
"Eh ... Jeng Miranda udah sampai toh, kirain enggak bakalan datang." Salah satu teman geng sosialita Miranda yang bernama Endang baru saja tiba di restoran biasa tempat mereka kumpul bersama. Mengenakan kebaya warna coklat dipadu dengan jarit motif bunga warna senada, penampilan wanita paruh baya itu terlihat glamour. Perhiasan yang menempel di tubuh, jam tangan bertabur emas dan hand bag brand ternama membuat siapa saja yang melihat iri dibuatnya.
"Mustahil banget enggak datang. Lah wong mau makan enak masa iya enggak hadir apalagi tahu gratis pasti dilakonin mesti harus naik ojek online. Benar enggak, Ibu-Ibu?" ujar Tuti, mantan tetangga Miranda dulu sewaktu masih tinggal di Perumahan Citra Nirwana.
"Benar sekali! Hari gini, siapa sih yang enggak mau gratisan. Aku juga maulah kalau sering-sering digratisini Jeng Atikah." Dalam sekejap restoran tempat mereka kumpul menjadi ramai akibat celorohan Bu Dini. Semua teman geng sosialita Miranda yang beranggotakan delapan orang tertawa terbahak mendengar ucapan tersebut. Perut mereka terasa geli seakan ada sesuatu yang menggelitiki perut.
Sementara itu, Miranda hanya dapat memasang wajah cemberut merasa geram atas sikap teman-temannya. Ia meremas telapak tangan guna mengurai amarah dalam diri. Sialan, kenapa mereka malah mengolok-ngolokku sih! Emangnya mereka pikir nasib buruk yang menimpaku layak untuk ditertawakan? Cih, dasar teman Dajal! Ada orang kesusahan kok malah dicemooh.
Miranda tidak sadar jika dulu ia pun pernah melakukan hal serupa kepada bu Cokro yang suaminya tak lain adalah salah satu mantan rekan bisnis Jonathan mengalami kebangkrutan hingga menyebabkan semua aset kekayaan dijual demi melunasi hutang di bank. Hidup bergelimang harta, terbiasa hidup hedon membuat mereka lupa diri dan terbuat akan hal berbau duniawi.
Atikah datang mendekat dengan membawa buku menu diikuti seorang pelayan wanita berseragam hitam di belakangnya. "Sudah ... sudah, enggak perlu dibahas lagi." Wanita paruh baya itu mencoba bersikap sok bijak di hadapan semua orang agar mereka terkesan oleh kebaikannya. Padahal dalam hati punya rencana busuk untuk menjatuhkan mental Miranda. Aah ... benar-benar jahat.
"Aku mengundang kalian semua datang ke sini untuk memberitahu kalau sebentar lagi anakku yang bungsu anak menikah dengan putri dari pemilik tambang batu bara terbesar di Kalimantan. Resepsi pernikahan akan digelar dua minggu lagi. Nah, selagi masih ada waktu, aku ingin membagikan surat undangan pada kalian semua. Jangan lupa datang, ya!" Atikah mengeluarkan tujuh gulungan surat undangan warna putih dipadu warna kuning keemasan yang bagian tengahnya diikat tali rami dari dalam tote bag dan memberikan satu per satu kepada teman-temannya itu.
__ADS_1
Bola mata semua orang membulat sempurna saat melihat surat undangan tersebut. Bagaimana tidak, surat undangan itu terlihat mewah dan berkelas.
"Aduh, puteranya Jeng Atikah hebat banget bisa berjodoh dengan anak dari Juragan Batu Bara. Pasti nanti hidupnya bahagia karena enggak takut hartanya habis. Secara, Juragan Batu Bara, Bo, harta kekayaan enggak bakalan habis tujuh turunan." Bu Endang tampak begitu takjub saat melihat tiap baris kalimat di surat undangan tersebut seakan dicetak menggunakan tinta emas.
"Iya nih, hebat banget sih. Jeng Atikah ini hidupnya selalu beruntung. Mulai dari anak pertama sampai ketiga, ketemu jodoh orang berada terus. Jadi iri nih lama-lama." Bu Tuti ikut menimpali. Dibandingkan yang lain, kehidupan Atikah seolah tak pernah ada cela sedikit pun. Suaminya sangat mencintai Atikah, ketiga anak merupakan lulusan luar negeri dan berjodoh dengan keturunan kaya raya.
Atikah tersenyum bangga mendengar pujian yang dilontarkan teman-temannya itu. Inilah tujuan utamanya mengundang mereka, ingin menunjukan keberuntungan di hadapan semua orang. Kapan lagi bisa pamer kekayaan dan dipuji sedemikian rupa jika tidak sekarang. Walaupun akan banyak uang yang dikeluarkan karena mentraktir teman geng sosialita, tak mengapa asalkan tujuan utamanya terwujud, dia rela.
"Aah ... kalian bisa aja. Semua ini enggak ada apa-apanya kok jika dibandingkan dengan Jeng Miranda. Teman kita ini lahir dari keturunan ningrat, suaminya bule asli, tampan dan juga kaya raya. Seharusnya kalian iri kepada Jeng Miranda, bukan kepadaku. Aku mah apa atuh, cuma butiran debu aja yang kalau ditiup terbang dan entah singgah ke mana." Atikah sengaja merendah untuk mendapat simpati teman-temannya.
"Iya nih, benar. Jeng Atikah dan Jeng Miranda tuh bagaikan langit dan bumi, enggak bisa disamakan. Orang miskin macam dia selamanya bakal jadi pecundang!" sambung Bu Tuti sengaja menekankan setiap kalimat yang diucapkan olehnya.
Habis sudah kesabaran Miranda. Ia tak dapat lagi menahan kobaran api yang terus membara di sekujur tubuh.
__ADS_1
"Jaga ucapan kalian!" sembur Miranda sambil menggebrak meja. Apa kalian enggak punya topik pembahasan lain selain membicarakan kehidupan pribaduku, hem? Mentang-mentang aku jatuh miskin, kalian seenaknya saja menghinaku. Kalian pikir aku akan diam saja, iya? No ... no ... no. Aku bukanlah perempuan lemah yang akan diam saja saat dihina oleh kalian!" Jari telunjuk wanita itu terangkat ke udara kemudian ia menggoyangkan jarinya tersebut.
Atikah tersenyum mengejek dan mencibir, "Kok Jeng Miranda marah sih saat Bu Endang dan Bu Tuti mengemukakan pendapatnya. Bukankah semua itu sesuai realita, kalau putera semata wayang Jeng Miranda telah mencoreng nama baik keluarga dengan menikahi perempuan miskin dan kampungan macam mantan menantumu itu, si Tania. Kalau sesuai fakta, seharusnya Jeng Miranda diam aja, jangan malah marah kepada dua teman kita ini." Tangan wanita itu merangkul pundak Bu Tuti dan Bu Endang hampir bersamaan.
"Bahkan sepertinya putera Jeng Miranda kembali melempar kotoran lagi kepada keluarga Vincent Pramono," sambung Atikah yang mana perkataan itu membuat semua orang menatap penasaran pada wanita itu.
"Melempar kotoran bagaimana, Jeng Atikah?" tanya Bu Afi yang sedari hanya jadi penonton. Namun, untuk kali ini ia bergeming karena tingkat kekepoannya telah berada di ambang batas level tertinggi.
Atikah menyapu pandangan ke sekitar, menatap wajah ketujuh teman-teman geng sosialitanya dengan lekat kemudian pandangan matanya berhenti tepat di depan Miranda. "Maksudku melempar kotoran karena sepertinya Jeng Miranda akan bermenantukan Tania lagi untuk kedua kali. Kemarin lusa aku lihat mereka sedang mesra-mesraan di rumah sakit, suap-suapan ala anak ABG. Kalau seperti itu, bukankah petanda jika mereka akan rujuk kembali? Dan itu artinya ... Jeng Miranda bakalan punya menantu orang miskin lagi dong sama seperti dulu. Udah mah hidupnya susah, punya menantu miskin makin menderita dong hidupnya."
Tak bisa ditahan lagi, semua orang di meja tersebut menyemburkan tawanya. Kelima orang itu tertawa terbahak sedangkan Atikah hanya tersenyum smirk saat menyadari wajah Miranda memerah seakan sedang menahan amarah.
Dada Miranda kembang kempis, rahang menonjol ke luar disertai buku-buku putih terlihat jelas di kuku wanita itu. Berita ini mampu membuat bom waktu dalam diri Miranda meledak secara tiba-tiba.
__ADS_1
...***...