
Waktu menunjukan pukul sembilan malam. Sinar mentari tlah tergantikan oleh sinar rembulan dan kerlip cahaya bintang di malam hari. Malam ini tampak begitu syahdu bagi Miranda, sebab dia ditemani suami, anak dan mantan menantu yang mungkin saja sebentar lagi menantunya kembali. Tidak ada lagi permusuhan di antara mereka, hanya ada kedamaian dan cinta yang menyelimuti kalbu masing-masing.
"Xander, kapan nih mama lihat kamu melamar Tania? Apa kamu tidak mau rujuk kembali dengan Dewi Penolong mama?" celetuk Miranda di sela gurauannya. Entah kenapa malam ini dia tampak begitu antusias ingin menjodohkan anak serta mantan menantunya itu.
"Tante kok ngomongnya begitu, sih? Aku 'kan jadi malu," ujar Tania dengan tersipu malu. Wajah wanita itu memerah bagai kepiting rebus. Kulitnya yang putih bersih tanpa ada cela sedikit pun tampak merah merona seolah baru saja mengenakan blush on di kedua pipi.
"Loh, kok malu sih. Tante itu bersungguh-sungguh, Sayang. Tante tuh kepingin banget kamu jadi menantu tante. Namun, kali ini menantu yang dianggap bukan menantu yang hanya dijadikan hiasan di keluarga kami. Benar begitu, Pa?" sahut Miranda sambil tersenyum lebar kepada sang suami. Matanya berbinar, memancarkan betapa bahagiannya dia malam ini karena dapat berkumpul kembali dengan keluarga kecilnya.
Jonathan yang sedang duduk di sebelah Miranda membalas ucapan istri tercinta dengan anggukan kepala. "Betul, Ma. Papa tidak mau kalau Xander kalah start dari pria di luaran sana yang sudah menargetkan Tania sebelumnya. Bisa banjir kota Jakarta akibat banyaknya air mata yang berjatuhan akibat kalah dari seseorang," goda pria paruh baya itu. Tangannya yang kokoh tak mau lepas dari jemari tangan Miranda.
Makin tersipu malulah Tania mendengar ucapan Jonathan. Sepertinya malam ini kedua mantan mertuanya itu bekerjasama mengerjainya.
Kepala semakin menunduk, menyembunyikan rasa panas yang menjalar dari telinga merambat ke wajah. Tania tidak tahu harus menjawab apa hingga dia hanya mampu meremas telapak tangan satu sama lain.
Xander tahu betapa gugupnya Tania malam ini. Memberanikan diri menyentuh jemari lentik itu seakan ingin mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
Memandangi paras cantik jelita yang tengah tertunduk malu di sebelahnya. Xander berkata, "Aku sih tergantung Tania, Ma, apa dia bersedia rujuk lagi denganku atau tidak. Namun, jauh dari lubuk hati yang terdalam, sebetulnya aku ingin kami bisa rujuk kembali. Dapat membina rumah tangga lagi seperti dulu. Mewujudkan mimpi yang belum aku wujudkan."
"A-aku ...." Mengucap satu kata lalu terdiam lagi, menahan debaran hebat menghantam sanubari yang terdalam. Semua ini datang secara tiba-tiba membuat otaknya tak dapat berpikir jernih.
"Kenapa? Apa kamu tidak mau rujuk denganku? Apa sudah ada pria lain yang mengisi hatimu?" cecar Xander.
__ADS_1
Mengumpulkan keberanian dalam dada. Perlahan, Tania menegakkan kepala memandangi wajah tampan nan rupawan di sebelahnya. "Tidak ada pria lain selain dirimu, Xander. Sejak dulu hanya kamu satu-satunya lelaki yang singgah di hidupku, tidak ada yang lain. Hanya saja ... ini terlalu mendadak. Banyak hal yang harus kupikirkan termasuk ...."
Ekor mata Tania menatap lekat mata hazel sang mantan suami. Bersatu dan berkumpul lagi dengan pria yang amat dicintai merupakan sebuah anugerah terindah yang Tuhan berikan kepadanya. Namun, akankah mereka dapat hidup berbahagia jika Miranda tahu bahwa selama ini dia telah menyembunyikan keberadaan Arsenio dari hidup mantan mertuanya itu?
Tania takut jika Miranda tahu bahwa di antara dirinya dan Xander telah hadir buah cinta mereka yang kini genap berusia enam tahun? Akankah Miranda memaafkannya karena selama merasa semua orang telah membohonginya? Dia tidak sanggup jika harus menerima penolakan untuk kedua kali.
Xander menghela napas panjang, mengerti makna dari sorot mata yang diberikan Tania kepadanya. Satu hal itu memang harus segera diselesaikan sebelum Miranda mengetahui kabar itu dari orang lain.
"Ya sudah tidak apa. Masih banyak waktu untuk menjawabnya," ucap Xander lemah. Melirik ke arah arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Dia harus mengantarkan Tania segera sebab ada seseorang yang sedang menunggu kepulangan wanita itu di rumah. Sosok mungil yang menjadi penyemangatnya dalam menghadapi kejamnya dunia ini.
"Ma, Pa, ini udah malam. Sebaiknya aku antarkan Tania pulang dulu. Kasihan dia kalau kemalaman pulang. Besok harus berangkat pagi untuk bekerja." Xander bangkit dari kursi lalu menyodorkan tangannya ke depan Tania. "Aku akan mengantarkanmu pulang."
Tania cukup terkejut akan perubahan sikap Xander. Namun, dia tersadar jika memang tak seharusnya terlalu lama berada di rumah sakit karena ada Arsenio yang sedang menunggunya di apartemen.
Menyusuri lorong rumah sakit yang mulai terlihat sepi, mantan sepasang suami istri itu berjalan bersisian dalam keheningan.
"Xander, apa menurutmu ini waktu yang tepat mengenalkan Arsenio kepada Mamamu? Rasanya sudah terlalu lama menyembunyikan keberadaan anakku dari ibu kandungmu sendiri." Suara merdu Tania memecah keheningan yang tercipta beberapa saat.
Xander memperhatikan langkahnya, menatap lurus ke depan tanpa menoleh ke arah Tania. "Jika itu maumu maka lakukanlah. Aku tidak akan melarangmu mengenalkan putera kita kepada Mamaku. Justru aku bahagia dengan begitu peluang untuk rujuk kembali semakin terbuka lebar."
Bola mata Tania membeliak tajam. "Xander! Iih, kamu tuh apa-apaan sih. Selalu saja menggodaku. Aku tuh sedang membahas soal Arsenio, kamu malah membahas soal kita. Enggak nyambung deh," keluh wanita itu dengan ekspresi wajah cemberut.
__ADS_1
Bibir ranum bagai buah delima tampak begitu menggoda terkena pancaran sinar lampu semakin membuat jiwa kelelakian Xander yang tertidur selama tujuh tahun bangkit dengan sendirinya.
'Shiit! Dengan melihat bibir itu saja sudah membangkitkan hasratku yang terpendam selama ini,' gerutu Xander dalam hati.
Dibesarkan di lingkungan yang menganut budaya Timur kental, membuat Xander tak bisa sembarangan menyalurkan hasrat kelelakiannya kepada sembarangan wanita. Terlebih keluarga besar Miranda adalah keturunan ningrat, ada beberapa aturan yang harus dipatuhi bagi semua anggota keluarga.
Walaupun Jonathan lahir dan besar di Amerika, tetapi pria itu mengajarkan anak semata wayangnya untuk memegang teguh prinsip dan norma yang berlaku di Indonesia. Tidak boleh melakukan free s*x, apa pun alasannya.
Memandang ke bawah pada bagian pangkal paha dan berkata, 'Sabar, Bro. Sebentar lagi kita cetak goal. Tapi enggak sekarang, tunggu sampai halal lagi. Kalau sekarang nakal bisa enggak dikasih lampu hijau oleh Papa dan Mama. Ngerti, kamu?'
Xander memaki sahabat sejatinya yang selalu mendampingi di saat suka maupun duka, seolah 'dia' adalah benda itu mempunyai nyawa sehingga pria itu dapat memarahinya sesuka hati.
Berdehem guna menyingkirkan pikiran kotor yang sempat singgah di kepala. "Iya, maafin aku. Tapi jujur, aku sama sekali tidak keberatan jika seandainya saja kamu memberitahu Mama tentang Arsenio. Bagaimanapun, Mamaku berhak tahu kalau sekarang dia sudah punya cucu. Begitu pun dengan anak kita. Arsen berhak tahu siapa Nenek kandungnya yang sebenarnya."
"Aku yakin, Mama pasti bahagia sekali karena impiannya untuk mempunyai cucu telah terwujud. Dengan begitu, tak ada alasan bagiku menerima tawaran Mama untuk menikahi Lidya atau siapa pun itu karena kini sudah ada Arsenio di tengah keluarga kami."
Tania menghentikan sejenak langkahnya. Menatap punggung Xander dari belakang. "Omong-omong, bagaimana kabar wanita itu? Apa kamu masih berhubungan dengannya?" Membicarakan Lidya membuat sekujur tubuhnya terasa panas. Kembali teringat bagaimana dulu Xander nyaris saja menikahi Lidya, wanita pilihan Miranda.
Xander mengangkat bahu ke atas. "Entahlah. Aku tak tahu bagaimana kabar wanita itu sekarang. Semenjak kejadian itu, aku tidak lagi berhubungan dengannya."
"Sudahlah, jangan membicarakan wanita itu lagi. Mendingan sekarang kita pulang, kasihan Arsenio nungguin kamu terlalu lama."
__ADS_1
Tania mengangguk. Tanpa membalas, wanita itu segera menyusul Xander, mengiringi langkah lelaki itu. Keduanya kembali mengayunkan kaki menuju parkiran rumah sakit.
...***...