Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Berbaikan


__ADS_3

"Saya menyesal, Tania. Benar-benar menyesal. Untuk itu, tolong maafkan saya agar hati ini jadi lebih lapang dan beban yang dipikul selama tujuh tahun terangkat semua."


Miranda menundukan kepala, mata tertutup rapat dan kedua tangan saling mencengkeram satu sama lain. Hari ini dia mengesampingkan egonya, mengorbankan harga diri dan menghilangkan kesombongannya di depan Tania, mantan menantu yang tak pernah dianggap.


Suasana tiba-tiba hening, tidak ada tanggapan apa pun dari perempuan muda yang duduk di seberang Miranda. Padahal Mirandan dan Jonathan menunggu reaksi Tania akan permintaan maaf yang baru saja diutarakan oleh ibu kandung Xander.


Ya Tuhan, kenapa Tania diam saja? Apa ini adalah petanda bahwa aku selamanya tidak akan mendapat maaf dari Tania dan puteraku, Xander? batin Miranda.


Tania yang masih membeku di tempat tak tahu harus menjawab apa sebab dia sendiri masih belum percaya bahwa orang seperti Miranda bersedia meminta maaf kepada orang lain. Semua kejadian ini begitu tiba-tiba membuat wanita itu tak bisa berpikir jernih.


Mengumpulkan keberanian dalam dada. Miranda sedikit demi sedikit membuka kelopak mata, kemudian mendongakan kepala secara perlahan hingga netranya beradu pandang dengan Tania. Akan tetapi, Tania masih bergeming di tempat.


Miranda memiringkan kepala ke sebelah dan berbisik, "Mas, kenapa Tania diam saja? Apa dia masih menyimpan dendam padaku karena dulu pernah memfitnahnya."


Jonathan menjawab dengan suara lirih, "Mungkin Tania masih syok karena tak menyangka kalau kamu mau meminta maaf padanya," jawabnya bijak.


Dengan memantapkan hati, Miranda kembali membuka suara. "Tania, saya tahu bahwa apa yang diperbuat di masa lalu rasanya sulit untuk dimaafkan. Namun, besar harapan saya kamu bisa memaafkan dan mengubur semua kenangan di masa lalu. Tante ingin memulai semuanya dari awal. Apa kamu bersedia memberi saya kesempatan kedua."

__ADS_1


Tania menghela napas panjang. Sudah cukup rasanya membiarkan Miranda berbicara dan kini saatnya dia memberi jawaban atas semua pertanyaan yang ditujukan kepadanya.


"Tante, aku hargai niat tulusmu meminta maaf padaku. Sungguh, aku tidak menduga jika Tante memintaku datang ke sini hanya untuk meminta maaf," ucap Tania membuka suara. Miranda dan Jonathan memberi atensi pada wanita muda di seberang mereka.


"Semua kejadian ini begitu mendadak hingga aku berpikir apakah saat ini sedang bermimpi atau tidak sebab Tante Miranda yang sekarang sangat jauh berbeda dari dulu. Tante Miranda yang sekarang begitu baik, lemah lembut dan tentunya tidak lagi sombong seperti dulu. Aku ... sampai dibuat tak percaya dengan apa yang kudengar barusan."


Tertawa kecil, Miranda kembali berkata, "Saya pun kalau jadi kamu pasti kaget dan berasa seperti sedang bermimpi karena secara tiba-tiba ada orang dari masa lalumu datang lalu meminta maaf padamu. Kamu pasti bertanya dalam hati, kesambet setan apa nih Tante Miranda kok mau minta maaf ke aku. Benar begitu?" tanyanya dengan mengulas senyuman manis di bibir.


Tania menganggukan kepala sambil tersenyum tertahan. Dalam pikiran wanita itu sempat terlintas pertanyaan seperti yang Miranda katakan. Akan tetapi, ia tak sampai hati menyampaikannya kepada mantan mertuanya itu.


"Tania?" Miranda memberanikan diri menyentuh tangan Tania yang ada di atas meja dan kembali berkata, "Permintaan maaf tante barusan benar-benar tulus, berasal dari lubuk sanubari yang terdalam. Kini tante baru sadar bahwa apa yang dilakukan di masa lalu telah menghancurkan nama baikmu di mata semua orang. Tante benar-benar menyesal, Tania."


Wajah yang sudah dipoles make upa serta lipstick merah menyala kini menjadi basah oleh air mata. Bila teringat kejadian itu, dada Miranda terasa sesak bagai dihimpit batu sangat besar. Hidupnya menjadi tidak tenang karena merasa tengah dikejar rasa bersalah.


"Tante menyesal, Tania. Sangat-sangat menyesal," berucap dengan lirih di sela isak tangis. Miranda tidak tahan lagi dan akhirnya air mata itu pun jatuh membasahi pipi.


Sebelah tangan Tania menangkup punggung tangan Miranda yang tengah menyentuh punggung tangannya. "Sudahlah, Tante tidak perlu meminta maaf padaku sebab aku sudah memaafkan semua kesalahanmu di masa lalu. Memang awalnya berat untuk melupakan kejadian di masa lalu, tapi terus mengingat kejadian itu hanya membuat dada terasa sesak dan yang ada malah kita sakit karena terus memikirkan sesuatu yang sudah berlalu."

__ADS_1


"Untuk itu, sebaiknya Tante pun lupakan semua kejadian yang menimpa kita di masa lalu. Kubur semua kenangan pahit itu dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi di kemudian hari. Dengan begitu, aku yakin hidup Tante akan jauh lebih tenang."


Makin deraslah air mata Miranda. Rasa penyesalan dalam diri wanita itu semakin menggunung. Wanita itu terus terisak sambil menyesali perbuatannya di masa lalu.


"Tania ... k-kamu ... benar-benar wanita baik. Saya menyesal sudah jahat sama kamu." Tubuh Miranda bergerak turun dan naik. Suara isak wanita itu pun masih terdengar nyaring di indera pendengaran Tania dan Jonathan.


Tania tersenyum lebar. Matanya pun ikut berkaca-kaca karena terharu. Tak pernah terpikir olehnya akan ada masa di mana dia dan Miranda berbaikan, duduk bersama di tempat yang sama saling berbincang layaknya dua orang yang dekat.


Semakin lama tangisan Miranda semakin kencang terdengar. Ia menangis tersedu-sedu sambil sesekali berucap dengan kata-kata yang sulit dimengerti.


Tanpa diduga oleh sepasang suami istri paruh baya, Tania bangkit dari kursi dan memeluk tubuh mantan mertuanya dengan erat. "Aku sudah memaafkan Tante. Sudah ya, jangan menangis lagi. Kasihan Om Jonathan, nanti ikutan bersedih."


Miranda terkekeh dalam tangis. Hangatnya pelukan Tania memberi kedamaian pada diri wanita paruh baya itu. Ia pun membalas pelukan Tania dengan erat seakan takut mantan menantunya itu menghilang dari hadapannya.


Di samping mereka, Jonathan berkaca-kaca menatap pemandangan yang mengharukan itu. Hatinya pun ikut merasa damai, akhirnya perselisihan selama bertahun-tahun lamanya bisa terselesaikan. Tinggal meminta Miranda menemui Abraham, kedua orang tuanya dan meminta maaf mereka serta tak lupa membersihkan nama Tania apa pun caranya.


Terima kasih Tuhan, karena Engkau sudah bukakan pintu hati istriku. Aku bahagia atas nikmat yang Kau berikan ini, ucap Jonathan dalam hati.

__ADS_1


...***...


__ADS_2