
"Papa!"
Teriakan bocah laki-laki menjadi sambutan pertama Xander saat ia menginjakan kakinya di lantai unit apartemen milik Tania. Pria itu mengulas senyum kemudian meletakkan lutut di lantai dan menerima tubuh sang putera yang berlari ke arahnya.
"Papa kok baru datang sih. Aku, 'kan nungguin Papa dari tadi." Kepala Arsenio mendongak ke atas demi menatap wajah sang papa.
"Maafin papa, ya? Tadi papa bangunya kesiangan hingga tak mendengar bunyi alarm yang udah papa setting sebelumnya."
Arsenio mengurai pelukan, lalu melipat tangan di dada. Tak lupa, bibirnya yang merah ranum mengerucut ke depan. "Papa sih diajak bobok di sini enggak mau. Coba kalau mau, kan aku bisa bangunin Papa."
Xander mengulum senyuman di bibir. Ia sentuh pundak sang putera dan berkata, "Tunggu sampai papa dan Mama menikah. Setelah itu, baru kita tinggal bersama."
"Kalau gitu, kapan Papa dan Mama menikah? Jangan lama-lama dong, aku kan udah enggak sabar ingin main sepuasnya dengan Papa." Arsenio mengerjapkan mata beberapa kali, berharap Xander dan Tania bisa tinggal bersama seperti kedua orang tua teman-temannya yang lain. Rasanya pasti akan sangat menyenangkan bila mereka tinggal dalam satu atap.
Tangan kokoh Xander membawa tubuh Arsenio dalam gendongan. Ia berjalan ke sofa dan mendudukan anak semata wayangnya di sana.
Xander mengedarkan pandangan ke sekitar, memastikan apakah posisi mereka cukup aman untuk dapat bergosip antar sesama pria jantan. Setelah yakin kalau Surti tak dapat menguping pembicaraan mereka, barulah dia berkata, "Papa enggak tahu pastinya kapan. Namun, kalau kamu mau secepatnya papa tinggal di sini, kamu harus bantuin papa."
"Caranya?"
Xander melambaikan tangan ke hadapan Arsenio, memberi kode agar tubuh mungil bocah laki-laki itu mendekat. "Kamu harus mencari cara agar Mama mau menikah lagi sama papa."
"Misalkan, minta Mama temani kamu ke taman bermain, toko buku atau tempat wisata saat akhir pekan. Ketika sudah sampai di tujuan, kamu pura-pura ke kamar kecil atau pergi main bersama Mbak Surti, agar papa punya banyak waktu deketin Mama kamu. Ya, siapa tahu papa bisa mendapatkan hati Mamamu lagi dan kita bisa secepatnya tinggal bersama. Gimana, kamu bisa enggak bantuin papa, Boy?" tanya Xander serius.
__ADS_1
Arsenio menjentikkan jari telunjuk dan ibu jari hampir bersamaan. "Itu sih gampang. Papa tenang aja, aku pasti bantuin. Pokoknya waktu aku pergi meninggalkan Papa dan Mama, Papa harus bujuk Mama supaya kita bisa tinggal bersama. Mengerti?"
Sontak Xander menyemburkan tawa. Sikap Arsenio sudah seperti orang dewasa yang tengah menasihati anaknya. Benar-benar menggemaskan.
Xander mencolek ujung hidung Arsenio yang mancung dan menjawab, "Mengerti, Boss! Makasih karena udah mau bantuin papa." Kemudian Xander mengangkat tangan ke hadapan Arsenio yang disambut hal serupa. Lalu keduanya melakukan tos ala ayah dan anak.
***
Sementara itu, Tania kembali bekerja di kantor setelah beberapa hari cuti karena merawat Arsenio yang saat itu sedang dirawat di rumah sakit. Johan menugaskan Tania untuk meng-handle semua pekerjaan selama dia dan Joana berada di Kalimantan. Urusan pekerjaan di sana masih belum beres sehingga memaksa mereka tinggal lebih lama lagi dari waktu yang ditentukan.
"Nia, ponselmu sedari tadi berdering terus tuh. Enggak mau dicek dulu? Siapa tahu telepon penting dari baby sitter Arsen." Khansha menegur Tania yang tampak begitu fokus dengan layar monitor di depannya. Saking seriusnya dia sampai mengabaikan panggilan masuk serta pesan singkat yang dikirimkan seseorang kepadanya.
Tania mengulas senyuman sambil mengeluarkan gawai dari dalam hand bag. "Iya, iya, aku cek sekarang."
Memang benar, banyak notifikasi masuk termasuk panggilan telepon yang tidak terangkat dan pesan singkat dari nomor asing.
[Tania, ini saya, Miranda. Bisa ketemuan siang ini di kafe Rainbow pukul satu siang? Ada hal penting yang ingin saya bicarakan denganmu.]
Sebelah alis Tania terangkat sebelah petanda bingung. Dari mana mantan mertuanya itu mendapatkan nomornya? Apakah Xander atau mungkin Jonathan memberikannya kepada Miranda? Lalu, untuk apa Miranda meminta mereka ketemuan? Banyak pertanyaan hinggap di benak wanita muda itu.
Khansha, teman sebelah meja Tania memperhatikan perubahan sikap rekan kerjanya itu. Ia menarik kursi hingga berada tepat di sebelah Tania. "Tania, kamu kenapa? Kok ekspresimu seperti orang kebingungan. Ada apa? Apa penyakit Arsenio kambuh lagi?" cecar wanita itu.
Tania menggelengkan kepala. "Arsenio baik-baik aja, Sha. Hanya saja ... aku bingung nih enggak tahu harus bagaimana."
__ADS_1
"Bingung kenapa? Cerita deh sama aku, siapa tahu aku bisa bantu."
Ekor mata Tania melirik ke kanan dan kiri, kemudian menatap iris coklat milik rekan kerjanya. "Sha, misalkan mantan ibu mertuamu ngajakin ketemuan, kamu bakal menuruti permintaannya atau justru mengabaikannya?"
Khasha terdiam beberapa saat. Tampak wanita itu sedang memikirkan jawaban apa yang tepat untuk disampaikan kepada Tania.
Menarik napas panjang dan berat. Khansa pun menjawab, "Tergantung situasinya bagaimana dulu. Kalau cuma ingin menghina dan mencaci makumu, lebih baik enggak usah datang. Percuma aja datang kalau cuma untuk dihina habis-habisan. Namun, bila untuk urusan penting, sebaiknya datang. Siapa tahu memang betulan ada hal penting yang mau dibicarakan secara empat mata."
Suasana hening kembali tercipta. Tania bergeming seakan mulutnya terkunci rapat.
Khansa yang tahu sejarah kelam rumah tangga Tania meski tidak tahu jika wanita di sebelahnya itu adalah mantan nyonya muda Vincent Pramono menyentuh pundak ibu kandung Arsenio dan kembali berkata, "Itu sih cuma saranku aja. Semua keputusan ada di tanganmu, aku enggak bisa memaksakan kehendakku sendiri pada orang lain."
"Saran aku, pikirkan secara matang, jangan sampai kamu gegabah dalam mengambil keputusan."
Setelah mengucap kalimat tersebut, Khansa kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Sementara Tania masih menimbang-nimbang apakah dia harus menuruti permintaan Miranda atau tidak.
Duh, kok aku jadi bingung gini, ya? Bingung nih antara mengiyakan atau harus menolak permintaan Tante Miranda. Kalau menolak, cara nolaknya gimana? batin Tania. Sesekali melirik ke arah pesan singkat yang dikirimkan melalui WhatsApps. Sungguh, ia benar-benar dilema.
Ketika Tania sedang dilanda kebingungan, telepon genggam wanita itu kembali berdering. Sebuah pesan dikirim lagi oleh sang mantan ibu mertua.
[Kamu tenang aja, pertemuan kita kali ini bukan untuk menghina apalagi menampar wajahmu. Saya hanya ingin berbicara dari hati ke hati denganmu. Jadi, saya harap kamu bisa datang tepat waktu.]
Menelan saliva susah payah, mencoba membasahi tenggorokan yang terasa kering. Tania menarik napas dalam, kemudian mengembuskannya secara perlahan.
__ADS_1
Jemari lentik itu mengetik layar di gawai berukuran 6.5 inci. [Baik, saya akan datang.]
***