Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Before Wedding Days


__ADS_3

"Tania!"


Seruan itu mengalihkan perhatian para pegawai di perusahaan Johan Architecture dari layar monitor di hadapan mereka kepada seorang wanita muda yang baru saja tiba di kantor. Rekan kerja Tania berdiri lalu berhambur ke arah calon istri tuan muda Vincent Pramono kemudian mengerubunginya seperti kerumunan semut yang tengah menyerbu makanan manis.


"Tania, kenapa selama ini tidak pernah cerita kalau kamu adalah mantan istri Tuan Xander. Andai saja tahu, aku pasti lebih menjaga mulutku ini untuk tidak membicarakan keburukan mantan suamimu itu." Mona menunjukan penyesalannya karena pernah mengatakan bahwa Xander adalah manusia terpelit yang pernah ditemuinya. Pelit karena Xander tidak pernah tersenyum sedikit pun saat mereka bertemu, membahas proyek kerjasama dengan perusahaan V Pramono Group.


Joana, sekretaris Johan ikut menimpali. "Pantas saja saat pertama kali kita menemui klien yang ternyata orang itu adalah Tuan Xander, wajahmu terlihat pucat dan ekspresi Tuan Xander begitu menyeramkan. Rupanya kalian punya kisah cerita yang cukup rumit di masa lalu."


Ada banyak selorohan yang disampaikan rekan kerja Tania, tapi ibunda Arsenio hanya mengulum senyum di wajah membiarkan semua orang menyampaikan uneg-uneg mereka kepadanya.


"Duh, kalau sudah begini kita wajib berhati-hati jangan sampai Tuan Xander marah karena membuat calon istrinya kesusahan."


Tania terkekeh pelan mendengarnya. "Jangan memperlakukan aku seperti seorang pejabat tinggi. Aku ini Tania, rekan kerja kalian semua. Walaupun sebentar lagi aku menikah dengan Tuan Xander, tapi aku tetaplah Tania yang kalian kenal dulu. Pernikahanku dengan Tuan Muda Vincent Pramono tidak akan mempengaruhi pertemanan kita," ucapnya bijak. Tidak mau diistimewakan hanya karena menyandang gelar calon nyonya muda Vincent Pramono. Ia ingin semua orang memperlakukannya sama seperti dulu sebelum video Xander tersebar di sosial media.


"Tania, kalau kamu menikah nanti jangan sampai melupakan kami semua, ya? Jangan sombong loh jadi orang," celetuk rekan kerja Tania yang bersebelahan dengan meja kerja ibunda Arsenio.


"Mana mungkin melupakan kalian." Tania mengedarkan pandangan, menatap wajah satu per satu rekan kerjanya itu. "Selama aku bekerja di sini, kalian selalu baik kepadaku. Membantuku mengerjakan tugas yang diberikan Pak Johan tanpa pernah menolaknya. Bagiku, kalian bukan hanya rekan kerja melainkan juga saudara."


"Uuh, gue jadi terharu." Lantas Khansa berhambur memeluk Tania dengan erat. Ia dan Tania mempunyai hubungan yang cukup dekat. Tak jarang keduanya menghabiskan waktu bersama walau hanya sekadar makan siang di kantin kantor.


Pelukan itu terhenti kala mendengar suara berat seorang pria. "Mau sampai kapan kalian berpelukan? Ini sudah waktunya bekerja. Sebaiknya kalian lanjutkan pekerjaan yang tadi sempat tertunda," ujar Johan meminta bawahannya kembali ke tempat semula dan mengerjakan pekerjaan masing-masing.

__ADS_1


Hari pertama setelah dilamar sang mantan suami, kehidupan Tania sedikit banyak berubah dari yang semula tidak terkenal menjadi seleb dadakan di mana-mana banyak orang menyapa dan memberi senyuman manis kepadanya. Bahkan orang yang dulu membencinya kini berlomba-lomba mencari perhatian Tania karena ingin mengambil keuntungan dari situasi ini.


"Nia, ponsel lo bunyi terus tuh. Diangkat dulu gih, siapa tahu penting."


Tania melirik pada benda pipih yang ada di sebelahnya. Terlalu fokus bekerja sampai tak mendengar dering ponsel yang sedari terus berbunyi.


Ketika meraih benda tersebut, nama Xander terpampang di layar ponsel. "Tumben sekali meneleponku di jam kerja," gumam Tania lirih. Tanpa membuang waktu terlalu lama, ia menggeser tombol hijau dan sesaat kemudian sambungan telepon terhubung.


[Sayang, kamu dari mana saja? Kenapa baru mengangkat teleponku? Kamu tahu tidak kalau aku khawatir sekali kepadamu. Aku hampir saja pergi ke kantormu untuk memastikan dirimu baik-baik saja.]


Suara berat yang terdengar akan nada penuh kekhawatiran menggaung di pendengaran Tania. Walaupun terdengar sedikit lebay karena Xander terlalu berlebihan mengkhawatirkannya, tetapi ia memaklumi kenapa sang calon suami begitu mencemaskannya.


Dengan seulas senyum tipis Tania menjawab, "Maaf sudah membuatmu cemas. Tadi aku terlalu sibuk mengerjakan laporan pekerjaan proyek perusahaanmu sehingga tak mendengar panggilan telepon darimu. Sudah ya, jangan marah lagi. Aku tidak mau kita bertengkar karena hal sepele."


Yah, di mata Tania ini hanyalah masalah kecil sehingga tidak perlu dibesar-besarkan. Akan tetapi, tidak bagi Xander. Pria itu terlalu mencintai ibu dari putera kandungnya sampai tidak mau terjadi hal buruk menimpa calon istrinya itu.


Di seberang sana, Xander yang baru saja meeting dengan para bawahannya melambaikan tangan kepada Ibrahim serta kepala divisi agar meninggalkan ruangan pertemuan sebab ia hendak berbicara berdua dengan Tania tanpa mau diganggu oleh siapa pun.


Mendapat titah dari sang bos, Ibrahim serta kepala divisi perusahaan bergegas meninggalkan ruangan tersebut dan kembali mengerjakan pekerjaan masing-masing.


Masih sedikit kesal Xander menjawab, "Aku diminta Mama dan Papa mengajakmu pergi makan malam guna membahas rencana pernikahan kita. Kita akan mencari waktu terbaik untuk menggelar ijab kabul dan resepsi pernikahan. Oleh karena itu, aku ingin kamu datang membawa serta Arsenio agar acara makan malam kita semakin meriah."

__ADS_1


Atensi Tania teralihkan dari layar monitor di depannya. "Makan malam? Kapan?" tanyanya dengan mengernyitkan kedua alis.


Dengan santainya Xander berucap, "Nanti malam. Aku akan meminta sopir menjemput Arsenio terlebih dulu di apartemen setelah itu baru menjemputmu di kantor."


"Apa? Mendadak sekali!" teriak Tania tanpa sadar sedikit menggebrak meja. Kemudian ia meminta maaf lewat bahasa isyarat ketika tersadar bahwa semua mata memandang aneh kepadanya. Bahkan sebagian dari mereka menggelengkan kepala lalu melanjutkan kembali pekerjaannya.


Xander mengerutkan kehing sehingga terdapat kerutan halus di sana. "Memangnya kenapa? Kamu tidak mau membahas rencana pernikahan kita?"


"Bukannya tidak mau, hanya saja aku merasa kenapa tiba-tiba sekali. Aku 'kan butuh persiapan untuk bertemu Om dan Tante. Masa iya saat bertemu kedua orang tuamu aku masih mengenakan pakaian kerja dan tubuhku lengket karena keringat."


Xander meneguk air putih di atas meja. Tenggorokan terasa kering selepas membicara di hadapan para bawahannya. Setelah itu meletakkan kembali gelas bening tersebut ke atas meja.


"Tenang saja, acara makan malam diadakan pukul tujuh malam nanti. Aku akan minta izin kepada Pak Johan agar kamu dapat pulang lebih awal sehingga dirimu bisa pergi ke salon untuk melakukan perawatan. Urusan pakaian nanti aku minta Ibrahim mengantarkannya ke salon langganan Mama di mana kamu melakukan perawatan."


"Bagaimana, kamu bersedia bukan hadir dalam acara makan malam bersama keluargaku?" sambung Xander.


Tania menarik napas panjang. Percuma saja menolak toh Xander telah menyiapkan segalanya sehingga ia tak mempunyai pilihan lain selain menerima ajakan sang calon suami.


"Baiklah. Minta sopir menghubungiku jika sudah tiba di depan kantor."


"Oke. Sampai jumpa nanti malam, Sayang. Love you," ucap Xander lembut.

__ADS_1


Bola mata Tania bergerak ke kanan dan kiri, memperhatikan keadaan sekitar. Telapak tangan ia letakkan di depan bibir dan berkata dengan lirih. "Love you too, Sayang."


...***...


__ADS_2