
Aura berjalan setengah berlari menuju meja kerja. Semakin lama berada di dekat Abraham, ia takut pertahanannya runtuh dan keputusannya untuk melupakan Abraham goyah. Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat bagi sang wanita untuk mengubur perasaan cintanya terhadap pria yang sangat berarti dalam hidupnya itu.
Entah sudah berapa banyak liter air mata jatuh bercucuran di antara kedua pipi sejak memutuskan pergi meninggalkan Abraham dan juga kenangan bersama pria yang ternyata tidak mencintainya sama sekali. Sakit, kecewa, dan putus asa, itulah yang Aura rasakan dulu. Karena tidak mau terus menderita, akhirnya ia pergi dari kehidupan Abraham untuk selamanya.
Menghempaskan bokong di kursi kerja. Tangannya ia letakkan di dada. Detak jantungnya terus saja berdegup kencang seolah mau meledak detik itu juga.
Mengusap lembut seraya berucap, "Kenapa jantungku masih saja berdebar saat berada di dekatnya? Mungkinkah rasa cinta itu masih tersisa di hatiku?"
Menggeleng kepala cepat, mencoba mengenyahkan pikiran aneh yang sempat singgah di benaknya. "Come on, Ra, jangan biarkan pikiranmu menguasai diri. Ingat, Kak Abraham tidak pernah mencintaimu jadi sebaiknya tidak usah bermain-main dengan perasaanmu lagi. Jika tidak ... maka bersiaplah hidup menderita untuk kedua kali."
Menarik napas panjang seraya memejamkan mata sejenak. Menghirup udara sekitar sebanyak-banyaknya. Setelah merasa tenang, barulah Aura membuka kelopak matanya yang sempat terpejam selama beberapa saat.
"Aku harus fokus bekerja. Jangan sampai karena masalah ini aku lalai dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabku sebagai seorang sekretaris. Aku tidak boleh mengecewakan Tuan Jonathan yang telah memberiku kesempatan untuk bekerja di sini."
Sebelah tangan Aura mengepal di depan dada. Dengan semangat 45 ia berkata, "Semangat, Aura! Kamu pasti bisa!"
Di ruangan berbeda, tetapi masih gedung yang sama, tampak Abraham tengah termenung seorang diri di kursi kerjanya. Kedua siku diletakkan di atas meja sementara tangan pria itu menopang dagunya yang lancip. Tatapan mata pria itu menerawang jauh seolah tersesat pada satu dimensi masa lampau.
"Hampir sepuluh tahun berlalu, rupanya dia sudah banyak berubah. Tidak hanya dari segi penampilannya saja yang telah berubah, tetapi juga sikapnya yang seolah tengah menghindariku. Aku nyaris tak mengenali dia kalau saja Paman Jonathan tidak memanggilnya tadi." Gumam Abraham.
Abraham menyenderkan punggung di kursi kebanggaan. Sepasang mata itu menatap langit-langit ruangan. Lalu tak lama kemudian bayangan wajah seorang wanita cantik berpenampilan culun dengan kacamata bundar, dan rambut berponi menutupi kening melintas dalam benak pria itu. Senyumnya yang manis membuat Abraham tanpa sadar menyunggingkan sudut bibirnya ke atas.
__ADS_1
"Beruntungnya Tuhan kembali mempertemukan kita, Ra, jadi aku bisa menyampaikan permintaan maafku yang belum sempat kukatakan kepadamu. Semoga dengan ini bisa mengurangi rasa bersalahku kepadamu."
***
Meninggalkan dua insan manusia yang tengah sibuk dengan urusan masing-masing, anak laki-laki berusia enam tahun setengah melangkah dengan gagah berani memasuki gedung pencakar langit yang kelak menjadi miliknya. Gayanya yang cool serta sikapnya yang ramah membuat ia menjadi idola baru di kalangan para karyawan perusahaan. Wajah tampan serta kepintarannya membabat habis para hacker menjadikan bocah laki-laki itu idaman para kaum wanita.
"Mbak Surti, kalau aku bertemu Kakek Jo, Mbak tunggu aja di ruang tunggu khusus tamu penting perusahaan. Aku mau meng-update anti virus yang kubuat beberapa bulan lalu," kata Arsenio sambil terus mengayunkan kakinya memasuki lobby perusahaan. "Berita tentang pernikahan Mama dan Papa tersebar di mana-mana, hampir semua orang tahu kalau sekarang Mama resmi jadi istri Papa lagi, aku takut kesempatan ini dipakai orang lain untuk menghancurkan usaha yang susah payah didirikan oleh Kakek Jonathan dan Papa."
"Sebagai anak laki-laki dan calon kakak yang baik, aku enggak mau mengecewakan Kakek Jo, Nenek Miranda, dan juga Mama. Aku akan berusaha keras untuk melindungi mereka semua," imbuh Arsenio dengan bersungguh-sungguh. Tak ada sedikit pun keraguan terpancar jelas dari sorot mata anak laki-laki itu.
Surti mengulum senyum. Ada rasa bangga dalam diri wanita itu karena setiap hari anak majikannya tumbuh semakin dewasa dan juga semakin pandai. Sebagai pengasuh Arsenio, tentu saja ia merasa bangga karena berhasil turut membantu Tania membesarkan bocah kecil pemilik otak genius.
Sepanjang jalan, tak jarang dari karyawan perusahaan menyapa tuan muda Vincent Pramono. Mereka menyunggingkan senyuman termanis saat tanpa sengaja berpapasan dengan bocah kecil yang kelak mewarisi seluruh harta warisan milik Jonathan dan juga Xander.
"Den Arsen hebat, masih kecil sudah banyak yang mengidolakan. Mbak yakin saat besar nanti, Aden akan jadi pujaan setiap wanita. Mereka pasti berbondong-bondong mengantri demi bisa berpacaran dengan Den Arsen," kata Surti sedikit menggoda anak majikannya. Bukan tanpa alasan berkata demikian sebab sejak tadi ia perhatikan tatapan mata para pekerja perusahaan yang kebanyakan adalah kaum Hawa, tak mau lepas dari sosok mungil, gagah, dan juga tampan yang tengah menggandeng tangannya.
Walaupun usia Arsenio masih terbilang sangat muda, tetapi aura ketampanannya sudah terpancar sejak dini. Mewarisi ketampanan dari sang papa serta kepintaran dari sang mama membuat bocah laki-laki itu mempunyai daya tarik tersendiri bagi pada wanita di muka bumi ini. Oleh karena itu, Surti begitu yakin jika di masa mendatang Arsenio akan menjadi idola bagi para kaum Hawa.
Bibir merah alami mengerucut ke depan. Arsenio tidak suka kalau digoda sedemikian rupa oleh pengasuhnya.
"Aku masih kecil, Mbak, tidak boleh bahas cinta-cintaan. Nanti dimarahin Mama. Kata Mama, aku harus sekolah yang benar agar kelak menjadi anak hebat, berguna bagi orang tua, keluarga serta orang yang membutuhkan. Kalau sudah dewasa baru boleh pacaran," sahut Arsenio mengulangi perkataan yang selalu Tania ucapkan kepadanya.
__ADS_1
Surti masih terkekeh, tetapi tak sekeras sebelumnya. "Baiklah, mbak Surti tidak akan membahasnya lagi," ujar pengasuh Arsenio seraya membungkam mulutnya.
Tanpa terasa mereka telah tiba di depan ruangan CEO, tempat di mana saat ini Jonathan berada. Laura langsung mempersilakan Arsenio masuk ke dalam ruangan, sementara Surti bergegas meninggalkan anak majikannya sendirian.
"Kakek!" seru Arsenio saat Laura membukakan pintu ruangan. Tangannya yang mungil melambai di udara.
Bergegas bangkit dari kursi kebanggaan lalu berhambur mendekati Arsenio sambil merentangkan kedua tangan. Ia memeluk tubuh sang cucu dengan begitu erat. "Cucu kakek yang tampan. Bagaimana sekolahmu tadi, apa menyenangkan?"
"Sangat menyenangkan sekali, Kek. Saat jam olahraga, Pak Guru mengajariku dan teman-teman bermain bola. Timku menang, loh, kok."
"Wah, hebat sekali! Kamu dan teman satu tim pasti sudah berusaha keras agar bisa menang. Sebagai imbalan atas kerja keras kalian, bagaimana kalau kakek minta Om Ibrahim menyiapkan hadiah untuk teman-temanmu? Supaya kalian semakin bersemangat."
Mata jernih itu berbinar bahagia. "Ide bagus, Kek! Tapi kalau cuma teman satu timku saja yang dikasih, tim yang kalah pasti merasa iri. Bagaimana kalau Kakek minta Om Ibrahim menyiapkan hadiah untuk semua teman-temanku? Biar adil, Kek. Jadi nanti tidak ada yang iri karena tidak kebagian hadiah."
Jonathan tersenyum lebar. Tidak hanya pintar dalam bidang IT, rupanya Arsenio pun mempunyai sifat dermawan.
Mengusap helaian rambut pirang kecoklatan dengan penuh kasih sayang. "Oke. Besok lusa hadiah untuk teman-temanmu di kelas akan kakek kirimkan ke sekolah."
Usai mengucap kalimat tersebut, Arsenio segera menepati janjinya, meng-update anti virus serta memperkuat sistem pertahanan perusahaan agar tidak mudah dibobol rival bisnis Jonathan dan Xander yang berniat mencuri data perusahaan. Ia kerahkan semua kemampuan serta kepintarannya untuk melindungi harta benda milik sang kakek. Ia berjanji tidak akan membiarkan jerih payah Jonathan dan Xander hancur akibat ulah rival bisnis kakek dan papa tersayang.
...***...
__ADS_1