
Tubuh Abraham menegang. Jantung pria itu memompa lebih cepat dari biasanya. Tatkala suara langkah kaki semakin mendekat maka jantungnya pun semakin kencang memompa bahkan rasanya hampir saja meledak detik itu juga. Apalagi suara merdu itu begitu familiar di indera pendengarannya.
"Maafkan saya, Tuan, karena datang terlambat. Tadi ban mobil saya bocor dan harus ke bengkel dulu." Wanita itu kembali bersuara, meminta maaf kepada Jonathan karena ia datang terlambat sepuluh menit dari waktu yang dijanjikan.
Jonathan bangkit berdiri dari kursinya. Alih-alih memarahi calon sekretaris baru Abraham, ia justru terkekeh pelan. Tak ada raut kekesalan terpancar dari wajahnya yang tampan itu.
"Tidak masalah. Ini merupakan hari pertamamu bekerja jadi saya dapat memakluminya. Namun, saat kamu sudah mulai aktif bekerja di perusahaan ini saya harap kejadian ini tak terulang lagi. Disiplin dan tepat waktu adalah kunci kesuksesan bagi seseorang," ucap Jonathan bijak.
Wanita asing itu mengangguk sebagai jawabannya. Merasa beruntung karena di hari pertamanya bekerja, ia tak mendapat omelan dari Jonathan. Ia justru mendapat nasihat bijak dari pendiri sekaligus pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Sementara itu, Abraham hanya terdiam mendengar percakapan antara Jonathan dengan wanita yang tampaknya tak asing lagi baginya.
'Siapakah wanita ini? Kenapa rasanya aku begitu familiar dengannya?' tanya Abraham penasaran. Kening pria itu tertaut, berpikir keras di mana ia pernah beftemu dengan wanita tersebut.
Seolah-olah semesta meretui Abraham, Jonathan berjalan ke arah wanita itu. Berdiri di sebelah wanita yang kelak menjadi sekretari dari keponakannya tersayang. "Kebetulan kamu sudah datang. Ayo, perkenalkan dirimu kepada keponakan sekaligus calon Bosmu yang baru."
__ADS_1
Wanita cantik itu mengangguk. Dengan patuh menuruti perkataan Jonathan.
"Selamat pagi, Tuan. Perkenalkan nama saya adalah Aura. Senang dapat bekerja di bawah kepimpinan Anda," ucap wanita yang diketahui bernama Aura.
Abraham bergegas membalikan badan usai wanita cantik berambut panjang kecoklatan memperkenalkan diri di hadapannya. Sepasang mata pria itu membulat tatkala melihat siapakah gerangan yang berdiri tak jauh dari posisinya saat ini.
Wajah manis terpoles make up flawless. Gaya berpakainnya terlihat modis dan stylish. Kendati demikian, Abraham masih mengingat jelas siapa pemilik paras cantik jelita tersebut.
"Aura? Kamu ... Aura Larasati, 'kan?" tandas Abraham ingin memastikan bahwa ia tak salah orang. Rasanya akan sangat memalukan kalau sampai ia salah mengenali orang. Apa kata wanita itu jika calon sekretarisnya itu menganggap bahwa dirinya sok kenal dan sok akrab di hari pertama mereka bertemu.
'Ya Tuhan, jadi pria yang kelak menjadi atasanku adalah Abraham. Lelaki yang pernah ....' Aura tak sanggup melanjutkan kalimatnya tersebut. Hati kembali terasa sakit seolah seperti ditusuk sebilah pisau yang sangat tajam. Sakit, sangat sakit hingga rasanya menembus sampai ke tulang belakang.
Akan tetapi, Aura sadar kalau saat ini tengah berada dilingkungan perusahaan. Di sebelahnya ada Jonathan dan Ibrahim menatap penuh tanda tanya kepadanya. Jadi ia harus dapat mencoba mengendalikan diri untuk tidak larut dalam suasana.
__ADS_1
Mengulum senyum semanis mungkin mencoba menutupi kegugupan yang sedang Aura rasakan. "Benar sekali, Tuan. Saya Aura Larasati, calon sekrtaris baru Anda. Senang bertemu dengan Anda, Tuan Abraham." Mengakhiri kalimatnya dengan membungkukan sedikit badan.
"Ke depannya kita akan bekerja sama, jadi saya memohon kerjasama dan bimbingannya dari Anda, Tuan Abraham Pramono."
Jonathan tersenyum lebar, tetapi raut wajahnya seakan tengah menyimpan banyan pertanyaan yang ingin ditujukan kepada dua manusia tersebut. Tak mau mati penasaran, ia memberanikan diri bertanya kepada dua anak manusia itu.
"Tunggu! Apa kian sudah saling mengenal satu sama lain? Kenapa aku merasa sepertinya kalian pernah bertemu sebelumnya. Ini hanya perasaanku saja ataukah kalian memang pernah saling mengenal satu sama lain?"
Secara hampir bersamaan Abraham dan Aura menjawab, "Pernah. Kami memang pernah bertemu sebelumnya."
Semakin dibuat penasaranlah Jonathan. Ia mengernyitkan kening hingga memperlihatkan garis halus di sana. "Di mana?" tanyanya lagi.
"Ehm, itu ... kami ...." Abraham tak mampu melanjutkan kalimatnya. Saking gugupnya, suara pria itu tercekat di tenggorokan. Lidahnya mendadak kelu, tak sanggup berkata.
__ADS_1
Di sisi lain, Aura pun sama gugupnya dengan Abraham. Wanita itu tidak tahu harus menjawab apa. Haruskah ia berkata jujur atau justru menyembunyikan sebuah fakta yang disimpannya selama ini. Ia berada di persimpangan jalan dan tak tahu harus memilih jalan yang mana.
...***...