Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Kecewa


__ADS_3

"Kamu? Bukankah kamu adalah anak laki-laki yang tanpa sengaja menabrakku di mall berberapa hari lalu? Kenapa kamu ada di sini?" tanya Xander tanpa mengalihkan perhatian dari dua sosok di depannya.


Untuk beberapa detik Tania terdiam. Jantung wanita itu seakan berhenti berdetak saat mendengar penuturan Xander. Sempat membayangkan akan ada pertemuan antara mereka bertiga, tapi tak menduga jika pertemuan ini begitu cepat. Dia belum menyiapkan hati untuk mengatakan yang sejujurnya siapa anak laki-laki lucu di hadapannya ini. Akan tetapi, untuk menyembunyikan kebenaran pun rasanya sulit terlebih Arsenio terus merengek ingin tahu siapa papa kandungnya yang sebenarnya.


"Tentu saja aku ingin melindungi Mamaku! Kenapa? Apa Om ada masalah?" tutur Arsenio dengan sorot mata penuh kebencian.


"Mama? J-jadi, anak laki-laki ini adalah puteramu?" Tatapan mata penuh ketidakpercayaan terpancar jelas di mata hazel nan jernih.


Tania menela ludah susah payah. Entahlah, dia tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Pikiran wanita itu kosong, lidah pun terasa kelu tak sanggup berkata.


"Mama, sebaiknya kita pulang sekarang. Om ini berniat jahat kepada kita." Tanpa basa basi, tangan mungil Arsenio menarik jemari tangan sang mama menjauhi Xander.


Tania mengikuti langkah sang putera tanpa membantah sedikit pun. Ia membiarkan tubuh mungil itu membawanya menuju salah satu bangku taman di bawah pohon beringin.


"Mbak Surti, kita pulang sekarang! Aku bosan terus bermain di sini," ujar Arsenio memberitahu pengasuhnya.


Mbak Surti yang saat itu sedang berselancar di dunia maya menatap cengo ke arah anak asuhnya. Kendati begitu, ia tetap menuruti perintah anak majikannya. "Baik, Den Arsen. Mbak beres-beres dulu kalau gitu." Tanpa berlama-lama, ia segera merapikan semua mainan Arsenio ke dalam tas ransel.


"Mama, jangan takut, aku pasti menjagamu. Om jahat itu enggak akan bisa nyakitin Mama," kata Arsenio seolah ia tahu apa yang diperbuat Xander di masa lalu hingga membuat pernikahan mereka hancur.


"Ayo, Den Arsen, Mbak Surti sudah siap." Mbak Surti berdiri tegap sambil menggendong tas ransel tokoh Thomas, salah satu kartun kesukaan si bocah genius.

__ADS_1


Melangkah meninggalkan taman sambil terus menggenggam telapak tangan sang mama. Arsenio tak melepaskan sedikit pun tautan tangan mereka.


Saat sedang melewati gawang tempat Arsenio bermain bola, tiba-tiba suara lantang menghentikan sejenak langkah mereka. "Jadi ini sambutanmu terhadapa klien penting perusahaanmu, Nyonya Tania Maharani. Kamu tak menyapaku dengan ramah, kemudian berlalu begitu saja seolah kita enggak saling kenal. Benar-benar enggak sopan!"


"Om enggak boleh ngomong gitu tentang Mamaku!" sahut Arsenio, membuat Xander kembali terdiam. "Mama orangnya baik dan selalu mengajarkanku untuk bersikap sopan santun kepada orang lain, tapi karena Om orang jahat maka sebaiknya kami pergi."


Xander menatap Arsenio dan Tania secara bergantian. Hati terasa damai saat melihat dua sosok di depan sana. Laksana tersesat di tengah gurun pasir yang tandus, saat menemukan oase maka di saat itulah seseorang merasa bahagia. Itulah yang dirasakan oleh Xander saat ini.


"Jahat? Bagaimana kamu bisa berpikir kalau Om ini adalah orang jahat. Memangnya kita pernah bertemu sebelumnya?"


"Itu--" Kalimat Arsenio tergantung di udara. Tidak mungkin mengatakan jika ia sempat datang ke perusahaan Jonathan, berniat bertemu dengan lelaki yang teramat dirindukannya selama ini. Namun, ia malah tidak sengaja mendengar percakapan antara sang CEO dengan model papan atas. "Pokoknya aku enggak mau ketemu Om!"


Suara teriakan memekakkan gendang telinga membuat Tania tersadar. Wanita itu berkedip guna mengumpulkan nyawa yang sempat melayang beberapa saat. "Arsen, Sayang. Enggak baik bicara begitu di hadapan orang yang lebih tua darimu, Nak. Mama enggak suka kalau Arsen berkata kasar dan meninggikan nada suara kepada orang lain," tegur wanita itu lembut.


Arsenio hendak menolak, tetapi melihat tatapan penuh pengharapan membuat bocah kecil mengangguk pasrah. "Oke, aku tunggu Mama di parkiran. Kalau Om jahat melukai Mama, teriak dan minta tolong sama orang, mereka pasti nolongin Mama."


Ucapan Arsenio membuat Tania terenyuh. Tidak menduga kalau sang anak akan begitu mencemaskannya. "Iya, Sayang. Sudah sana pergi sama Mbak Surti dulu."


"Apa yang ingin Tuan Xander mau dari saya? Sapaan ramah seperti yang saya sering lakukan saat kita bertemu? Jika itu mau Anda, maka saya akan melakukan itu," ucap Tania. Wanita itu menjeda sejenak kalimatnya. Menghirup napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. Bibir terbuka, siap mengucapkan sesuatu. Akan tetapi, ....


"Jawab pertanyaanku, Tania. Apa anak laki-laki itu adalah anak haram, hasil perbuatan zina yang kamu lakukan dengan pria berengsek itu?" tanya Xander tanpa basa basi. Entalah, kenapa kalimat itu muncul dalam benak lalu meluncur begitu saja di bibir sang CEO.

__ADS_1


Rahang Tania mengeras dengan kepalan tangan sempurna. "Kalau iya, kenapa? Apa peduli Tuan Xander? Bukankah antara kita berdua enggak punya hubungan apa pun, lalu kenapa Tuan Xander sibuk mengurusi urusan pribadi saya?" skak wanita itu. "Daripada sibuk mengurusi urusan pribadi saya, sebaiknya Tuan cari cara bagaimana mengembalikan kepercayaan Tuan Jonathan yang sempat Anda kecewakan akibat ketidaksanggupan menjaga data perusahaan yang diretak orang tak bertanggung jawab. Cari solusi untuk mempertanggungjawabkan perbuatan Anda."


Tania membalikan badan, hendak meninggalkan Xander. Namun, dia kembali teringat sesuatu. "Saya hanya ingin menegaskan kalau Arsenio bukanlah anak haram. Dia punya Papa, asal usulnya pun jelas!" tandas wanita itu lalu melangkah maju ke depan.


Harga diri Tania merasa harga dirinya diinjak oleh seseorang yang dulu sangat ia cintai. Hati terkoyak seakan sebilah pisau tajam menembus hingga ke tulang belakang.


Xander tertegun. Dia tidak menyangka akan mendapati kemarahan Tania. Timbul penyesalan dari diri saat tanpa sengaja melihat butiran kristal meluncur sebelum tubuh ramping bak gitar Spanyol meninggalkannya.


Kamu masih saja seperti dulu, Xander, tidak pernah bisa menjaga ucapanmu saat sedang emosi. Kamu biarkan kemarahan menguasai hingga membuat mata serta hati nuranimu tertutup, batin Tania.


Hanya tersisa beberapa meter lagi, Tania berhenti, lalu mengusut air mata yang sempat membasahi wajah. "Aku tidak boleh bermuram durja di hadapan Arsenio, bila tidak, dia pasti mencecarku dengan berbagai pertanyaan dan tidak menutup kemungkinan anakku menemui Xander lagi dan terjadi keributan di antara mereka."


"Sayang, ayo kita pulang sekarang. Urusan Mama sudah selesai, kita saatnya kita kembali ke apartemen." Tania mencoba tersenyum, menyembunyikan rasa sakit akibat tuduhan yang dilontarkan oleh sang mantan suami.


Arsenio tentu saja merasa bahagia sebab bisa kembali ke rumah dengan segera. Lantas, bocah kecil itu menggenggam tangan Tania dengan erat. "Oke, Mama. Lets go!"


Tania menghentikan taxi yang kebetulan lewat di depan taman kota. Sebenarnya wanita itu bisa saja pulang ke apartemen jalan kaki, tapi suasana hatinya saat ini sedang tak karuan. Mood wanita itu hancur seketika hingga membuatnya segan bila harus berjalan menuju tempat tinggalnya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2