
"Tuan, apakah ada tempat lain yang ingin Anda kunjungi sebelum pulang ke rumah?" Suara barito Ahmad terdengar nyaring di pendengaran Jonathan.
Ayah satu orang anak mengalihkan perhatiannya dari pemandangan luar jendela. "Tolong antarkan saya ke apartemen Xander. Sudah lama sekali dia tidak pulang ke rumah. Sekalian saya ingin melihat kondisinya setelah insiden memalukan yang terjadi kemarin siang."
Ahmad mengangguk. "Baik, Tuan." Lantas, pria seumuran Xander membelokan kemudi menuju salah satu apartemen mewah dan mahal di pusat ibu kota Jakarta.
Mobil yang dikendarai Ahmad melaju dengan tenang di jalanan kota Jakarta. Walaupun terjadi kemacetan di mana-mana karena akhir pekan, tak membuat asisten pribadi Jonathan mengeluh sedikit pun sebab sudah terbiasa dengan hiruk pikuk kota besar.
Sesekali Ahmad memperhatikan Jonathan dari kaca spion di depannya. Sebenarnya apa yang terjadi pada Tuan Jonathan? Kenapa dia terlihat murung setelah bertemu Nona Tania? tanyanya dalam hati. Pria yang baru satu tahun menjabat sebagai asisten pribadi Jonathan begitu penasaran. Ingin bertanya, tapi rasanya tidak sopan mengusir masalah pribadi sang majikan.
Sementara Jonathan termangu sambil memandangi pemandangan di luar sana dari jendela mobil. Kembali teringat percakapan antara dirinya dengan mantan menantu kesayangan.
Menghela napas kasar, kemudian berkata, "Aku harus memberi tahu Xander tentang masalah ini. Bagaimanapun, dia berhak mengetahui kalau Arsenio adalah anak kandungnya. Dan untuk Miranda, aku akan memberi pelajaran padanya karena selama ini dia terlalu angkuh dan sombong dengan harta kekayaan yang dimiliki kedua orang tuanya. Padahal semua kekayaan itu akan dibawa mati."
Bangunan pencakar langit dengan puluhan tingkat di dalamnya tampak menjulang tinggi nan kokoh di depan sana. Selain berada di pusat kota, lokasinya cukup stategis. Dekat dengan rumah sakit, mall, drug store dan mini market membuat apartemen itu mempunyai nilai jual yang sangat tinggi hingga tak sembarang orang mampu membelinya. Hanya dari kalangan orang berdompet tebal yang mampu memilikinya.
Ahmad membukakan pintu untuk Jonathan. "Silakan, Tuan. Kita sudah sampai di tujuan."
Jonathan berdiri di samping mobil mewah miliknya. "Ahmad, kamu tidak perlu ikut bersama saya. Tunggu saja di mobil. Setelah urusan saya dengan Xander selesai, saya akan menghubungimu lagi."
Asisten pribadi Jonathan mengangguk patuh. "Baik, Tuan. Hubungi saya kapan pun Anda membutuhkan."
Sementara itu, Xander baru saja terbangun dari tidurnya yang panjang. Hidup lelaki itu jadi berantakan semenjak Jonathan mengambil alih tongkat estafet yang pernah diberikan kepadanya. Ditambah insiden kemarin siang membuat pria berwajah setengah bule semakin frustasi.
Alexander Vincent Pramono memang tidak pernah mencintai Lidya, tapi harga diri dan juga nama baiknya seakan tercoreng setelah video panas yang menimpa wanita pilihan sang mama disaksikan oleh ratusan tamu undangan dan hampir seluruh masyarakat Indonesia karena acara pertunangan itu disiarkan secara langsung oleh beberapa stasiun televisi.
Sebelah tangan Xander terangkat ke atas, menghalau sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah vitrase gorden kamarnya. "Aargh, kepalaku!" ucapnya sembari menyentuh kepalanya yang terasa mau pecah.
Mencoba bangun secara perlahan, kemudian duduk bersandar di headboard tempat tidur. Xander kembali teringat kejadian semalam di mana dia menegak begitu banyak minum beralkohol hingga mabuk berat. Hidupnya hancur dan tak tentu arah semenjak dirinya diberhentikan Jonathan, untuk mengurusi perusahaan.
Sebenarnya bukan kali ini saja Xander menyentuh minuman yang dapat memabukan itu. Dulu, saat bercerai dengan Tania pun dia melakukan hal yang sama. Merasa terluka atas pengkhianatan yang dilakukan istri tercinta. Namun, dia mencoba bangkit dengan cara menyibukan diri dengan pekerjaan hingga membuat lelaki itu terkenal jadi sosok lelaki yang gila pekerjaan (workaholic). Jadi jangan heran jika sekarang dia tampak begitu hancur karena harus berhenti dari pekerjaannya sebagai CEO perusahaan terkenal dan berjaya di tanah air.
__ADS_1
"Sialan! Kenapa berita tentang batalnya pertunanganku dengan Lidya menjadi tranding topic hari ini? Wartawan itu benar-benar menjengkelkan. Seharusnya kemarin Mama enggak perlu menyiarkannya secara langsung dan turut mengundang wartawan. Kalau udah begini, mereka pasti memburuku hingga mendapatkan apa yang diinginkan," gerutu Xander sembari menggeser layar telepon genggam miliknya. Ada rasa sesal karena menuruti semua keinginan Miranda.
Andai saja Xander tahu akan ada insiden memalukan yang melibatkan Lidya, sudah pasti ia menolak keinginan Miranda saat wanita paruh baya itu mengusulkan menggelar pesta pertunangan dengan mengundang wartawan dan menyiarkannya secara langsung di beberapa stasiun televisi.
Tatkala Xander tengah sibuk memainkan telepon genggam miliknya, tiba-tiba saja bunyi bel pintu nyaring terdengar membuat tuan muda Vincent Pramono mengernyitkan kedua alis.
"Siapa yang bertamu pagi-pagi begini? Tumben sekali." Merasa ketenangannya diganggu, Xander memutuskan mengabaikan seseorang di luar sana. Namun, bunyi bel itu terus menerus berbunyi membuat sang empunya kesal setengah mati.
"Fuucking shiit! Mengganggu saja!" umpat Xander kesal.
Dengan langkah gontai, Xander berjalan meninggalkan kamarnya menuju pintu. Kemudian ia memutar handle pintu tanpa melihat lebih dulu siapakah gerangan yang berada di balik pintu.
"Dasar anak nakal! Lama sekali kamu membuka pintu!" sembur Jonathan tatkala daun pintu itu terbuka lebar dan netranya berwarna biru cerah menangkap sosok anak semata wayangnya.
Xander tersentak dari posisinya saat ini saat mendengar suara sang papa. "Papa? Mau ngapain ke sini?"
Alih-alih menyambut kedatangan Jonathan, Xander malah mengajukan pertanyaan bodoh yang mana pertanyaan itu membuat Jonathan semakin geram dibuatnya.
Menghunuskan tatapan tajam. Wajah dingin tanpa ekspresi menatap tajam bagaikan seekor singa yang tengah mengintai mangsanya.
Menggeleng kepala sambil memindai seisi ruangan. "Xander ... Xander ... jadi ini yang kamu lakukan setelah Papa ambil alih perusahaan? Bukannya merenungi kesalahanmu karena enggak becus mengurus perusahaan, malah mabuk-mabukan. Benar-benar mengecewakan!"
Jonathan melangkah perlahan, menghindari botol minuman beralkohol yang berserakan di lantai. Sampah kulit kacang, kaleng minuman bersoda semakin membuat unit apartemen Xander terlihat seperti kapal pecah.
Xander berdecak kesal. "Kalau kedatangan Papa hanya ingin mengomentari kehidupanku, sebaiknya tinggalkan apartemen ini karena aku sedang tidak ingin mendengar ceramah apa pun dari seseorang."
Jonathan tersenyum sinis. "Papa enggak yakin kamu tega mengusirku dari sini setelah tahu maksud dan tujuanku datang ke sini. Kamu pasti bersimpuh di kaki Papa setelah mendengar berita penting yang berkaitan dengan Tania."
Mendengar nama Tania disebut, membuat atensi Xander teralihkan. Lantas, ia menghempaskan bokongnya di kursi sebelah Jonathan. "Memangnya apa yang ingin Papa sampaikan?" tanyanya antusias.
Xander berubah menjadi sosok lelaki yang haus akan sebuah berita terlebih ini menyangkut mantan istrinya yang saat ini masih bertahta di hatinya.
__ADS_1
Tangan Jonathan mengeluarkan sebuah amplop putih yang ia dapatkan dari asisten pribadi Xander. Namun, tidak langsung ia berikan kepada sang putera.
"Apa kamu sudah menemui Tania dan meminta maaf kepadanya karena menuduh wanita itu yang bukan-bukan?"
Ekor mata Xander tertuju pada amplop putih yang baru saja Jonathan keluarkan dari saku jas casual milik sang papa. Mata memicing tajam, berusaha keras mencari tahu isi dari amplop tersebut. Akan tetapi, bukan Jonathan namanya jika pria berdarah Amerika tak berhasil membuat lawan bicaranya penasaran. Jonathan Vincent sengaja memindahkan isi surat keterangan lab rumah sakit ke sebuah amplop lain agar Xander dibuat semakin penasaran.
Jonathan menyeringai licik karena berhasil mengerjain Xander. Emang enak dikerjain! ejeknya. "Xander, kamu belum menjawab pertanyaan Papa!"
Xander mendengkus. Tampak jelas jika lelaki itu begitu geram akan sikap Jonathan. Bukan geram atas pertanyaan sang papa, melainkan geram karena tak berhasil mengintip apa gerangan isi dari amplop yang tergeletak di atas meja bundar terbuat dari kaca.
"Belum, Pa. Aku bingung harus berkata apa saat bertemu dengan Tania. Akan terkesan aneh kalau tiba-tiba saja kami bertemu, kemudian aku langsung minta maaf padanya. Dia pasti menertawakanku, Pa."
Jonathan terkekeh pelan mendengar jawaban Xander. "Gengsi kok dipelihara! Makanya, jadi orang jangan gengsian! Kalau salah ya harus minta maaf," cibirnya. "Papa selalu mengajarkanmu untuk menjadi lelaki bertanggung jawab, mengakui kesalahan walaupun itu membuat harga dirimu jatuh."
Pria tampan berusia hampir tiga puluh tahun terdiam beberapa saat mendengar ucapan Jonathan. Xander sadar bahwa ia berkewajiban meminta maaf pada Tania, karena telah menuduh wanita itu selingkuh di belakangnya. Padahal itu semua hanya rekayasa Miranda saja untuk mrnghancurkan pernikahan Xander dan Tania.
"Kamu ingat akan anak kecil yang bersama Tania kemarin?" Jonathan mulai membuka percakapan serius antara mereka.
Mantan suami Tania menganggukan kepala sambil berkata, "Ingat, Pa."
Jonathan kembali bertanya, "Kamu tahu siapa dia?" Xander hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.
Walaupun di lubuk hati yang terdalam Xander seakan mempunyai ikatan batin dengan Arsenio, tadi dia tidak mau mengambil kesimpulan begitu saja. Bisa jadi Arsenio adalah anak angkat Tania atau mungkin anak dari pernikahannya dengan lelaki lain.
Jonathan menggeserkan amplop putih tersebut ke hadapan Xander. "Bukalah! Setelah melihat isinya kamu akan tahu siapa sebenarnya anak kecil yang bersama Tania kemarin."
Tiba-tiba jantung Xander berdegup lebih kencang dari biasanya. Sesuatu yang aneh menelusup ke relung hati yang terdalam tatkala ia mulai menyentuh amplop tersebut.
"Pa ... i-ini?" kata Xander dengan bibir gemetar.
.
__ADS_1
.
.