Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Berbaikan


__ADS_3

Tubuh Abraham membeku di tempat saat sepasang matanya melihat dua sosok wanita yang begitu berarti dalam hidupnya. Setelah sekian lama akhirnya ia dapat memandangi dua wanita itu dari jarak yang sangat dekat.


"Mama? Cleo? S-sedang apa kalian berdua di sini?" tanya Abraham terbata, tidak menduga jika ia akan bertemu kembali dengan mama dan adik tersayang setelah tujuh tahun berpisah.


Ada perasaan bahagia menyelimuti diri Abraham. Bahagia karena ia dipertemukan lagi dengan Amanda, wanita yang telah melahirkannya ke bumi ini. Walaupun ia sempat marah karena Amanda lebih mempercayai orang lain dari anak kandungnya sendiri, tapi pria itu tetap merindukan mama tersayang. Bahkan setiap saat dan setiap waktu selalu merindukan belaian kasih sayang dari wanita paruh baya itu.


Alih-alih menjawab pertanyaan Abraham, Amanda justru berhambur dalam pelukan akan tertuanya. Melingkarkan kedua tangan di pinggang sang putera, mendekap erat seakan ia takut Abraham menghilang dari pandangannya.


"Abraham, anakku. Mama ... merindukanmu, Nak." Suara itu terdengar gemetar.


Dalam pelukan Abraham, Amanda terisak. Pundak wanita itu bergerak turun dan naik. Bulir air mata berjatuhan membasahi wajah yang mulai mengeriput.


"Kenapa kamu tidak pernah pulang ke rumah? Apa kamu betulan marah kepada mama sampai tak sudi mengirim pesan walau hanya sekadar menanyakan kabar mama? Kamu tidak tahu betapa menderitanya mama berpisah darimu."


Abraham masih membeku di tempat. Pikiran pria itu kosong melompong, tak mengerti harus berbuat apa. Sungguh semua ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan.

__ADS_1


Amanda mengurai pelukan. Air mata masih terus mengalir di antara kedua pipi. "Abra, mama mau minta maaf atas kejadian tujuh tahun lalu. Kini mama sudah tahu kalau kamu memang tidak bersalah. Kamu dan Tania dijebak Miranda, seolah kalian sedang bermain api di belakang Xander, padahal sebetulnya kalian berdua tak melakukan apa pun."


"Kamu telah menjelaskan kronologinya sebelum dirimu tak sadarkan diri. Namun, mama malah tidak mau mendengar penjelasanmu, padahal kamu telah mengatakan yang sejujurnya. Mama menyesal sudah meragukan kamu, Nak. Maafkan mama." Amanda berucap dengan mata berkaca-kaca. Bibir wanita paruh baya itu gemetar disertai suara isakan terdengar pilu di telinga.


Kini Abraham mengerti kenapa Amanda bisa berada di unit apartemennya. Rupanya sang mama sudah melihat video klarifikasi yang dilakukan Miranda beberapa hari lalu.


Hati anak mana yang tega melihat ibu kandungnya menangis. Meskipun Abraham sempat marah kepada Amanda, tapi jauh di lubuk sanubari yang terdalam, ia tak sampai hati melihat mama tersayang menangis di depannya.


Mengulurkan tangan ke depan kemudian mengusut bulir air mata menggunakan jemari tangan. Bukannya berhenti menangis, Amanda justru semakin kencang menangis. Ibu dua orang anak teringat akan mendiang suaminya yang sudah lama meninggal. Perhatian dan sikap Abraham hampir sama dengan sang suami bahkan terkadang Amanda seperti melihat suaminya dalam wujud yang berbeda.


"Terpenting saat ini Mama sudah tahu bahwa aku tidak pernah sekalipun selingkuh dengan istri dari Sepupuku. Aku masih tahu batasan meski diriku dan Tania berteman lama."


"Tapi mama tetap merasa bersalah karena sudah mengusirmu dari rumah. Karena mama kamu harus hidup menderita, bekerja banting tulang dan memulai semuanya dari nol. Mama menyesal, Nak." Amanda berkata lirih dengan penuh penyesalan.


Abraham tersenyum mendengar ucapan Amanda. "Kata siapa hidup menderita? Lihatlah, semua yang kumiliki adalah hasil kerja kerasku selama ini. Aku malah berterima kasih karena kejadian di masa lalu mengajarkanku untuk hidup mandiri tanpa mengandalkan kemampuan orang lain."

__ADS_1


"Coba Mama bayangkan bagaimana jadinya bila aku terus berada di bawah bayangan keluarga Pramono? Pasti aku tetap menjadi anak Mama yang manja, sebentar-sebentar merengek saat meminta sesuatu. Namun, berkat kejadian itu aku justru berubah menjadi anak mandiri yang mampu berdiri di kakiku sendiri."


Cleo yang sedari tadi memperhatikan mama dan kakak laki-lakinya melepas rindu ikut membuka suara. Merangkul pundak Amanda dan berkata dengan lembut. "Yang dikatakan Kak Abraham itu benar, Ma. Kita ambil hikmahnya saja dari semua kejadian yang menimpa keluarga kita."


"Terbukti sekarang Bibi Miranda sudah berubah, tak lagi angkuh dan congkak seperti dulu. Beliau kini bisa menghargai orang yang derajatnya berada di bawah kita, lebih berhati-hati dalam bertutur kata, mau meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Nah, Mama harus melihat sisi baiknya dari segi Kak Abraham. Kini Kakakku yang tampan ini bisa menjadi lelaki sejati, tak pantang menyerah dan selalu semangat menghadapi masalah apa pun."


Amanda tersenyum lebar walau masih bersimbah air mata. Hatinya menjadi lebih lega setelah mendengar ucapan Cleo. Anak bungsunya itu terkadang berubah menjadi lebih dewasa dibanding dirinya.


"Kalian memang anak-anakku yang hebat. Mama bangga pada kalian berdua." Amanda merentangkan kedua tangan, memberi isyarat kepada Abraham dan Cleo untuk memeluknya.


"We love you, Mama!" ucap Abraham dan Cleo hampir bersamaan.


Amanda merasa bersyukur karena kini keluarga kecilnya dapat berkumpul kembali seperti sedia kala.


'Terima kasih Tuhan karena Engkau telah menyatukan kembali keluargaku. Dan untukmu Mbak Miranda, aku ikhlas dunia akhirat memaafkanmu. Semoga dirimu menjadi manusia yang lebih baik lagi.'

__ADS_1


...***...


__ADS_2