
Hanya tinggal hitungan menit, acara pertunangan antara putera tunggal dari salah satu pengusaha sukses berdarah Amerika dengan model terkenal tanah air digelar. Ballroom hotel dengan daya tampung sekitar lima ratus orang telah disulap sedemikian menarik hingga terlihat begitu mewah dan berkelas. Maklum, pasangan yang sebentar lagi saling bertukar cincin bukanlah orang sembarang, kedua orang tua mereka merupakan orang terpandang di negeri ini.
"Ingat, jangan sampai penampilanku terlihat kampungan di mata semua orang! Aku enggak mau ada pemberitaan buruk yang beredar di luaran sana, mengatakan bahwa calon menantu keluarga Vincent berpenampilan ndeso padahal pekerjaanku adalah seorang model," ujar Lidya kepada make up artist yang disiapkan Miranda untuk meriasnya hari ini.
Entah sudah berapa kali calon istri Xander mengucap kalimat sama hingga membuat Adinda serta tim yang bertugas jengah karena lagi dan lagi mendengar kalimat penuh ancaman terlontar dari bibir sang model.
Ya Tuhan, kenapa mulut wanita ini berisik sekali? Sejak tadi mengoceh terus padahal aku udah tahu keinginan calon menantu Nyonya Miranda ini, tapi kenapa dia selalu saja berbicara buat aku kesal! gerutu Adinda dalam hati. Tangan sebelah kanan semakin erat mengcengkeram kuas make up yang berfungsi menyapukan bedak di wajah Lidya.
Ingin rasanya menginterupsi perkataan Lidya, tapi Adinda sadar kalau dia tidak terlahir dari golongan kaya raya seperti mereka. Apabila tetap memaksa maka karirnya sebagai MUA dipertaruhkan. Jadi, lebih baik cari aman demi kebaikan bersama.
Menghela napas panjang sembari mengendalikan diri agar tak terpancing emosi. "Baik, Nona Lidya. Anda tenang saja, saya akan membuat Nona Lidya cantik dan terlihat elegan jauh dari kata kampungan ataupun ndeso. Saya yakin semua orang yang hadir akan merasa iri akan kecantikan Nona," ujar Adinda pada akhirnya ia hanya bisa pasrah dan menyelesaikan pekerjaannya dengan sebaik mungkin.
Sementara itu, di tempat yang berbeda, Xander sedang didandani oleh penata busana. Rambut sang CEO yang statusnya saat ini tengah dibekukan oleh Jonathan sedang ditata rapih agar terlihat lebih keren dan menawan. Kumis serta rambut-rambut halus di sekitar rahang semakin membuat pria itu terlihat lebih gentle. Jadi jangan heran jika banyak wanita single yang tertarik dan ingin bersanding dengan lelaki itu, tapi sayangnya hanya Tania Maharani-lah yang berhasil singgah dan menjadi ratu di hatinya.
Duduk santai sambil memandangi pantulan diri dari cermin besar di depan sana. Xander tak menduga jika dirinya sebentar lagi akan melangsungkan pertunangan dengan wanita lain. Dulu ia pernah berucap dalam hati hanya akan menjadikan Tania sebagai satu-satunya perempuan dalam hidupnya. Namun, ternyata harapan tak sesuai realita semua angan dan mimpi kandas setelah melihat secara langsung istri tercinta sedang tidur dalam selimut sama dengan Abraham--sepupunya sendiri.
Lamunan Xander buyar seketika, saat suara ketukan pintu terdengar dari ruangannya. "Apa semuanya udah siap?"
Suara seorang perempuan mengalihkan perhatian Louise yang saat itu sedang menyisir helaian rambut hitam tebal milik Xander.
Louise menoleh ke sumber suara dan berkata, "Hampir selesai, Nyonya." Karena memang tugasnya hampir selesai, dia segera merampungkan semuanya karena tidak ingin membuat Miranda menunggu terlalu lama.
Setelah memastikan penampilan Xander sempurna, tak ada kekurangan sedikit pun, Louise undur diri dari ruangan itu dan memberikan ruang kepada Miranda untuk berbicara dengan anak semata wayangnya.
__ADS_1
Miranda duduk di kursi sebelah Xander. Sudut bibir perempuan itu tertarik saat melihat betapa gagahnya anak kesayangannya itu. "Bagaimana, Xander, apa kamu udah siap? Hanya dalam hitungan menit acara pertunanganmu dengan Lidya segera digelar."
"Saat acara berlangsung akan banyak wartawan yang mengambil wajahmu serta Lidya, jadi Mama minta bersikaplah baik dan jangan pernah memasang wajah cemberut di depan kamera. Mama enggak mau nama baik keluarga kita hancur hanya karena tampangmu yang tidak sedap dipandang," ancam Miranda dengan menaikan dagu ke atas. Menatap sinis pada Xander.
Xander menyeringai mendengar perkataan Miranda. Tidak habis pikir kenapa wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini mempunyai sifat licik dan terlalu memaksakan kehendaknya sendiri hingga membuat semua orang harus menuruti keinginannya. Miranda tidak peduli apakah keinginannya itu sesuai dengan hati nurani orang lain atau tidak.
"Kalau aku bilang enggak siap, apa Mama akan membatalkan acara pertunanganku hari ini?" sahut Xander dengan nada sinis. "Pasti jawabannya enggak, 'kan? Jadi, percuma aja Mama tanya sama aku kalau Mama sendiri udah tahu jawabannya."
Miranda mendengkus kesal. Ia memalingkan wajah ke arah lain. "Ya ... ya ... ya ... kamu benar, Xander. Namun, Mama hanya ingin memastikan untuk yang terakhir kali agar kamu enggak berbuat hal yang macam-macam hingga membuat kedua keluarga malu akibat perbuatanmu. Ingat, sekali saja kamu bertindak gegabah maka bersiaplah sahammu di perusahaan akan Mama berikan sepenuhnya kepada Abraham--lelaki yang pernah tidur dengan mantan istrimu itu."
Mendengar Miranda mengungkit kembali kejadian di masa lalu membuat Xander terpaksa menggali lagi memori ingatannya akan peristiwa enam tahun silam. Matanya menatap sinis pada sosok perempuan di sebelahnya dengan dada kembang kempis. Hati pria itu terasa diremat oleh tangan tak kasat mata setiap kali mengingat perselingkuhan yang dilakukan Tania dengan sepupunya sendiri.
"Sampai kapan pun, aku enggak akan membiarkan si Berengsek itu mempunyai hak penuh atas perusahaan milik Papa!" ucap Xander seraya mengepalkan telapak tangan erat hingga memperlihatkan buku-buku kuku.
Tatkala Xander dan Lidya tengah bersiap menunggu hingga jarum jam dinding mengarah ke angka sepuluh dan jarum pendek ke angka dua belas, Tania tengah mondar mandir gelisah seraya *******-***** telepon genggam miliknya. Ia sedang dilanda kebingungan antara menerima ajakan Johan atau tetap berada di apartemen, menemani Arsenio bermain.
Sekitar tiga puluh menit lalu, Tania telah siap dengan gaun pesta warna silver model off shoulder yang membungkus tubuhnya yang sintal bagai seorang model papan atas. Dengan polesan make up flawless dan tatanan rambut yang disanggul model sanggul chignon wanita itu telah bersiap dan hendak mengayunkan kakinya yang jenjang menuju lokasi. Akan tetapi, rasa sakit hati dan kekecewaan pada Xander membuat wanita itu berpikir untuk kedua kali.
"Ya Tuhan, apa yang seharusnya aku lakukan? Apakah aku memang harus datang dan menyaksikan Xander bertunangan dengan wanita murahan itu? Atau aku tetap tinggal di sini, bermain bersama puteraku?" gumam Tania. Pikiran wanita itu kosong, tak tahu harus berbuat apa.
Surti yang baru saja selesai menyetrika seragam Arsenio memperhatikan tingkah laku sang majikan. Kedua alis saling tertaut petanda bingung.
"Bu Tania, kenapa?" tanya Surti memberanikan diri.
__ADS_1
Suara perempuan dari belakang tubuh membuat kesadaran Tania pulih kembali. Lantas, ia membalikan badan dan berkata, "Mbak, menurutmu aku harus datang atau enggak ke undangan yang diberikan Pak Johan?"
Surti memperhatikan iris coklat milik Tania. "Loh, kenapa Ibu enggak mau datang? Bukankah Ibu udah janji akan menemani Pak Johan dan berangkat bersama Bu Joana ke lokasi, lalu kenapa sekarang Bu Tania malah balik bertanya sama saya."
Tania menjilaat bibir bawahnya dengan pelan. Dengan suara tergagap wanita itu menjawab, "Ehm ... itu semua karena ...."
Belum selesai Tania mengucapkan kalimatnya, suara dering ponsel wanita itu berbunyi dan menampilkan nama Joana di depan sana.
"Halo, Tania, aku udah ada di depan pintu lobi apartemenmu. Cepatlah turun dan kita berangkat bersama." Tanpa memberi kesempatan pada Tania, Joana sudah mematikan sambungan telepon yang mana sikap wanita itu semakin membuat ibu kandung Arsenio kebingungan.
"Saya enggak tahu apa yang Ibu takutkan. Kalau boleh kasih saran, sebaiknya Bu Tania pergi saja sekarang jangan biarkan Pak Johan kecewa karena secara tiba-tiba Ibu memutuskan untuk enggak berangkat. Namun, kalau emang Bu Tania berat untuk melangkah, segera kirimkan pesan pada Bu Joana untuk enggak menunggu terlalu lama."
Tampak Tania menimbang-nimbang apa yang terbaik untuknya. Setelah merasa keputusannya tepat, barulah ia berkata, "Ya udah, kalau gitu aku berangkat aja. Mbak Surti tolong jaga Arsenio selama aku enggak di rumah. Kalau ada hal penting, jangan sungkan untuk memberitahuku. Mengerti?"
Surti mengangguk kepala. "Ibu tenang saja. Saya pasti menjaga Den Arsen dengan baik."
.
.
.
__ADS_1