
"Selamat siang, Nyonya. Apa Anda sudah melakukan reservasi sebelumnya?" Seorang pelayan pria berkemeja putih bertanya dengan ramah. Tak lupa seulas senyuman dia berikan kepada Tania.
Tania membalas senyuman itu seraya berkata, "Sudah. Reservasi atas nama Alexander Vincent Pramono."
Terlahir dari keluarga terpandang dan menjadi salah satu pebisnis sukses membuat nama Alexander atau yang biasa dipanggil Xander cukup terkenal di tanah air. Jadi jangan heran ketika Tania mengucap nama mantan suaminya, pelayan itu segera mempersilakan ibu kandung Arsenio untuk mengikutinya dan membawa wanita itu menuju ruangan khusus yang sudah dipesan Xander sebelumnya.
"Silakan masuk, Nyonya. Tuan Xander sudah menunggu Anda sejak tadi." Tangan pelayan itu menunjuk salah satu ruangan VVIP di restoran tersebut. Ya, secara khusus Xander memesan ruangan pribadi agar ia dapat leluasa berbincang dengan Tania tanpa merasa terganggu oleh siapa pun.
Setelah Tania mengucapkan terima kasih dan pelayan itu undur diri, barulah mantan nyonya muda keluarga Vincent Pramono mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan tersebut.
Terdengar bunyi pintu dibuka seseorang membuat Xander yang saat itu sedang memainkan telepon genggam segera menoleh ke samping. "Selamat siang, Tania," sapa pria itu.
Xander cukup terpesona akan penampilan Tania hari ini. Tubuh indah bak gitar Spanyol terbalut dress putih dengan model V neck. Pada bagian bawah sebelah kanan terbelah hingga mencapai panjang sekitar lima centimeter, memperlihatkan kulitnya yang putih mulus tanpa cacat sedikit pun.
Ketika Xander memandangi Tania dengan tatapan kagum, Tania pun melakukan hal yang sama. Wanita itu terpesona pada mantan suaminya tersebut. Penampilan Xander tampak begitu gagah dengan bulu-bulu halus di sekitar rahang. Otot-otot di tubuh tercetak jelas membuat pria itu terlihat macho.
Tania memalingkan wajah ke arah lain, tak sanggup apabila terus memandangi salah satu keindahan ciptaan Tuhan di depannya. Ia tidak ingin terjatuh pada lubang yang sama. Kalaupun memang takdir kembali menyatukan mereka, ia tidak ingin sembrono dalam mengambil keputusan. Cukuplah sekali ia terperosok dan itu tak akan terulang untuk kedua kali.
"Maaf, sudah membuatmu menunggu terlalu lama. Tadi ada kecelakaan di pertigaan, aku harus menunggu sekitar lima belas menit untuk bisa melanjutkan perjalanan ke sini. Sekali lagi, maaf." Tania mengutarakan alasannya kenapa ia bisa terlambat dari jam yang sudah dijanjikan.
"Nope. Mari, silakan duduk." Xander tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi.
__ADS_1
Perlahan, Tania kembali melangkah. Ketukan heels sepatunya terdengar seirama dengan detak jantung tak beraturan. Entahlah, ia sedikit gugup setiap kali bertemu dengan Xander. Padahal ini bukanlah pertemuan pertama mereka, tetap saja menghadirkan debaran halus di dada. Mungkin karena tempat itu banyak menyimpan kenangan indah hingga Tania jadi grogi seperti anak gadis yang hendak pergi berkencan untuk pertama kalinya.
Ketika Tania berada di hadapan Xander, pria jangkung itu memberikan satu buket bunga untuk wanita yang telah memberinya seorang putera tampan dan juga genius. "Bunga ini secara khusus aku beli untukmu. Namun, maafkan aku jika misalkan kamu sudah tak lagi menyukainya. Aku membeli buket bunga ini karena kupikir kamu masih menyukai bunga primrose," tandas pria itu.
Hati Tania menjerit. Ya Tuhan, bagaimana kenapa Xander memberikan bunga yang sama seperti saat dia melamarku dulu? Apakah ini artinya dia tidak bisa hidup tanpaku?
"Tania, tolong terimalah buket bunga ini. Apabila kamu tidak suka dengan bunga ini, kamu boleh membuangnya. Namun, kumohon, janganlah kamu membuangnya di depan mata kepalaku sendiri. Tunggu sampai kita berpisah, kamu boleh membuangnya ke tong sampah."
Tania meraih buket bunga itu. "Terima kasih karena sudah merepotkanmu menyiapkan hadiah untukku." Wanita itu mencium aroma bunga tersebut sembari memejamkan mata.
Xander mengangguk. Jantung pria itu berdetak kencang, hampir meledak saking kencangnya. Sikap manis Tania melambungkan angan Xander untuk kembali membina rumah tangga bersama mantan istri dan anak semata wayangnya.
Xander mengiris daging dengan santai. "Bagaimana, apa Pak Johan menyukai oleh-oleh yang kamu berikan untuknya?"
Tania memutar garpu di atas tumpukan spaghetti yang telah diaduk sebelumnya. Kemudian memasukan mie khas Itali ke dalam mulut. "Suka. Aku bahkan tak menyangka jika ternyata kue yang kubelikan merupakan makanan favorit beliau serta keluarganya. Untung saja aku membeli dua kotak kue jadi bisa disantap bersama keluarga."
Xander tak merasa terkejut sebab ia sudah mencari tahu sebelumnya. Oleh sebab itu, ia memberi saran pada Tania untuk membeli kue talas Bogor serta beberapa oleh-oleh lain agar diberikan kepada Johan.
Tania menyesap es lemon tea dan menikmati setiap cairan yang masuk melalui rongga mulutnya. Refleks, jantung wanita itu semakin berdetak cepat. Ia seperti merasa dejavu dengan kejadian saat ini.
Jangan baper jadi perempuan, Tania. Ingat, Tante Miranda tidak pernah menyukaimu. Jadi jangan pernah bermimpi kisah cintamu akan terulang kembali.
__ADS_1
Wanita penyuka es krim rasa cokelat berdehem sejenak sebelum memulai berbicara. "Tadi kamu bilang ada hal yang ingin dibicarakan. Katakanlah sebelum jam istirahatku habis. Aku tidak enak hati jika datang ke kantor terlambat."
Xander mendongakan kepala, memandangi wajah Tania dengan lekat. "Tidak bisakah kita menikmati dulu makanan ini? Jujur, aku takut tersedak apabila makan sambil berbicara," pinta pria itu dengan penuh pengharapan.
Sebenarnya itu hanya alasan Xander saja untuk menunda waktu agar ia punya banyak kesempatan berduaan dengan Tania.
"Maaf, tapi aku tidak bisa." Tania kembali menyuapkan sisa makanan di atas piring. "Kamu tahu sendiri kalau aku karyawan baru di perusahaan itu, tidak enak rasanya bila datang terlambat. Apa kata teman-teman jika karyawan baru sepertiku tidak bisa disiplin dalam bekerja? Aku tidak mau ada desas desus di perusahaan yang menyudutkanku. Aku hanya ingin fokus bekerja demi masa depan Arsenio, tanpa harus mendengar ocehan tak berfaedah dari bibir mereka."
Xander mematung, garpu dan pisau di atas piring tak bergerak mendengar ucapan Tania. Lantas, ia menarik napas dalam kemudian mengembuskan secara perlahan. "Baiklah, kalau itu maumu maka aku sampaikan saja tujuanku ngajakin kamu ketemuan untuk apa. Tania, kita semua tahu jika Arsenio adalah puteraku. Di dalam darah anak itu mengalir darahku juga."
"Tujuh tahun berlalu, aku tak pernah mengetahui jika saat kita berpisah rupanya kamu sedang mengandung anakku. Pasca bercerai dariku, kamu susah payah membesarkan Arsenio seorang diri, membanting tulang demi memberikan kehidupan yang layak untuk puteraku. Takdir telah mempertemukan kita kembali dan aku ingin menebus semua kesalahanku di masa lalu dengan cara turut membantu memberikan nafkah untuk putera kita, Tania. Bagaimanapun, aku bertanggung jawab terhadap masa depan Arsenio."
Garpu terbuat dari stainless mematung di udara. Mata indah itu menatap Xander dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Aku tahu kamu wanita kuat, hebat dan pintar mencari uang. Namun, aku merasa seperti lelaki berengsek yang lepas tanggung jawab jika tidak turut andil memberi nafkah untuk Arsenio." Xander menjeda kalimatnya, lalu membalas tatapan Tania dengan lekat. "Emangnya kamu tidak mau jika Arsenio sekolah di sekolah internasional, yang sehari-harinya menggunakan Bahasa Inggris? Kamu tidak mau jika dia diajar oleh tenaga pengajar bersertifikat dan mempunyai kualifikasi di bidangnya, hem? Terlebih Arsenio mempunyai kecerdasan di atas rata-rata anak seusianya, sangat disayangkan jika kita menyekolahkannya di sekolah biasa-biasa saja."
"Aku bekerja siang dan malam, mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Jika tidak diberikan untuk keperluan dan masa depan Arsenio, lalu akan kugunakan untuk apa? Semua harta kekayaan yang kumiliki, tidak akan dibawa mati. Untuk itulah, aku ingin membekali Arsenio dengan ilmu sebanyak mungkin agar kelak dia menjadi orang sukses dan mampu membantu orang lain dengan kepintarannya itu."
Tangan Xander terulur ke depan, memberanikan diri menyentuh punggung tangan Tania dan mengusapnya lembut. "Jadi, please, izinkan aku menafkahi puteraku sebagai bentuk tanggung jawabku sebagai seorang Papa. Aku hanya ingin menebus kesalahanku karena pernah menelantarkan darah dagingku sendiri."
...***...
__ADS_1