
Di saat Xander tengah merasa bahagia karena ia berhasil merebut hati Arsenio sepenuhnya, di waktu bersamaan Tania sedang mencoba menghubungi nomor sang baby sitter. Akan tetapi, tak ada jawaban dari Surti dan itu membuat Tania semakin frustasi.
"Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi pada Arsenio? Kenapa Surti tak mengangkat teleponku?" Raut kecemasan terlihat jelas di wajah Tania. Beberapa kali kakinya yang jenjang mengetuk-ngetukan sepatu heels-nya di atas tanah, mencoba mengurai rasa yang membelenggu jiwa. Namun, lagi dan lagi hanya suara operator yang menjawab.
Tania tak habis akal. Ia mencoba menghubungi seseorang yang sangat dipercaya meski orang itu pernah melukai perasaannya.
"Xander," panggil Tania sesaat setelah panggilan telepon terhubung. "Bisa tolong mampir ke apartemenku sebentar? Perasaanku enggak tenang. Sejak tadi coba hubungi Surti, tapi enggak diangkat sama dia. Aku takut Arsen kenapa-kenapa." Napas Tania tersengal seperti orang yang baru saja lari maraton.
Xander yang sedang rebahan di sofa segera beranjak dan duduk dengan posisi tegak. "Be calm, Tania. Jangan cemas dulu!" Pria itu mencoba menenangkan mantan istrinya.
"Bagaimana enggak cemas, sejak tadi aku kepikiran Arsen terus. Fokusku terganggu saat pikiranku tertuju pada anak kita." Tania menyampirkan sebagian rambutnya yang menutupi wajah dengan kasar.
"Tania Maharani, dengarkan aku. Aku saat ini bersama Arsenio. Tadi siang Surti menghubungiku dan mengatakan jika penyakit Arsenio kambuh lagi. Aku-"
"Apa? Jadi pencernaan Arsen bermasalah lagi! Bagaimana bisa?" sergah Tania, matanya yang indah terbelalak sempurna dan rahang pun terbuka lebar. "Aku sudah berkali-kali menasihati Surti untuk tidak membelikan es krim terlalu banyak. Maksimal dua cup sehari, tapi kenapa dia melanggar aturanku? Benar-benar mengecewakan!"
Di seberang sana Tania tak mampu lagi berdiri, tubuhnya yang sintal terduduk lemah begitu saja membuat Joana segera mendekat. "Nia, kamu kenapa? Hei, apa yang terjadi pada Arsenio?"
"Penyakit anakku kambuh, Na." Tania menjawab dengan suara lirih. Seketika pikirannya menjadi gelap, tak tahu harus berbuat apa.
Suara penuh kepanikan terdengar nyaring di telinga Xander. Ia segera melanjutkan ucapannya sebelum Tania semakin mencemaskan putera mereka.
"Aku sudah membawa Arsenio ke rumah sakit dan dia pun telah ditangani oleh dokter. Saat ini putera kita yang manis sedang tertidur nyenyak sambil memeluk boneka kesayangan." Xander melirik ke arah Arsenio dengan tatapan penuh cinta. Masih diselimuti perasaan bahagia karena dia berhasil mendapat pengakuan dari anak semata wayangnya.
Perlahan tubuh Tania yang menegang kembali rileks saat mendengar berita terkini tentang keadaan Arsenio. "Xander, please, tolong jaga Arsen sementara waktu. Aku ... aku enggak bisa tenang kalau dia cuma dijaga Surti seorang."
Terdengar kekehan ringan bersumber dari Xander. "Aku pasti menjaga putera kita dengan baik. Sudah, jangan banyak pikiran. Sebaiknya kamu fokus bekerja, semua urusan Arsen serahkan padaku."
__ADS_1
Hati Tania yang sempat gundah gulana kembali tenang. Ia yakin dan percaya jika Arsenio aman bersama mantan suaminya itu. "Oke, thanks, Xander. Kalau begitu aku tutup dulu teleponnya."
Lembutnya suara Tania saat memanggil nama Xander dan bagaimana percanya rekan kerjanya itu pada salah satu klien penting perusahaan, Joana semakin yakin jika kedua insan manusia itu mempunyai hubungan yang tidak biasa. Memikirkan hal itu, Joana merasakan jantungnya berdebar ketakutan dan tubuh bermandikan keringat dingin. Jangan sampai ia menyinggung Tania jika tidak mau berurusan dengan keluarga Vincent Pramono.
Tania menyodorkan telepon genggam milik Joana kepada pemiliknya. "Thank, Na." Tanpa memberi kesempatan pada Joana, wanita berwajah oriental berlari menghampiri Johan. "Pak, maaf. Seperti saya harus kembali ke Jakarta. Arsenio sedang sakit dan dia dirawat di rumah sakit sekarang. Jika Bapak berkenan, saya-"
"Kembalilah segera! Temani anakku sampai sembuh. Semua urusan di sini biarkan saya, Joana dan orang kepercayaan saya menyelesaikannya." Johan sudah lebih dulu menyela sebelum Tania menyelesaikan ucapannya.
Dalam dunia bisnis, Johan memang terkenal ambisius dan disiplin terhadap para pegawainya. Namun, bukan berarti dia tak mempunyai hati nurani, membiarkan anak buahnya terus bekerja tanpa memberinya cuti libur. Apalagi Tania sudah banyak memberi keuntungan besar bagi perusahaan, jadi saat wanita itu terkena musibah maka Johan memberi sedikit kelonggaran kepada salah satu arsitektur andalan perusahaan.
***
Derap langkah sepatu heels berirama dengan suara roda koper menggelinding memenuhi lorong rumah sakit. Tania segera mencari penerbangan tercepat agar bisa kembali ke Jakarta. Ia memutuskan pulang dan menemani Arsenio sampai anak tercinta keluar dari rumah sakit. Walaupun Xander mengatakan akan menjaga Arsenio dengan baik, tetap saja ia tak tenang jika tidak ikut andil merawat buah cinta mereka.
"Suster, ruang perawatan atas nama anak Arsenio di mana?" tanya Tania pada petugas yang berjaga di balik meja.
"Baik, terima kasih." Tania segera menarik koper miliknya dan masuk ke dalam lift.
Mengikuti petunjuk yang diberikan petugas resepsionis, Tania mengayunkan kakinya menuju salah satu ruang perawatan VVIP rumah sakit Persada International Hospital. Ia tak menyangka jika Xander akan memesankan kamar terbaik di rumah sakit itu untuk ditempati putera mereka selama dirawat di rumah sakit.
Tania mengetuk pintu dan Xander segera membukanya. Mata hazel nan jernih terbelalak saat menyadari jika Tania berada di hadapannya.
"Tania, bukannya kamu sedang di Kalimantan. Kenapa kamu kembali?" tanya Xander tidak percaya. Ia pikir Tania akan menyibukan diri, mengurusi pekerjaan dan menyerahkan tanggung jawab merawat Arsenio kepadanya.
"Aku segera memesan tiket pesawat tercepat untuk kembali ke Jakarta, Xander. Aku tak tenang bila harus meninggalkan Arsen sendirian." Kepalanya bergeser ke kiri, mengintip Arsenio dari celah sempit di depannya. "Apa aku boleh masuk? Aku ... ingin melihat anakku."
Xander meraih koper yang ada dalam genggaman tangan Tania dan berkata, "Masuklah! Arsen sejak tadi menanyakanmu dan aku mencoba menghubungimu, tapi tak aktif. Kupikir kamu sibuk jadi aku minta Arsen tidur lagi sambil nunggu waktu tepat untuk menghubungimu kembali."
__ADS_1
Tania terduduk di kursi sambil mentapa sendu pada anak tercinta. Walaupun Xander mengatakan kondisi Arsenio sudah membaik dari sebelumnya, tetap saja ia bersalah karena tidak becus menjaga buah hatinya itu.
Butiran bening meluncur cepat di wajah cantik mantan nyonya muda Vincent Pramono. Tangannya menyentuh jemari mungil dan mendekatkannya di pipi.
"Sayang, maafin Mama. Mama enggak seharusnya ninggalin kamu cuma berdua sama Mbak Surti. Seharusnya Mama menolak perintah Kakek Johan bukan malah menyetujuinya. Maafin Mama, Nak."
"Mama merasa enggak becus ngejaga kamu." Tania kembali terisak. Dadanya terasa sesak dan hatinya pun sakit seperti diremas tangan tak kasat mata.
Xander tidak tahan melihat sang mantan istri menangis tergugu di sebelah buah cinta mereka. Tangan kokoh itu menyentuh pundak Tania dan mengusapnya lembut.
"Jangan menyalahkan diri sendiri! Semua ini udah terjadi, jangan disesali lagi. Lagi pula, kondisi Arsen sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Dokter meminta Arsen untuk banyak istirahat sementara waktu ini."
Mata Tania sesekali terpejam saat merasakan permukaan kulit mereka bersentuhan. Setiap kali berada di dekat Xander, hatinya bergejolak dan debaran halus selalu muncul ke permukaan.
"Sekarang yang bisa kita lakukan merawat Arsenio agar sembuh seperti sedia kala," sambung Xander. Tangannya masih setia mengusap pundak Tania.
Tania mendongakan kepala menatap wajah rupawan mantan suaminya itu. Saat kedua netra saling bersitatap, mereka melempar senyum satu sama lain, menahan gejolak di dalam dada.
"Terima kasih, Xander. Kamu selalu ada di saat kami butuhkan," ucap Tania.
Jika sebelumnya tangan Xander mengusap pundak Tania, kali ini tangannya itu berpindah ke pipi mulus sang wanita. "Apa pun akan kulakukan demi kamu dan Arsenio, Tania. Bahkan kalau perlu, nyawa pun akan kuberi asalkan kalian bahagia."
Meleleh sudah perasaan Tania dibuatnya. Ia tak lagi dapat menahan diri untuk tidak melingkarkan tangan di tubuh kekar Xander. Ia dekap tubuh kekar itu dengan erat seakan takut kehilangan Xander untuk kesekian kali.
Dalam diam, keduanya saling menguatkan satu sama lain. Yah, Tania dan Xander harus kuat demi Arsenio, buah cinta mereka berdua.
***
__ADS_1