
Suasana tiba-tiba hening. Tidak ada suara apa pun di ruangan tersebut, hanya terdengar bunyi detak jam dinding terus berputar.
Tania terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Haruskah ia berkata jujur, mengatakan bahwa di antara mereka pernah terjalin hubungan spesial yang bahkan menghadirkan seorang anak laki-laki kecil tampan ke dunia ini? Ataukah mengelak demi menjaga nama baik bersama? Namun, jika ia menutup rapat fakta yang terjadi di masa lalu, bukankah itu sama saja seperti dirinya tidak menghargai Xander dan pernikahan yang terjadi di antara mereka.
Mengumpulkan keberanian di dalam dada, Tania memutuskan memberitahu Johan jika ia dan Xander pernah menjadi sepasang suami istri. Pasrah kalau setelah ini penilaian Johan kepadanya berubah.
Menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. "Pak, sebenarnya saya dan Tuan Xander pernah menjalin kasih saat masih sama-sama duduk di bangku kuliah dulu. Bahkan hubungan itu membawa kami ke jenjang lebih serius lagi. Namun, pernikahan kami tak bertahan lama. Saya dan Tuan Xander berpisah saat rumah tangga kami baru seumur jagung."
Johan hanya tersenyum samar, sudah sedari dulu curiga jika di antara Tania dan Xander pasti mempunyai hubungan spesial. Namun, ia tak mau berpikiran terlalu jauh sebelum mendengar sendiri pengakuan dari Tania tentang hubungannya dengan salah satu klien penting perusahaannya.
"Apa Tuan Xander adalah ayah kandung dari Arsen, puteramu?" tanya Johan menanggapi perkataan Tania.
Dengan kepala menunduk dan kedua genggaman tangan saling mencengkram satu sama lain, Tania berkata, "Benar, Pak. Tuan Xander adalah ayah kandung Arsenio. Akan tetapi, dia tidak tahu jika saat kami berpisah, di dalam perut saya sudah ada Arsenio. Saya pergi tanpa memberitahu Tuan Xander ataupun Tuan dan Nyonya Jonathan."
Menarik napas panjang. Kini terjawab sudah teka teki yang bersarang di kepala Johan. Sedari dulu bertanya-tanya kenapa Tania tampak gugup saat pertama kali bertemu Xander. Lalu, kenapa sikap Xander berubah seketika saat mengetahui jika arsitektur yang akan bertugas mendesain dan mengawasi pembangunan mall adalah Tania Maharani.
"Lantas, apakah saat ini Tuan Xander dan Tuan Jonathan sudah tahu jika Arsenio merupakan keturunan mereka?" Lagi dan lagi Johan mengajukan pertanyaan yang terlintas di benaknya. Jujur, ia belum puas dengan jawaban Tania.
"Sudah, Pak. Arsenio pun sudah tahu jika Tuan Xander adalah papa kandungnya. Bahkan dia mengetahui fakta itu sebelum saya memberitahunya. Entah mendengar dari mana, tapi yang pasti saat itu Arsenio begitu marah dan dia meretas sistem pertahanan perusahaan dan mengirimkan virus buatannya demi melampiaskan kekesalannya."
__ADS_1
Johan membulatkan matanya dengan sempurna. Cukup terkejut akan perkataan yang disampaikan Tania. "Apa? J-jadi ... puteramu yang imut dan menggemaskan itu seorang hacker, begitu?" tanyanya tidak percaya. Johan pikir Arsenio adalah anak kecil biasa sama seperti anak-anak di luaran sana. Namun, rupanya dia mempunyai keistimewaan dibandingkan anak seusianya.
"Benar, Pak. Saya pun baru tahu jika ternyata Arsenio-lah dalang di balik keonaran yang terjadi beberapa waktu lalu di perusahaan V Pramono. Kurangnya perhatian membuat saya lengah hingga akhirnya tak mengetahui jika selama ini Arsenio tengah menyusun strategi untuk menghancurkan perusahaan yang dipimpin oleh papanya sendiri."
Suara Johan tercekat di kerongkongan. Ia tak dapat berkata-kata, semua yang diucapkan Tania membuat pria paruh baya itu tercengang setengah mati.
"Maafkan saya, Pak, jika selama ini Bapak merasa telah dibohongi. Namun, demi Tuhan, saya tidak bermaksud menyembunyikan apa pun dari Pak Johan. Saya hanya ingin bekerja dengan baik tanpa ada satu orang pun mengetahui jika dulu saya adalah mantan istri Tuan Xander. Saya tidak mau jika semua orang beranggapan bahwa saya mendapat kepercayaan dari Bapak karena dulunya saya adalah mantan istri Tuan Xander."
Senyum-senyum kecil menghiasi wajah Johan. Ia cukup terkesan akan prinsip hidup Tania. Tania rela menyembunyikan identitas demi menunjukan ke semua orang bahwa ia mendapat kepercayaan itu atas hasil kerja kerasnya sendiri, bukan atas bantuan dari Xander atau siapa pun itu.
"Kamu tenang saja, Tania, saya sama sekali tidak merasa telah dibohongi oleh kamu." Johan bangkit dari kursi lalu berjalan mendekati Tania yang sedang duduk dengan harap-harap cemas di seberang sana. "Saya merasa bangga sama kamu. Kamu tidak hanya pandai membuat klien terkesan akan desain buatanmu, tapi kamu punya prinsip hidup yang patut diacungi jempol. Pak Akmal memang tidak salah merekomendasikanmu untuk bekerja di sini. Kamu memang patut dijadikan role model oleh para aristektur di perusahaan ini."
Alis saling bertautan tatkala melihat nama mantan suaminya muncul di layar ponsel. Mau ngapain dia menghubungiku? batin Tania.
Tidak ingin dering ponsel itu terus berbunyi yang mana justru mengganggu konsentrasi semua orang, Tania segera menggeser tombol hijau.
"Halo. Ada apa menghubungiku?" tanya Tania tanpa basa basi. Yah, dia paling tidak suka apabila aktivitasnya diganggu oleh orang lain. Kecuali yang menghubunginya adalah Arsenio ataupun Surti, ia tidak mungkin memasang wajah masam seperti sekarang ini.
__ADS_1
Di seberang sana Xander menyunggingkan seulas senyuman manis di sudut bibirnya. Baru berpisah beberapa jam saja sudah membuat pria itu merindukan mantan istri yang masih ia cintai.
"Hari ini kamu sibuk tidak? Kebetulan aku ingin mengajakmu makan siang di luar. Ada hal penting yang mau kubicarakan secara empat mata. Jika tidak keberatan, aku akan datang ke perusahaan dan kita makan siang bareng di restoran tempat biasa kita pacaran dulu."
Tania mengedarkan pandangan ke kanan dan kiri, mengawasi adakah teman kerjanya tengah menguping percakapan antara dia dengan Xander. "Kenapa mesti ketemuan segala? Kenapa tidak lewat telepon saja?" keluh wanita itu.
Entahlah, Tania merasa risih saja jika ia dan Xander harus bertemu dan makan siang bersama di tempat yang banyak menyimpan kenangan indah saat mereka masih pacaran dulu.
Terdengar helaan napas kasar bersumber dari Xander. "Ini soal putera kita, Arsen. Aku tidak bisa membahas soal anak kita lewat sambungan telepon. Untuk itulah kenapa aku memintamu ketemuan siang ini. Jika memang kamu sedang sibuk, ya sudah tidak apa-apa lain kali saja kita membahasnya."
Kecewa. Itulah yang dirasakan Xander saat ini. Niat hati ingin melepas rindu, bertemu dengan perempuan yang amat dicintai, tapi rupanya Tania enggan bertatap muka jadi mau tidak mau dia harus mengalah demi kebaikan bersama. Kalaupun memang hari ini tidak dapat bertemu, bukankah masih ada hari esok?
Tania yang mendengar nada suara Xander terdengar lesu menjadi tidak tega. Entahlah kenapa sejak dulu ia selalu terlihat lemah di hadapan mantan suaminya itu.
Menarik napas dalam. Tania kembali menjawab, "Ya sudah, aku menerima ajakanmu. Namun aku tidak mau kamu menjemputku di sini. Kita ketemuan saja di Restoran Lovely pukul dua belas siang. Ingat, jangan jemput aku di kantor!" Wanita itu menekankan kalimat terakhir sebelum mengakhiri sambungan telepon.
Sudut bibir Xander tertarik ke atas membentuk lengkungan bagaikan busur panah. "Akhirnya aku bisa ketemuan lagi dengan Tania." Lantas, ia bergegas masuk ke kamar mandi guna membersihkan tubuhnya. Ia ingin tampil sempurna saat bertemu dengan mantan terindah.
...***...
__ADS_1