
"Mau makan siang di mana, Nia?" tanya Khansa. "Aku dan teman-teman lain mau makan di kantin nih. Budhe Sri semalam ngasih kabar ke aku, katanya menu hari ini nasi gudeg plus ayam kampung. Nah, kebetulan teman-teman yang lain sedang ingin makan gudeg jadi kita memutuskan untuk makan di warung Budhe Sri."
Tania yang saat itu sedang menatap layar monitor segera menoleh ke samping kanan. "Boleh deh. Kebetulan aku pun lagi kangen makan gudeg," sahutnya. "Kamu duluan aja, nanti aku nyusul. Tanggung nih, sebentar lagi selesai."
Ibu jari dan jari telunjuk Khansa terangkat ke udara, membentuk huruf O. "Oke! Nanti aku pesankan menu seperti biasa. Bagaimana?"
Tania tersenyum lebar mendengarnya. "Thank you, Sa." Wanita cantik berwajah oriental amat merasa beruntung sebab lingkungan tempatnya bekerja saling mendukung satu sama lain. Walaupun bersaing untuk bisa menjadi yang terbaik di antara yang lain, tapi mereka bersaing secara sehat tanpa menggunakan cara licik untuk menjatuhkan lawan.
Lima menit kemudian, Tania mematikan layar monitor kemudian memasukan dompet serta telepon genggam miliknya ke dalam saku celana. Sementara hand bag miliknya ia taruh ke dalam laci meja kerjanya.
Saat ini Tania sedang berdiri di depan lift, menunggu benda terbuat dari besi itu mencapai lantai tempatnya berada saat ini. Sambil menunggu, ia mengirimkan pesan singkat pada Surti.
[Mbak Surti, kalau udah sampai apartemen dan Arsenio minta makan, tolong hangatkan sayur sop yang aku taruh di dalam lemari es. Lalu buatkan bakwan jagung. Semua bahan udah aku siapkan tinggal kamu goreng aja.]
Walaupun Tania sibuk, ia tetap menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu meski dirinya tidak berada di sisi Arsenio selama 24 jam, tapi akan mencoba menjadi ibu terbaik bagi anak tercinta.
[Baik, Bu Tania. Aku masih di sekolah menunggu bus jemputan. Mungkin sebentar lagi datang.]
Tak berselang lama, lift itu berhenti tepat di depan Tania. Lantas, jemari tangan wanita itu menekan tombol lantagi ground yang akan membawanya menuju lantia dasar.
"Tania, bisakah kita bicara secara empat mata?" Suara barito seseorang menjadi sambutan pertama bagi Tania tatkala ibu kandung Arsenio baru saja keluar dari gedung pencakar langit.
__ADS_1
Sontak perkataan seseorang itu membuat langkah kaki Tania terhenti seketika. Walaupun posisinya saat ini membelakangi orang itu, tapi ia bisa menebak siapakah orang di belakangnya.
Ya Tuhan. Sedang apa dia di sini? Kenapa wajahnya tampak begitu serius? Apakah dia sudah tahu kalau Arsenio adalah anaknya? Apakah kedatangannya ke sini karena untuk menanyakan kebenaran itu? tanya Tania dalam hati.
Dalam sekejap wajahnya yang ceria berubah muram bagaikan awan hitam yang menyelimuti sinar mentari di atas langit. Degup jantung Tania mempompa lebih cepat disusul keringat dingin yang mulai muncul di kening wanita itu.
Berjuta pertanyaan menari indah di benak Tania hingga membuat kepala wanita itu terasa pening. Sementara Xander hanya memperhatikan sosok perempuan cantik di depannya dengan harap-harap cemas.
Menghirup oksigen sebanyak-banyaknya guna memenuhi paru-paru yang seakan kehabisan pasokan oksigen. Memejamkan mata mencoba mengendalikan diri agar tidak terlihat gugup di hadapan sang mantan suami.
"Maaf, kalau boleh tahu ada keperluan apa Tuan Xander repot-repot datang ke perusahaan ini? Apa Anda ingin membahas tentang urusan pekerjaan?" tanya Tania setelah wanita itu mampu menyamarkan debaran jantung yang berdetak lebih kencang. Bahkan saking kencangnya rasanya ingin meledak detik itu juga.
Saat tatapan mata mereka bertemu di udara, tampak jelas sorot keterkejutan dari sang wanita. Mulutnya membuka dan menutup tanpa suara. Suara Tania tercekat di tenggorokan seakan ada sebongkah kaktus besar mengganjal di sana.
Xander kembali berkata, "Bagaimana, Tania, bisakah kita bicara di suatu tempat?"
Tania memalingkan wajah ke sembarang arah, tak sanggup terlalu lama menatap manik indah milik mantan terindah. Berdehem terlebih dulu mencoba mengumpulkan keberanian di dalam dada.
"Maaf, tapi saya sangat sibuk. Sebaiknya Tuan Xander pergi dari sini sebab di antara kita tidak ada lagi yang perlu dibicarakan." Tania melengos begitu saja, meninggalkan Xander. Meskipun dalam hati bertanya-tanya, apakah gerangan yang ingin dibicarakan Xander hingga lelaki itu datang menemuinya di kantor.
Dengan gerakan cepat, Xander mencekal pergelangan Tania. "Kumohon, berikan sedikit waktu untukku mengatakan maksud dan tujuanku menemuimu, Tania. Please, just give me a moment," pintanya dengan sorot mata penuh permohonan.
__ADS_1
Tatkala tangan kekar dan berotot menyentuh permukaan kulit, menciptakan gelenyar aneh merambat ke seluruh tubuh. Lagi dan lagi jantung Tania memberikan reaksi yang tak terduga hingga membuat sang empunya kelabakan.
Tania memberikan tatapan tajam tatkala tangan Xander menyentuh lengannya. Xander yang menyadari bahwa mantan istrinya itu merasa tidak nyaman akan tindakannya barusan segera melepaskan cekalannya.
"Maafkan, aku, Tania. Aku enggak bermaksud macam-macam. Tadi cuma refleks aja, mencegah kamu untuk enggak pergi meninggalkan aku." Menggaruk kepala yang tidak terasa gatal.
Ketika Tania merasa debaran halus kembali menyapa, di saat bersamaan Xander pun merasakan hal yang sama. Jantungnya masih berdebar kala berada di dekat mantan istrinya itu. Akan tetapi, ia berusaha keras untuk bisa secepatnya mengendalikan diri agar rencananya kali ini tidak berakhir sia-sia.
"Tidak masalah," jawab Tania singkat. Wanita itu menjeda sejenak kalimatnya sembari menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. "Baiklah, kalau Tuan Xander memaksa maka tidak ada alasan bagi saya untuk menolak."
"Sebaiknya kita bicara di sana saja. Kebetulan tempat itu cocok bagi Anda penggemar kopi sejati." Jemari tangan Tania menunjuk salah satu tempat nongkrong asyik yang ada di kantor, tempatnya bekerja.
Sudut bibir Xander terangkat ke atas, membentuk senyuman tipis hingga nyaris tak terlihat oleh siapa pun. Hati lelaki itu berbunga-bunga bagaikan bunga sakura yang bermekaran di musim semi tatkala mendengar perkataan Tania. Enam tahun tak bertemu, mantan istrinya itu masih mengetahui kebiasaannya sejak dulu. Duduk santai, menyesap secangkir kopi cappuccino sambil menikmati senja merupakan kebiasaan yang tak pernah terlewatkan bagi pemilik mata hazel yang indah dan jernih.
"Oke! Enggak masalah. Kebetulan sekali aku sedang ingin meminum kopi kesukaanku. Hari ini aku akan mentraktirmu," kata Xander. "Ladies, first!" Tangan kanan lelaki itu mempersilakan Tania untuk lebih dulu melangkah di depan.
.
.
.
__ADS_1