
"Loh, Nia, kamu buru-buru banget sih. Emang enggak mau ikut kita nonton? Di bioskop ada film baru nih, keren pula." Salah satu teman kerja Tania berseru saat melihat arsitektur kesayangan Johan meraih sling bad dari atas meja kerja. Sore itu dia dan beberapa teman kantor hendak pergi ke sebuah mall guna menonton film horor yang baru saja launching di bioskop.
Banyaknya pekerjaan serta tugas yang diberikan kantor membuat mereka membutuhkan refreshing agar pikiran kembali segar dan tidak stress. Oleh karena itu mereka sepakat pergi nonton sebelum pulang ke rumah masing-masing. Kebanyakan dari mereka memang masih single sehingga tak perlu merasa risau apabila meninggalkan buah cintanya. Namun, beda halnya dengan Tania. Dia harus segera pulang karena ada seseorang yang tengah menunggunya di rumah.
Menyunggingkan senyuman manis hingga membuat kecantikan Tania berjuta kali lipat. "Sorry, aku enggak bisa gabung kalian. Anakku udah nungguin di rumah. Selain itu, aku pun ada janji sama orang jadi mesti buru-buru pulang ke rumah."
Beberapa teman Tania saling berpandangan seakan tengah bertanya dalam diam, 'siapakah seseorang yang hendak bertemu dengan Tania?'
"Kayaknya bentar lagi Tania bakal nyebar undangan nih," celetuk dari mereka.
"Ah iya! Jangan-jangan kamu janjian mau ketemuan sama Papa barunya Arsen, ya?" timpal yang lain.
Ruangan yang semula sunyi seketika berubah menjadi ramai oleh suara canda mereka. Rekan kerja Tania semakin bersemangat menggoda tatkala melihat rona merah muda di wajah ibu kandung Arsenio. Wanita cantik dalam balutan blazer abu-abu dengan dalaman warna putih dipadu celana kain putih tersenyum simpul di hadapan semua.
"Iih ... apaan sih. Please deh, kalian jangan nyebarin gosip. Lagi pula cuma makan malam biasa kok, enggak ada yang spesial."
Khansa, menyenggol bahu Tania. "Tuh, 'kan, udah tahap makan malam segala loh. Sebentar lagi lamaran terus ijab kabul. Adiknya Arsen, otw nih."
Tidak mau jadi bulan-bulanan rekan kerjanya, Tania bersiap meninggalkan mereka. "Udah ah, aku pulang duluan. Have fun, ya. Bye semua!" Tania mengakhiri percakapannya dengan melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan.
Tania mengayunkan kaki menuju lift yang akan membawanya menuju lantai ground. Ketika pintu lift berdenting dan terbuka, ia mengeluarkan telepon genggam dari dalam tas. Kemudian mengirimkan pesan singkat pada Surti.
__ADS_1
[Mbak, aku mau mampir dulu ke supermarket jadi pulang sedikit terlambat. Kalau ada barang yang mau dibeli, segera tulis dan kirimkan kepadaku. Nanti aku beli sekalian.]
Usai mengirimkan pesan, Tania segera memasukan kembali smartphone-nya itu dan kembali melangkah keluar menuju parkiran khusus para karyawan.
***
Saat tiba di supermarket, Tania memilih sayuran hijau dan buah-buahan segar serta tak lupa ayam broiler bagian paha sebagai menu makan malam mereka. Malam ini ia berencana membuat sup bakso, ayam goreng serta tak lupa tahu dan tempe goreng sebagai lauk pelengkap. Sambal bawang yang dicampur minyak panas akan sangat cocok apabila disandingkan dengan menu makanan tersebut.
Tania sengaja memasak semua menu makanan itu sebab mantan suami dan putera tersayang menyukai makanan tersebut. Oleh karena itu, dia ingin membuat sesuatu yang spesial malam ini.
"Ayam bagian paha, done. Bahan-bahan membuat sayur sop, done. Buah naga, apel dan jerus juga, done. Ehm ... sepertinya udah semua. Titipan Mbak Surti pun udah masuk keranjang, tinggal bayar ke kasir deh." Lantas, Tania mendorong troli belanjaan menuju kasir dan melakukan transaksi pembayaran.
Dengan susah payah Tania menekan kata sandi sebelum membuka pintu unit apartemen miliknya. "Mama!" seruan itu menjadi sambutan pertama bagi Tania sesaat setelah wanita itu tiba di kediaman mereka.
Tubuh mungil berhambur, lalu melingkarkan jemari mungil di pinggang sang mama. "Kenapa Mama baru pulang? Aku kangen banget sama Mama."
Tania tersenyum mendengar perkataan Arsenio. Hati ibu mana yang tak bahagia jika setiap kali pulang ke rumah disambut riang oleh putera tercinta.
"Maafin Mama, ya. Tadi Mama pergi belanja dulu ke supermarket. Malam ini, Om Xander mau datang ke sini. Kita mau diskusi tentang sekolah mana yang cocok buat kamu. Nah, Mama sekalian mengajaknya makan malam bersama kita. Kamu enggak keberatan, 'kan, kalau Mama ajak Om Xander makan bersama kita?" tanya Tania penuh pengharapan. Walaupun Arsenio sudah tak lagi memanggil Xander dengan sebutan 'om jahat', tetap saja Tania dirundung kekhawatiran. Takut jika Arsenio masih memendam kebencian pada sosok pria yang masih ia cintai.
Kepala Arsenio mendongak ke atas. Ekor matanya menatap iris coklat milik Tania. Dari sorot mata itu ia dapat melihat betapa besar harapan Tania agar malam ini mereka dapat makan malam bersama.
__ADS_1
Arsenio mengangguk dan berkata, "Boleh. Aku enggak keberatan kalau Om Xander makan malam bersama kita. Sesekali menyenangkan orang, menurutku enggak masalah. Tapi jangan keseringan, ya, Ma. Aku enggak mau kalau Om Xander menghabiskan semua lauk buatan Mama." Bocah kecil itu terkikik geli usai mengucapkan kalimat tersebut.
Terdengar helaan napas penuh kelegaan bersumber dari Tania. Apa yang ia takutnya tidak terjadi. Arsenio, si bocah kecil nan menggemaskan itu memperbolehkannya mengundang Xander untuk makan malam bersama mereka.
Tania mengusap puncak kepala Arsenio sambil memberi kecupan penuh cinta. "Kamu tenang aja, Mama pasti menyisakan banyak makanan untukmu."
Arsenio mengulurkan tangan ke depan. "Ayo, aku bantuin Mama masak buat Om Xander." Ia genggam jemari tangan lentik nan lembut Tania, lalu keduanya jalan beriringan masuk menuju dapur.
Di sana sudah ada Surti yang baru saja selesai menyapu dan mengepel rumah. Selain menjadi babysitter atau pengasuh Arsenio, dia pun terkadang merangkap menjadi asisten rumah tangga yang membantu sang majikan membersihkan rumah.
"Surti, tolong kamu tata belanjaan ini, aku mau mandi sebentar."
Surti kedikit keheranan tatkala melihat raut wajah Tania yang tampak berseri. Pendar bahagia terpancar jelas dari bola mata indah nan jernih itu.
"Baik, Bu. Segera saya kerjakan." Tanpa menunggu diperintah, Surti sudah meraih kantong belanjaan itu dari tangan Tania. Kemudian mulai mengerjakan apa yang diperintahkan sang majikan.
Tania mendaratkan lututnya di lantai agar posisi tubuhnya sejajar dengan sang putera. "Sayang, Mama tinggal sebentar. Kamu tunggu Mama di sini sama Mbak Surti. Setelah selesai kita masak bersama-sama. Oke?"
Dengan cepat Arsenio menjawab, "Oke, Mama!"
...***...
__ADS_1