Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Rencana Jonathan


__ADS_3

Jonathan duduk di seberang Xander, sementara asisten pribadi Xander yang bernama Ibrahim duduk di sebelah sang CEO perusahaan V Pramono. Kedua pria tampan dengan pesona yang mampu memabukan setiap kaum Hawa sedang berada di kantin rumah sakit. Mereka sengaja meninggalkan ruang perawatan sebab ingin memberi ruang kepada Miranda agar semakin dekat dengan calon mantan menantu serta cucu tercinta.


"Katakan, apa kamu sudah mendapatkan apa yang saya perintahkan kemarin?" Jonathan membuka obrolan di antara mereka.


Ibrahim mengangguk dan menjawab, "Sudah, Tuan. Di dalam sini ada bukti yang menyatakan bahwa kecelakaan kemarin telah direncanakan seseorang. Menurut informasi yang saya dengar, si pelaku hanyalah orang suruhan dan telah melarikan diri sesaat setelah dia menjalankan tugasnya. Kendati demikian, dalang utama di balik kecelakaan Nyonya Miranda masih berada di kota ini," paparnya secara detail.


"Siapa orang yang tega mencelakakan Mamaku? Apa dia tidak punya hati nurani sampai memerintah orang lain untuk menabrak Mamaku?" bertanya dengan napas tersengal. Mendengar informasi Ibrahim membuat amarah dalam diri Xander meledak. Meskipun dia marah kepada Miranda karena telah menghancurkan rumah tangganya dengan Tania, tapi sebagai seorang anak tentu dia tidak terima apabila ada orang jahat yang hendak mencelakakan sang mama.


"Tuan Xander bisa melihatnya sendiri siapa dalang di balik kecelakaan yang menimpan Nyonya Miranda," sahut Ibrahim seraya menyodorkan map coklat ke arah Xander.


Dengan gerakan cepat Xander meraih amplop di atas meja kemudian membukanya perlahan. Di dalam amplop terdapat lima buah foto serta sebuah flash disc kecil terselip di antara lembaran foto tersebut.


Detik itu juga kelopak mata Xander terbelalak. Napas terhenti beberapa saat. Tanpa sadar, sebelah tangannya mengepal di atas meja bundar terbuat dari kayu.


"Jadi, Perempuan Murahan itu adalah dalang di balik kecelakaan Mamaku, iya? Oh astaga, aku tidak menyangka kalau dia tega melakukan perbuatan itu kepada Mamaku. Padahal selama ini Mama begitu baik kepadanya, tapi dia justru ingin melenyapkan nyawa Mamaku dengan cara kotor seperti itu. Benar-benar sinting!" sungut Xander seraya menggeleng kepala tidak percaya atas kenyataan yang baru saja ia terima.


Jonathan tersenyum smirk melihat reaksi sang putera. "Terkadang amarah bisa membuat orang gelap mata, Nak. Akal sehat mereka hilang karena diselimuti dendam. Yang ada dalam pikiran mereka hanya satu, bagaimana caranya membalas rasa sakit hati akibat merasa disakiti. Mereka seolah-olah tersakiti, menjadi pemeran protagonis lemah padahal semua kejadian itu berasal dari dirinya sendiri, tapi justru menyalahkan orang lain."


"Anda benar, Tuan Jonathan. Kalau anak zaman sekarang orang akan menyebutnya dengan istilah playing victim demi menarik simpati orang lain," timpal Ibrahim ikut membenarkan ucapan sang majikan.

__ADS_1


Xander menghela napas, meraih secangkir kopi di hadapannya. Kemudian menyeruputnya perlahan. "Lalu, apa yang akan Papa lakukan sekarang? Langsung melaporkannya kepada polisi beserta barang bukti atau-"


Jonathan menggerakan jari telunjuk ke udara. "No ... no ... no. Biarkan saja dia bebas melakukan apa pun sesuka hati hingga waktunya tiba barulah kita beraksi."


Xander melirik tajam ke arah sang papa. "Beraksi? Memangnya Papa punya rencana apa untuk membalas perbuatan Lidya?" tanyanya penasaran.


Melirik sekilas lalu tersenyum penuh arti. "Nanti juga kamu akan tahu. Untuk saat ini, kita pura-pura saja tidak tahu jika sebetulnya Lidya-lah otak di balik kecelakaan yang menimpa Mamamu. Saat waktunya tiba, papa akan membalas perbuatan wanita sialan itu karena telah mencelakakan satu-satunya wanita yang kucintai. Dia akan menerima balasan setimpal karena sudah bermain-main dengan Jonathan Vincent."


Senyuman tipis terlukis di bibir Jonathan. Pria berwajah bule dengan rambut mulai keperakan telah memikirkan rencana untuk balas dendam sebab anak bau kencur macam Lidya mencoba memancing naga jantan yang tertidur selama puluhan tahun. Walaupun Jonathan terkesan cuek, dingin dan jarang mengatakan perasaannya bahwa dia mencintai Miranda, tetapi saat orang tercinta disakiti, tentu saja ia tidak akan tinggal diam.


"Untuk sekarang, papa minta tolong rahasiakan ini semua dari Mamamu. Kondisi Mamamu baru saja membaik dan papa tidak mau berita ini justru membuat kesehatannya drop kembali. Biarkan Mamamu fokus dulu dengan kesembuhannya. Jika waktunya tiba barulah kita beritahu bahwa wanita yang dulu sempat dipuji dan dibanggakan ternyata berniat membunuhnya," ucap Jonathan yang membuat Xander dan ibrahim mengangguk hampir bersamaan.


"Jadi selama ini kamu, Xander dan Mas Jonathan menyembunyikan beradaan Arsenio dariku? Ck, kalian memang pandai berakting sampai membuat tante tidak sadar bahwa kalian semua tengah merahasiakan sesuatu." Miranda bertanya seraya mengunyah buah apel yang kulitnya baru saja dikupas Tania. Tania tampak begitu telaten mengurusi mantan ibu mertuanya. Bahkan dia tidak segan menyuapi dan memandikan Miranda menggunakan kain (sibin).


Tania tersenyum kaku. "Iya. Maafin aku ya, Tan. Bukan maksud ingin merahasiakan sesuatu dari Tante. Hanya saja aku belum siap bila Tante mengetahui bahwa pernikahanku dengan Xander membuahkan hasil. Aku takut Tante menganggap jika diriku memanfaatkan keadaan demi merebut semua harta kekayaan keluarga Vincent Pramono. Padahal tujuanku cuma satu, ingin Tante tahu keberadaan Arsenio, itu saja kok."


"Ehm ... kamu benar. Dulu sikap tante memang tak jarang membuat tensi darah orang lain tinggi sampai suami tante lelah dan mencari cara bagaimana agar sikap tante bisa berubah. Setiap hari kerjaan tante cuma nyinyirin orang mulu hanya karena dia orang biasa. Hobi hang out, arisan, ngabisin uang suami, dan membicarakan keburukan orang lain. Aah, pokoknya melakukan apa pun sesuka hati tanpa memikirkan perasaan orang lain apakah dia tersinggung atau tidak, tante tidak peduli."


"Namun, Miranda yang sekarang berbeda dari Miranda yang dulu. Kini tante sadar bahwa lahir dari keluarga kaya raya bukan berarti kita dapat leluasa merendahkan orang lain. Justru seharusnya kita mengulurkan tangan, membantu mereka bukan malah menghinanya."

__ADS_1


Miranda tersenyum ikhlas kepada Tania. "Tante juga minta maaf karena pernah berbuat salah kepadamu, Nia. Tidak seharusnya tante membencimu hanya karena kamu bukan dari kalangan keluarga berada. Padahal kamu itu wanita baik, cantik dan mempunyai hati seperti malaikat. Tante bodoh pernah membuangmu dulu."


"Iya, Tante. Aku juga minta maaf ya, sudah menyembunyikan rahasia ini dari Tante. Namun, aku janji setelah ini tidak akan menyembunyikan apa pun lagi dari Tante. Aku akan mencoba berkata jujur pada Tante," jawab Tania.


Miranda mengulurkan tangan ke samping, mengusap pelan punggung tangan Tania. "Oh ya, hubunganmu dengan Xander sendiri, gimana? Apa Xander sudah membahas soal rujuk denganmu?"


Tania terpaku beberapa saat. Detak jantung wanita itu seakan berhenti berdetak detik itu juga. Tidak menyangka Miranda akan membahas soal hubungannya dengan sang mantan suami.


Menghela napas panjang kemudian kembali berkata, "Kalau boleh jujur, sebenarnya tante tuh ingin sekali kamu balikan lagi sama Xander. Tante yakin, kamu juga masih mencintai putera tante, 'kan? Terlebih sekarang ada Arsenio. Apa tidak sebaiknya rujuk dan kalian berdua membesarkan Arsenio bersama-sama. Karena bagaimanapun, Arsenio masih membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya."


"Tante sih berharap kamu dapat mempertimbangkan ucapan tante ini. Namun, jika memang kamu punya pandangan lain, silakan. Itu hak kamu. Tante tidak mau ikut campur dalam urusan kalian berdua. Kamu dan Xander sudah dewasa, bisa menentukan apa yang terbaik bagi kalian."


Miranda pernah sekali melakukan kesalahan, memaksakan kehendaknya sendiri kepada putera kesayangan dan kini ia tidak mau melakukan kesalahan yang sama. Oleh sebab, dia memberi kebebasan kepada Tania dan Xander untuk menentukan sendiri masa depan mereka. Terpenting mereka serta cucu tersayang bahagia, itu sudah lebih dari cukup baginya.


"Memangnya Tante tidak keberatan kalau aku menikah lagi dengan Xander? Tante tidak takut dicela teman-teman geng sosialita?" tanya Tania mengutarakan kekhawatirannya.


Terkekeh pelan dan menjawab, "Peduli apa dengan mereka. Selagi kamu dan Xander bahagia, kenapa tante mesti mendengarkan omongan mereka. Mereka tuh bukan siapa-siapa tante, jadi untuk apa ambil pusing mikirin ocehan tak berfaedah dari mereka." Wanita paruh baya itu menjeda sejenak kalimatnya kemudian menatap sendu kepada Tania. "Kalau kamu emang masih cinta sama anak tante yang bodoh itu, rujuk aja gih. Tante akan mendukung kalian 100%," sambung Miranda.


...***...

__ADS_1


__ADS_2