
"Om Xander udah membuat Mama bersedih maka aku harus membalas perbuatannya," pungkas Arsenio. Sejak tadi sore ia belum juga keluar dari kamarnya yang bercatkan warna biru muda dengan bagian dinding ditempeli poster Thomas.
Saat ini anak lelaki yang sebentar lagi genap berusia enam tahun tampak begitu fokus di depan layar monitor. Jemarinya yang mungil tengah sibuk memainkan kursor ke sana kemari. Ia sedang memperhatikan struktur dan algoritma yang digunakan saat menyerang perusahaan V Pramono Grup menggunakan virus ciptaannya sendiri. Sebuah virus yang mampu memporakporandakan sebagian data perusahaan hingga membuat Jonathan mengalami kerugian yang cukup besar.
Jika biasanya orang dewasa banyak membutuhkan waktu untuk memecahkan algoritma, beda hal dengan Arsenio, bocah laki-laki itu hanya membutuhkan waktu beberapa jam saja hingga semua masalah terpecahkan dan bersiap kembali melancarkan aksinya 'tuk kedua kali.
"Yes! Akhirnya berhasil," seru Arsenio sembari mengepalkan telapak tangan di depan dada, kemudian menggerakannya dengan sangat antusias. "Besok aku akan datang ke perusahaan menemui Om jahat itu dan membuat perhitungan dengannya." Sudut bibir bocah kecil itu tertarik ke atas sebelah, tersenyum smirk sebab apa yang diinginkan olehnya sebentar lagi akan tercapai.
Sementara itu, Tania baru saja tiba di apartemen miliknya setelah berhasil memberi peringatan kepada Lidya, yang tak lain adalah tetangga satu lantai dengannya.
Selama satu bulan lamanya tinggal di apartemen Le Grande, ia tak mengetahui jika wanita yang sempat ingin dijodohkan dengan Xander berada di gedung sama dengannya. Akibat terlalu sibuk bekerja dan juga kebiasaan para penghuni apartemen yang terkesan individual membuat wanita itu tidak akrab dengan para tetangganya.
Surti segera menghampiri Tania yang melangkah menuju dapur. "Gimana, Bu, apa Ibu berhasil ngasih pelajaran kepada tetangga rese itu?" tanyanya penuh selidik. Ia berubah menjadi paparazi dadakan yang tengah mencari berita dari sumber terpercaya.
Tania mengibaskan rambutnya yang hitam panjang tergerai ke samping kanan. "Tentu saja, Mbak! Lain kali, kalau dia macam-macam, jangan sungkan untuk memberitahuku! Biar aku labrak lagi wanita licik itu," sungutnya berapi-api. Tania berubah menjadi seekor induk singa yang siap menghabisi mangsanya apabila ada seseorang yang berani mengganggu anak tercinta.
Perkataan Tania menimbulkan kecurigaannya dalam diri Surti. Dari ucapan ibunda Arsenio seolah mengatakan bahwa mereka pernah bertemu sebelumnya hingga sang majikan dengan mudah mengatakan bahwa penghuni kamar 808 adalah wanita licik yang perlu diwaspadai.
Pengasuh Arsenio menatap Tania dengan sorot penuh selidik. Wanita licik? Bu Tania tahu dari mana jika tetangga sebelah mempunyai sifat licik seperti seekor rubah? Apa mereka sebelumnya pernah bertemu? Kalau iya, di mana? Duh, kok aku jadi kepo gini ya?
__ADS_1
Banyak pertanyaan yang hinggap di benak Surti saat ini. Akan tetapi, wanita itu tak ingin ikut campur dalam urusan pribadi majikannya. Tugasnya hanya mengasuh Arsenio, menjaga serta merawat anak majikannya selama Tania tidak ada di rumah.
"Baik, Bu. Saya pasti memberitahu Ibu kalau wanita itu masih membuat ulah," sahut Surti.
***
Keesokan harinya seperti biasa Arsenio akan menjalankan rutinitasnya sebagai murid kelas nol besar di salah satu taman kanak-kanak cukup terkenal di kota Jakarta. Walaupun bukan bertaraf internasional yang sekali masuk biayanya mencapai puluhan juta rupiah, tetapi dari segi pendidikan serta pelayanan serta kualitas tenaga pengajar tidak kalah dari sekolahan yang berjamuran di ibu kota.
Bukannya tidak mau menyekolahkan Arsenio di sekolah elite yang sehari-hari menggunakan Bahasa Inggris, hanya saja melihat dari segi perekonomian keluarga yang tergolong biasa-biasa saja membuat Tania harus legowo dan menyekolahkan Arsenio di sekolah biasa. Terpenting ilmu serta didikan yang diberikan bermanfaat demi masa depan generasi penerus bangsa.
"Mbak Surti, kita jangan pulang ke apartemen dulu, ya, aku mau pergi ke suatu tempat," ujar Arsenio. Ia melangkah di sebelah Surti, tangan mungil berada dalam genggaman sang pengasuh.
Surti tampak berpikir keras, langkah apa yang harus ditempuh untuk menghalangi niatan Arsenio. Meskipun wanita itu bertanggung jawab penuh terhadap Arsenio selama Tania tidak ada di rumah, tetap saja ia tak bisa sembarangan memberikan izin kepada anak majikannya untuk pergi ke suatu tempat. Terlebih ia mendapat amanat dari Tania untuk segera membawa Arsenio pulang ke apartemen setelah jam sekolah selesai.
Arsenio memasang wajah cemberut saat Surti mengingatkan kembali nasihat dari Tania. Gini nih kalau jalan ditemani Mbak Surti, enggak leluasa jadinya, batin bocah kecil itu dalam hati. Apa aku cari cara biar bisa kabur? Enggak, bisa. Nanti yang ada Mama malah panik dan kelimpungan mencariku.
Tangan mungil Arsenio melambai di udara, memberi kode kepada Surti agar lekas membungkukan sedikit badannya. Tak ada pilihan lain selain mengatakan sejujurnya di hadapan wanita itu.
Setelah posisi tubuh Surti sejajar dengan Arsenio, barulah ia mulai membisikan sesuatu ke telinga pengasuhnya itu. "Mbak Surti udah ngerti, 'kan, tujuanku datang ke sana untuk apa? Nah, jadi Mbak Surti enggak usah bilang sama Mama kalau hari ini nganterin aku pergi ke siatu tempat, ntar aku diomelin."
__ADS_1
Tampak Surti manggut-manggut setelah mengetahui tujuan Arsenio memintanya pergi ke suatu tempat sebelum pulang ke apartemen.
"Kalau Bu Tania tahu, bagaimana, Den? Mbak takut kena omel, lalu dipecat dari pekerjaan. Kalau dipecat, nanti keluarga Mbak di kampung makan apa?" Surti mengutarakan ketakutannya di hadapan Arsenio. Ia tak mau mengambil resiko dengan mengorbankan pekerjaannya demi menolong Arsenio.
Arsenio tersenyum manis hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih. "Tenang aja, Mbak enggak mungkin dipecat. Aku bisa jamin deh."
Pengasuh Arsenio menatap ke bola mata hazel milik anak majikannya, kemudian menarik napas dalam sambil berkata, "Ya udah, Mbak akan mengantarkan Den Arsen. Tapi janji, cuma sebentar aja, ya? Jangan sampai pulang ke rumah di saat Bu Tania dalam perjalanan pulang. Yang ada nanti bisa gawat, Den."
Ibu jari mungil diangkat ke udara. "Oke! Aku janji deh cuma sebentar doang." Tanpa membuang waktu terlalu lama, Surti dan Arsenio melangkahkan kaki mereka menuju gerbang sekolah.
Di depan sana Surti menghentikan taksi yang kebetulan lewat, kemudian meminta sopir tersebut mengantarkan mereka ke suatu tempat.
Permainan baru segera dimulai! batin Arsenio seraya tersenyum smirk.
.
.
.
__ADS_1