Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Kasmaran


__ADS_3

"Papa udah mau pulang, ya?" Anak laki-laki berusia enam tahun menatap nanar pada sosok pria jangkung dan berbadan kekar di depannya. Entah kenapa bocah kecil itu masih ingin bermanja-manja dengan sang papa. Mungkin akibat terlalu lama tak mendapat belaian kasih sayang dari sosok pria yang dipanggil papa membuat Arsenio merindukan sentuhan penuh cinta dari papa tersayang.


Xander membawa tubuh Arsenio dan mendudukannya di pangkuan. Ia usap helaian rambut pirang kecoklatan dengan penuh cinta. "Benar, Sayang, papa harus pulang sekarang. Tadi Kakek Jo minta papa mampir sebentar. Katanya sih ada hal penting yang ingin dibicarakan berdua."


Bibir Arsenio mengerucut ke depan. "Ya ... padahal aku masih ingin main sama Papa." Tampaknya dia kecewa karena momen kebersamaan dengan Xander harus terhenti sementara.


"Iya, papa tahu. Ehm ... gimana kalau besok pagi papa datang ke sini lagi? Besok kita bisa main sepuasnya sambil nunggu Mama pulang," usul Xander. Mencoba bernegosiasi dengan Arsenio agar bocah itu tak kecewa.


Kepala Arsenio mendongak maksimal demi melihat wajah rupawan sang papa. "Kenapa Papa enggak nginap aja? Papa kan bisa bobok bareng Mama."


"Arsenio!" pekik Tania menahan semburat rona merah muda di wajah. Ia benar-benar malu atas ucapan Arsenio barusan.


Sementara itu, Xander hanya tertawa renyah mendengar perkataan itu. Terlebih melihat wajah merah merona akibat malu membuat pria itu semakin gemas dibuatnya.


"Sebetulnya papa ingin sekali tinggal satu atap denganmu dan Mama. Namun, karena papa dan Mama sudah berpisah rasanya tidak nyaman bila kami tinggal di tempat yang sama tanpa ada hubungan apa pun," tandas Xander memberi penjelasan pada Arsenio. "Tapi kamu tenang saja, suatu hari nanti kita akan tinggal bersama seperti impianmu."


Xander mencium puncak kepala Arsenio. "Sudah, jangan bicara lagi. Sebaiknya kamu tidur sekarang. Ingat kata Om Dokter, kamu masih perlu banyak istirahat. Mengerti?"


Tubuh Arsenio melorot ke lantai. Anak laki-laki bermata hazel melangkah masuk ke kamar dan bersiap merebahkan tubuh di atas ranjang.


Tania memutuskan mengantarkan Xander sampai depan lift. Sepanjang jalan hanya keheningan tercipta mengambang di udara. Mantan sepasang suami istri itu terdiam dengan terus memperhatikan jalanan di depan sana.


"Tania, jika nanti malam demam Arsenio kambuh, jangan sungkan untuk menghubungiku. Aku pasti datang secepat mungkin dan mengantarkan kalian ke rumah sakit." Suara berat Xander memecah keheningan di antara mereka berdua. Entahlah, ia tak tahu harus berkata apa saat keduanya terdiam seperti sekarang ini. Yang terlintas dalam benak pria itu hanyalah Arsenio.


Tania menoleh beberapa detik kemudian kembali menatap ke depan. "Iya, kamu tenang aja, aku pasti menghubungimu kalau ada masalah urgent."

__ADS_1


Keheningan kembali tercipta hingga keduanya sampai di pintu lift yang akan membawa Xander menuju lantai satu.


"Sebaiknya kamu kembali ke ruangan, jangan tunggu aku sampai masuk lift."


Si cantik bermata sipit menggeleng cepat. "Tidak, biarkan aku di sini sampai kamu masuk lift," tolaknya.


Menarik napas panjang. Xander tak membantah karena tahu jika berdebat hanya akan menghabiskan energi saja sebab Tania akan teguh dengan pendirian.


Angka digital di bagian atas lift menunjukan angka lima belas petanda sebentar lagi mencapai lantai tujuh, tempat Tania tinggal. Semakin lama angka digital itu semakin mendekati angka tujuh membuat jantung mantan sepasang suami istri itu berdebar tak menentu.


Saat lift berdenting dan terbuka, Xander tak langsung masuk ke dalam melainkan membalikan badan menghadap Tania. "Terima kasih karena sudah memberi kesempatan kepadaku untuk turut andil merawat dan menjaga Arsenio. Aku merasa bahagia karena beberapa hari ini bisa menghabiskan waktu bersama dengan Arsenio. Sekali lagi terima kasih."


Xander membungkukan sedikit kepalanya ke bawah petanda bahwa ia benar-benar tulus dengan ucapannya. "Ya sudah, kalau gitu aku pulang dulu. Selamat malam." Ia berikan senyuman termanis sebelum masuk ke dalam lift.


Mantan CEO perusahaan V Pramono Group melangkah ke depan. Namun, saat tangan kekar pria itu hendak menekan angka satu pada deretan tombol di bagian kanan atas, suara lembat Tania mengurungkan niatannya.


***


Xander mengetuk daun pintu menggunakan tangan sebelah kiri, sedangkan tangan sebelah kanan menyentuh pipinya yang beberapa waktu lalu dikecup Tania. Hangatnya bibir wanita itu seakan masih terasa di pipi sang lelaki.


Malam ini Xander tampak berbunga-bunga karena sudah tujuh tahun tak merasakan bagaimana rasanya dicium oleh wanita yang dicintai. Jadi jangan heran jika saat ini ia amat sangat bahagia seperti anak ABG yang kasmaran.


"Rupanya kamu, toh. Papa pikir siapa. Ayo masuk, papa sudah menunggumu sejak tadi." Jonathan membuka pintu lebar hingga Xander dapat masuk ke rumah kontrakan yang ia sewa selama waktu yang tidak ditentukan.


Kenapa Xander diam saja? Apa dia sedang sakit gigi, sedari tadi memegangi pipinya saja. Jonathan memperhatikan ekspresi wajah Xander yang tampak semringah. Sangat berbeda sekali dengan raut wajah saat terakhir kali mereka bertemu.

__ADS_1


Jonathan berdehem sebelum membuka percakapan di antara mereka. "Xander? Apa kamu baik-baik saja? Apa ... gigimu sakit karena sejak tadi papa perhatikan kamu memegangi pipimu saja," ucap pria itu penuh selidik.


Alih-alih menjawab, sikap Xander semakin menggila. Pria berusia tiga puluh tahun justru menarik sudut bibirnya ke atas, menyeringai seperti orang bodoh. Ya, tentu saja dia bodoh, bodoh karena cinta.


Jonathan sedikit terpana melihat seringai menyebalkan itu. Lantas, ia menepuk pundak Xander dan berkata dengan meninggikan satu oktaf suaranya. "Alexander Vincent Pramono, kamu sudah gila hem, tersenyum sendiri seperti orang hilang akal saja!"


Sungguh Jonathan tak lagi dapat menahan diri untuk mengorek informasi yang membuat putra semata wayangnya bersikap aneh seperti sekarang.


"Sepertinya aku memang sudah gila, Pa. Aku butuh psikiater untuk mengobati penyakitku," sahut Xander sambil terus mengulum senyum di wajah. Tatapan mata pria itu kosong seolah jiwanya tersesat pada sebuah dimensi lain.


"Jangan bercanda, Xander! Papa memintamu datang ke sini karena ingin membahas hal serius, bukan ingin melihatku bersikap bodoh seperti sekarang ini." Jonathan mendesis pelan seraya memijat pelipisnya yang terasa pening.


Xander masih dalam mode orang seperti hilang akal, tersenyum sendiri sambil mengelus-elus wajahnya yang mulus seperti jalan tol.


Terdengar helaan napas panjang dan berat bersumber dari Jonathan. "Tampaknya kamu memang tidak berminat bekerja kembali di perusahaan, jadi sebaiknya papa berikan saja jabatan itu pada Abraham."


Mendengar nama saudara sepupunya disebut, ekspresi wajah Xander berubah kelabu. Ia menatap serius pada sosok pria paruh baya di sebelahnya.


"Aku tidak setuju jika Abraham menggantikan posisiku sebagai CEO di perusahaan, Pa! Tidak akan pernah setuju!" ujar Xander tegas. Walaupun kebenaran sudah terungkap, tapi ia tetap tidak menyukai Abraham. Mungkin karena dulu pernah melihat pria itu mendekati Tania jadi amarah masih bersemayam di dada ayah kandung Arsenio.


"Kalau begitu fokus dengan urusan kita. Papa enggak mau menghabiskan waktu hanya untuk melihatmu menyeringai seperti orang hilang akal. Mengerti?"


Xander memasang wajah serius. "Katakan, maksud Papa mengundangku datang ke sini untuk apa?" tanyanya to the point.


Jonathan tersenyum samar mendengar ucapan Xander. Ia suka sikap Xander yang selalu to the point.

__ADS_1


"Maksud papa memintamu datang ke sini karena papa ingin mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milikmu. Papa ingin menyerahkan kembali jabatan CEO kepadamu. Apa kamu bersedia memikul beban itu kembali?"


...***...


__ADS_2