
"Ehm ... harumnya." Mata hazel Arsenio berbinar tatkala melihat beberapa ayam goreng tertata rapi di atas piring.
Ayam goreng bagian paha merupakan makanan kesukaan Arsenio. Napsu makan bocah kecil itu bertambah dua kali lipat apabila ada hidangan enak tersedia di atas meja makan.
Tangan bocah kecil itu bergerak perlahan seakan ada seseorang yang mendorongnya mengambil sepotong paha goreng di depan sana. Hanya berjarak sekitar satu jengkal saja Arsenio sudah dapat menyantap makanan lezat tersebut. Namun, ....
"Arsenio!" seru seseorang dengan suara tegas. Matanya yang indah menatap tajam pada sosok bocah kecil di depannya.
Sontak saja Arsenio menghentikan aksinya. "Ya, ketahuan Mama." Seringai nakal terlukis di sudut bibir bocah itu. Lalu, ia membalikan badan dan kini posisinya berhadapan dengan Tania. "Aku kira Mama enggak ada," sambungnya sambil memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi.
Tania menggelengkan kepala melihat keisengan putera kesayangan. Di saat seperti ini, ia kembali teringat akan kenangan manis ketika dirinya dan Xander masih menjadi sepasang suami istri.
Malam itu, untuk pertama kalinya Tania menyiapkan makan malam mereka setelah penghulu dan para saksi serta beberapa tamu undangan hadir menyerukan kata 'sah' yang menandakan bahwa mulai hari itu Xander dan Tania resmi menjadi sepasang suami istri.
Tania tampak begitu telaten menyiapkan hidangan makan malam untuk suami tercinta. "Semoga Xander suka dengan semua makanan ini," gumamnya sambil menghirup aroma lezat yang menguar di udara. Kemudian ia meletakkan piring itu ke atas meja. Ia melirik ke arah jam dinding di atas bufet televisi. Waktu sudah menunjukan pukul lima sore dan artinya Xander sebentar lagi pulang dari kantor.
"Sebaiknya aku mandi sekarang sebelum Xander tiba di rumah."
Semua hidangan itu Tania tutup menggunakan tudung saji guna memastikan makanan itu tetap higienis dan tidak dihinggapi lalat maupun debu. Setelah itu barulah ia melangkah masuk ke kamar mandi.
Ketika Tania sedang sibuk membersihkan diri dan menghias wajahnya agar terlihat lebih cantik dari biasanya, di waktu bersamaan, Xander tiba di rumah. Pria itu langsung masuk ke dalam rumah karena ia mempunyai kunci cadangan.
"Tania, aku pulang!" seru Xander memanggil nama istri tercinta. Namun, seruan itu sama sekali tak terdengar oleh Tania sebab wanita itu tengah menyalakan musik dengan volume cukup kencang.
Kepulan asap putih yang menguar ke udara, membimbing Xander menuju meja makan. Di balik tudung saji berwarna biru ada beberapa makanan matang dan salah satunya adalah ayam goreng bagian paha kesukaannya.
Berjalan mengendap-endap seperti seorang pencuri. Sesekali menoleh ke belakang, memastikan tidak ada Tania sedang berdiri di ambang pintu kamar.
__ADS_1
"Wuah ... lezat sekali. Aku coba ambil satu ah, pasti Tania enggak akan tahu." Lalu, Xander hendak meraih paha ayam goreng itu. Namun sayang, aksinya itu telah lebih dulu ketahuan Tania.
Mengingat kejadian itu, ada rasa rindu dalam diri Tania. Ia merindukan momen indah saat bersama mantan suaminya. Namun, bila mengingat bagaimana Miranda membenci dirinya, ia jadi sangsi akankah kisah cinta mereka berakhir bahagia?
"Kamu, ya. Mama baru tinggal sebentar ke kamar, kamu udah siap ambil ayam goreng itu. Hu ... dasar anak pintar!" Tatkala mengucap kalimat terakhir, tangan lembut itu mengusap puncak kepala Arsenio. Tania tidak mau memarahi anak tercinta hanya karena persoalan sepele. Apabila anak melakukan kesalahan, cukup ditegur tanpa perlu dimarahi sebab jika dimarahi bisa jadi si anak akan menjadi pembangkang.
Tanpa merasa berdosa Arsenio menjawab, "Habis ayam goreng itu terlihat lezat, Ma, aku jadi ingin mencicipinya."
Tania sedikit membungkukan badan agar tinggi badannya setara dengan Arsenio. "Iya, Mama tahu. Tapi bukankah kita sepakat akan memakan ayam itu bersama Om Xander? Jadi, sebelum Om Xander datang, berarti kamu ataupun Mama enggak boleh dong makan ayam itu duluan. Ngerti?"
Tampak raut kekecewaan terpancar di sana. Wajahnya yang cerita berubah muram. "Iya deh, aku enggak akan makan ayam itu sebelum Om Xander datang."
"Anak pintar. Ya udah, lebih baik kamu mandi dulu sama Mbak Surti. Jadi, ketika Om Xander datang, kita bisa langsung makan."
***
"Kupikir kamu enggak jadi datang." Tania berjalan bersisian di sebelah Xander.
"Emangnya kalau aku enggak datang, kamu bakalan sedih?" Xander menaik turunkan kedua alis, mencoba menggoda Tania yang malam itu tampak begitu cantik dalam balutan dress warna tosca motif bunga-bunga kecil.
Tania memalingkan wajah yang tiba-tiba saja terasa panas. Sepertinya Dewa Cupid kembali melesakkan panahnya ke hati Tania.
"Bukan aku yang sedih, tapi Arsen. Sejak tadi dia menanyakan kapan kamu akan datang. Dia sudah tidak sabar menikmati ayam goreng kesukaannya," elak Tania. Gengsi dong jika Tania mengatakan bahwa sebenarnya ia pun sedih karena tak bisa makan malam bersama Xander dan Arsenio.
Xander terkekeh pelan. "Ooh begitu. Kupikir kamu juga sedih, tapi ternyata enggak." Pria itu menyapu seisi ruangan, mencari keberadaan Arsenio. "Arsen di mana? Kok enggak ada di sini?"
"Arsen ada-"
__ADS_1
"Aku di sini!" seru Arsenio sebelum Tania menyelesaikan kalimatnya.
Xander mengulas senyuman melihat betapa tampannya Arsenio. Perpaduan wajah Asia dan Amerika dengan mata hazel yang indah nan jernih membuat bocah itu terlihat bagaikan boneka hidup.
"Kamu baru selesai mandi, Boy?" tanya Xander sambil bersimpu di hadapan Arsenio.
"Udah!" jawab Arsenio singkat.
"Kata Mama, kamu terus nanyain kapan Om datang. Maaf ya, gara-gara Om, kamu jadi enggak bisa makan ayam goreng. Sebagai gantinya, kamu boleh ambil jatah ayam punya Om. Gimana?"
Wajah yang semula bermuram durja berubah berseri. Kabut hitam yang menghiasi wajah Arsenio tergantikan dengan seulas senyuman manis di bibirnya.
"Sungguh? Om enggak bohong?" tanya Arsen membulatkan mata hazelnya, tampak bahagia.
Xander menggelengkan kepala. "Om enggak bohong. Nanti kamu tinggal minta sama Mama, ya?"
Arsenio mengangguk cepat. "Yes, dua paha ayam! Aku mau makan paha ayam yang banyak! Hore!" seru Arsenio bertepuk tangan senang. Bocah kecil itu melompat kegirangan.
"Sekarang, ayo kita makan malam! Kalian pasti sudah sangat lapar, 'kan?"
"Benar, Ma. Aku lapar sekali!" sahut Arsenio senang. "Om, ayo! Kita makan malam bersama."
Tanpa diduga, Arsenio mengapit tangan kekar Xander dan menuntut pria itu menuju meja makan. Xander dan Tania cukup terkejut melihat tindakan putera mereka. Namun, Xander mencoba bersikap biasa saja padahal sebetulnya debaran halus tengah ia rasakan di dalam dada. Sementara Tania hanya memandang haru bagaimana kedekatan kedua lelaki itu.
Mungkinkah ini petanda bahwa aku memang ditakdirkan hidup bersama Xander lagi?
...***...
__ADS_1