Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Kejutan untuk Tania


__ADS_3

Miranda telah selesai meluruskan kesalahpahaman yang terjadi selama tujuh tahun lalu. Ia pun telah meminta maaf kepada pihak terkait, khususnya kepada Tania dan Abraham selaku korban keegosiannya. Setelah ini ia berharap kekacauan yang pernah terjadi dapat diluruskan dan hubungannya dengan Amanda serta seluruh keluarga Pramono dapat terjalin dengan baik.


Walaupun Miranda telah menyelesaikan tugasnya dengan baik, tapi acara masih terus berlangsung. Para wartawan diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan terkait klarifikasi yang dilakukan oleh nyonya besar Vincent. Laura dan Ibrahim kembali memantau jalannya acara agar berjalan sesuai rencana.


"Lantas, bagaimana dengan rumah tangga Tuan Xander dengan wanita bernama Tania? Apakah sampai detik ini mereka masih berstatuskan sebagai suami istir?" Itu pertanyaan pertama yang dilontarkan salah satu wartawan kepada Miranda.


Miranda tertegun mendengar pertanyaan tersebut. Gamang harus menjawab apa. Berpikir jika ia tak mempunyai hak untuk menjawab sebab pertanyaan ini sudah masuk ranah pribadi anak semata wayangnya.


Xander dan Tania beradu pandang, lalu detik berikutnya mereka menganggukan kepala seakan mengerti apa yang harus dilakukan oleh keduanya.


"Hubungan rumah tangga saya dengan Tania berakhir detik itu juga. Karena saya tidak sudi tinggal satu rumah dengan wanita yang telah dijamah pria lain. Saya menjatuhkan talak pada Tania tanpa pernah mau percaya dengan semua ucapannya." Suara bariton Xander menggema di seluru penjuru ruangan. Pria itu mencoba berkata jujur walau tahu akan ada luka yang kembali terkoyak akibat ucapannya.


"Hubungan saya dengan Abraham pun renggang karena di mata saya dia adalah seorang pengkhianat yang tega merebut istri kakak sepupunya sendiri," sambung Xander.


"Usai hakim mengetuk palu, menyatakan bahwa saya dan Tania sudah bukan lagi suami istri, timbul rasa penyesalan dalam diri karena meragukan kesucian mantan istriku. Namun, mata dan hati saya sudah buta sehingga mengesampingan perasaan itu dan justru memupuk rasa benci yang telah mendarah daging."

__ADS_1


"Saya memang membenci Tania, tapi jujur jauh di lubuk hati yang terdalam masih tersimpan rasa cinta yang semakin hari semakin bertambah kadarnya. Walaupun saya sempat dijodohkan dengan anak dari teman sosialita Mama saya, tapi hati dan cinta saya hanya untuk Tania seorang."


Tania menunduk dengan senyum tersipu malu. Bisa-bisanya Xander berkata demikian di depan semua orang dan disaksikan ratusan bahkan puluhan ribu masyarakat Indonesia yang menyaksikan siaran ini secara langsung.


"Oleh karena itu, selama bertahun-tahun lamanya saya mencari alasan untuk tidak diminta menikahi Lidya, sebab saya belum bisa melupakan Tania serta kenangan manis yang pernah kami lalui bersama."


Xander bangkit berdiri dari duduknya dengan menggengam pengeras suara di tangan kanan. Melihat sang papa berdiri, si kecil Arsenio bergegas mengeluarkan sesuatu dari saku celana. Suatu benda rahasia yang kelak akan merubah masa depan kedua orang tuanya.


Sambil berbicara, Xander berjalan perlahan naik ke atas panggung. Tatapan matanya terus tertuju pada satu titik di depan sana. Saat kilatan kamera menerpa wajah, pria itu justru tersenyum samar bahkan nyaris tak terlihat oleh siapa pun.


"Orang bilang jika cinta pertama itu sulit dilupakan dan saya mempercayai itu. Terbukti selama bertahun-tahun lamanya rasa cinta saya terhadap Tania tak pernah pudar walau kejadian di masa lalu terus menari indah di benakku. Sebenci apa pun saya kepada Tania, rupanya tak dapat menyingkirkan nama itu di hati ini. Tania Maharani, satu nama itu terus bertahta di singgasana tertinggi di hati ini."


Tanpa disangka di hadapan semua orang, Xander berlutut dengan tangan menyodorkan sebuah kotak berisi cincin berlian. Di saksikan kedua orang tua, Arsenio serta rekan wartawan yang hadir di ballroom hotel, pria bermata hazel berkata,


"Tania, aku tahu kesalahanku di masa lalu sulit untuk dilupakan. Sejuta kali aku meminta maaf, tak mampu menghilangkan kenangan buruk dalam hidupmu. Oleh sebab itu, untuk menebus kesalahanku di masa lalu, izinkan aku untuk menjaga dan melindungimu seumur hidupku. Izinkan aku menebus waktu yang terbuat akibat kebodohanku yang tak pernah percaya dengan ucapanmu."

__ADS_1


"Dengan disaksikan Mama, Papa, putra kita serta para tamu undangan yang hadirkan, izinkan aku untuk melamarmu, menjadikanmu Ratu di istanaku lagi. Aku berjanji tidak akan lagi menyakiti hati dan perasaanmu. Tania Maharani, will you merry me?" Xander berteriak lantang di tengah jepretan kamera yang mengarah kepadanya dan juga Tania.


Tania menutup mulutnya dengan telapak tangan seraya membelalakan mata. Wanita itu tak pernah menduga jika Xander akan melamarkan dengan cara yang tidak lazim. Di lamar di hadapan banyak orang sudah biasa, tapi di hadapan para wartawan dalam acara pers conference, bukankah merupakan suatu kejadian yang belum pernah terjadi di mana pun?


Entah mendapat ide dari mana, tapi yang pasti kejadian ini sukses membuat semua orang hadir menjadi gempar. Para awak media berlomba-lomba mengabadikan momen langka ini dengan harapan mendapat komisi besar karena telah menjadi orang pertama yang menyaksikan prosesi lamaran tuan muda Vincent Pramono.


"Bagaimana Tania, maukah kamu menerima lamaranku ini? Kamu pasti berpikir ini terlalu mendadak, tapi mau bagaimana lagi aku tak bisa menunggu terlalu lama. Aku takut kamu akan berpaling pada lelaki lain walau dirimu berkata sangat mencintaiku. Namun, cinta saja tidak cukup untuk mengikatmu. Oleh karena itu, aku ingin mengikatmu dengan cincin ini agar tak ada pria lain yang berniat merebutmu dari sisiku," ucap Xander panjang lebar.


Miranda dan Jonathan saling menatap satu sama lain. Kemudian menggelengkan kepala karena melihat tingkah anak semata wayangnya yang terkesan tidak sabaran. Akan tetapi, mereka dapat memaklumi kenapa Xander berubah jadi lelaki tidak sabaran.


"Ayo, Mama, terima lamaran Papa!" seru Arsenio mencoba memprovokasi sang mama. Sudah sejak dulu mendambakan kehadiran sosok pria dewasa yang dipanggilnya dengan sebutan 'papa' lalu sekarang setelah bertemu dengan Xander, tentu saja ia tidak mau kehilangan papanya untuk kedua kali. Arsenio ingin keluarganya utuh seperti teman sekolahnya.


Suara teriakan itu mengalihkan perhatian para wartawan dari sepasang mantan suami istri di atas panggung. Melihat anak kecil yang wajahnya mirip dengan Xander, mereka begitu yakin jika bocah laki-laki itu adalah cucu dari pemilik perusahaan V Pramono Group. Mereka kembali mengambil gambar Arsenio yang tengah berdiri di kursi.


Miranda dan Jonathan yang duduk di samping kanan kiri Tania menoleh ke arah mantan menantu mereka. Menatap wanita muda itu dengan sorot mata penuh pengharapan.

__ADS_1


Tania menarik napas panjang, matanya berkeliling menyapu segala penjuru ruangan. Lalu tatapannya beralih pada Xander dan permata hatinya, Arsenio. Ia tampak sedang berpikir keras haruskah menerima lamaran tersebut ataukah tidak.


...***...


__ADS_2