
Hujan turun membasahi bumi sejak tadi subuh hingga membuat jalanan kota Jakarta digenangi air di mana-mana. Cahaya kilat serta gemuruh petir saling bersahutan. Melihat cuaca buruk di luar sana, membuat Tania terpaksa memesan taxi online untuk mengantarkan Arsenio pergi ke sekolah. Akan sangat berbahaya apabila ia nekad melajukan motornya di tengah guyuran hujan.
"Ma, nanti siang aku ada pentas seni di sekolah. Mama enggak lupa, 'kan, untuk datang dan melihat aku tampil?" tanya Arsenio dengan penuh pengharapan.
Sebenarnya sudah satu minggu lalu Tania menerima surat edaran dari pihak sekolah, tapi Arsenio kembali mengingatkan sang mama untuk menyempatkan diri, datang dan menyaksikan pentas seni yang dipersembahkan oleh anak kelas nol besar sebelum perpisahan sekolah.
Tania terkejut bukan main dan wajahnya seketika tegang. Pasalnya ia nyaris melupakan agenda tersebut. "Ehm ... jam berapa, Sayang?"
Surti yang duduk di kursi samping pak sopir menjawab, "Jam sebelas siang, Bu."
Arsenio menghela napas kasar kemudian memandang keluar jendela dengan tatapan kecewa. "Kalau aku enggak ngingetin, Mama pasti lupa, 'kan?" Binar indah di sorot mata Arsenio meredup detik itu juga.
Wanita cantik berwajah oriental terdiam beberapa saat. Ya Tuhan, bagaimana aku bisa melupakan moment penting seperti ini? Padahal sudah jauh-jauh hari Arsenio memberikan selembaran dari sekolah, tapi kenapa aku bisa lupa? Tania bermonolog.
Mantan menantu keluarga Vincent Pramono bingung haruskah ia meng-iyakan permintaan Arsenio, sedangkan hari ini ia ada pertemuan penting dengan salah satu klien perusahaan. Untuk kesekian kali, Johan memintanya hadir dan membawakan presentasi agar klien merasa puas dan bersedia menggunakan jasa mereka. Namun, untuk menolak permintaan anak semata wayang, rasanya sulit sebab akhir-akhir ini perhatiannya kepada Arsenio sedikit berkukurang akibat terlalu sibuk dengan pekerjaan.
"Den Arsen tenang aja, Mama pasti datang dan menonton kehebatan Aden di atas panggung. Benar, 'kan, Bu?" ucap Surti sembari menoleh ke belakang. Walaupun tidak yakin jika Tania bisa hadir, tapi ia berharap agar majikannya bersedia meluangkan sedikit waktu yang dimiliki untuk melihat aksi Arsenio bersama teman-teman sekelasnya.
"I-iya, Mama ... akan datang. Tenang aja," jawab Tania dengan tergagap.
Semoga pertemuan hari ini diadakan setelah makan siang sehingga aku bisa datang ke sekolahan walau hanya sebentar, batin Tania.
Arsenio hanya diam dan menarik napas panjang. Mustahil bagi Tania datang dan menyaksikan bagaimana hebatnya dirinya di atas panggung. Ia tahu sejak dulu pekerjaan adalah prioritas pertama bagi Tania walau di akhir pekan mereka menghabiskan waktu bersama tetap saja bocah kecil itu merasa kesepian.
"Kalau Mama enggak bisa datang, ya udah enggak apa-apa. Jangan menjanjikan sesuatu yang bisa membuatku kecewa, Ma."
Tania dan Surti tertegun sesaat setelah mendengar ucapan Arsenio.
Maafkan Mama, Nak. Bukan maksud ingin mengecewakanmu, tapi Mama melakukan ini semua demi masa depanmu. Walaupun Kakekmu memberi 20% saham perusahaan tetap saja kita harus berdiri di atas kaki sendiri, tidak boleh mengandalkan orang lain meski orang itu adalah keluarga dari pihak Papamu.
Arsenio turun dari kendaraannya di depan sekolah. Tanpa menoleh ke belakang ia melangkah masuk seorang diri meninggalkan Surti dan Tania.
__ADS_1
"Ibu jangan terlalu memikirkan perkataan Den Arsen barusan. Den Arsen pasti mengerti kenapa Ibu tidak bisa datang. Nanti saya coba bujuk dia," ujar Surti seakan mengerti kegelisahan sang majikan.
Tania mencoba memaksakan diri untuk tersenyum meski hati terasa sakit saat melihat raut kekecewaan terlukis di wajah sang anak. "Aku titip Arsen, ya, Mbak. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan menghubungiku!"
"Joana, pertemuan kita bareng klien akan diadakan jam berapa?" Pertanyaan ini menjadi ucapan pertama Tania saat ia sudah tiba di kantor. Sepanjang perjalanan pikiran wanita berusia dua puluh sembilan tahun berkecamuk memikirkan perkataan terakhir Arsenio. Setiap kalimat yang terucap bagaikan sebilas pisau tajam menghujam jantung.
Joana segera membuka buka agenda miliknya, kemudian mencari agenda pertemuan hari ini. "Jam sebelas siang di Mandarin Restaurant. Kenapa? Kamu ada janji dengan seseorang?" tanyanya sambil mengernyitkan alis.
Tania meluruhkan tubuhnya di seberang kursi Joana. "Bukan seseorang melainkan anakku. Siang ini tepat pukul sebelas ia dan teman-teman sekelasnya tampil untuk terakhir kali sebelum perpisahan. Anakku sudah memberi surat edaran satu minggu lalu, tapi aku lupa. Sumpah, aku enggak tahu kalau hari ini dia akan pentas. Sungguh."
Helaan napas Joana keluarkan. Dapat membayangkan bagaimana kecewanya Arsenio saat tahu jika Tania lupa jika hari ini adalah moment penting bagi si bocah genius. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa sebab dirinya hanyalah sekretaris bukan pemilik perusahaan.
"Maafkan aku, Tan, enggak bisa bantuin kamu. Ya semoga aja pertemuan kita hari ini selesai tepat waktu dan kamu bisa menonton aksi panggung anakmu." Perkataan Joana hanya dijawab anggukan kepala oleh Tania. Ia pun berharap semoga Tuhan mempermudah segala urusannya.
***
"Miss Niken, bagaimana? Apa semuanya sudah siap?"
"Semuanya udah siap, Bu. Namun, aku akan melihat anak-anak terlebih dulu dan memberi sedikit wejangan sebelum acara dimulai." Miss Niken undur diri dari hadapan Adinda. Ia ayunkan kakinya yang jenjang ke belakang panggung, ke salah satu ruangan khusus yang dijadikan ruang ganti para murid kelas Matahari.
Senyum manis kembali mengembang di sudut bibir miss Niken kala melihat betapa antusias para murid di kelas Matahari. Tidak menduga jika anak didiknya begitu bersemangat hari ini.
"Miss Niken!" seru salah satu murid di kelas Matahari. Sontak semua murid berusia lima hingga enam tahun menoleh ke ambang pintu.
"Wuah! Hati-hati dong!" Tubuh miss Niken oleng saat murid di kelas Matahari berhambur ke arah wanita itu. "Bagaimana, apa kalian udah siap?"
"Siap, Miss!" sahut mereka hampir bersamaan.
"Kapan kita tampil, Miss? Aku udah enggak sabar ingin maju ke depan dan ditonton oleh Papa dan Mama. Kata Mama, kita akan pergi makan di restoran kalau aku menampilkan pertunjukan yang bagus." Salah satu murid Niken berkata di depan teman sekelasnya.
__ADS_1
Maklum, namanya juga anak-anak mereka pasti ingin pamer di hadapan anak seusianya. Entah itu adalah sebuah fakta atau hanya bualan semata, tapi bagi mereka ada kebanggaan tersendiri abila menjadi lebih unggul dibanding yang lain.
"Kalau aku mau dibeliin mobil-mobilan dan robot-robotan, Miss," timpal yang lain tak mau kalah.
"Aku juga."
Niken hanya tersenyum mendengar ocehan murid-muridnya. "Baiklah, kalau begitu kalian tampilkan yang terbaik di hadapan semua orang. Kalau nanti saat naik ke atas panggung kalian lupa gerakan, enggak usah takut. Tetap yakin dan percaya diri. Oke?"
"Oke, Miss!" jawab murid-murid itu serempak.
"Sebelum keluar, kita berdo'a dulu demi kesuksesan bersama. Berdo'a ... dimulai." Miss Niken menundukan kepala, diikuti oleh semua murid kelas Matahari. Tampak mereka begitu khusyuk dalam berdo'a.
"Semangat!" Jemari tangan Niken mengepal di udara, memberi semangat pada mereka semua.
Miss Niken membimbing mereka keluar ruangan dan meminta murid-muridnya duduk di kursi yang telah disediakan. Pembukaan pertama acara ini dibuka oleh tarian tradisional bernama tari yapong, berasal dari Jakarta. Sementara paduan suara dan pidato menggunakan bahasa Inggris ditampilkan setelah sambutan dari kepala sekolah dan ketua panitia, lalu disusul dengan acara hiburan berupa tarian-tarian modern yang ditampilkan murid kelas nol kecil.
Saat murid kelas Matahari duduk di kursi, ekor mata Niken menangkap sosok Arsenio yang tampak murung. Bocah kecil itu berjalan dengan langkah gontai seakan tak bersemangat menyambut hari ini padahal teman sekelasnya begitu antusias.
Miss Niken membungkukkan sediki tubuhnya di hadapan Arsenio. "Arsen, kenapa wajahmu murung sekali? Ada apa, Sayang?" tanyanya lembut.
Arsenio menghentikan langkahnya. Mendongakan kepala, menatap lekat iris coklat milik Niken. "Aku sedih, Miss, Mama enggak bisa datang. Mama sibuk kerja dan enggak punya waktu untuk datang ke sini." Awan kelabu semakin tebal menghiasi wajah Arsenio bahkan bola mata bocah itu mulai berkaca-kaca.
Niken yang mengetahui bahwa Tania adalah single parents tak bisa menyalahkan 100% wanita itu sebab semua yang dilakukan oleh orang tua muridnya demi kebaikan Arsenio.
Membawa tubuh mungil itu dalam pelukan, mendekap Arsenio dengan erat. "Don't worry, Sayang. Kan masih ada Mbak Surti dan Miss Niken yang akan menyaksikanmu pentas. Jadi jangan sedih lagi, ya? Walaupun Mama enggak bisa datang, tapi Miss Niken yakin, kalau Mamamu pasti bangga."
Melihat sekeliling, kursi penonton hampir terisi penuh. Para orang tua, wali murid mulai memadati aula yang disulap menjadi tempat pentas seni murid sekolah demi menyaksikan kehebatan anak-anak mereka. Semuanya hadir kecuali orang tua Arsenio.
"Jangan sedih! Kamu pasti kuat, Arsen!" bergumam, meyakinkan diri sendiri agar tidak merasa iri kepada teman-teman yang lain.
Kepala terangkat ke atas, menguatkan diri untuk tidak bersedih. Akan tetapi, saat matanya yang hazel mengarah ke deretan kursi penonton, bola mata indah dan jernih menangkap seseorang tengah duduk manis sembari tersenyum bangga kepadanya. Spanduk kecil terbuat dari karton bertuliskan 'Semangat Boy' terangkat ke udara.
__ADS_1
"Mau ngapain dia di sini?"
...***...