
"Jadi kamu sudah bertemu dengan Arsenio di apartemen Tania?" Pertanyaan itu menjadi awal perbincangan antara Jonathan dengan Xander.
Xander mengangguk sembari berkata, "Sudah, Pa. Sebelum ke sini aku menyempatkan diri menemui Arsenio dan meminta maaf padanya. Namun, tampaknya dia belum bisa memaafkan kesalahanku. Mulai dari sikap dan sorot matanya seakan mengatakan bahwa dia tidak suka apabila aku berada di sana." Menghela napas kasar, mencoba menyingkirkan beban di dada. "Aku tidak tahu harus dengan cara apa lagi untuk meluluhkan puteraku."
Xander mengusap wajahnya dengan frustasi. Selama menjalani dunia bisnis tak jarang dia menemukan kepribadian klien yang hampir mirip dengan Arsenio, tapi lelaki itu mampu memenangkan hatinya. Akan tetapi, saat bertemu langsung dengan darah dagingnya sendiri kenapa rasanya sulit? Ia seakan tengah bercermin pada sebuah kaca besar, di depan sana ada pantulan dirinya, tapi dalam versi kecil.
Apakah ini yang dimaksud 'buah jatuh tak jauh dari pohonnya?' Xander, anak pertama dan satu-satunya dari pasangan Jonathan Vincent dengan Miranda Pramono mempunyai kebiasaan dan watak yang hampir sama dengan Arsenio, puteranya. Keras kepala, tak mudah luluh dengan sesuatu, tapi juga mudah tersulut emosi apabila sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya direbut orang lain. Hingga membuat Jonathan harus banyak bersabar menghadapi sikap anak semata wayangnya.
Kini kejadian itu dialami oleh Xander. Apakah ini yang dimaksud dengan karma? Entahlah, hanya Tuhan saja yang tahu.
Jonathan terkekeh mengerti kegundahan hati anak tercinta. Walau tak jarang terjadi selisih paham antara mereka akan tetapi pria tampan dalam balutan setelan jas berwarna abu-abu begitu mencintai puteranya itu.
"Itulah tugasmu untuk mencari cara menaklukan hati Arsenio. Kerahkan semua kemampuanmu agar cucuku mau memaafkan dan bersedia menerimamu sebagai ayahnya. Meskipun terasa sulit, tapi Papa yakin suatu saat nanti dia mau menerimamu."
"Sebuah batu yang apabila terus menerus dijatuhi air maka lama kelamaan akan berlubang juga. Pun begitu dengan Arsenio. Hatinya yang terlanjut membeku suatu hari nanti akan mencair jika kamu memberikan perhatian, mencurahkan cinta dan kasih sayang kepadanya," sambung Jonathan. "Anak sekecil itu masih membutuhkan figur seorang ayah dan bila kamu berhasil menjalankan peran itu maka kemenangan akan diraih olehmu. Percayalah, Arsenio pasti menerimamu sebagai ayahnya."
Setelah berbincang dengan Jonathan, beban hidup dalam dirinya seakan terangkat. Xander kembali bersemangat untuk merebut hati Arsenio dan ... mantan istrinya. Ya, dia akan berusaha dengan keras untuk bisa kembali membina rumah tangga bersama Tania dan hidup bahagia dengan anak mereka.
__ADS_1
Membayangkan dirinya dan Tania hidup rukun kembali dalam sebuah payung bernama pernikahan membuat seulas senyuman di bibirnya tercipta. Terasa menyenangkan apabila setiap membuka mata dapat melihat mata indah nan jernih milik mantan istrinya. Sepulang kerja disambut hangat oleh istri dan anak-anak mereka.
Akan tetapi, bisakah Xander, Tania dan Arsenio hidup bahagia jika seandainya Miranda masih belum mau menerima mantan istrinya itu menjadi salah satu bagian dari keluarga Vincent Pramono? Akankah penderitaan dan rasa sakit kembali Tania rasakan jika mereka memaksa untuk tetap membawa hubungan itu ke jenjang yang lebih serius lagi? Lalu apakah rumah tangga mereka akan happy ending seperti kisah dongeng jika ternyata restu dari sang mama belum ia dapatkan?
Jonathan terus menatap Xander, ia merasa anaknya seperti tengah memikirkan sesuatu. "Apa yang kamu pikirkan?"
Suara magnetis itu mampu mengembalikan kesadaran Xander. Menghirup napas dalam, menahannya sebentar kemudian mengembuskan secara perlahan.
"Pa, apakah aku memang ditakdirkan untuk tidak hidup bersama Tania dan anakku?" Xander membalas tatapan Jonathan dengan begitu lekat.
Jonathan cukup terkejut mendengar pertanyaan sang anak. Padahal tingkat kepercayaan diri Xander cukup tinggi, terbukti dari banyaknya proyek yang dimenangkan perusahaan hingga berjaya seperti sekarang. Walaupun Xander pernah melakukan kesalahan karena tidak mampu menghalau serangan virus yang disebar oleh Arsenio, Jonathan tetap mengakui kemampuan dan kehebatan sang putera dalam mengelola perusahaan.
"Aku hanya sedang berpikir apakah memang selamanya aku ditakdirkan hidup seorang diri tanpa ada satu orang pun yang menemani? Apa aku memang tidak pantas hidup bahagia bersama orang yang paling kucintai di dunia ini?" jawab Xander dengan tatapan sendu.
Jonathan menarik napas dalam. Kini ia tahu ke mana arah pembicaraan Xander. "Nak, setiap manusia yang dilahirkan ke bumi ini diciptakan berpasang-pasangan. Tuhan sudah menjelaskan itu semua dalam kitab suci Al-Qur'an dan kita sebagai makhluk ciptaan-Nya patut mempercayai itu. Untuk kasusmu, Papa percaya jika kebahagiaan itu akan datang menghampiri. Hanya saja, Tuhan pasti ingin melihat bagaimana usaha dan kerjakerasmu untuk mendapatkan kembali Tania."
"Dulu kamu dengan mudah mendapatkan Tania. Dengan modal bunga mawar dan satu cup es krim, kamu berhasil menjadi pemenang, menyingkirkan pesaingmu yang kebanyakan merupakan anak dari para pengusaha sukses di tanah air. Padahal bisa saja Tania menolakmu dan menerima pernyataan cinta dari lelaki lain, tapi mantan menantuku yang baik dan lemah lembut itu justru menerima anak manja, keras kepala sepertimu. Dengan pengalaman itu seharusnya kamu yakin jika kelak Tania akan kembali ke sisimu." Jonathan bangkit dari kursinya, kemudian menepuk-nepuk pundak Xander. "Jangan pesimis dulu sebelum berjuang! Kamu tidak akan pernah tahu jika tidak mencobanya."
__ADS_1
Pemilik mata hazel yang indah dan jernih mendongakan kepala. Memandangi iris biru sang papa. "Bagaimana kalau Mama tetap tidak setuju? Apa aku harus merelakan Tania dan Arsenio dimiliki orang lain?"
"Itu sih deritamu," sahut Jonathan santai. Percakapan yang tadinya serius berubah seketika.
Xander merasa kesal akan sikap sang papa. "Menyebalkan sekali! Kenapa Papa malah bicara begitu?" berdecak kesal sembari memalingkan wajah ke arah lain. "Memangnya Papa rela apabila menantu sebaik dan selembut Tania dimiliki orang lain? Apa Papa tega jika Arsenio dianggap cucu oleh keluarga lain?"
Alih-alih merasa kesal, wajah Jonathan semakin semringah. Bahkan sudut bibir pria paruh baya itu tertarik ke atas hingga memperlihatkan deretan gigi putih dan rapihnya.
"Papa sih tidak masalah jika mereka berdua tak lagi menjadi bagian keluarga Vincent Pramono. Toh selama menjadi menantuku Tania tidak pernah mendapat keadilan sedikit pun dari Mama mertuanya. Siapa tahu dengan menjadi menantu dari keluarga lain, mantan menantu dan cucuku tersayang dapat kebahagiaan walau mereka tidak menjadi bagian dari keluargaku. Terpenting mereka hidup bahagia tanpa kekurangan sedikit pun. Daripada menjadi keluarga kita, yang ada makan hati terus setiap hari."
Jonathan mengakhiri percakapannya dengan kekehan pelan. Suara kekehan itu sukses membuat perasaan Xander semakin tak menentu.
Mendengkus kesal sembari menendang kaki-kaki meja di ruangan CEO. "Keterlaluan!"
Melihat bagaimana ekspresi anak semata wayangnya, Jonathan tersenyum samar. Sejujurnya dia menginginkan Tania dan Arsenio menjadi bagian dari keluarga mereka. Namun, mengingat sikap Miranda yang tidak pernah mau menerima mantan menantunya membuat sedikit khawatir jika kelak wanita berwajah oriental kembali merasakan penderitaan akibat kelakuan sang istri.
Papa harap kamu mau berjuang keras untuk mendapatkan mereka kembali. Jonathan bermonolog. Dalam hati berharap semoga Xander menggunakan kepintarannya, menyakinkan Miranda jika Tania adalah satu-satunya perempuan yang pantas menjadi menantu keluarga Vincent Pramono hingga konflik antara istri dan mantan menantunya segera selesai.
__ADS_1
...***...