
"Tentang apa, Tania? Ayo, cepat katakan jangan buat tante penasaran," ucap Miranda tidak sabaran.
Alih-alih melanjutkan kalimatnya, Tania justru menoleh ke arah Xander dan memberi kode kepada pria itu. Xander mengerti arti tatapan itu bergegas bangkit dari sofa dan melangkah keluar ruangan. Miranda semakin dibuat tak mengerti akan sikap anak serta mantan menantunya itu.
"Sebetulnya ini ada apa sih, kenapa wajah kalian semua berubah tegang?" Lalu Miranda mengalihkan perhatiannya pada Jonathan yang kini duduk sendirian di sudut ruangan. "Pa?"
Jonathan mendongakan kepala, detik berikutnya ia tersenyum. "Bersabarlah, sebentar lagi kamu mengetahuinya."
Di waktu bersamaan, daun pintu ruang perawatan dibuka seseorang. Tak lama kemudian menampilkan sesosok pria tampan bertubuh jangkung berdiri di ambang pintu. Namun, yang membuat Miranda terpaku beberapa saat bukanlah kehadiran putera semata wayangnya melainkan sosok anak laki-laki berusia enam tahun tengah menggenggam tangan kokoh Xander.
Miranda sampai bingung, kenapa wajah anak laki-laki itu begitu mirip dengan Xander sewaktu masih kecil. Matanya yang hazel serta wajahnya mengingatkan wanita itu akan masa kecil Alexander Vincent Pramono, buah cintanya bersama Jonathan Vincent.
"Nia ... a-anak kecil itu s-siapa? K-kenapa Xander membawanya kemari?" tanya Miranda tergagap. Ekor matanya terus menatap lurus ke depan sana.
Jemari tangan Tania melambai ke udara. "Arsen, sini, Sayang. Ucapkan salam pada Nenek Miranda," titah wanita itu kepada anak tercinta.
Arsenio berjalan beriringan dengan jemari mungilnya menggenggam tangan kokoh sang papa. Ada perasaan takut menyelimuti diri. Takut jika Miranda mengusir dan mengatainya dengan sebutan 'anak haram'.
Arsenio melepaskan jemari mungilnya dari tangan kokoh Xander, kemudian terulur ke depan. "Halo, Nenek Miranda. Namaku Arsenio, usia enam tahun. Nice to meet you," ucap bocah kecil itu menggunakan Bahasa Inggris. Tak lupa ia mencium punggung tangan Miranda seperti yang sering diajarkan sang mama sebagai tanda hormatnya kepada orang yang lebih tua darinya.
Jantung Miranda serasa berhenti berdekat detik itu juga. Sosok anak laki-laki berambut coklat kepirangan berdiri di sisi pembaringan dengan seulas senyum manis di sudut bibir membuat wanita itu membeku. Matanya melebar dan tidak berkedip sedikit pun.
__ADS_1
"Tante, dia adalah puteraku, buah cintaku bersama Xander." Tania mulai menjelaskan. "Saat Xander menjatuhkan talak, rupanya saat itu aku tengah hamil muda. Usia kandunganku baru menginjak empat minggu."
"Satu hari setelah kejadian itu, aku merasakan perutku seperti sedang diaduk-aduk dari dalam. Begitu sakit dan menyiksaku. Aku meminta Mbak Esih mengantarkanku ke rumah sakit karena perutku benar-benar seperti dikoyak tangan tak kasat mata. Dan saat itu, aku baru tahu jika mual yang kurasa bukan disebabkan oleh asam lambung melainkan karena hadirnya kehidupan baru dalam perutku."
"Apa? Jadi ... ketika insiden itu terjadi, kamu sedang mengandung calon penerus V Pramono Group, iya?" tandas Miranda memastikan.
Mengangguk cepat dan menjawab, "Benar, Tante."
"Lalu, kenapa kamu tidak mengatakan kebenaran itu sebelum hakim mengetuk palu dan menyatakan kalau kamu dan Xander sudah tak lagi berstatuskan sebagai pasangan suami istri?" Mata Miranda memicing tajam ke arah Tania. Ia membutuhkan penjelasan demi menyingkirkan keraguan dalam dirinya.
Menghela napas panjang dan berat. "Itu semua kulakukan demi kebaikan kita bersama. Aku tahu sejak dulu Tante tidak pernah menyukaiku dan ingin menyingkirkanku dari kehidupan Xander hingga Tante menyusun rencana demi menjebakku agar seolah terlihat bahwa aku sedang selingkuh di belakang suamiku. Jadi kupikir untuk apa memberitahu kalian tentang berita kehamilan ini toh semua tidak akan bisa kembali lagi seperti sedia kala."
"Namaku tercoreng dan Xander pun membenciku hingga tak sudi melihat wajahku ini. Jadi lebih baik aku rahasiakan berita kehamilanku ini dari Tante, Om Jonathan dan juga Xander. Biarlah aku membesarkan Arsen seorang diri tanpa bantuan siapa pun."
Sebagai seorang ibu, tentu saja Miranda dapat merasakan bagaimana susahnya Tania membesarkan anak seorang diri. Belum lagi harus mencari pekerjaan demi memenuhi kebutuhan nutrisi si kecil pasti sangat sulit. Namun, dengan kejamnya Miranda mendepak Tania, menyusun rencana licik berharap mantan menantunya itu pergi dari kehidupan Xander selamanya.
Miranda meremat dada. Mata terpejam merasakan gemuruh di dalam dada, bertabuh tanpa tahu kapan akan berhenti. Buliran kristal, semakin lama semakin deras mengalir membasahi wajah.
"Ya Tuhan, betapa kejamnya diriku telah menyia-nyiakan cucuku sendiri. Di saat tante sibuk mencari cara agar kamu pergi dari kehidupan Xander, kamu justru sedang berjuang melawan gejala morning sicness yang sering dialami perempuan hamil pada umumnya. Bukannya memberi support, tante justru memfitnahmu di depan semua orang hingga mereka menuduhmu sebagai perempuan murahan karena selingkuh dengan sepupu dari suamimu sendiri."
Miranda terisak seraya meremas sprei putih di sebelahnya. Rasa penyesalan menyeruak ke sanubari yang terdalam. Berandai, jika dulu ia tak memfitnah Tania mungkin saat ini hidupnya bahagia karena dapat berkumpul bersama suami, anak, menantu dan cucu kesayangan. Impian untuk mempunyai cucu yang menggemaskan telah dikabulkan oleh Sang Maha Esa.
__ADS_1
"Tante berdosa padamu, Nia. Maafkan tante. Tidak seharusnya tante memisahkanmu dari Xander. Tidak seharuanya tante memisahkan seorang anak dari ayah kandungnya sendiri," isak Miranda dengan lelehan air mata yang semakin deras mengalir.
Melihat betapa tersiksanya Miranda, tangan Tania membawa tubuh sang mantan ibu mertua ke dalam pelukan. Ia mengusap punggung wanita itu secara perlahan. "Sudah, Tante. Tidak perlu menyesali apa yang telah terjadi. Aku sudah melupakan kejadian itu dan memaafkan Tante juga. Jadi, jangan pernah ingat lagi kejadian di masa lalu. Kejadian yang justru membuat luka kembali menganga."
Jemari lentik nan halus mengusap air mata Miranda. "Segala sesuatu yang telah terjadi janganlah disesali. Anggap saja semua adalah ujian Tuhan yang ingin mengetahui sampai mana batas kesabaran kita menghadapinya. Semog saja setelah kejadian ini kita bisa menjadi insan yang lebih baik lagi."
"Selagi Arsen ada di sini, apa Tante tidak berkeinginan untuk memeluk puteraku, cucu Tante?" ucap Tania mencoba mengalihkan perhatian Miranda.
Pemilik bibir merah muda alami menoleh ke arah sang putera. "Arsen, peluk Nenekmu."
Belum sempat Arsenio bergerak, Miranda sudah lebih dulu membawa kepala si bocah genius penyuka warna biru langit ke dada. Ia mendekap cucu kesayangan dengan begitu erat.
"Oh cucuku. Maafin, nenek karena telah menyia-nyiakanmu selama ini. Maaf karena nenek sudah memisahkanmu dengan Papamu." Miranda hujani puncak kepala, pipi dan wajah Arsenio dengan ciuman. Ada rasa haru dan bahagia dalam waktu bersamaan.
Alih-alih merasa risih diperlakukan bak seorang anak kecil berusia tiga tahunan, Arsenio justru tersenyum lebar ketika dicium oleh wanita paruh baya yang ia panggil sebagai nenek.
"It's okay, Nenek. Aku udah maafin Nenek, kok. Kata guruku di sekolah, kita enggak boleh dendam dan harus mau memaafkan meski kesalahan orang itu sangat besar. Dosa hukumnya kalau kita enggak mau maafin orang. Tuhan aja mau memaafkan, masa iya kita enggak mau," ucap Arsenio yang mana semakin membuat Miranda mengeratkan pelukannya.
"Duh, gemesin banget. Anak siapa sih ini." Miranda mencubit gemas pipi tembem Arsenio.
"Anak Mama Tania dan Papa Xander," sahut Arsenio dengan menaikan sudut bibirnya ke atas. Sontak semua orang terkekeh pelan mendengar jawaban Arsenio.
__ADS_1
...***...