Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Om Itu Adalah ... Papaku


__ADS_3

Pagi ini Xander memutuskan akan menemui Jonathan kembali di perusahaan sekaligus menanyakan apakah dirinya sudah boleh menjabat kembali posisi CEO yang sempat melambungkan namanya di dunia bisnis. Terhitung sudah hampir dua bulan lamanya dia tidak bekerja, hanya duduk manis di apartemen sambil sesekali datang ke perusahaan untuk menemui sang papa. Bosan, itulah yang dirasakan Xander. Oleh sebab itu, ia mencoba memberanikan diri untuk bertanya pada papa tercinta.


Alexander atau yang biasa dipanggil Xander turun dari mobil Alphard-nya. Mengenakan setelan jas terbaik yang ia miliki. Entah kenapa hari ini ia ingin sekali mengenakan setelan tersebut padahal biasanya ketika datang ke perusahaan selama masa rehat, lelaki itu hanya mengenakan pakaian casual, tapi tetap terlihat sopan.


"Selamat pagi, Tuan Xander." Para karyawan perusahaan menyapa ramah anak dari pemilik perusahaan, membungkukan sedikit pinggung di hadapan Xander.


Dengan sikap dingin bak gunung es, Xander hanya bergumam membalas sapaan mereka. Lalu melanjutkan langkah kaki yang sempat terhenti.


Pria berusia tiga puluh tahun memang sedari dulu bersikap dingin dan irit bicara, hanya pada orang-orang tertentu saja ia membuka suara. Kendati begitu, ia sangat menyayangi keluarganya termasuk Tania, perempuan satu-satunya yang berhasil menjadi ratu di hatinya selama sebelas tahun.


"Aduh, kenapa aku tegang sekali padahal hanya ingin bertemu Papa saja, tapi rasanya seperti mau bertemu Pak Presiden. Grogi dan gelisah," ujar Xander. Ia menghela napas mencoba mengendalikan diri agar ketegangan yang dirasa sedikit berkurang. "Ayolah, Xander, fokus dengan tujuan awalmu datang ke sini."


Saat pintu lift berdenting dan terbuka, Xander bergegas berjalan menyusuri lorong menuju ruangan CEO. Ketika sepatu terbuat dari kulit hampir mencapai ruangan paling ujung di lantai tersebut, Laura berdiri dari mejanya dan menyambut mantan atasannya itu.


"Selamat pagi, Tuan. Ingin bertemu dengan Tuan Jonathan?" sapa Laura ramah. Sikap wanita itu tidak pernah berubah sedikit pun meski kini posisi Xander bukan siapa-siapa.


"Hmm. Apa Papa ada di ruangan?" tanya Xander memastikan terlebuh dulu apakah papa tercinta ada di ruangan atau tidak khawatir jika Jonathan pergi karena ada urusan mendadak.


"Ada, Tuan. Kebetulan Big Boss baru saja datang. Mari silakan masuk." Laura mengetuk daun pintu lalu mendorong benda tersebut setelah diperbolehkan masuk oleh sang empunya ruangan.


"Papa?" Xander melangkah dengan langkah panjang mendekati kursi di depan sana.


Suara familiar itu sukses menghentikan sejenak aktivitas Jonathan, tapi ia tidak ada niatan sama sekali menoleh ke sumber suara. "Ada keperluan apa kamu datang ke sini?" tanya pria berdarah Amerika seraya menatap layar monitor di hadapannya.

__ADS_1


Xander mendudukan bokongnya di kursi hadapan sang papa. "Kedatanganku ke sini cuma ingin bertanya apa benar jika Papa dan Mama sudah tidak tinggal di rumah itu lagi?" tanyanya penasaran. Sejak beberapa hari yang lalu ingin menanyakan perihal tersebut, tapi baru kali ini tujuannya terlaksana.


Jonathan menghentikan aktivitasnya, kemudian menopang dagu menggunakan kedua punggung tangan. "Benar. Papa melakukan itu semua dengan tujuan memberi sedikit pelajaran kepada Mamamu atas perbuatannya terhadap Tania dulu. Papa berpura-pura jatuh miskin karena ingin Mamamu berubah, bisa lebih menghargai orang lain tanpa memandang status dan derajat seseorang. Selama ini Mamamu terlalu sombong dengan harta kekayaan yang dimiliki hingga tak memeduli perasaan orang lain. Dia seenaknya saja menghina orang tanpa memikirkan apakah orang itu sakit hati atau tidak."


Pria kelahiran lima puluh enam tahun menarik napas dalam, kemudian mengembuskannya secara perlahan. "Papa tidak tahu harus dengan cara apa lagi menyadarkan Mamamu. Yang ada dalam pikiran Papa saat itu hanya cara inilah satu-satunya yang dapat digunakan untuk memberi pelajaran pada Mamamu. Siapa tahu dengan begini dia sadar jika sikap yang dilakukannya selama ini adalah salah."


Xander mendengar penjelasan Jonathan dengan seksama. Ada perasaan sedih tatkala melihat wajah frustasi saat sang papa membicarakan wanita yang telah melahirkannya ke dunia. "Ehm ... apa Papa yakin dengan begini sikap Mama dapat berubah? Jujur aku masih ragu jika cara ini bisa merubah sikap Mama."


"Entahlah, Papa tidak tahu. Namun, jika Papa boleh berharap semoga Tuhan dapat mengetuk hati Mamamu agar dia berubah menjadi insan yang lebih baik."


Xander melingkarkan sabuk pengaman di tubuhnya sebelum ia melajukan kendaraan roda empat itu meninggalkan area perkantoran. Akan tetapi, dering ponsel mengalihkan perhatian pria tampan itu dalam sekejap. Bagaimana tidak, dering ponsel itu sengaja ia pilihkan khusus sebagai tanda bahwa seseorang yang menghubunginya adalah Surti, pengasuh Arsenio.


[Selamat pagi, Tuan Xander. Saya ingin memberitahu bahwa siang ini tepat pukul sebelas, Den Arsen akan pentas. Namun, tampaknya Bu Tania tidak bisa hadir karena sibuk bekerja. Den Arsen tampak bersedih sebab hanya dia saja yang tidak didampingi orang tua.]



Siang hari, sudah waktunya murid kelas nol besar menampilkan kehebatannya di hadapan semua orang. Arsenio, pria blasteran setengah Amerika, Cina dan Indonesia mencari mamanya yang sudah mengatakan akan datang.


Melihat sekeliling, wajah teman sekolahnya begitu semringah sebab papa dan mama mereka datang, hendak menyaksikan bagaimana hebatnya mereka saat di atas panggung. Sementara orang tua Arsenio tak kunjung muncul.


Alesha, teman sekelas Arsenio melihat keresahan di wajah temannya itu jadi ikutan bersedih, lantas gadis berambut panjang di kepang dua berkata, "Jangan bersedih, Arsen, masih ada aku, Miss Niken dan Mbak Surti yang nonton kehebatanmu nanti. Jadi kamu enggak boleh sedih, ya?"


Seketika wajah Arsenio kembali berseri seperti sedia kala. Hatinya sedikit terhibur akan ucapan Alesha. "Thank you, Lesha."

__ADS_1


Arsenio membenarkan posisi duduknya sembari mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan masih berharap Tania muncul di tengah-tengah mereka. Akan tetapi, saat ekor matanya menyapu selasar barat, ia malah menangkap sosok pria yang tak asing baginya.


"Arsen, semangat, Nak!" Mendadak pria itu berteriak histeris tanpa memedulikan pandangan aneh yang ditujukan kepadanya.


Beberapa teman sekelas Arsenio menoleh ke sumber suara, lalu saling melirik satu sama lain. Alesha yang cukup dekat bocah genius itu berbisik, "Arsen, siapa Paman itu? Apa dia saudaramu?" tanya gadis itu penasaran sebab baru kali ini melihat kemunculan Xander di tengah mereka.


Arsenio terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. "Ehm ... Om itu adalah ... Papaku."


Acara demi acara dimulai, para murid kelas nol kecil maupun kelas nol besar bersiap unjuk gigi di hadapan semua orang. Berlomba-lomba menampilkan kehebatan agar mendapat pujian dari kedua orang tuanya.


Saat Arsenio tampil ke depan, mementaskan drama Putri Salju bersama beberapa teman sekelasnya, tampak Xander begitu antusias menyambut anak semata wayangnya itu naik ke panggung. Pria tampan itu bertepuk tangan heboh saat Arsenio mulai menampilkan kehebatannya, memerankan tokoh pangeran.


"Pak, itu anak saya. Hebat, 'kan, dia?" ujar Xander membanggakan Arsenio di hadapan salah satu penonton yang duduk di sebelahnya. Sikapnya yang dingin bagai gunung es mencair ketika melihat sendiri betapa hebatnya Arsenio saat memerankan peran pangeran di acara sekolah.


Pria asing yang duduk di sebelah hanya menganggukan kepala dan tersenyum dipaksakan. Sedikit risih akan sikap Xander yang terkesan over pround terhadap anak kandungnya.


"Dasar kampungan! Kayak enggak pernah melihat anaknya pentas, berteriak heboh sendirian."


"Benar, jadi membuat kita enggak nyaman."


Itulah beberapa kalimat pedas yang diucapkan para orang tua murid saat melihat kehebohan Xander dari kursi penonton. Mereka memandang aneh pada mantan suami Tania, bahkan ada beberapa dari mereka berani menghunuskan tatapan tajam seakan ingin meminta Xander untuk tutup mulut dan menikmati pentas seni dengan tenang. Akan tetapi, Xander tetap bersikap santai seolah tak sadar bahwa saat ini dirinya tengah menjadi sorotan.


Peduli amat dengan mereka terpenting bagiku saat ini adalah Arsenio. Terserah kalian mau menganggapku aneh, kampungan, bodoh atau orang tolol sekalipun, aku enggak peduli. Fuucking shiit dengan kalian! batin Xander sambil terus menatap lurus ke depan. Ada rasa bangga karena darah dagingnya begitu pandai berakting di atas panggung.

__ADS_1


__ADS_2