Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Meminta Penjelasan


__ADS_3

Tania menata piring berisi nasi goreng telur mata sapi lengkap dengan sosis yang dibelah menjadi empat bagian menyerupai bunga. Makanan itu merupakan salah satu makanan favorit Arsenio setelah spaghetti dan susu rasa cokelat. Sementara Arsenio sedang duduk di atas karpet berbulu sambil menonton kartun Doraemon. Tangan mungil bocah itu memegang piring plastik isi buah-buahan segar yang sebelumnya sudah dicuci dan dipotong kecil-kecil oleh Surti.


Di saat semua orang sedang sibuk melakukan aktivitas masing-masing, terdengar bunyi bel pintu memenuhi penjuru ruangan. Sontak, semua penghuni apartemen menoleh ke sumber suara.


Melihat Tania dan Surti sedang sibuk menyiapkan sarapan, Arsenio tak tega. Lantas, ia berkata, "Biarkan aku yang bukain pintu. Mama dan Mbak Surti, lanjutin aja kerjanya." Bocah kecil berusia enam tahun segera bangkit, kemudian berjalan menuju daun pintu.


Sedikit berjinjit, Arsenio mengulurkan tangan ke depan kemudian memutar handle pintu. "Kakek Jo?" seru bocah kecil itu dengan kedua mata berbinar bahagia.


Setiap kali bertemu dengan ayah kandung dari sang papa, Arsenio memang tampak antusias. Mungkin ia tahu jika Jonathan begitu tulus menyayangi dan mau menerima Tania walau latar belakang wanita itu tidak jelas.


Senyuman mengembang di sudut bibir Jonathan tatkala ekor matanya menangkap sosok anak kecil yang tak lain adalah cucu kandungnya sendiri.


Jonathan membungkukan sedikit tubuhnya, kemudian mengusap puncak kepala Arsenio dengan lembut. "Halo, Sayang. Apa Kakek mengganggumu?" ucapnya basa basi. Belum ingin menyampaikan maksud kedatangannya ke kediaman Tania.


Arsenio menggeleng. "Enggak, Kek. Aku cuma lagi nonton TV sambil nungguin Mama masak," jawabnya polos. "Oh ya, Kakek ada perlu apa datang ke rumahku? Apa Kakek mau bahas soal antivirus versi terbaru buatanku?"


Jonathan terkekeh pelan mendengar perkataan Arsenio. Sangat memaklumi kenapa anak genius itu selalu membahas soal virus, antivirus dan hacker sebab setiap kali bertemu tak jarang mereka memang membahas tentang urusan pekerjaan.


"Kedatangan Kakek ke sini karena ingin bertemu dengan Mamamu. Apa Mamamu ada di dalam?" Menatap lekat mata hazel nan indah di depan sana. Ada rasa haru bercampur bahagia tatkala tatapan mata mereka saling beradu.


Jonathan terharu sebab Xander, anaknya yang bodoh itu dapat membuat adonan sebegitu sempurnanya macam Arsenio hingga si hacker Little B mampu membantu perusahaan miliknya terbebas dari kebangkutan. Bahagia karena akhirnya untaian do'a yang selalu ia panjatkan kepada Tuhan, akhirnya dikabul. Impiannya untuk dapat bermain, menghabiskan sisa waktu sebelum ajal menjemput dapat terwujud. Ia bisa bermain sepuasnya dengan Arsenio--si bocah genius, pencipta virus I hate You, Dad dan pembuat antivirus but I Miss You.


Fitur wajah tampan, tidak kalah tampan dari Xander. Alis tebal dan melengkung indah di atas sepasang mata hazel yang indah. Hidungnya mancung, tampak serasi dengan garis bibir berwarna merah muda alami. Bulu mata lentik dan kulit putih bersih bagaikan kapas. Arsenio tampak begitu sempurna karena mewarisi gen dari kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Ooh ... Kakek ingin bertemu Mama." Tampak Arsenio manggut-manggut. "Ayo, Kek, silakan masuk. Nanti aku panggilin Mama." Arsenio membuka pintu berwarna coklat hingga terbuka lebar. Menggeser sedikit tubuhnya ke samping demi mempersilakan Jonathan masuk ke apartemennya.


Setelah Jonathan masuk, Arsenio berlari kecil meninggalkan sang kakek yang masih berdiri di ambang pintu.


Tampak Jonathan begitu sabar menunggu sambil berdiri di depan daun pintu. Walaupun apartemen tempatnya berpijak saat ini merupakan tempat tinggal mantan menantunya dan hubungan antara pemilik perusahaan V Pramono Group dan Tania terjalin cukup dekat, tetapi Jonathan punya sopan santun untuk tidak nyelonong masuk begitu saja sebelum bertemu dengan sang tuan rumah.


"Mama." Arsenio berhambur mendekati Tania yang saat itu baru saja melepaskan celemek.


Melihat anak tercinta berlari ke arahnya, Tania bergegas merentangkan kedua tangan ke samping kanan dan kiri. "Ada apa, Sayang, kok teriak-teriak sih?" tanya wanita itu sembari memeluk tubuh Arsenio.


Masih berada dalam pelukan Tania, Arsenio mendongakan kepala. Bola mata indah mirip Xander menatap lekat iris coklat milik sang mama. "Mama di depan ada Kakek Jonathan. Katanya ingin bertemu Mama."


Mengernyitkan alis, otak Tania pun berpikir ada gerangan apakah mantan papa mertuanya itu datang menemuinya di hari minggu? Lalu tahu dari mana alamat tempat tinggal Tania saat ini? Setahunya tidak ada satu orang pun mengetahui alamatnya saat ini selain ... Joana. Mungkin rekan kerjanya itu yang memberitahu Jonathan?


Meskipun sang mama tidak mengatakan alasannya kenapa dia disuruh masuk ke kamar, Arsenio tetap mematuhi perintah Tania.


***


"Tuan Jonathan? Maaf sudah menunggumu terlalu lama. Tadi saya baru saja selesai masak," ucap Tania ramah setelah ia bertatap muka dengan mantan papa mertuanya.


Jonathan mengusap tengkuknya secara refleks. Merasa bersalah karena bertamu di waktu yang tidak tepat. "Maaf, saya enggak tahu kalau kamu dan Arsenio baru saja mau sarapan," ucapnya penuh penyesalan.


Jam dinding di kediaman Tania menunjukan pukul delapan lebih tiga puluh menit. Jonathan berpikir kalau Tania serta cucu tersayang sudah sarapan, tapi rupanya mantan menantu kesayangannya baru saja selesai masak. Seharusnya mereka menyantap hidangan itu selagi hangat namun kehadiran Jonathan malah merusak semuanya.

__ADS_1


"Tidak masalah. Mari, silakan duduk." Tangan Tania menunjuk sebuah sofa yang ada di tengah ruangan. Walaupun terhalangi sebuah rak buku yang dijadikan sekat pemisah antara bagian depan dengan ruang keluarga, tapi Joanthan dapat melihat jelas keadaan di kediaman Tania. Terlihat lebih rapi walaupun semua furnitur di apartemen itu tidak mewah jika dibandingkan dengan rumah megah dua lantai bergaya Eropa modern.


Setelah mereka semua duduk berhadapan, Tania membuka suara. "Maaf, Tuan Jonathan. Kalau boleh tahu ada keperluan apa Anda ke gubuk saya ini? Apa Anda ingin mendiskusikan soal pekerjaan?" tanya wanita itu sedikit curiga.


Jonathan menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. Pria paruh baya itu mencoba menenangkan diri yang sedari tadi tampak begitu tegang.


"Bukan urusan pekerjaan melainkan tentang jati diri Arsenio yang sebenarnya."


Seketika tubuh Tania membeku di tempat. Bola mata wanita itu melebar sempurna seakan mau copot dari tempatnya. Detak jantung puntak beraturan disusul keringat dingin muncul di kening. Pikiran negatif bermunculan dalam benak Tania.


Apakah Jonathan sudah tahu jika Arsenio adalah anak Xander? Apakah kliennya itu berniat merebut Arsenio setelah mengetahui kebenaran yang disembunyikan selama enam tahun ini? Itulah yang ada di kepala wanita cantik itu.


Gerak gerik Tania yang tampak begitu gelisah tertangkap basah ekor mata Jonathan. "Saya sudah tahu semuanya, Tania, bahwa Arsenio adalah buah cintamu dengan anak saya yang bodoh itu. Namun, saya ingin mendengarnya secara langsung dari bibirmu sendiri apakah Arsenio darah daging Xander, atau bukan?"


Jemari tangan Tania meremas tepian sofa tempat duduknya saat ini dengan sangat erat. Pikiran wanita itu kosong, otaknya yang cerdas mendadak buntu tak bisa berpikir jernih. Tidak tahu harus menjawab apa. Semua ini terlalu tiba-tiba membuatnya tak punya persiapan apa pun.


.


.


.


Visual Arsenio

__ADS_1



__ADS_2