
"Aku apa, Xander? Bicara yang jelas dong, jangan membuatku penasaran," keluh Tania. Memicingkan mata tajam pada pria di hadapannya. "Apa jangan-jangan tawaran itu sudah tak berlaku lagi? Kamu sudah tak mau rujuk denganku, iya?"
Menggeleng kepala cepat. "Bukannya aku tidak mau rujuk denganmu, Nia. Hanya saya aku masih belum percaya jika kamu akhirnya bersedia membina kembali rumah tangga yang pernah kandas di tengah jalan. Aku merasa seperti mimpi saat ini," tutur Xander menjelaskan.
Xander melangkah maju ke depan hingga berjarak satu jengkal. Ia pandangi wajah cantik jelita itu dengan lekat. Memandangi wajah satu-satunya wanita yang berhasil memporakporandakan hidupnya selama beberapa tahun terakhir.
"Aku jatuh cinta kepadamu, Gwiyomi. Sejak dulu hingga sekarang, rasa itu tak pernah pudar sedikit pun. Meskipun aku sempat membencimu, tapi ternyata aku sama sekali tak mampu menghilangkan bayangan wajahmu di memori ingatanku. Kenangan kita bersama selalu hadir si setiap mimpiku. Di dunia ini hanya kamu yang kumau. Jadi, mana mungkin aku tak bersedia kembali padamu padahal aku sendiri yang mengajakmu rujuk."
Mengerucutkan bibirnya yang ranum. "Kupikir kamu tak sudi lagi hidup berdua denganku."
Terkekeh pelan seraya menarik pinggang ramping Tania, sementara jemari tangan kanan Xander menyentuh ujung dagu sang wanita. Matanya yang hazel menatap dalam pada paras cantik jelita yang entah kenapa sukar sekali menghilang dari memori ingatan walau sekian tahun terpisah.
"Jangan berpikiran sempit, aku tidak menyukainya. Di kemudian hari, jangan pernah meragukan lagi bagaimana perasaanku terhadapmu, mengerti?" Pertanyaan itu dijawab anggukan kepala Tania. "Bagus. Sekarang tugas kita memberitahu kedua orang tuaku dan membahas tentang rencana pernikahan. Kita mesti melakukan ijab kabul dan kali ini aku ingin mengadakan resepsi pernikahan secara meriah yang dihadiri oleh para karyawan perusahaan, rekan bisnis, klien dan kalau perlu disiarkan secara langsung oleh stasiun televisi."
Refleks tangan Tania mencubit perut Xander hingga pria itu merintih kesakitan. "Jangan berlebihan! Aku tidak suka jika pernikahan kita yang kedua kali digelar secara mewah. Apa kata orang jika mereka tahu bahwa aku pernah selingkuh di belakangmu. Walaupun itu hanya fitnah, tetap saja nama baik keluargamu dipertaruhkan."
"Kamu tenang saja. Sebelum pernikahan digelar, aku dan Mama akan meluruskan semua kejadian yang pernah menimpa kita dulu. Aku yakin setelah itu namamu bersih kembali seperti sedia kala. Kalaupun memang mereka masih betah dengan pemikiran masing-masing, silakan. Aku tak peduli. Terpenting aku tahu betapa besar dan tulusnya cintamu kepadaku."
Sang wanita memberanikan diri menyentuh pipi Xander, mengusap bulu-bulu halus di sekitar rahang sama seperti saat mereka masih pacaran dulu. Waktu seakan berhenti berputar kala kedua netra saling menatap satu sama lain.
"Terserah apa katamu saja, aku akan menurutinya."
__ADS_1
***
Acara malam ini berjalan lancar. Semua orang duduk bersama sambil menikmati hidangan yang tersedia di atas meja. Suasana semakin ramai kala tuan muda Vincent Pramono berceloteh hingga membuat mereka tertawa dan tak jarang dari sebagian para pelayan merasa gemas akan sikap anak majikan mereka.
"Nyonya Miranda beruntung sekali punya cucu seperti Tuan Muda Arsen. Selain pintar, dia juga tampan dan sangat menggemaskan. Jadi ingin mencubit pipinya yang merah muda," bisik salah satu pelayan berusia dua puluh tujuh tahun.
"Kamu benar. Tapi sayang, kita tidak bisa sembarangan menyentuh Tuan Muda. Bisa dipecat kalau sampai itu terjadi," timpal yang lainnya. Tidak mau kena tegur Salamah, mereka kembali menikmati daging barbeque di piring masing-masing.
Setelah acara makan malam selesai, semua terlibat dalam pembicaraan hangat sementara para pelayan membawa peralatan makan kotor ke dapur dan segera mencucinya hingga bersih. Kehadiran Arsenio membuat Miranda dan Jonathan merasa bahagia karena di usia mereka yang telah senja dapat ditemani anak, mantan menantu dan cucu tersayang.
"Pa, Ma, aku akan memberi pengumuman kepada kalian berdua. Tadi, sebelum pesta makan-makan dimulai, aku dan Tania telah berbicara dari hati ke hati. Kami berdua sepakat untuk merajut kembali kisah cinta yang pernah kandas di tengah jalan. Kami ... ingin mengulang prosesi akad nikah dan kali ini aku berencana menggelar resepsi besar-besaran yang dihadiri banyak orang. Aku harap Papa, Mama dan putera kesayanganku merestui pernikahan kami," imbuh Xander dengan penuh pengharapan.
Mempunyai skor IQ 180 membuat bocah berusia enam tahun bisa mengetahui maksud perkataan sang papa. Jadi jangan heran apabila saat ini ia menunjukan kebahagiaannya dengan caranya sendiri.
Melompat tinggi kegirangan, Arsenio berseru hingga para pelayan yang kebetulan tengah membersihkan sisa kotoran bumbu barbeque segera menoleh ke sumber suara.
"Yeah, Papa dan Mama mau menikah. Sebentar lagi aku akan tinggal bersama Papa. Hore!" teriak Arsenio dengan suara lantang. Kedua jemari mungil itu terangkat ke udara. Ia tampak begitu bahagia mendengar berita bahagia kedua orang tuanya. Permintaannya akan segera terwujud dalam waktu dekat.
Melihat tubuh Arsenio nyaris membentur kursi roda Miranda, Tania berseru, "Hati-hati, Sayang! Kamu bisa melukai Nenek kalau melompat begitu!" tegurnya cemas.
Alih-alih menghentikan aksinya, Arsenio justru berhambur ke arah Jonathan dan Miranda. "Kakek, Nenek, sebentar lagi Arsen akan tinggal bersama Papa seperti teman yang lain. Arsen senang sekali. Kakek dan Nenek juga, 'kan?" Bola mata indah itu mengerjap beberapa kali. Sorot mata teduh memancarkan betapa bahagiannya dia malam ini.
__ADS_1
Tangan kekar membawa tubuh Arsenio ke pangkuan. "Tentu saja, Boy! Kakek dan Nenek sangat bahagia. Benar, 'kan, Ma?"
Mengangguk pelan sambil mengusap kedua pipi putih dengan rona merah mud di sana. "Benar sekali. Inilah waktu yang sangat nenek nantikan," sahut Miranda membenarkan ucapan sang suami.
"Papa dan Mama setuju kalau kalian memang sudah mantap menikah lagi. Besok papa akan meminta asisten papa menyiapkan segala keperluan. Jadi, kalian berdua tidak perlu repot mengurus ini dan itu karena akan ditangani oleh tenaga profesional," kata Jonathan.
"Kalian hanya perlu mengumpulkan tenaga untuk memberi kami cucu kedua. Benar begitu, Pa?"
Dengan antusias Jonathan menjawab, "That's right! Berikan kami cucu lucu dan menggemaskan seperti Arsenio."
Tania tersimpu malu. Wajahnya merah merona bagaikan buah tomat segar. Sementara Xander hanya mengusap tengkuk karena merasa canggung membahas hal intim di depan kedua orang tuanya.
Ketika para majikan sibuk berbincang hangat sambil sesekali tertawa, asisten pribadi Xander berjalan dengan tergesa-gesa. Saat telah berada di gazebo, pria itu membisikan sesuatu di telinga Jonathan. Tak lama kemudian sudut bibir pria berdarah Amerika tersenyum smirk.
"Kerjakan sesuai rencana. Pastikan kali ini dia menyesal karena berani membangunkan singa jantan yang sejak dulu tertidur." Lalu Jonathan menatap cucu kesayangan. Seakan mengerti makna tatapan itu, si bocah genius mengangguk mantap.
Dengan lirih asisten Xander menjawab, "Sesuai permintaan Anda." Kemudian dia pamit undur diri dari hadapan semua orang.
Tiga pasang mata orang dewasa menatap penuh tanda tanya pada Jonathan. Akan tetapi, mereka tak berani bertanya ada hal apa yang membuat Ibrahim menyela percakapan mereka. Terlalu takut melihat sorot mata tajam terpancar dari manik biru terang di depan sana hingga lidah mereka terasa kelu.
...***...
__ADS_1