Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Akhirnya ....


__ADS_3

Para tenaga medis segera melakukan pemeriksaan kepada Arsenio. Selama berada di ruang pemeriksaan, dia terus bergumam lirih memanggil nama sang mama.


"Mama, sakit! Perut aku sakit banget, Ma!" keluh Arsen sambil meringis kesakitan.


Dokter Nizam yang saat itu sedang bertugas menjawab, "Tahan sebentar, Nak. Sebentar lagi selesai."


Pria jangkung dalam balutan snelli putih tengah melakukan pemeriksaan fisik dengan empat cara. Yang pertama melihat adakah pembengkakan pada bagian perut pasien (inspeksi), melakukan perabaan (palpasi) dan penekanan pada perut untuk mendektesi nyeri tekan benjolan, kemudian menepuk perut secara perlahan serta mendengarkan suara bising usus menggunakan bantuan stetoskop.


"Ya, udah selesai. Setelah ini Tante Suster akan kasih obat untuk kamu. Semoga cepat sembuh, ya?" Nizam mengusap puncak kepala Arsenio sebelum meninggalkan ruang pemeriksaan.


Selama dokter melakukan pemeriksaan, Xander tak hentinya melafalkan doa yang ia bisa, memohon dan bermunajat kepada Tuhan agar putera tercinta dapat sehat seperti sedia kala. Bahkan ia bernazar akan memberi santunan kepada yayasan yatim piatu jika Arsenio sembuh nanti.


Tuhan, sembuhkanlah Arsenio. Janganlah Engkau biarkan dia menderita. Sungguh, aku tidak sanggup bila harus melihatnya kesakitan. Jika memungkinkan, tukarlah rasa sakit yang dia rasakan kepadaku, aku ikhlas memikul itu semua demi puteraku tercinta.


Kalimat itu selalu Xander ulang sejak ia menyelesaikan administrasi rumah sakit sampai duduk di sebuah kursi tunggu di depan ruang pemeriksaan.


Tak berselang lama, pintu ruang pemeriksaan terbuka disusul dokter jaga yang bertugas siang itu. Xander segera bangkit dan berhambur mendekati sang dokter. "Dokter, bagaimana keadaan putera saya? Apa dia baik-baik saja?" cecar Xander. Tampaknya ia sangat mencemaskan putera semata wayangnya itu.


Nizam menarik napas dalam, kemudian mengembuskan perlahan. "Alhamdulillah, keadaannya baik-baik saja. Jika dilihat dari tanda dan gejala, seperti pasien mengalami Irritable Bowel Syndrome atau bahasa awannya sering disebut sindrom iritasi usus besar. Sindrom ini biasanya terjadi pada anak-anak, jadi Bapak tidak perlu cemas akan kondisi pasien."


Tangan Nizam menepuk pundak Xander. "Tenang saja, Arsenio adalah anak yang kuat, dia pasti bisa melewati ini semua. Selama beberapa hari kami akan terus memantau perkembangannya. Jadi, saya harapkan Bapak turut mengawasi pasien selama dirawat di rumah sakit."


Usai kepergian Nizam, Xander pergi menemui Arsenio di ruang pemeriksaan, sedangkan Surti menunggu di luar. Wanita muda itu tak berani berkata-kata karena merasa bersalah telah lalai mengawasi majikan kecilnya.

__ADS_1


Tubuh membeku beberapa saat ketika netranya melihat tubuh mungil Arsenio tergeletak tak berdaya di atas ranjang rumah sakit. Punggung tangan sebelah kanan terpasang jarum infus dan hal itu semakin membuat hati Xander nyeri bagai disayat sebilah pisau tajam. Bagaimana ia tega melihat darah dagingnya sendiri kesakitan.


Tanpa terasa buliran kristal meluncul di antara kedua pipi. Dada Xander terasa sesak bagai dihimpit bongkahan batu yang sangat besar.


Jangan tunjukan kelemahanmu di hadapan Arsenio! Di saat seperti ini yang dibutuhkan Arsen adalah support dari orang tuanya. Jadi, berhentilah menangis, Xander! ucap Xander pada dirinya sendiri.


"Om Xander?" kata Arsenio lirih saat menyadari kehadiran Xander di ruangan itu.


Dengan gerakan cepat Xander mengusut buliran kristal yang sempat jatuh menggunakan telapak tangan kananya. "Iya, Sayang." Ia melangkah mendekati pembaringan. "Gimana keadaanmu, udah baikan?" Tangan Xander sibuk mengusap helaian rambut warna pirang kecoklatan.


Ketika kedua lelaki beda generasi itu berdekatan, orang akan beranggapan bahwa mereka tengah memandangi pantulan cermin yang terlihat begitu mirip hingga orang tak dapat membedakan mana yang asli dan mana yang bukan sebab Xander dan Arsenio bagai pinang dibelah dua.


"Udah mendingan, enggak sakit kayak tadi." Sesekali mata Arsenio terpejam, menikmati belaian lembut yang sejak dulu ia dambakan.


"Syukurlah, om ikut senang mendengarnya. Boy, lain kali enggak boleh makan es krim dengan porsi yang terlalu banyak. Ingat, penyakitmu bisa kambuh setiap saat jika kamu makan dan minum secara berlebihan. Om enggak mau kamu kesakitan seperti tadi. Mengerti?"


Bibir merah muda alami mengerucut, mungkin Arsenio tidak terima dimarahi sang papa. Xander menghela napas panjang saat menyadari jika putera tersayang tengah merajuk. Sedikit banyak sifat buruknya menurun pada Arsenio dan hal itu membuat kepalanya pening seketika.


Xander memajukan tubuhnya sedikit ke depan, dengan jemari mengusap puncak kepala Arsenio. "Om cuma enggak mau kamu sakit lagi, itu aja kok. Kamu pasti tahu, segala sesuatu yang dimakan dan diminum secara berlebihan itu enggak baik. Bahkan Tuhan aja melarang kita untuk melakukan itu. Karena apa coba? Karena makan berlebihan bisa membahayakan kesehatan tubuh loh. Kamu masih muda, perjalananmu masih panjang. Om cuma mau kamu bermain bersama teman-temanmu."


"Kamu boleh kok makan es krim atau makan makanan yang disuka, tapi jangan berlebihan. Kalau Arsen sakit, Mama pasti sedih. Emang Arsen mau lihat Mama nangis?"


Arsenio menggelengkan kepala. Satu hal yang sangat ia tidak sukai adalah melihat Tania menangis karena perasaannya akan ikut hancur berkeping-keping apabila itu terjadi menimpa sang mama.

__ADS_1


"Nah, kalau enggak mau lihat Mama sedih, Arsen enggak boleh ngulangi kesalahan yang sama, ya?" tandas Xander yang diikuti anggukan kepala Arsenio. "Good boy! Itu baru namanya anak pintar."


Xander membenarkan selimut yang membalut tubuh Arsenio. "Tidurlah, om akan menemanimu di sini selama Mama kerja." Pria itu bangkit dan hendak pindah ke sofa yang ada di sudut ruangan, tapi tiba-tiba saja ujung kaos yang ia kenakan ditarik Arsenio. "Kenapa? Kamu butuh sesuatu? Biar nanti om panggilkan suster."


"Enggak. Aku cuma mau bilang makasih karena udah nolongin aku. Makasih ... Papa," ucap Arsenio lirih.


Detik itu juga jantung Xander rasanya berhenti berdetak. Ia tak pernah menyangka waktu yang dinanti telah tiba. Waktu di mana sang putera memanggil dirinya dengan sebutan ... papa.


Perasaan Xander mengharu biru. Tubuh terasa lemas seakan tungkainya tak sanggup menopang bobot tubuhnya.


"Boy, tadi kamu bilang apa? Kamu panggil om dengan sebuat papa?" Bibir Xander gemetar ketika menanyakan pertanyaan itu.


Dengan mantap Arsenio menjawab, "Iya. Om adalah Papa kandungku. Jadi aku harus manggil Papa, bukan Om. Thank you, Papa, udah ada di saat aku membutuhkanmu. Love you, Papa!" Bocah kecil itu memberi simbol finger heart seperti di drama-drama Korea.


Mungkin karena sering melihat Tania menonton drama Korea di sela waktu istirahat, Arsenio bisa tahu bagaimana orang luar sana mengungkapkan rasa cintanya pada seseorang. Walaupun dalam konteks berbeda, tapi setidaknya Arsenio bisa menunjukan betapa cintanya dia kepada sang papa.


Tanpa bisa ditahan lagi, Xander meneteskan air mata haru sebab impiannya agar bisa diakui ayah oleh Arsenio terwujud. Ia dekap tubuh anak tercinta dalam pelukan sambil mencium ubun-ubun Arsenio.


"Papa juga sayang kamu, Boy. Really, really love you." Kepala Xander mendongak ke atas, dalam hati mengucap syukur karena Tuhan sudah membolak balikan hati Arsenio. Dari yang tadinya membenci dia kini berubah mencintainya. Kini, tak ada lagi yang ingin ia harapkan selain hidup bahagia bersama Tania dan Arsenio.


...***...


__ADS_1


__ADS_2