Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Miranda VS Monica


__ADS_3

Sebuah pesta super megah digelar di salah satu ballroom hotel bintang lima di kota Jakarta. Ratusan tamu undangan berikut para wartawan telah memadati ruangan tersebut sejak tiga puluh menit yang lalu. Malam ini, mereka semua akan menjadi saksi kebahagiaan sepasang suami istri yang telah menempuh lika liku kehidupan berumah tangga selama hampir dua puluh enam tahun lamanya.


Membawa serta istri, anak, calon mantan menantu dan cucu tersayang melangkah bersama memasuki pintu masuk lobi hotel. Banyak pasang mata memandang kala tangan kokoh Jonathan mendorong kursi roda sang istri. Bahkan sebagian dari mereka secara terang-terangan menggunjingkan pria itu karena dengan penuh percaya diri membawa Miranda hadir dalam pesta tersebut.


"Anjing menggonggong kafilah berlalu. Terpenting kamu tetap berada di sisiku selamanya," ucap Jonathan mencoba menguatkan hati sang istri. Dia tahu bagaimana keadaan psikis Miranda setelah dokter menyatakan bahwa istri tercinta akan mengalami kelumpuhan selama beberapa waktu. Walaupun tidak permanen, tetap saja meninggalkan trauma tersendiri bagi Miranda.


Mirandan menyentuh punggung tangan Jonathan yang berada di pegangan kursi. "Terima kasih, Pa, karena kamu tetap setia meski dulu perangaiku tak patut dicontoh oleh siapa pun."


Xander dan Tania melirik satu sama lain, kemudian seutas senyuman manis terlukis di bibir masing-masing. Mereka turut bahagia menyaksikan bagaimana keromantisan Jonathan dan Miranda meski usia keduanya sudah tak lagi muda.


Di usia pernikahan yang mencapai tiga puluh tahun bukan perkara mudah mempertahankan biduk rumah tangga. Ada saja kerikil kecil menghadang yang tak jarang menggoyahkan iman mereka. Namun, Jonathan dan Miranda mampu mempertahankan hubungan mereka hingga saat ini.


Merengkul pundak Tania sementara sebelah tangannya menggenggam jemari mungil Arsenio. "Kelak rumah tangga kita akan sama seperti kedua orang tuaku, langgeng hingga maut memisahkan. Aku berjanji tak kan ada lagi kata perpisahan dalam kamus kita."


Hati Tania berbunga-bunga kala mendengar ucapan manis keluar dari bibir sang mantan terindah. Ucapan itu tak hanya melambungkan angan membina rumah tangga bahagia bersama orang tercinta, tetapi juga menghadirkan kembali impian yang belum pernah terwujud saat mereka menikah dulu.


"Aku pegang kata-katamu, Xander. Awas saja kalau kamu ingkar, aku akan minta Om Jonathan mengasingkanmu ke kutub utara agar kamu mati kedinginan di sana," ancam Tania manja. Ini kali pertama dia bersikap semanja ini pasca perceraian mereka.


Lalu keempat orang dewasa dan satu orang anak kecil berusia enam tahun melangkah menuju meja penerima tamu. Di sana sudah ada tiga orang wanita berpakaian formal tengah duduk bersebelahan sambil memeriksa surat undangan yang dibawa oleh para tamu. Itu semua dilakukan untuk memastikan bahwa saat acara berlangsung tidak ada orang jahat yang berniat menghancurkan pesta.


"Pestanya meriah sekali, ya? Banyak tamu undangan yang hadir dari kalangan menengah ke atas. Lihat, para wanita itu mengenakan gaun yang sangat indah buatan desainer terkenal. Kalung, cincin serta anting mereka terbuat dari berlian asli. Kalau begini terus bisa-bisa aku mundur alon-alon karena merasa minder berada di tengah mereka," bisik Tania di telinga calon suaminya.

__ADS_1


Xander terkekeh pelan mendengarnya. "Untuk apa minder, toh penampilanmu tak kalah cantik dari mereka. Bahkan menurutku, kamu adalah wanita tercantik di antara mereka semua. Bukan begitu, Boy?" tanyanya pada sang putera.


"Benar. Bagi Arsen, Mama adalah wanita paling cantik di dunia ini. Tidak ada orang yang dapat menandingi kecantikan Mama. I love you, Mama." Tangan Arsenio melingkar di pinggang sang mama. Dia peluk erat tubuh Tania seakan takut kehilangan wanita yang telah mengandung dan melahirkannya ke dunia ini.


Percakapan mereka terhenti saat melewati segerombolan ibu-ibu geng sosialita yang tengah sibuk bergosip di tengah acara pesta berlangsung. Membawa satu gelas minuman dingin di tangan masing-masing, mereka memandang sinis pada satu keluarga yang baru saja berbaur dengan para tamu undangan.


"Tidak tahu malu, bermesraan di tempat umum. Emang, ya, anak zaman sekarang tidak tahu etika dan sopan santun hingga tak segan-segan memamerkan kemesraan di depan khalayak umum. Padahal di dalam ruangan ini tak hanya ada mereka berdua. Banyak pasang mata memandang, tetapi mereka seolah buta dan menganggap yang lain tak ada."


"Benar. Anak zaman sekarang urat malunya sudah putus. Katanya berpendidikan tinggi, tapi sopan santun mereka minim hingga tak dapat menghormati orang lain. Benar-benar bikin illfeel," cibir wanita berambut sepundak ikut membenarkan ucapan teman geng sosialitanya. Memandangi Tania dengan tatapan mengejek.


Miranda yang mendengar ucapan mereka seketika mengepalkan kedua tangan di sandaran kursi roda, hendak memberi pelajaran kepada sekelompok ibu-ibu tukang gosip yang tak lain merupakan teman geng sosialita ibunda Lidya. Jika dulu dia diam saja dan membiarkan mereka menghina, menggunjingkan bahkan mencaci maki Tania, tapi kali ini berbeda. Miranda tidak akan pernah membiarkan ada satu orang pun membicarakan keburukan calon mantan menantunya itu.


Saat ini wanita paruh baya itu sudah berada di dekat sekelompok ibu-ibu rempong yang tak pernah jernah membuat kerusuhan di mana-mana. Mulut terus saja membicarakan keburukan orang lain, tanpa pernah sadar bahwa apa yang mereka lakukan bukanlah perbuatan terpuji.


Sekelompok ibu-ibu paruh baya itu menoleh ke sumber suara. Bola mata mereka melotot kala mendapati Miranda duduk dengan angkuh sambil menghunus tatapan tajam bagaikan seekor singa kelaparan.


"Jeng Miranda ... kenapa Jeng Miranda marah-marah. Memangnya kami membicarakanmu serta keluarga, hem sampai-sampai kamu melabrak kami!" elak Monica, adik bungsu ibunda Lidya. Mana mungkin dia berkata jujur, yang ada nanti dirinya menjadi sasaran amukan Miranda sama seperti beberapa tahun lalu.


Berkacak pinggang dan berseru, "Jangan menganggapku bodoh, Monic! Tanpa kamu beritahu pun, aku sudah tahu bahwa sindiran yang kalian ucapkan tadi ditujukan kepada Tania."


"Asal kalian tahu, sebentar lagi Tania menjadi menantuku dan aku harap ini terakhir kalinya diriku mendengar kalian menghina maupun membicarakan hal buruk tentang dia. Jika aku mendengarnya sekali lagi maka jangan salahkanku bila berbuat nekad!" ancam Miranda bersungguh-sungguh. Tak ada keraguan sedikit pun dari sorot mata wanita itu.

__ADS_1


Senyuman culas terlukis di wajah Monica. Menaikan dagu ke atas sambil melipat kedua tangan di depan dada. "Oh, jadi sekarang kamu sudah mengakui mantan menantumu itu? Mantan menantu yang pernah selingkuh dengan saudara sepupu dari suaminya sendiri, iya?"


Menggeleng kepala heran, Monica kembali bersuara. "Ck ... ck .... Aku tuh heran kok bisa-bisanya sih kamu membela dia. Bukannya dulu kamu sangat membenci dia? Lalu kenapa sekarang kamu justru membelanya habis-habisan. Apa otakmu ikutan terbentur saat kecelakaan terjadi hingga tak bisa melihat siapa wanita yang ada di sebelahmu itu!"


"Dulu aku memang membencinya, tapi sekarang tidak. Menurutku, Tania merupakan wanita terbaik di antara ribuan anak gadis yang ada. Dia baik, sopan santun, lemah lembut dan dapat menjaga martabatnya sebagai seorang istri. Tidak sembarangan berhubungan intim dengan lawan jenis tanpa adanya ikatan pernikahan yang sah."


"Untung saja Xander tak jadi menikahi keponakanmu yang nakal itu. Kalau sampai kedoknya baru terbongkar setelah mereka menikah, kasihan anakku hanya diberi barang bekas yang sudah turun mesin. Bisa-bisa baru dipakai satu minggu sudah rusak." Miranda luapkan kekesalannya di depan tante Lidya.


"Kamu?" Jari telunjuk Monica terangkat ke depan wajah Miranda. Akan tetapi, dengan gerakan cepat ibunda Xander menepisnya.


"Aku, apa? Mau menyangkal? Apa perlu aku putarkan lagi bagaimana hebohnya keponakanmu saat bercinta dengan kekasih gelapnya itu?" tawar Miranda. "Kalau itu maumu maka aku akan kabulkan segera." Tersenyum culas karena berhasil membungkam mulut Monica.


"Dasar perempuan sinting! Seharusnya aku tidak meminta kakak iparku mengundang suamimu yang sudah kere itu ke acara pesta malam ini. Kamu dan keluargamu tidak pantas berada di tengah-tengah kami. Kalian hanya sekumpulan sampah! Miskin, kampungan, menjijikan!" hardik Monica dengan meninggikan suara.


Beberapa penjaga yang kebetulan sedang berpatroli berjalan mendekat dan mencoba menghentikan keributan yang menggangu berjalannya pesta. Mereka tidak mau dianggap tidak becus karena tak menjalankan tugas dengan baik.


Monica yang merasa telah dipermalukan di depan umum, bergegas meninggalkan Miranda setelah merasa tak ada harapan untuk memenangkan duel di antara kedua wanita paruh baya itu. Dia pergi dari hadapan Miranda dengan menyimpan kekesalan di dalam dada.


"Walaupun aku lumpuh, bukan berarti tak dapat melindungi calon menantuku. Jadi kalian jangan pernah coba menyakiti perasaan Tania jika tak mau berurusan denganku!" ucap Miranda saat Monica serta rekan geng sosialitanya pergi dari hadapan nenek Arsenio.


***

__ADS_1


__ADS_2