
"Tentu saja aku mau. Papa tahu sendiri bagaimana kacaunya hidupku setelah jabatan itu diambil kembali. Rasanya seperti separuh jiwanya terbang ke angkasa saat Papa merebut kembali apa yang sudah diberikan kepadaku," tandas Xander. "Lalu sekarang, saat kesempatan itu datang mana mungkin aku menyia-nyiakannya. Bodoh bila aku menolak tawaran itu."
Jonathan tersenyum lebar mendengar penjelasan sang putera. "Baiklah, kalau begitu besok lusa kamu sudah mulai bekerja. Namun, papa minta besok siang datanglah ke perusahaan untuk serah terima jabatan. Ada beberapa dokumen penting yang akan papa serahkan kepadamu."
Dengan mantap Xander menjawab, "Oke! Besok siang aku akan datang ke perusahaan bersama Arsen."
"Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan Arsen? Apa dia sudah dibolehkan pulang ke rumah?" Jonathan teringat jika beberapa hari lalu cucu kesayangan dirawat di rumah sakit. Namun, ia belum sempat membesuk karena masih sibuk mengurusi pekerjaan kantor.
"Alhamdulillah, kabar Arsen jauh lebih baik dari sebelumnya. Tadi siang dia sudah pulang ke apartemen, tapi Dokter masih memintanya untuk banyak beristirahat."
Jonathan mangut-mangut, mendengarkan dengan seksaman. Timbul rasa menyesal karena tak sempat membesuk cucu kesayangan di rumah sakit. Beruntungnya dia sempat melakukan video call sehari setelah Arsenio dilarikan ke rumah sakit.
Xander celingukan seperti tengah mencari sesuatu. Jonathan yang kebetulan sedang menoleh ke arah Xander sedikit kebingungan saat melihat sang putera mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan.
Pria paruh baya itu berkata, "Kamu sedang mencari siapa? Mama?"
__ADS_1
Xander mendengkus kesal, kemudian menyenderkan punggung di sandaran sofa. "Siapa juga yang cari Mama. Lah wong aku cuma ingin melihat-lihat saja keadaan rumah Papa yang sekarang," elak pria itu. Gengsi kalau harus berkata jujur jika sebenarnya dia sedang mencari keberadaan Miranda. Walaupun hatinya terluka atas perbuatan Miranda karena telah memisahkannya dengan seseorang yang dicintai, tetapi hati kecil pria itu tak bisa bohong jika dia merindukan wanita paruh baya itu.
"Ooh ... papa pikir kamu mencari Mama."
Tak berselang lama, terdengar derap langkah seseorang memasuki halaman rumah berukuran 6x6 meter. Semakin lama langkah kaki tersebut semakin mendekat hingga tepat di depan daun pintu berwarna coklat langkah kaki itu terhenti.
"Tumben ada tamu," gumam Miranda. Posisi duduk Xander membelakangi jendela sehingga Miranda tak tahu jika Xander datang berkunjung ke rumah itu. Apalagi mobil Xander diparkir di lapangan bola yang berjarak sekitar 50 meter membuat ia tak sadar kalau tamu itu adalah Xander.
"Xander? Sudah lama di sini, Nak?" tanya Miranda setelah melihat siapakah gerangan yang duduk sebelahan dengan Jonathan.
Xander menoleh sebentar, kemudian mengalihkan pandangan pada sebuah foto keluarga yang dipajang di dinding. "Baru saja datang," jawabnya singkat. Meskipun ada dorongan besar untuk menatap wajah Miranda lebih lama, tapi bila teringat bagaimana menderitanya hidup Tania dan Arsenio, dia mampu memendam semua itu sebab kesalahan sang mama begitu fatal. Memfitnah dan merusak rumah tangga anak merupakan perbuatan tidak terpuji dan itu sulit dimaafkan.
Miranda menghela napas kasar, memaklumi kenapa sikap Xander selalu dingin bila berada di dekatnya. Padahal dulu saat Tania masih berstatuskan sebagai kekasih Xander, sikap putera semata wayangnya itu hangat seperti anak di luaran sana. Namun, semua berubah setelah Tania ketahuan selingkuh dengan Abraham.
Nyonya besar Vincent berjalan maju ke depan. Ia meletakkan dua kantong plastik berisi beras, telur dan mie instan yang baru saja dibeli di warung sebelah rumah. Lalu, ia duduk di sofa panjang sebelah Xander. Ia melihat wajah puteranya nampak berseri, berbeda sekali dari terakhir kali mereka bertemu.
__ADS_1
Jari lentik yang mulai berkeriput menyentuh punggung tangan Xander. Ia usap tangan anak kesayangannya itu dengan lembut. "Nak, mama tahu, kamu masih marah akan kejadian beberapa bulan lalu. Mama memang sudah sangat keterlaluan karena tega memfitnah Tania, membuat wanita itu seolah-olah tengah selingkuh di belakangmu. Padahal, semua itu hanya rekayasa mama semata demi mendepak mantan istrimu dari keluarga kita."
"Sekarang mama sadar bahwa apa yang mama perbuat di masa lalu telah meninggalkan luka mendalam di hatimu dan juga Tania. Oleh karena itu, mama mau minta maaf atas semua perbuatan yang pernah diperbuat di masa lalu. Mama menyesal sudah memisahkanmu dengan Tania." Miranda mendudukan kepala, jari tangan meremas telapak tangan satu sama lain.
Miranda mengutarakan isi hati yang terdalam di hadapan Xander. Walaupun ia gengsi karena harus meminta maaf pada orang lain, tetapi itu semua harus dilakukan sebab ia tak mau terus menerus dihantui rasa bersalah. Kejahatannya di masa lalu membuat hidup wanita itu tak tenang, tidur tak nyenyak dan selalu merasa bersalah karena sudah menghancurkan rumah tangga anak kandungnya sendiri.
Seharusnya Miranda memperlakukan Tania seperti anak kandungnya sendiri, tapi ia justru menciptakan neraka bagi menantunya itu. Benar-benar kejam!
Xander dan Jonathan terkesiap mendengar permintaan maaf Miranda. Mereka tak menduga jika wanita yang terkenal angkuh, sombong dan selalu menghina orang lain dapat dengsn mudah mengucap kata maaf di depan orang lain.
Kembali mengumpulkan keberanian di dalam dada. Miranda mendongakkan kepala dengan sangat perlahan. Sedikit demi sedikit iris coklatnya memandangi mata hazel milik putera semata wayang.
"Xander, apa ... kamu mau memaafkan mama?" tanya Miranda ragu. Seumur hidup, baru kali ini ia meminta maaf kepada seseorang jadi wajar saja jika wanita itu sedikit gugup saat berhadapan dengan salah satu korbannya.
...***...
__ADS_1