Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Aib yang Terbongkar


__ADS_3

Lelaki bernama Eman menancapkan flash disc ke laptop yang ada di ballroom tersebut. Menunggu beberapa detik hingga proses penyelarasan data selesai. Sangat penasaran bagaimana kisah perjalanan dua anak manusia yang sebentar lagi saling mengikat dengan sebuah cincin di jemari manis masing-masing hingga mereka memutuskan melangkah bersama ke pelaminan.


"Play!" Dengan semangat jari tangan Eman menekan sebuah icon. Maka munculah beberapa slide foto yang menunjukan dua sosok pria dan wanita di depan sana.


Awalnya para tamu undangan menikmati pemandangan indah dari sebuah layar yang di tengah panggung. Mereka berdecak kagum tatkala melihat kemesraan Xander dan Lidya di beberapa tempat umum yang sempat diabadikan kamera. Pun begitu dengan Tania Maharani--mantan istri Xander tertegun sambil terus mengepalkan telapak tangan hingga memperlihatkan buku-buku kuku. Ada rasa iri dibalut kebencian yang memuncak terhadap dua orang manusia di depan sana.


Beberapa kali mengatur napas, dadanya terasa sesak bagai dihimpit bongkahan batu besar. Kamu wanita kuat, enggak mudah menangis. Membisikan dalam hati agar dirinya tidak menangis menyaksikan kemesraan sosok lelaki yang ia cintai. Walaupun sepasang mata indah mulai berkaca-kaca dan hidung pun terasa masam, Tania tidak boleh menunjukan kesedihannya di depan semua orang. Akan menjadi masalah besar kalau sampai mereka curiga dan mencari tahu ada hubungan apa antara dia dengan Xander.


Suasana ballroom hotel yang tadinya hening dan penuh khidmat mendadak menjadi ricuh, para tamu undangan mulai berbisik-bisik sembari menatap tajam kepada Lidya. Slide foto yang menampilkan kemesraan Xander dan sang model berubah menjadi video yang memperlihatkan seorang wanita cantik tinggi semampai tengah bercumbu dengan seorang pria asing. Dan bukan hanya itu saja mereka bahkan melakukan hubungan intim, tapi seluruh anggota tubuh diblur hanya memperlihatkan wajah para pelaku video plus plus.


"K-kenapa semua orang memandangiku dengan tatapan aneh?" bergumam lirih. Lidya belum mengetahui jika di belakang sana videonya tengah mantap-mantap dengan lelaki asing sedang diputar. Wajar saja wanita cantik dalam balutan kebaya modern tak menyadari itu semua sebab video tersebut diputar tanpa suara.


Karena merasa penasaran, Lidya membalikan badan dan alangkah terkejutnya dia menyaksikan sendiri bagaimana pergumulan panas mereka di sebuah kamar hotel mewah nan megah. "I-ini ... bagaimana ini bisa terjadi?" Lidya semakin tertegun. Dadanya mulai kembang kempis ketika kedua pemain video panas merubah posisi percintaan mereka.


Mata Lidya tidak berkedip sedikit pun. Sedikit demi sedikit ia mulai memasuki tahapan shock dengan apa yang terpampang di depan sana. Begitu pun dengan Xander, Miranda dan kedua orang tua Lidya bahkan ibu dari model papan atas langsung jatuh pingsan karena merasa malu akan kelakuan anak bungsunya itu. Namun, tidak bagi Jonathan, lelaki paruh baya itu tampak tersenyum puas akan situasi yang terjadi saat ini.


"Pa? I-ini ...." kata Miranda pada Jonathan dengan suara tergagap. Napas terhenti, tercekat di tenggorokan. Tubuh wanita itu terasa lemas merambat dari ujung kaki dan terus bergerak naik. Beruntungnya Jonathan segera menyentuh bahu sang istri hingga tak terjatuh ke lantai.


"Jadi seperti ini calon istri yang kamu sodorkan kepada anak kita, Ma? Kupikir dia lebih baik daripada Tania, tapi ternyata lebih rendah dari seonggok sampah yang menjijikan," cibir Jonathan. Miranda hanya terdiam tanpa sanggup berkata-kata. Pikiran wanita itu kosong, tak bisa berpikir jernih. Semua kejadian ini tidak sesuai dengan skenario yang ditentukan sebelumnya.

__ADS_1


"Dasar perempuan murahan!" Xander menghempaskan tangan Lidya yang melingkar di lengannya. Pria itu melangkah pergi dari ballroom hotel.


Namun, saat sepatu hitam terbuat dari kulit asli menuruni anak tangga, tanpa sengaja netranya melihat sosok perempuan dalam balutan gaun berwarna silver yang saat itu tengah menatap ke arahnya. Mantan sepasang suami istri saling memandang satu sama lain.


"Tania?" ucap Xander lirih. Akan tetapi, ia segera memalingkah wajah saat kenangan pahit di masa lalu terlintas di benaknya. Dalam benak pria itu berpikir kalau semua wanita itu sama saja. Sama-sama berengsek dan tidak pernah merasa puas akan satu lelaki.


"Berengsek! Kenapa bisa jadi begini?" umpat Tania kasar. Ia semakin kelimpungan saat sorot kamera membidik wajahnya yang cantik jelita.


"Hei, hentikan! Matikan layarnya! Kubilang, matikan sekarang juga!" teriak Lidya dengan suara lantang. Rahang wanita itu gemelutuk, telapak tangan saling meremas satu sama lain saking kesal akan kejadian yang tidak terduga.


Sang pengisi acara terkejut mendengar suara menggelegar Lidya. Lantas, lelaki itu memberi kode kepada Emma atau siapa pun untuk segera mematikan video yang masih terus berputar.


"Xander, dengarkan penjelasanku dulu. Ini enggak seperti yang kamu bayangkan. Aku ... enggak tahu siapa perempuan dalam video itu. Aku ...." Lidya berhasil menangkap lengan Xander kala pria itu hendak membuka pintu samping ballroom hotel yang terhubung ke sebuah ruangan tempat mereka dirias tadi.


"Stop, Lidya!" sergah Xander dengan menepis tangan Lidya dengan kasar. Ia tidak sudi disentuh oleh perempuan kotor yang mau tidur dengan lelaki lain. "Aku enggak butuh penjelasan apa pun dari kamu. Dari video itu aku udah bisa menyimpulkan kalau kamu bukanlah perempuan baik-baik. Kamu dan mantan istriku sama saja!" seru lelaki itu meninggikan suara.


"Tapi Xander, aku dan mantan istrimu berbeda. Aku ...."


"Aku bilang cukup! Terserah kamu mau bilang apa, aku udah enggak peduli lagi." Tanpa memberikan kesempatan pada Lidya untuk berbicara, Xander telah lebih dulu meninggalkan ruangan itu. Ia sudah muak terlalu lama berada satu atap dengan perempuan menjijikan macam Lidya.

__ADS_1


Melihat situasi semakin tidak kondusif, Miranda berinisiatif naik ke atas panggung. Ia meraih pengeras suara yang ada dalam genggaman tangan lelaki berpakaian rapih. "Tolong hadirin dan tamu undangan silakan meninggakan tempat ini. Acara pertunangan antara anak saya dengan Lidya ditunda!" seru wanita itu dengan wajah memucat.


Satu per satu tamu undangan yang hadir mencibir dan berbisik-bisik ketika pesta yang digembar gembor meriah dan disiarkan secara langsung oleh beberapa stasiun televisi berubah menjadi ricuh akibat video mantap-mantap.


Miranda menarik tangan Lidya dengan kasar. "Lidya, ikut Tante sekarang juga! Kita perlu bicara empat mata!" Wanita paruh baya berusia lima puluh lima tahun membutuhkan penjelasan calon menantunya itu, sekarang juga!


Lantas kedua wanita beda generasi bergegas meninggalkan ruangan tersebut menuju tempat sepi yang tidak ada wartawan atau siapa pun disana. Sementara itu, Tania masih membeku di tempat. Tatapan mata wanita itu seakan menerawang jauh ke atas awang.


"Tania, kita pergi sekarang." Joana merangkul bahu rekan kerjanya itu.


Masih dengan sedikit linglung Tania menjawab, "Iya. A-ayo." Wanita itu menuruti ajakan Joana. Ia berjalan bersisian menuju pintu keluar ballroom.


Namun, tatkala kaki jenjang itu melewati sebuah meja panjang di belakang panggung, ekor matanya menangkap satu cup es krim rasa coklat tergeletak di lantai. Mata memicing menatap tajam pada sesuatu yang bergerak di bawah meja tersebut.


.


.


.

__ADS_1



__ADS_2