Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Akte Kepemilikan Saham


__ADS_3

Tania menatap bangunan tinggi nan kokoh di depan sana dengan menghela napas kasar. Di hadapannya adalah salah satu gedung pencakar langit milik mantan papa mertuanya. Jonathan Vincent, ayah dari Xander Vincent Pramono meminta wanita itu datang ke perusahaan untuk membahas suatu hal penting.


"Sebenarnya ada hal penting apa yang membuat Tuan Jonathan memintaku datang ke perusahaan? Bukankah urusan pekerjaan sudah dibahas beberapa waktu lalu? Lantas kenapa beliau memintaku datang ke sini lagi?" Tania bermonolong tanpa melepaskan pandangan dari gedung di depan sana.


Menghela napas berat dan kembali berkata, "Sebaiknya aku masuk dan cari tahu sendiri apa tujuan beliau sebenarnya." Lantas ia mengayunkan kakinya yang jenjang masuk ke gedung perkantoran milik keluarga Vincent Pramono.


Bagian resepsionis yang saat itu berjaga langsung mempersilakan Tania masuk ke lantai tertinggi di gedung tersebut. Beberapa kali keluar masuk perusahaan milik Jonathan membuat para wanita cantik dalam balutan pakaian rapih sudah tak asing lagi dengan wajah oriental Tania. Mereka tidak pernah mempersulit wanita berparas cantik jelita.


"Selamat siang, Nona Tania." Laura, sekretaris Xander yang kini bekerja untuk big bos--sebutan untuk Jonathan menyapa ramah salah satu arsitektur handal di perusahaan Johan Architecture. Perempuan itu mengulum senyum di wajah saat berpapasan dengan Tania.


Tania membalas sapaan itu dengan ramah. "Siang, Nona Laura. Apa Tuan Jonathan ada di ruangan? Saya diminta beliau datang ke sini." Wanita itu menyampaikan maksud dan tujuannya datang ke perusahaan.


Laura yang saat itu tengah berdiri di balik meja kerja menjawab, "Ada. Kebetulan Tuan Jonathan sudah menunggu sedari tadi." Perempuan berkulit eksotis berjalan menghampiri Tania. "Mari, saya antar Nona masuk ke ruangan."


Sekretaris pribadi Xander berjalan di depan Tania, menjadi pemandu mantan menantu keluarga Vincent Pramono. Kedua wanita cantik itu melangkah menyusuri lorong perusahaan yang tampak begitu sunyi. Maklum, di lantai tersebut hanya ada ruangan CEO, asisten pribadi dan meja sekretaris saja sehingga para pekerja biasa tidak terlihat lalu lalang di lantai tersebut.


"Silakan, Nona." Laura mendorong daun pintu berwarna coklat hingga terbuka lebar. Sebelumnya wanita itu susah lebih dulu mengetuk pintu dan diberi izin oleh sang empunya ruangan.

__ADS_1


Tania masuk ke ruangan itu dan menyunggingkan senyuman manis di sudut bibirnya. "Halo, Tuan Jonathan, apa kabar?" sapa wanita itu.


Jonathan yang saat itu sedang fokus pada layar monitor segera mendongakan kepala kemudian menatap lekat perempuan di hadapannya. Meletakkan kacamata yang bertengger di hidungnya yang mancung ke atas meja lalu berkata, "Alhamdulillah baik. Om pikir kamu enggak akan datang."


Sudut bibir Tania tertarik ke atas membentuk sebuah lengkungan bagai busur panah. "Ya enggaklah, Om, 'kan Tania udah janji akan datang ke sini."


"Duduk, Tania," kata Jonathan pada mantan menantunya yang mungkin sebentar lagi menjadi menantunya jika seandainya takdir mempersatukan kembali Xander dan Tania.


Tania mengucap terima kasih, lalu mengambil duduk di hadapan Jonathan. Baru saja Tania duduk, pintu ruangan itu terbuka lebar dan tak lama kemudian Imran datang sambil membawa sebuah map coklat yang diapit di ketiaknya.


Kening Tania mengernyit tatkala asisten pribadi Xander berjalan menghampiri Jonathan. Mau apa dia di sini? Lalu, berkas apa yang dibawa olehnya? Sejuta pertanyaan datang menghampiri. Ingin bertanya, tapi rasanya kok tidak sopan apabila mengajukan pertanyaan pada mantan mertuanya itu.


Jonathan tersenyum puas melihat hasil kerja keras Imran--putera dari mantan orang kepercayaannya dulu. Tidak salah jika dia menjadikan Imran sebagai asisten Xander karena lelaki itu dapat diandalkan dalam segala hal.


"Bukalah." Jonathan menyodorkan map coklat itu ke hadapan Tania yang mana ucapan pria paruh baya itu membuat ibu kandung Arsenio semakin bertanya-tanya.


"Apa ini, Tuan?" tanya Tania. Ia masih bingung kenapa mantan mertuanya memberikan map yang baru saja diserahkan Imran.

__ADS_1


"Lihat saja sendiri, kamu akan tahu setelah membukanya."


Dengan tangan gemetar, Tania meraih map tersebut kemudian membukanya secara perlahan. Tatkala jemari lentik mengeluarkan isinya, mata wanita itu terbelalak. Jantung terasa berhenti berdetak dan suara tercekat di tenggorokan saat iris coklatnya melihat selembar salinan akte kepemilikan saham atas nama putera cinta.


"I-ini ... salinan akte kepemilikan? Kenapa bisa atas nama Arsenio, Tuan?" gagap Tania masih belum dapat memahami kenapa Jonathan memberikan salinan akte tersebut kepadanya.


Jonathan menopang dagu dengan punggung tangannya. "Seperti yang kita ketahui bersama bahwa Arsenio adalah darah daging Xander dan itu artinya puteramu merupakan cucu kandungku. Walaupun kamu dan Xander telah berpisah, tapi Arsenio tetaplah bagian dari keluarga Vincent Pramono."


"Selama ini kamu susah payah membesarkan Arsenio seorang diri. Siang-malam, hujan dan panas kamu rela bekerja demi memenuhi kebutuhan cucuku tersayang. Bahkan kamu rela melakukan apa pun asalkan Arsenio mendapat kehidupan yang layak." Jonathan bangkit dari kursi, kemudian berdiri di samping Tania. "Om tahu bagaimana sulitnya menjadi single parents, banyak waktu terbuang hanya karena dirimu terlalu sibuk bekerja. Oleh karena itu, Om ingin memberikan sedikit saham perusahaan demi Arsenio. Ya hitung-hitung sebagai tabungan untuk masa depan cucuku itu."


"Tapi ini terlalu berlebihan, Om. Aku ... tidak bisa menerimanya," tolak Tania halus. Meskipun semua yang dikatakan Jonathan benar adanya, tapi dia tidak mau memanfaatkan keadaan untuk mengeruk harta kekayaan mantan mertuanya itu.


Hidup seorang diri, membesarkan putera semata wayangnya tanpa bantuan siapa pun memang sulit, tapi Tania ikhlas melakukan itu semua demi buah cintanya. Prinsip Tania, selagi mampu kenapa harus merepotkan orang lain terlebih dia masih sehat dan bugar hingga tidak alasan untuk berpangku tangan, mengharap belas kasih seseorang.


Tangan Jonathan menepuk pundak Tania dengan lembut. "Tidak ada yang berlebihan, Tania. Justru Om merasa ini tidak sebanding dengan apa yang telah kamu lakukan pada Arsenio. Selama ini kamu mendidik dan membesarkannya dengan baik hingga dia tumbuh menjadi anak yang mempunyai budi pekerti luhur dan juga hebat."


"Berkat belas kasihmu, di usiaku yang sudah senja, Om dapat melihat cucuku sendiri. Bermain dan bersenda gurau dengan Arsenio merupakan hiburan tersendiri bagiku. Om tidak tahu apa yang akan terjadi jika seandainya dulu kamu menggugurkan Arsenio mungkin selamanya diriku hidup dalam kehampaan."

__ADS_1


Tatkala mengucap kalimat terakhir sesak di dada, Jonathan rasakan. Tidak bisa membayangkan jika seandainya dulu Tania khilaf dan malah berbuat konyol dengan menggugurkan kandungan karena merasa sakit akibat fitnah yang dituduhkan kepadanya mungkin saat ini tidak ada garis keturunan keluarga Vincent Pramono. Sekalipun ada mungkin tidak sebaik dan secerdas Arsenio. Bisa saja cucunya justru menjadi beban keluarga karena terlahir dari rahim seorang perempuan murahan macam Lidya.


...***...


__ADS_2