Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Kejutan untuk Istri Tercinta


__ADS_3

Xander menoleh ke belakang, di mana Tania tengah terbaring lemah akibat percintaan mereka beberapa waktu lalu. Lalu kembali menatap keindahan menara Eiffel dari balkon kamar hotel tempatnya dan Tania menginap selama berada di negara yang terkenal dengan keromantisannya. Tampak Xander sedang berpikir keras keputusan apa yang harus ia ambil. Apakah menerima usulan sang papa atau justru menolaknya sebab ia belum siap jika harus bekerja sama dengan lelaki yang pernah menjadi rivalnya.


Menarik napas panjang, menahannya sebentar lalu mengembuskan perlahan. "Baiklah kalau itu memang keputusan Papa dan Mama maka aku bersedia menerima usulan kalian. Lagi pula Papa dan Mama punya alasan kuat mengapa meminta Abraham kembali ke perusahaan. Bukan, begitu?" tandas Xander.


Jonathan mengangguk. "Benar. Papa dan Mama berpikir daripada Abraham bekerja di luar kenapa tidak bekerja kembali di V Pramono Group toh dia mempunyai hak untuk turut memajukan perusahaan yang didirikan pula oleh mendiang Papanya. Walaupun hanya sebagian kecil saham yang dimiliki, tapi jika terus berjaya maka keuntungan akan terus diraih oleh keluarga mendiang Ommu."


"Besok Papa akan meminta Abraham untuk mulai bekerja di perusahaan. Sementara kamu berbulan madu maka dia yang turut membantu papa mengurusi segala urusan pekerjaan di sini," sambung Jonathan.


"Oh ya, bagaimana kabar Tania? Apa kalian menikmati waktu berbulan madu dengan baik? Papa harap sekembalinya ke Indonesia, kalian memberi kabar gembira akan kehadiran anggota baru dalam keluarga kita." Jonathan mencoba mengalihkan topik pembicaraan sebab tahu jika Xander mulai merasa tak nyaman dengan pembahasan seputar Abraham. Pria yang pernah menaruh hati kepada Tania.


Xander tersenyum tipis, mengerti mengapa kini Jonathan merubah topik bahasan mereka. Otot yang semula tegang berangsur-angsur mengendur. Ia dudukan bokongnya di kursi lalu menjawab, "Kabar Tania baik-baik saja. Seperti yang Papa duga, aku dan Tania menikmati kebersamaan kami selama berada jauh dari rumah. Kami bertamasya ke tempat wisata, makan di restoran dan mengunjungi museum terkenal di kota Paris. Itu ... sungguh luar biasa."


"Lalu urusan anak, doakan saja semoga Tania memang lekas diberi amanah untuk segera mengandung buah cinta kami. Aku tidak mau Tania merasa terbebani dan justru membuatnya tertekan karena mendapat tekanan dari semua orang. Aku mau Tania menikmati hari-harinya dengan baik tanpa perlu mencemaskan apa pun," kata Xander bijak.


Sejujurnya Xander memang berharap banyak Tania bisa segera mengandung benih yang ia titipkan ke rahim sang istri. Karena itulah setiap ada kesempatan Xander selalu menjamah Tania tanpa mengenal lelah. Namun, jika memang Tuhan belum memberi kepercayaan kepada mereka maka Xander ikhlas menerimanya dan ia akan terus berusaha tanpa pernah mengenal lelah.


Tampak Jonathan manggut-manggut mendengar ucapan Xander. Puteranya yang manja berubah menjadi lebih dewasa di usianya yang hampir menginjak tiga puluh satu tahun.

__ADS_1


"Ya, kamu benar. Biarlah semua mengalir apa adanya. Terpenting menantu kesayanganku dalam keadaan sehat wal afiat."


"Oh ya, hanya itu saja yang ingin papa sampaikan denganmu. Tolong sampaikan salamku untuk Tania dan minta dia perbanyak minum vitamin agar tubuhnya selalu fit selama berada di negeri orang. Pesan papa, jangan terlalu menyiksa Tania. Usaha boleh, tapi jangan sampai membuat menantu kesayangan papa dan Mama menderita. Paham?"


Jonathan tahu betul bagaimana kerasnya usaha Xander untuk bisa membuahi Tania. Apalagi Xander pernah hidup menduda selama tujuh tahun lamanya, pasti selama itu anak semata wayangnya tersebut mati-matian menahan gelora hasrat bercinta dan saat menemukan orang yang tepat maka sudah pasti dituntaskan sampai ke akar-akarnya.


Xander mendengkus kesal. "Paham, Pa. Titip salam juga untuk Arsenio. Katakan kepadanya kalau aku dan Tania sangat merindukannya."


Lalu sambungan telepon terputus. Embusan angin di sore hari menerpa wajah Xander, menerbangkan helaian rambut warna pirang kecoklatan. Ia menghirup udara segar kota Paris seraya memejamkan mata menikmati suasana kota romantis yang merupakan negara impian Tania.


"Semoga keputusanku tidak salah," gumam Xander lirih.


"Xander, sebenarnya kita mau pergi ke mana, sih? Kenapa kamu memintaku berdandan cantik dan mengenakan gaun super mahal lengkap dengan satu set perhiasan mahal ini," ucap Tania penasaran sebab sejak meninggalkan kamar hotel sampai di dalam taxi, suaminya tetap tak mau membuka suara.


Xander melirik sekilas lalu kembali memandangi keindahan kota Paris dari jendela mobil taxi yang ia tumpangi. Dengan santainya pria itu menjawab, "Nanti juga kamu akan tahu. Sudahlah, lebih baik sekarang kamu duduk manis dan hilangkan segala rasa penasaran yang ada dalam dirimu."


Bibir ranum yang dipoles lipstick warna merah mengerucut ke depan. Sukar sekali mengorek informasi dari suaminya padahal ia sudah mengerahkan segala macam cara, tapi usahanya tetap sia-sia. Xander tetap keukeuh, enggan memberitahu ke mana mereka akan pergi.

__ADS_1


Mesin kendaraan masih menyala, sang sopir dengan setia mengemudikan mobil tersebut hingga tiba di tujuan. Xander yang sadar bahwa sebentar lagi mereka akan tiba segera mengeluarkan penutup mata warna hitam yang sempat ia sembunyikan di saku celananya.


"Untuk apa kamu mengeluarkan benda itu, Xander?" Tania cukup terkejut saat melihat kain penutup berwarna hitam berada dalam genggaman tangan sang suami.


"Tentu saja untuk menutup matamu yang indah, Sayang. Memangnya kamu pikir untuk apa aku menguarkan kain ini, hem? Untuk kuberikan pada sopir di depan sana?" Xander melirik ke arah depan, di mana sopir taxi tengah fokus dengan jalanan di depan sana.


"Iya, aku tahu. Namun, untuk apa aku menggunakan itu segala. Kalau memang mau pergi ya pergi saja, jangan menciptakan suatu hal yang justru membuatku semakin penasaran." Tania mendengkus kesal karena lagi dan lagi Xander bersikap aneh di depannya. Sungguh, ia tak mengerti dengan apa yang tengah dilakukan suaminya saat ini.


Alih-alih menjawab pertanyaan sang istri, Xander justru mengulum senyum manis di kedua sudut pipi hingga memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih. "Jangan banyak bicara kalau tidak mau aku cium! Berbaliklah sekarang sebelum aku-"


"Baiklah, baiklah. Aku berbalik sekarang!" Tania bergegas memutar tubuh hingga punggungnya membelakangi sang suami.


Xander sedikit beringsut mendekati Tania, kemudian mulai memasangkan kain penutup tersebut di sepasang mata istrinya. Setelah memastikan pandangan mata wanita itu tertutupi, ia kembali duduk di tempat semula.


Rasa gugup perlahan mulai menelusup ke relung hati yang terdalam. Walaupun Xander berusaha keras untuk tetap bersikap tenang, tapi nyatanya perasaan itu masih bergelayut manja dalam diri pria itu.


'Nia, semoga kamu menyukai kejutan yang sudah kusiapkan,' batin Xander dalam hati. Besar harapan Xander kalau rencananya akan berhasil dan membuat istrinya tersenyum bahagia.

__ADS_1


...***...


__ADS_2