Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Tidak Akan Membiarkan Arsenio Terluka


__ADS_3

"Aduh, ke mana sih Mbak Surti dan Arsen? Kenapa jam segini belum juga pulang?" Tania mondar mandir di ruang tamu dengan raut wajah cemas.


Jam dinding sudah menunjukan pukul sembilan malam, tapi anak semata wayangnya belum juga tiba di rumah. Puluhan pesan singkat Tania kirimkan akan tetapi tak ada satu pun yang dibalas Arsenio. Pun begitu dengan Surti, bahkan pesan yang dikirimkan pada wanita itu hanya centang satu warna hitam. Itu artinya paketan internet Surti dalam keadaan nonaktif, membuat Tania semakin khawatir.


"Tuhan, kumohon jangan sampai terjadi hal buruk menimpa puteraku. Aku tak sanggup jika terjadi apa-apa pada Arsenio."


Tatkala Tania sedang sibuk memikirkan di mana keberadaan Arsenio, dari arah pintu masuk apartemen terdengar seseorang tengah menekan kata sandi tempat kediamannya. Lalu tak lama kemudian sosok mungil yang dinanti berdiri di ambang pintu.


"Arsen, anakku. Kamu dari mana aja, Nak? Mama khawatir banget sama kamu." Tania segera mendekap tubuh mungil itu dengan begitu erat seakan takut jika Arsenio pergi jauh dan tak pernah kembali lagi.


"Aku ajak Arsen main ke arena bermain. Kasihan dia jika langsung pulang ke rumah."


Bukan Arsenio yang menjawab, melainkan Xander yang berdiri di belakang anak tercinta.


"Maaf kalau aku membuatmu mencemaskan anak kita," sambung Xander.


Tania mengurai pelukan, kemudian menarik lengan Xander menjauhi Arsenio. Ketika Tania yakin Arsenio tidak mendengar percakapan mereka barulah ia berkata, "Kamu bawa ke mana dia, hem? Kenapa enggak kasih kabar ke aku dulu sebelum ajak Arsen pergi?" tanya wanita itu angkuh.


"Aku ajak Arsen pergi bermain di arena permainan di Mall Permai, tempat dulu kita sering jalan bareng. Tadi selepas pentas seni aku nawarkan diri untuk mengajak anak kita pergi ke suatu tempat dan kebetulan Arsen bilang ingin pergi bermain. Sebagai Papa yang baik, tentu aja aku enggak bisa menolak anak kandungku sendiri. Terlebih hari ini dia sudah menampilkan performa terbaik di atas panggung. Jadi aku berpikir, enggak ada salahnya sesekali ajak dia main tanpa memberitahumu terlebih dulu."


"Tapi kamu udah membuatku cemas, tahu enggak? Aku pikir terjadi hal buruk menimpa Arsen." Tania menghunuskan tatapan tajam kepada Xander, tatapan mata itu bagaikan sebilas pisau tajam yang menghujam tepat ke ulu hati.


Xander menghela napas dalam, lalu menahannya sejenak kemudian mengembuskan secara perlahan. "Iya, aku tahu, aku bersalah. Hanya saja, aku enggak tega melihat Arsen bersedih. Coba kamu bayangkan bagaimana perasaan anak kita di saat semua teman-teman sekolahnya diajak pergi oleh orang tua mereka, cuma dia seorang yang enggak pergi ke mana-mana. Pasti sedih, 'kan?"


"Ketidakhadiranmu tadi siang sudah membuatnya bersedih, lantas haruskah aku berbuat hal sama seperti kamu, membiarkan Arsenio larut dalam kesedihannya? Aku memang jahat karena telah menuduhmu selingkuh dengan Abraham, tapi diriku bukanlah Papa yang jahat, tega membiarkan darah dagingku sendiri bersedih di saat semua orang tengah berbahagia. Aku masih punya hati nurani untuk tidak membiarkan Arsenio terkurung dalam kesedihan."

__ADS_1


Ucapan Xander bagaikan sebuah tamparan keras bagi Tania, menusuk hingga ke relung hati yang terdalam. Wanita itu bungkam, tak mampu berkata-kata.


Xander mendekati Tania, kemudian menyentuh kedua pundak mantan istrinya. "Aku terlalu asyik bermain hingga tak sadar bahwa waktu sudah berlalu begitu cepat. Maafin aku, ya? Aku janji enggak akan mengulanginya lagi."


Anak tunggal dari pasangan Jonathan Vincent dan Miranda Pramono mengulas senyuman ke arah mantan istrinya. "Udah, jangan cemberut lagi. Kasihan Arsenio jika melihat kita bertengkar, dia pasti akan menyalahkan diri sendiri."


Tania segera menoleh ke arah Arsenio, yang kini tengah duduk di sofa. "Tapi kamu janji jangan mengulanginya lagi. Aku benar-benar mencemaskan Arsenio. Aku takut ...."


"Sst, jangan bicara sembarangan! Selama ada aku, Arsenio pasti aman. Aku enggak akan pernah membiarkan siapa pun melukai anak kita, mengerti?"


Mantan pasangan suami istri itu kemudian berjalan menuju sofa, bergabung dengan Arsenio yang sedang menonton televisi. Meskipun pandangan mata bocah itu tertuju pada layar televisi, tapi tatapan matanya tidak fokus, sesekali melirik pada kedua orang tuanya.


Tania meletakkan lutut di hadapan Arsenio, lalu tersenyum manis kepada anak tercinta. "Sayang, maafin Mama karena enggak bisa datang tadi siang. Rapat dengan klien enggak bisa diundur hingga membuat Mama terpaksa menghadiri pertemuan tersebut. Sebenarnya Mama ingin sekali menyaksikan penampilanmu di atas panggung, memerankan tokoh pangeran, tapi Mama enggak bisa berbuat apa-apa karena Kakek Johan sudah mempercayakan semuanya pada Mama. Sekali lagi, please maafin Mama, ya?"


Keduanya bertatapan, tampak Tania sedang menanti jawaban apa yang akan diberikan Arsenio. Sementara Xander hanya menyaksikan mantan istri dan anak tercinta dari jarak yang tidak terlalu jauh. Xander membiarkan Tania berbicara dari hati ke hati dengan buah cinta mereka.


Tania tersenyum, matanya tidak mau lepas dari wajah rupawan anak semata wayangnya itu. "Tentu saja boleh. Mintalah apa pun pada Mama, insha Allah, akan Mama kabulkan."


"Ehm ... aku ingin Mama mengambil cuti, lalu kita pergi berlibur ke puncak. Aku mau Mama menemaniku tanpa harus sibuk bekerja. Bisakah Mama mengabulkan permintaanku ini?"


Lagi dan lagi Tania terdiam mendengar permintaan Arsenio. Mengambil cuti untuk sekadar menemani Arsenio berlibur ke puncak? Oh astaga, mungkinkah dia bisa asyik bertamasya di saat segudang pekerjaan menantinya? Namun, membuat Arsenio terluka, rasanya ia tidak sanggup.


Xander melihat sikap Tania jadi kesal sendiri. Andai saja status mereka masih suami istri, sudah bisa dipastikan saat ini Xander akan menegur istrinya karena terlalu sibuk bekerja hingga menelantarkan anak mereka.


Tania, please, jangan buat anak kita kembali bersedih. Sudah cukup hari ini dia terluka akibat dirimu yang ingkar janji.

__ADS_1


Tania membelai wajah Arsenio dengan lembut. "Mama akan kabulkan permintaanmu. Kapan kita berangkat? Akhir pekan ini? Jika iya, Mama segera membuat surat cuti dan mengajukannya kepada Kakek Johan."


"Mama enggak bohong, 'kan?" Anak laki-laki itu menatap penuh arti pada Tania. Bahkan mata hazelnya yang indah tampak berkaca-kaca.


"Enggak dong, Sayang. Untuk kali ini Mama serius. Kita akan berlibur bersama akhir pekan ini. Bagaimana, kamu bahagia?"


"Yeah, hore! Aku akan berlibur bersama Mama!" Arsenio bertepuk tangan, meloncat tinggi hingga membuat rambutnya yang berwarna coklat kepirangan ikut bergoyang.


Mata Tania berkaca-kaca, terharu melihat betapa besarnya harapan Arsenio agar mereka dapat berlibur, menghabiskan waktu bersama di tengah tumpukan pekerjaan yang menantinya untuk segera diselesaikan.


"Tapi aku takut Kakek Johan menolak permintaan Mama. Kalau ditolak, bagaimana? Apa kita gagal liburan bersama?" Seketika raut wajah Arsenio berubah, awan kelabu kembali datang menghampiri wajah rupawan bocah tampan berusia enam tahun.


Xander yang tidak tahan, akhirnya ikut membuka suara. Lantas, ia berjongkok di sebelah anak tercinta. "Om yang akan bertemu dengan Kakek Johan dan meminta langsung padanya agar memberikan izin pada Mama. Jadi kamu dan Mama bisa liburan tanpa takut diganggu oleh siapa pun."


Tania melototi Xander, seakan mengajukan ketidaksukaannya akan sikap pria itu. Akan tetapi, Xander justru pura-pura tidak melihat dan mengalihkan pandangan ke arah lain.


Xander, menyebalkan! gerutu Tania dalam hati.


***


Tania keluar dari kamar Arsenio, lalu mengayunkan kaki menuju sofa tempat di mana Xander tengah duduk saat ini. Wanita itu mendaratkan bokongnya di sofa. Tempat duduk Tania saat ini hanya terhalangi tiga sofa saja.


"Terima kasih sudah bersedia datang dan menyaksikan Arsenio pentas di sekolah. Aku enggak tahu apa yang akan terjadi jika seandainya di antara kita enggak ada satu pun yang hadir, mungkin Arsenio merasa sedih. Dia pasti merasa jika dirinya tak pernah diharapkan oleh kita berdua."


Jemari tangan Tania memilin ujung kaos yang ia kenakan. Kepala wanita itu tertunduk, tidak sanggup beradu tatap dengan pemilik mata hazel.

__ADS_1


"Jangan merasa sungkan padaku, Tania! Kebetulan aku memang senggang jadi enggak ada alasan bagiku untuk enggak datang menyaksikan kehebatan puteraku sendiri," jawab Xander. "Udah, jangan dipikirkan lagi! Terpenting saat ini kamu mencari cara bagaimana menebus kesalahanmu karena sudah mengecewakan Arsenio. Carikan penginapan nyaman, tempat wisata ramah anak hingga rasa sakit di hati Arsenio sedikit terobati."


...***...


__ADS_2