Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Target Selanjutnya


__ADS_3

Keesokan harinya, lagi dan lagi Miranda mengerjakan pekerjaan rumah yang seharusnya dikerjakan oleh asisten rumah tangga. Jika sebelumnya dia mengerjakan semua pekerjaan itu dibantu sang ART, kali ini nyonya besar Vincent Pramono mengerjakan tugasnya seorang diri sebab ... Salimah sudah diberhentikan kerja oleh Jonathan dengan alasan bahwa ayah kandung Xander tak mampu lagi membayar gaji asisten rumah tangga. Jangankan membayar gaji ART, untuk makan sehari-hari saja sulit. Itu yang dikatakan Jonathan pada sang istri, Miranda.


Apakah Miranda kesal saat Janathan berkata demikian? Jawabannya adalah iya. Bahkan Miranda mendiamkan Jonathan selama dua hari lamanya. Namun, keputusan Jonathan sudah bulat dan dia pun berencana menyerahkan posisi CEO yang pernah diberikan kepada Xander karena dia ingin fokus menggembleng Miranda 7×24 jam.


"Nasib ... nasib. Kenapa hidupku jadi menderita begini, sih! Padahal dulu aku hidup bergelimang harta, tapi sekarang malah jatuh miskin dan tinggal di rumah kontrakan sumpek seperti ini. Setiap pagi harus mencium aroma pakan ayam milik tetangga yang membuat perutku mual, belum lagi udara pengap karena kipas angin yang disediakan pemilik rumah kontrakan rusak semakin membuat hidupku menderita."


"Ya Tuhan, kapan cobaan ini berakhir? Kapan aku hidup bergelimang kekayaan lagi seperti dulu?" Miranda kembali mencuci tumpukan piring kotor di westafel. Ia sedikit membanting piring tersebut ke bawah hingga terdengar bunyi nyaring di penjuru dapur. Mengingat betapa jayanya kehidupannya dulu membuat wanita paruh baya itu semakin kesal karena menganggap Tuhan telah berlaku tidak adil kepadanya.


Jonathan mendengar keluh kesah Miranda hanya tersenyum bahagia karena berhasil mengerjain istrinya itu. Memang terkesan jahat, tapi sudah sejauh ini, Jonathan tidak bisa mundur lagi. Biarlah semua berjalan hingga batas waktu yang tak ditentukan.


"Aku pasti mengembalikan semua yang menjadi milikmu, Ma, tapi tidak sekarang. Aku masih ingin kamu belajar mengenai makna sebuah kehidupan agar kelak dirimu tidak pernah menganggap remeh seseorang lagi. Akan tetapi, jika kamu tak dapat belajar maka selamat menikmati penderitaanmu seumur hidup." Lantas Jonathan berjalan menuju sofa yang ada di ruang tamu.

__ADS_1


Walaupun kehidupannya berbanding terbalik dengan sekarang, Jonathan tak pernah sekalipun mengeluh, ia justru menikmati hidupnya yang sekarang. Meskipun tinggal di rumah kontrakan sempit dan setiap pagi disambut aroma tidak sedap bersumber dari pakan ayam milik tetangga, tapi dia tetap bersyukur atas nikmat yang Tuhan berikan kepadanya.


Ketika Miranda sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk dia dan suami, dering ponsel miliknya berbunyi. Lantas ia bergegas meraih gawai tersebut di atas lemari pendingin.


"Mau ngapain Jeng Atikah minta aku datang ke restoran biasa? Bukannya dia udah enggak mau bergaul lagi denganku sejak teman mereka tahu kalau usaha suamiku dalam keadaan tidak baik-baik saja? Lalu kenapa sekarang dia malah minta ketemuan di tempat biasa. Apa mungkin dia ingin menghinaku di hadapan semua orang?" Miranda menggelengkan kepala, menyingkirkan pikiran negatif yang muncul di benaknya. "Jangan berburuk sangka dulu! Siapa tahu Jeng Atikah mengundangku datang karena dia kangen, ingin kami ngobrol seperti dulu."


Tak perlu waktu lama, Miranda membalas pesan tersebut. [Baik, Jeng Atikah, aku pasti datang. See you.]


***


"Dari tadi kek ngasih izin. Kan enggak perlu perang mulut segala. Ke kamunya juga engggak pusing karena ngelihat aku ngomel-ngomel," ujar Miranda sambil memasukan telepon genggam serta dompet yang di dalamnya hanya ada lembaran uang dua ratus ribu rupiah, itu pun uang belanja pemberian Jonathan untuk satu minggu ke depan. Jika seandainya habis, entah mendapat uang dari mana untuk menggantikan uang tersebut.

__ADS_1


Jonathan memijat pelipisnya yang terasa nyeri tiba-tiba. "Kenapa sih kamu enggak turuti aja perkataanku, Ma? Tetaplah di rumah dan jangan ke mana-mana. Teman-temanmu itu bukanlah orang yang pantas dijadikan teman. Mereka hanya ada di saat kamu kaya dan akan pergi jika roda kehidupanmu berada di bawah. Seperti sekarang ini, mereka langsung pergi begitu tahu jika perusahaanku mengalami kebangkrutan. Ke mana perginya mereka saat kamu menderita, Ma? Apa mereka pernah mengirim pesan padamu hanya sekadar menanyakan kabar? Enggak, 'kan? Lalu kenapa sekarang kamu justru memaksakan diri menghadiri undangan itu? Bisa saja kan tujuan mereka mengundangmu untuk menjatuhkanmu di hadapan semua orang."


Miranda menutup lemari pakaian dengan sangat kencang hingga membuat jendela di rumah itu bergetar saking kuatnya. "Mereka tidak sejahat apa yang kamu ucapkan, Pa! Ya bisa aja mereka tidak menghubungiku karena terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Mereka kan orang kaya jadi banyak urusan yang dikerjakan." Wanita paruh baya itu berjalan mendekati Jonathan kemudian menghunuskan tatapan tajam pada pria di sebelahnya. "Jadi orang jangan suka berburuk sangka terus sama orang, enggak baik!"


Jonathan memandangi punggung Miranda yang mulai menjauh dengan tatapan sendu. "Bukannya aku berburuk sangka, tapi aku tahu betul bagaimana karakter teman-temanmu, Ma. Kasus Bu Cokro menjadi bukti nyata betapa jahatnya teman-temanmu itu. Dan ... bisa saja mereka menjadikanmu target selanjutnya. Who knows."


Entah kenapa ada perasaan tidak tenang saat membiarkan Miranda pergi meninggalkan rumah. Walaupun Jonathan terkesan dingin dan acuh kepada istrinya itu, tapi sebenarnya ia sangat mencintai Miranda. Terlebih wanita itu telah memberi harta yang paling berharga dalam hidup ini yaitu kehadiran buah cinta mereka yang diberi nama Alexander Vincent Pramono.


***


__ADS_1


__ADS_2