orang tuanya dengan senyuman mengandung sebuah makna.
'Selamat bersenang-senang, Mama, Papa. Jangan lupa beri Arsen dedek bayi yang cantik dan menggemaskan, tidak kalah cantik dari Adiknya Alesha.' Itulah misi utama Arsenio kenapa dirinya tidak mau tidur bersama mama dan papanya. Ia ingin memberi ruang dan waktu kepada Tania dan Xander untuk menghabiskan waktu sehingga cita-citanya memiliki adik bayi segera terwujud.
***
__ADS_1
Tepat pukul dua belas malam, sepasang suami istri itu telah berada di presidential suite Mandarin Hotel. Aroma bunga mawar menyeruak ke indera penciuman Tania dan Xander tatkala mereka masuk ke dalam kamar hotel. Sebuah kamar mewah dengan berbagai fasilitas yang ada sengaja dipilih oleh Miranda untuk menjadi saksi bisu penyatuan dua insan yang terikat dalam janji pernikahan. Nuansa keemasan kombinasi warna coklat tua menyempurnakan kamar pengantin dua sejoli tersebut.
Tatanan kelopak bunga mawar dan lilin aroma terapi yang dibentuk menyerupai hati mengelilingi ranjang pengantin. Sembilan balon berwarna merah melekat di atas langit-langit kamar hotel. Di atas ranjang pengantin, bertabur kelopak bunga mawar dan terdapat dua buah handuk yang menyerupai sepasang angsa.
Tania terkesiap beberapa saat. Ia membeku di ambang pintu menyaksikan betapa romantisnya suasana kamar malam ini. Lampu temaram dan hening. Tidak ada lampu menyala, hanya mengandalkan lilin aroma terapi yang tertata rapi di lantai.
Xander melangkah terlebih dulu, lalu tubuh kekar dan berotot itu menoleh ke belakang seraya mengulurkan tangan ke depan. "Selamat datang di kamar pengantin kita, Nia. Semoga kamu merasa nyaman dan dapat tidur nyenyak malam ini."
Tania menerima uluran tangan itu, kemudian mengikuti langkah kaki sang suami. Mereka berjalan bersisian memasuki kamar hotel yang sudah didekorasi seindah mungkin.
Wanita berusia dua puluh sembilan tahun membekap mulutnya ketika melihat layar televisi tengah menampilkan slide foto di mana ia dan Xander masih berpacaran dulu. Xander memang gemar sekali mengabadikan momen kebersamaan mereka menggunakan kamera ponsel miliknya.
"Ya Tuhan, kamu masih menyimpan semua foto ini, Xander?" tanya Tania tidak percaya. Ia pikir Xander telah menghapus semua file foto setelah perceraian mereka, tapi ternyata pria itu masih menyimpannya dengan baik dalam flash disk.
Xander menuntun Tania duduk di sofa, kemudian menyentuhkan lututnya di lantai. Ia genggam jemari lentik itu seraya menatap semata iris coklat indah dengan lekat.
"Lima tahun menjalin cinta tidaklah mudah bagiku untuk menghapus namamu di hatiku. Senyumanmu yang manis dan wajahmu yang cantik selalu terbayang di memori ingatanku, Nia. Kamu selalu hadir di setiap mimpiku jadi ... mana mungkin aku menghilangkan perasaan ini dari dalam diriku, sedangkan cintaku hanya untukmu seorang."
Hati Tania menghangat mendengarnya. Ucapan itu terdengar begitu tulus tanpa ada kebohongan sedikit pun. Ia menangkup rahang Xander yang ditumbuhi bulu-bulu halus, mengusapnya perlahan sambil memandangi mata hazel yang selama ini amat ia rindukan.
"Begitu pun denganku. Kamu tahu betapa besarnya cintaku kepadamu? Saking cintanya aku kepadamu, aku sampai rela menanggung semua hinaan dan cacian dari Mamamu selama kita bersama. Tak jarang Mamamu melontarkan kata-kata pedas yang menusuk hatiku. Namun, aku mencoba bertahan karena tak mau pisah darimu."
"Sebegitu cintanya aku kepadamu, Xander sampai aku menolak semua pria yang ingin menjadikanku pendamping hidup. Aku melakukan itu karena diriku tak akan pernah mampu menggantikanmu dengan pria mana pun. Aku ... selalu mencintaimu, sejak dulu hingga sekarang perasaan itu tidak pernah berubah."
__ADS_1
Tania mulai terisak mengingat awal kisah cinta mereka. Tak mudah baginya untuk dapat bersanding dengan Xander. Statusnya yang merupakan anak yatim piatu, dibesarkan di sebuah yayasan pantu asuhan membuat semua orang memandangnya rendah. Tak jarang dari sebagian orang menyebutnya sebagai anak haram karena tidak jelas asal usulnya.
Sakit? Tentu saja. Hati siapa yang tidak terluka jika secara terang-terangan mereka menghinanya di depan mata. Namun, lagi dan lagi Tania bertahan karena sadar bahwa inilah resiko yang harus ditanggung jika ia menjalin kasih dengan anak orang kaya.
Xander membawa tubuh Tania dalam dekapan. Ia peluk istrinya dengan ketat hingga tak ada satu jengkal pun jarak di antara keduanya.
"Maafkan aku yang pernah melukaimu. Dulu aku memang bodoh karena tak mempercayaimu, tapi kali ini aku akan lebih percaya padamu dibandingkan orang lain. Maafkan aku, Nia. Maafkan aku." Xander biarkan tubuh keduanya bersentuhan. Ia biarkan Tania menangis dalam pelukan, meluapkan segala beban dalam dada.
Dada terasa jauh lebih lapang usai mencurahkan isi hatinya yang terdalam lewat tangisan. Selama ini Tania memendam sendiri perasaan sakit hatinya dari semua orang. Kini ketika kembali bersama Xander, ia curahkan segala keluh kesahnya di depan sang suami.
Mengulurkan tangan ke depan, menghapus sisa bulir air mata di sudut mata. "Mari kita jadikan kenangan buruk itu sebagai pembelajar. Ke depannya, kita harus saling percaya satu sama lain. Jangan biarkan orang lain kembali merusak rumah tangga kita berdua. Setuju?" kata Xander setelah tangis Tania mereda.
Pundak Tania masih bergerak turun dan naik saat ia menjawab ucapan Xander. "Berjanjilah untuk tidak menyembunyikan apa pun dariku juga Xander. Teruslah berkata jujur meski itu terasa menyakitkan."
Tersenyum samar, Xander tak berkata apa-apa lagi. Ia langsung memangut bibir merah muda itu. Sejak tadi sudah menahan diri untuk tidak merasai manisnya madu dari bibir sang istri.
Mereka berciuman dalam keadaan temaram hanya ditemani cahaya lilin dari lilin aroma terapi yang menguarkan aroma lavender. Degup jantung keduanya mulai bertalu-talu lebih kencang saat bibir mereka menempel satu sama lain.
"Mhmm," desaah Tania saat Xander menyesap kulit putih leher istrinya. Tidak hanya dengan bibir, tapi ada pula pulasan dari lidahnya membasahi urat nadi sang wanita.
Xander menghentikan aksinya, lalu memandangi manik coklat Tania dalam remangnya cahaya kamar. "Tania, bolehkan aku menyentuhmu malam ini? Aku sudah tidak sabar ingin menyatu denganmu lagi, Sayang."
Tatapan mata Xander dipenuhi kabut gairah. Keharuman tubuh Tania mampu membangkitkan sesuatu yang selama ini tertidur. Sekujur tubuh terasa panas oleh hasrat yang tak dapat dibendung lagi.
__ADS_1
...***...