Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Konferensi Pers


__ADS_3

Di sebuah ruangan hotel bintang lima yang sudah disiapkan untuk melakukan press conference, Ibrahim serta ketua EO mengawasi para pegawai yang tengah mempersiapkan segala keperluan untuk acara hari ini. Hari ini bertepatan dengan tujuh harinya Lidya ditahan, Jonathan menggelar acara press conference atas permintaan sang istri. Sebagai suami yang baik tentu saja dia menuruti permintaan istrinya itu lagi pula acara ini digelar guna meluruskan kesalahpahaman yang berlangsung selama tujuh tahun lamanya.


Miranda telah tiba di ruangan sejak satu jam lalu. Dia ditemani Jonathan sedang duduk berdua di ruang tunggu sambil menanti kedatangan Xander, Tania dan Arsenio.


Meremas telapak tangan dengan kasar sambil menatap ke arah pintu yang tertutup rapat. Melihat betapa gelisahnya Miranda, Jonathan beringsut mendekati sang istri lalu mengusap pundaknya dengan lembut.


"Tenang saja, papa yakin semuanya akan berjalan sesuai rencana. Kelak, hubunganmu dengan Amanda dan Abraham akan segera membaik seperti sedia kala. Sudah, ya, jangan cemas lagi! Sebaiknya sekarang minum obat dulu agar kamu lekas sembuh. Bukankah kamu bilang ingin shooping bareng Tania ke Singapura? Kalau belum sembuh bagaimana kamu bisa pergi berduaan dengan calon menantu kita. Yang ada kamu justru merepotkan Tania, Ma."


Miranda cemberut mendengar perkataan Jonathan. "Tania itu wanita baik mana mungkin merasa direpotkan. Papa tidak ingat, bagaimana dia merawatku dulu? Aku hanya mantan ibu mertuanya loh, Pa, tapi dia dengan ikhlas dan sabar menjagaku seperti ibu kandungnya sendiri. Coba kamu bayangkan jika dulu menantuku adalah Lidya, sudah pasti aku disiksa sebelum akhirnya ditendang dari rumah."


Terkekeh pelan sambil mengelus pipi Miranda menggunakan punggung tangan jari telunjuk. "Kamu benar, calon menantu kita itu memang wanita baik dan berhati malaikat sangat cocok menjadi Nyonya Muda Vincent Pramono."


Miranda merebahkan kepalanya di pundak sang suami lalu mengusap dada bidang itu perlahan. "Saat putera kita menikah nanti, aku ingin memberi kado pernikahan yang istimewa untuk mempelai wanita, Pa. Mungkin tak dapat membalas semua kebaikan yang pernah dia lakukan kepadaku, tapi aku berharap Tania tahu bahwa diriku begitu tulus menyayanginya."


Kecupan penuh cinta Jonathan daratkan di kening Miranda. Menikmati setiap degup jantung Miranda yang berdetak seirama dengan degup jantung miliknya. "Tanpa kamu beritahu pun, dia pasti mengetahuinya, Ma."


***


Tersisa lima menit lagi sebelum acara dimulai, Miranda beserta keluarga kecilnya, calon menantu serta cucu tersayang telah duduk di kursi yang sudah disiapkan. Miranda berada di atas panggung ditemani Jonathan serta Tania, sementara Xander dan Arsenio menunggu di kursi khusus bagi tamu undangan.

__ADS_1


"Papa. apa setelah ini semua orang tidak akan mengatakan hal buruk lagi tentang Mama? Apa teman sekolah dan tetanggaku yang berada di Yogyakarta akan menutup mulut mereka setelah tahu kalau aku adalah anak Papa dan Mama? Mereka tidak akan mengatakan bahwa aku anak haram lagi, 'kan?" bisik Arsenio di telinga sang papa.


Bagai ditusuk sebilah pisau tajam tepat menusuk ke jantung kala mendengar pertanyaan itu. Kata anak haram mengingatkan Xander pada pertemuannya dengan Tania dan Arsenio. Saat itu dia pun mengatakan bahwa Arsenio adalah anak haram, padahal bocah kecil berparas rupawan itu adalah anak kandungnya sendiri.


Setelah mengetahui fakta bahwa Arsenio adalah puteranya, tentu saja Xander marah kepada dirinya sendiri karena dengan mudah mengatakan hal tak baik tentang darah dagingnya sendiri. Lalu sekarang saat mendengar ada orang lain mengatakan hal serupa hatinya sakit sekali bagai diremas ribuan tangan tak kasat mata.


Menarik napas panjang seraya memejamkan mata, mencoba mengendalikan diri agar emosi dalam diri tidak meledak. "Tentu saja! Kalaupun memang mereka masih mengatakan hal buruk tentangmu dan Mama, papa siap membela kalian berdua."


Arsenio jauh lebih tenang sekarang karena percaya bahwa Xander akan selalu berada di sisinya dan mama tercinta.


Tibalah waktunya memulai acara press conference. Pembawa acara yang tak lain adalah sekretaris Xander, Laura maju ke atas panggung. Membuka acara, berbicara ini dan itu sebelum akhirnya meminta Miranda menyampaikan tujuan digelarnya acara tersebut.


Keringat dingin bercucuran membasahi kening, punggung dan telapak tangan. Miranda mengambil napas beberapa kali, berusaha mengumpulkan keberanian.


Tania yang kebetulan duduk di sebelah Miranda melirik lalu mengenggam tangan sang mantan ibu mertua, mencoba menyalurkan sedikit kekuatan kepada wanita paruh baya itu.


Saat Miranda sudah lebih tenang, barulah dia berkata, "Selamat pagi semuanya. Terima kasih saya ucapkan kepada rekan wartawan sudah bersedia hadir dalam acara hari ini."


"Kalian pasti bertanya sebetulnya apa tujuan diadakannya acara ini, padahal selama ini saya selaku nyonya besar Vincent tak pernah sekalipun mengadakan acara serupa di masa lalu. Acara ini semata-mata digelar untuk memberi klarifikasi terkait isu yang beredar di luaran sana. Isu yang mengatakan bahwa hubungan saya dengan adik kandungku bernama Amanda renggang akibat perebutan harta warisan."

__ADS_1


"Di sini saya tegaskan, hubungan kami bermasalah bukan karena perebutan harta warisan keluarga Pramono melainkan karena ... saya telah memfitnah putera sulung Amanda yang bernama Abraham."


"Saya menjebak Abraham seolah-olah dia baru saja melakukan hubungan terlarang dengan seorang wanita yang tak lain adalah Tania, mantan menantu saya."


Ricuh terdengar menggema di penjuru ruangan. Kilatan lampu kamera terus menerpa wajah ayu nan jelita ibu kandung Xander. Bahkan sebagian dari mereka berbisik lalu saling menatap satu sama lain seakan bertanya kapan tuan besar Vincet menikah? Setahu mereka Alexander atau yang biasa dipanggil Xander tak pernah terendus media tentang pernikahannya dengan seorang wanita bernama Tania.


"Xander memang pernah menikah tujuh tahun lalu dengan teman kampusnya dulu. Pernikahan itu digelar secara sederhana karena saya tidak mau semua orang tahu bahwa menantuku adalah orang miskin yang dibesarkan di sebuah yayasan panti asuhan. Saya merasa derajat kami tidaklah seimbang oleh sebab itu meminta Xander menikahinya secara sederhana tanpa mengadakan resepsi pernikahan besar-besaran."


Tangan Miranda kembali bergetar, begitu pula bibirnya. Napas menjadi tersengal, dada kembang kempis dan butiran kristal jatuh membasahi pipi.


Menarik napas, ia menguatkan diri untuk melanjutkan. "Karena merasa status sosial Tania lebih rendah daripada kami, saya menyusun rencana licik untuk mendepaknya dari keluarga kami. Saat ada kesempatan maka saya menjalankan rencana itu. Saya menjebak Tania dan Abraham seakan mereka sedang selingkuh di belakang Xander."


"Akibat kejadian itu nama baik Tania dan juga Abraham tercoreng bahkan selama tujuh tahun baik Xander maupun adik saya menganggap jika mantan menantu serta keponakan saya adalah orang hina karena melakukan telah bermain api sementara mereka adalah saudara sepupu."


"Karena hal itulah saya meminta kalian datang ke sini untuk meluruskan kesalahpahaman ini. Saya, Miranda Vincent Pramono ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada Tania Maharani, selaku korban dan Abraham Pramono, juga selaku korban karena telah menjebak kalian. Dan kepada Amanda serta semua keluarga besar Pramono, saya pun meminta maaf karena hatiku yang kotor ini membuat hubungan kekeluargaan kita menjadi renggang."


"Kepada semua teman geng sosialita serta orang yang hadir pada saat saya menjalankan rencana licik itu, saya ingin memberitahu jika Tania adalah wanita baik-baik, tidak pernah sekalipun selingkuh dengan lelaki mana pun. Dia wanita suci yang mampu menjaga kehormatannya sebagai seorang istri ketika Xander tidak ada di rumah. Begitu pun dengan Abraham, keponakan saya. Dia pria baik, tidak pernah menggoda istri dari kakak sepupunya."


"Semua yang terjadi tujuh tahun lalu hanyalah rekayasa saya belaka. Jadi, tolong jangan pernah menghina mereka karena keduanya adalah korban keegoisan saya."

__ADS_1


...***...


__ADS_2