
"Halo, Tuan Xander. A-anu, Tuan ... Den Arsen ... Den Arsen, Tuan ...."
Xander di seberang telepon baru saja melajukan kendaraanya keluar dari gerbang sekolah. Pria itu memasang earphone wireless ke daun telinga kemudian kembali fokus pada jalanan di depan sana. "Kenapa dengan Arsen? Katakan dengan benar, Surti!"
"Den Arsen mengeluh perutnya sakit, Tuan. Tadi saya sudah menghubungi Bu Tania, niat hati ingin bertanya obat apa yang biasa dikonsumsi Den Arsen kalau penyakitnya kambuh, tapi tidak diangkat. Saya bingung harus bagaimana sekarang, Tuan."
"Siapkan semua keperluan Arsen, termasuk boneka jerapahnya. Saya sedang dalam perjalanan menuju sana, sebentar lagi sampai. Setelah itu, kita ke rumah sakit." Tanpa memberi kesempatan pada Surti, Xander telah lebih dulu mematikan sambungan telepon. Ia segera menginjak pedal gas, menyalip kendaraan di depan sana dengan begitu lihai. Walaupun Jakarta sedang diguyur hujan, tetapi pria itu terus melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
Sementara itu, Surti bergegas memasukan semua pakaian dan tak ketinggalan boneka kesayangan majikan kecilnya ke dalam koper kecil motif Thomas and friends, tokoh kartun kesukaan Arsenio.
"Den Arsen, tahan sebentar. Tuan Xander sedang dalam perjalanan," ucap Surti sambil membenarkan posisi tubuh Arsenio dan memakaikan jaket agar si kecil tidak kedinginan sebab cuaca di luar sana sedang turun hujan.
"Mbak, sakit!" keluh Arsenio, tangan mungilnya terus memegangi perut. Wajah bocah itu tampak pucat pasi, bibirnya biru dan keringat dingin mulai muncul ke permukaan.
Surti hanya dapat mengusap perut Arsenio, tanpa tahu harus berbuat apa. Dulu Tania pernah memberitahu tentang penyakit Arsenio ini, tapi selama Surti bekerja, tak pernah sekalipun majikan kecilnya itu mengeluh sakit perut. Jadi, ketika penyakit itu kambuh, ia tidak tahu harus melakukan apa.
"Shiit! Lama sekali!" umpat Xander kasar saat melihat pintu lift menuju apartemen Tania belum juga mencapai lantai dasar.
Ketika pintu lift itu berhenti dan terbuka, Xander berderap masuk ke dalam lift tersebut dan menekan nomor lantai kediaman sang mantan istri. Tak membutuhkan waktu lama, Xander telah berada di depan pintu unit apartemen milik Tania.
"Surti, buka pintunya! Ini saya, Xander!" teriak Xander sambil menekan bel pintu. Degup jantung pria itu berdegup kencang bagai sebuah mobil yang sedang balapan di arena permainan. Ia amat sangat mencemaskan keselamatan buah cintanya bersama Tania.
Pintu apartemen Tania terbuka, kemudian disusul keberadaan Surti di hadapan Xander. "Tuan, syukurlah Anda sudah datang. Saya-"
"Di mana Arsen?" sergah Xander sebelum Surti menyelesaikan kalimatnya. Ia tak punya banyak waktu meladeni perkataan babysitter anak tercinta.
"Ada di kamarnya." Xander meringsek masuk kemudian berjalan setengah berlari menuju kamar Arsenio.
"Boy?" kata Xander, tanganya yang kokoh menempelkan punggung tangan di kening sang putera. Suhu tubuh bocah itu sedikit demam mungkin karena efek terpapar sinar matahari dan makan es krim sebanyak empat cup dalam waktu bersamaan.
__ADS_1
Bola mata Arsenio berkaca-kaca saat melihat papa kandungnya ada di depannya. Bibir bocah kecil itu gemetar. "S-sakit, Om. Sakit ... banget."
"Sst, it's okey. Kamu akan baik-baik aja." Xander mencoba menenangkan Arsenio meski sebetulnya ia pun cukup mencemaskan puteranya itu. "Kita ke rumah sakit sekarang, ya? Kamu bisa jalan sendiri?" Arsenio menjawab dengan gelengan kepala.
Xander mengulurkan tangan dan membawa tubuh kecil itu dalam dekapan. Dengan sangat hati-hati pria itu melangkah keluar dari dalam kamar.
"Surti, bawa semua perlengkapan Arsenio. Kita segera ke rumah sakit sekarang!"
Hal berikutnya yang mereka lakukan adalah masuk ke dalam lift untuk turun ke lantai satu.
"Bagaimana bisa terjadi? Memangnya kamu enggak tegur Arsen saat melihat dia mengambil empat cup es krim sekaligus?"
"Tadi saya sibuk di dapur, Tuan. Mungkin, saat saya lengah, Den Arsen diam-diam mengambil es krim dari dalam freezer dan memakan semuanya secara bersamaan. Kalau saya tahu, pasti segera saya tegur." Jelas Surti. Ia begitu takut disalahkan Xander karena begitu ceroboh hingga membuat majikan kecilnya celaka.
Sampai di mobil, Surti masuk lebih dulu ke kursi penumpang di belakang disusul Arsenio. Koper kecil isi perlengkapan Arsenio masuk di bagasi.
"Mama, sakit!" Sepanjang perjalanan, Arsenio terus mengeluhkan perutnya yang terasa sakit.
Xander melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat. Ketika akhirnya gedung rumah sakit semakin dekat, ia menambah kecepatan hingga 80 KM/jam. Tak berselang lama, mereka tiba di depan IGD rumah sakit.
Xander turun dari mobil dan berjalan memutar ke kursi penumpang. Ia bawa tubuh Arsenio dalam dekapan. Kemudian menerobos guyuran air hujan yang semakin deras disertai suara petir yang terus menggelegar di antara rintikan air hujan membasahi bumi.
"Suster, tolong! Tolong anak saya!" teriak Xander dengan suara lantang. Ia biarkan kemejanya yang mahal, berharga jutaan rupiah basah terkena air hujan. Sepatu terbuat dari kulit asli menginjak genangan air demi membawa Arsenio masuk ke ruang IGD.
Mendengar suara minta tolong dan disertai kemunculan seseorang dari ambang pintu, para petugas medis yang berjaga segera berhambur menyambut sang pasien.
"Surti, kamu tunggu di sini, biar saya yang urus administrasinya. Ingat, jangan pergi ke mana-mana sebelum saya kembali!" ucap Xander tegas. Ia tidak mau jika saat dokter ataupun perawat ingin menyampaikan keadaan terkini tentang Arsenio, tak ada satu orang pun menunggu di depan ruang IGD.
Setelah mengucapkan itu, Xander meninggalkan Surti yang menunggui Arsenio.
__ADS_1
***
Sementara itu, di sebuah pulau terbesar ketiga di dunia, seorang wanita cantik berwajah oriental sedang sibuk memantau proyek bersama atasan dan rekan kerjanya. Namun, entah kenapa saat cahaya kilat disusul suara gemuruh petir menggelegar mengaung di atas langit, kegiatannya terhenti seketika.
Aneh, kenapa perasaanku jadi tak tenang begini? Apa sedang terjadi sesuatu kepada anakku? batin Tania. Ia menyentuh dada bagian kiri menggunakan telapak tangan kanan.
Sebagai seorang ibu yang mengandung dan melahirkan Arsenio, tentu saja Tania mempunyai ikatan batin dengan anaknya itu. Sehingga saat ini ia seakan ikut merasakan kesakitan yang dialami oleh sang putera.
Joana berbisik di telinga Tania. "Tania? Are you okey?" Mata wanita itu memicing tajam memperhatikan tubuh Tania yang membeku seperti patung.
"Na, kok perasaanku enggak tenang ya? Aku takut terjadi sesuatu pada Arsenio, puteraku."
Joana menyapu pandangan ke sekitar. Semua orang sibuk dengan pekerjaan masing, termasuk Johan yang sedang berdiskusi dengan orang kepercayaannya di pulau tersebut.
Tangan lembut dan halus menarik lengan Tania hingga menjauh dari posisi Johan saat ini. "Coba kamu hubungi Surti dan tanya keadaan di rumah bagaimana. Sudah sana, sebelum Pak Johan sadar kalau kita enggak ada di tempat."
Tania menuruti perintah Joana. Benda pipih berukuran 6.5 inci ia keluarkan dari dalam saku celana. Akan tetapi, saat ia hendak membuka kunci layar benda tersebut wanita bertubuh semampai baru saja jika ternyata batrenya habis.
Sial! Kenapa aku bisa lupa mengisi daya ponselku sih! sungut Tania.
"Gimana, udah kamu hubungin?"
Tania menggelengkan kepala. "Daya ponselku habis, Na. Aku enggak bisa hubungi Surti." Detik itu juga wajah wanita itu murung.
Joana menyodorkan telepon genggam ke hadapan Tania. "Pakai ponselku aja dan segera tanyakan keadaan Arsen di Jakarta."
Jemari lentik Tania menari indah, menekan tombol demi tombol di layar tersebut. Beruntungnya dia hapal nomor telepon Surti dan Arsenio.
...***...
__ADS_1