
Tania sebisa mungkin mengulas senyum meski jantung wanita itu berdetak tak beraturan. Irama jantung wanita itu memompa lebih kencang dari biasanya. “Halo, Tante, apa kabar?” sapanya ramah. Walaupun statusnya sudah bukan lagi istri Xander, tapi ia tetap bersikap hormat kepada orang yang lebih tua.
Miranda menghentikan langkah, ia berdiri tepat di depan mantan menantunya. Tanpa diduga, tangan kanan wanita paruh baya itu terangkat ke udara, kemudian mendaratkan sebuah tamparan keras di pipi mulus Tania. “Dasar wanita murahan! Mau apa kamu kembali lagi ke Jakarta? Apa kamu berniat menjerat anakku lagi dengan cara licik seperti yang kamu lakukan beberapa tahun lalu, heh?” semburnya dengan meninggikan nada suara.
Kelopak mata Tania terpejam saat telapak tangan mantan mertuanya mendarat sempurna di pipinya yang mulus. Saking kerasnya hingga meninggalkan jejak jari Miranda tercetak sempurna di sana, menyisakan rasa nyeri hingga ke ulu hati. Sungguh, ia tak menduga jika wanita paruh baya yang pernah berstatuskan sebagai mertuanya akan melakukan perbuatan tersebut. Saat kejadian berlangsung banyak orang yang terkejut karena insiden penamparan tersebut.
“Apa kamu belum puas menyakiti anak saya hingga memutuskan kembali ke kota ini?” Miranda menaikan dagunya ke atas, tatapan mata tajam ditujukan kepada Tania. Tak ada penyesalan sama sekali di bola mata wanita itu. Yang ada hanya kemarahan yang menumpuk dan ingin segera ditumpahkan.
“Kedatanganmu ke sini pasti karena ingin rujuk sama anak saya, iya? Jangan mimpi! Sampai kapan pun, saya tidak akan pernah mau menerima wanita murahan yang tega mengkhianati suaminya sendiri.” Kedua tangan Miranda dilipat di depan dada, memandang sinis pada sosok perempuan di depannya. “Apa perlu saya ingatkan lagi bagaimana teganya kamu berkhianat dengan cara tidur satu ranjang dengan lelaki lain yang tak lain adalah sepupu dari suamimu sendiri.”
Telapak tangan Tania mengepal sempurna di samping tubuh. Ia merasa harga dirinya diinjak dan dipermalukan di depan semua orang . Ingin rasanya membalas perbuatan Miranda, tapi teringat akan nasihat yang sering diucapkan oleh pengurus panti asuhan untuk selalu menghormati orang yang lebih tua terlebih Miranda adalah mantan mertuanya.
Tania menghela napas pelan. Kemudian mengulas senyuman tipis. “Saya sama sekali tidak berniat untuk rujuk kembali dengan Xander, Tante, karena bagi saya masa lalu hanya akan menjadi sebuah kisah yang tak akan pernah terulang kembali.” Di dalam hati Tania menyakinkan dirinya untuk tidak terlihat lemah di depan Miranda. Ia tidak mau martabatnya terus diinjak oleh mantan mertuanya itu.
“Lalu ... tentang perngkhianatan yang pernah saya lakukan, bukankah Tante Miranda lebih tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara saya dengan Abraham.” Tania mengulas senyuman sinis saat tanpa sengaja mendapati bola mata Miranda yang melebar sempurna setelah mengucapkan kalimat tersebut. “Selama ini saya diam saja karena masih menghormati Tante sebagai mantan mertua sekaligus wanita yang telah melahirkan Xander ke dunia ini. Saya bisa saja mengatakan yang sebenarnya kepada Xander dan Om Jonathan atas kejadian enam tahun lalu, tapi rasanya percuma sebab putera Tante yang bodoh tidak akan pernah percaya dengan apa yang saya katakan.”
“Kamu?” Jari telunjuk Miranda mengarah kepada Tania. Ia cukup terkejut akan sikap yang ditunjukan oleh mantan menantunya itu.
__ADS_1
Awalnya Miranda berpikir jika ia dapat mempermalukan Tania dan menjatuhkan harga diri wanita itu di tempat umum, tapi rupanya prediksinya salah. Tania yang sekarang bukanlah wanita lemah seperti dulu yang mudah ditindas dan diprovokasi. Mantan menantunya itu menjelma menjadi wanita kuat dan lebih berani dari sebelumnya.
“Kenapa? Tante mau bilang saya tidak punya sopan santun karena dibesarkan di panti asuhan, begitu?” tanya Tania masih dengan tatapan sinis. Entah datang dari mana keberaniannya hingga bisa dengan lugas menjawab setiap perkataan Miranda. Mungkin karena ia sudah mulai jengah akan sikap Miranda yang selalu merendahkannya selama ini.
“Saya memang tidak pernah tahu di mana orang tua saya. Namun, bukan berarti Tante dapat menghina harga diri saya dengan seenak hati. Selama ini saya selalu menghormati Tante dan bersikap baik meski Tante tak pernah sekalipun memperlakukan saya dengan baik bahkan saat pertama kali kita bertemu. Kendati begitu, saya tidak pernah membenci Tante dan malah berusaha menjadi menantu yang baik agar pandangan Tante terhadap saya berubah. Namun, rupanya semua yang saya lakukan tidak pernah berarti apa-apa di mata Tante. Di mata Tante, saya hanyalah butiran debu tak mempunyai arti apa-apa.” Tania sengaja menekankan setiap kalimat yang terucap di bibirnya. “Kalau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, saya permisi dulu.”
Mengucap dengan nada teramat sinis, Tania melangkah pergi. Ia memutuskan meninggalkan Miranda seorang diri di antara kerumunan orang yang sedang menonton. Terlalu lama berada di ruangan yang sama membuat dada wanita itu semakin terasa sesak seolah udara di sekitar tak mampu memberikan pasokan oksigen ke dalam paru-paru. Ada hati terluka setiap kali bersitatap dengan iris coklat milik Miranda. Toh di antara mereka sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi jadi untuk apa berlama-lama dalam tempat yang sama dengan nyonya besar Vincent.
Akan tetapi, rupanya Miranda masih ingin berdebat dengan Tania meski tak ada lagi pembahasan di antara mereka. Tatkala mantan menantunya mengayunkan kaki menuju eskalator, Miranda berseru dengan suara lantang. “Perempuan miskin dan murahan seperti kamu yang tega selingkuh di belakang anak saya sampai kapan pun tidak pernah pantas menjadi bagian dari keluarga Vincent.”
Tania merasa keputusannya kembali ke Jakarta bukanlah keputusan tepat. Lihatlah sekarang, ia menjadi bahan gunjingan semua orang. Setiap langkah kaki bergerak, di situlah bisikan-bisikan setan terus mengganggu pendengarannya. Ia kembali dipermalukan Miranda untuk kedua kali.
“Dasar perempuan murahan! Kampungan! Miskin! Berani-beraninya dia melawankan!” teriak Miranda kencang. Wanita itu meraih vas bunga kemudian melemparkannya ke sembarang arah hingga membuat benda berbahan kaca itu pecah, berserakan di mana-mana. Napas terengah disertai dada kembang kempis. Masih dengan deru napas membara, wanita itu kembali mengumpat, “Seharusnya tadi aku menamparnya lebih keras lagi atau kalau perlu kedua pipinya kutampar agar dia tidak mempunyai keberanian untuk melawanku. Enak saja dia membalas setiap perkataanku yang kuucapakn. Emang dia siapa? Cuma wanita miskin yang tidak tahu asal usulnya!”
Suara teriakan kencang yang menggema ke seluruh penjuru ruangan membuat Jonathan segera berlari masuk ke dalam ruang tamu. Pria jangkung berambut keperakan cukup terkejut saat mendapati keadaan ruang tamu yang tampak berantakan seperti kapal pecah.
Pemilik V Pramono Group berjalan dengan sangat hati-hati, menghindari pecahan beling di lantai. “Kamu kenapa, Ma, kok marah-marah? Biasanya kamu senang setelah kumpul bareng teman-teman geng sosialitamu, tapi kenapa sekarang ngamuk?” ujar Jonathan sambil memandang pecahan beling di bawah, lalu kembali menatap Miranda.
__ADS_1
Miranda berdecak kesal. “Bagaimana mungkin aku enggak marah, lah wong mood-ku jadi hancur setelah bertemu dengan seorang wanita murahan yang tega selingkuh di belakang suaminya sendiri.”
Jonathan menatap tajam dengan mata memincing. “Wanita murah? Siapa yang kamu maksud, Ma?” tanyanya penasaran. Perasaan pria berwajah bule mulai tidak tenang.
Miranda membalas tatapan tajam Jonathan. “Siapa lagi kalau bukan mantan menantu kesayanganmu itu!” Ia menghempaskan hand bag ke atas sofa, kemudian duduk di sogfa dengan wajah cemberut. “Tanpa merasa bersalah, dia kembali hadir dalam kehidupan kita. Cih, benar-benar menjijikan!”
“Aku yakin dia pasti berniat menggoda Xander lagi agar mau rujuk dengannya. Wanita miskin seperti dia tidak akan pernah sanggup hidup menderita, dia pasti mencari berbagai cara untuk menjerat kembali anakku,” sambung Miranda.
Kini Jonathan tahu apa penyebab istrinya marah-marah tidak jelas. Menghela napas kasar dan berkata, “Jangan berkata begitu, Ma. Bagaimanapun, dia pernah menjadi bagian keluarga kita.”
Makin kesallah Miranda mendengar ucapan sang suami. Sejak dulu Jonathan memang tak pernah sejalan dengannya, pria itu selalu membela Tania dan mendukung wanita itu. “Itu kamu, tapi tidak bagiku. Aku sama sekali tidak pernah menganggapnya sebagai menantuku. Bagiku, menantu idaman yang pantas bersanding dengan Xander hanya Lidya, bukan yang lain!” jawabnya ketus.
Pria berdarah Amerika hanya dapat menggelengkan kepala. Berdebat dengan Miranda rasanya percuma sebab istrinya itu tidak pernah mau mengalah.
.
.
__ADS_1
.