
"Xander, sedang apa kamu di sini?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Tania setelah beberapa saat terjadi keheningan di antara mereka.
Xander berdehem sebelum membalas pertanyaan mantan istrinya. Ia masih terpukul akan sikap yang ditunjukan Arsenio. "Maaf jika kehadiranku mengganggu kalian. Aku datang ke sini hanya ingin bertemu dengan Arsen dan meminta maaf padanya."
Masih menatap tajam pada sosok di hadapannya. Sorot mata Arsenio bagaikan seekor elang yang siap menerkam mangsanya detik itu juga. "Untuk apa minta maaf sama aku? Kalau mau, seharusnya minta maaflah sama Mama karena Om banyak melakukan kesalahan padanya, bukan malah sama aku."
Lagi dan lagi perkataan Arsenio terdengar begitu pedas bagaikan seblak level 10. Setiap perkataan yang terucap terasa begitu menyakitkan. Hati ayah mana yang tak kan hancur ketika di depan mata melihat sendiri bagaimana sikap sang putera seakan menunjukan ekspresi ketidaksukaan kepadanya. Mungkin inilah hukuman karena ia pernah mengatakan kalau Arsenio adalah anak yang terlahir dari hubungan terlarang.
Mata Xander terbuka setelah beberapa saat terpejam menikmati setiap tusukan pisau yang dilesakkan ke jantungnya. Memandang nanar dan penuh makna pada Tania. Dalam hati berkata, 'Apakah ini balasan setimpal bagiku karena pernah menyangsikan kesucianmu saat kita menikah dulu?'
Menimbulkan rasa bersalah dalam diri Tania sebab usai pertemuannya dengan Xander, ia belum memberitahu bahwa apa yang terjadi antara mereka hanya salah paham saja.
Tania meletakkan kedua lutut di lantai. Tangan kanannya terulur ke depan, mengusap perlahan helaian rambut hitam legam anaknya. "Sayang, enggak boleh bersikap begitu kepada orang yang lebih tua. Om Xander udah capek-capek datang ke sini untuk menemui kita, tapi malah enggak disambut dengan ramah."
"Untuk apa ramah sama orang jahat? Orang seperti Om Xander dan Tante Lidya enggak perlu dihormati. Mereka aja enggak pernah menghargai orang lain jadi untuk apa kita menghargai mereka," skak Arsenio, membuat hati Xander terasa diremas oleh tangan tak kasat mata.
"Tapi Om Xander udah minta maaf sama Mama. Jadi kamu harus mau memaafkannya juga, ya?" Tania masih mencoba meluluhkan kerasnya hati Arsenio dengan berkata lembut sambil mengusap puncak kepala anaknya.
Dahi Arsenio berkerut mendengar ucapan Tania. Meminta maaf? Kapan pria berengsek yang sialnya adalah papa kandungnya sendiri meminta maaf pada sang mama? Kenapa mamanya tidak memberitahu?
Seolah mengerti apa yang ada di kepala Arsenio, Tania berkata, "Lebih baik kita masuk, nanti Mama akan menceritakan semuanya ke kamu." Tania mengusap pipi Arsenio.
Bibir Arsenio ditekuk ke depan kala mendengar jawaban sang mama. "Okey, fine! Tapi jangan lama-lama! Aku enggak mau telat sampai sekolah karena Om jahat datang ke sini." Usai mengatakan itu ia menghentakkan kakinya ke atas lantai sebagai luapan kekesalannya, kemudian berjalan cepat masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
Tania menggelengkan kepala sambil menatap tubuh mungil itu menghilang dari pandangan. Lantas, ia kembali memandangi sosok mantan suaminya yang masih setia berdiri di depan pintu.
"Masuklah! Aku akan buatkan kopi untukmu sambil menunggz aku memberi sedikit pengertian pada Arsen. Kemarin aku enggak sempat berbicara sama Arsen karena terlalu sibuk mengurus pekerjaan."
Tania menggeser tubuhnya demi mempersilakan Xander untuk masuk ke apartemen. Walaupun rasa sakit itu masih ada, tapi ia tidak bisa membiarkan tamu yang datang berkunjung terus berdiri dalam jangka waktu terlalu lama.
Xander berjalan mengikuti Tania, menyusuri unit apartemen sederhana mantan istrinya. Unit apartemen itu memang tidak terlalu luas hanya berukuran kurang lebih 30 m2, tapi tertata rapih dan tentunya sangat nyaman. Tania memang pandai menata perabotan rumah tangga agar sedap dipandang.
Saat mereka tiba di ruang tamu, Tania tidak menemukan keberadaan anak kesayangannya itu. Rupanya Arsenio tengah duduk di tepian ranjang kamarnya. Ia dapat melihat jelas apa yang sedang dilakukan Arsenio dari celah pintu yang tidak tertutup rapat. Bibir bocah kecil itu masih ditekuk hingga nyaris sejajar dengan hidungnya yang mancung.
"Mbak Surti, tolong buatkan kopi untuk Tuan Xander. Suhu air panasnya jangan terlalu panas karena biasanya dia akan segera mencicipi rasanya setelah cangkir kopi sudah diletakkan di atas meja," pesan Tania pada Surti. Kebetulan saat itu Surti baru saja keluar dari kamar Arsenio sesaat setelah semua pekerjaannya beres.
Pandangan mata Surti langsung tertuju pada pria tampan yang ada di depan sana. Tanpa diberitahu pun dia sudah dapat menebak bahwa lelaki itu adalah mantan suami Tania.
Surti mengangguk. "Baik, Bu! Akan saya buatkan sesuai permintaan Ibu." Setelah undur diri dari hadapan Tania, ia berjalan menuju dapur.
Sementara itu, Arsenio masih duduk manis di ranjangnya yang empuk. Sebelah tangan kanannya memeluk boneka jerapah pemberian Ayra--teman sekolahnya sewaktu masih di Yogyakarta.
Bocah tampan penyuka es krim rasa cokelat mendongakan kepala ketika mendengar derit pintu terbuka disusul Tania yang masuk ke kamarnya. Wanita muda itu tersenyum lebar ke arahnya.
Tania berjongkok dengan kedua tangan meraih jari mungil anak tercinta. "Sayang, boleh Mama bicara sekarang?" tanyanya sebelum memulai percakapan. Berjaga-jaga siapa tahu Arsenio belum siap mendengar ceritanya.
"Cerita aja, aku akan mendengarnya," sahut Arsenio menatap Tania sambil cemberut.
__ADS_1
Terdengar helaan napas kasar bersumber dari Tania. Rasanya sulit memberi pengertian kepada Arsenio terlebih Xander telah menorehkan luka yang cukup dalam pada buah cinta mereka. Kendati demikian, ia akan berusaha untuk meluruskan kesalahpahaman antara mereka.
"Kemarin siang Om Xander menemui Mama di kantor. Awalnya Mama menolak saat dia meminta waktu untuk mengobrol berdua. Namun, karena ada hal penting yang ingin disampaikan akhirnya Mama setuju dan kami duduk bersama di café dekat perusahaan. Kesempatan itu Om Xander gunakan dengan sebaik-baiknya. Dia meminta maaf dan menyesali perbuatannya."
"Kejadian yang menimpa Mama dan Om Xander murni karena kesalahpahaman aja. Saat itu Om Xander enggak tahu kalau ternyata ada kamu di perut Mama karena Mama sengaja enggak memberitahunya. Mama punya alasan kenapa enggak ngasih tahu Om Xander ataupun Kakek Jo tentang kamu yang ada di perut Mama, tapi Mama enggak bisa ngasih tahu alasannya apa." Tania mengusap kedua pipi Arsenio yang merah merona seakan mengenakan blush on di pipi kanan dan kirinya. "Suatu saat nanti ketika kamu dewasa, kamu akan tahu permasalahan apa yang menyebabkan Mama berpisah dengan Papamu. Untuk saat ini, Mama enggak mau kamu terbebani oleh masalah orang dewasa. Biarlah kami simpan sendiri hingga kamu benar-benar cukup umur dan mengerti kenapa Mama dan Papamu bercerai."
"Lalu, apa Mama memaafkan Om jahat itu begitu aja setelah penderitaan yang kita alami selama ini?"
Mendaratkan bokongnya yang sintal, padat dan berisi di samping Arsenio. "Tentu aja! Mama enggak punya alasan untuk enggak memaafkan Om Xander. Om Xander udah mengakui kesalahannya dan meminta maaf sama Mama. Lagi pula, bukankah Tuhan aja selalu memaafkan kesalahan hamba-Nya? Lantas, kenapa Mama enggak mau memaafkan Om Xander padahal Mama hanya manusia biasa, makhluk ciptaan Tuhan."
Dengan susah payah Tania membawa tubuh Arsenio ke atas pangkuan, mendekap anak tercinta hingga tubuh mereka saling bersentuhan. "Mama tahu kamu masih marah sama Om Xander, tapi setidaknya belajarlah untuk memaafkan orang lain. Bagaimanapun, Om Xander itu adalah Papa kandungmu, orang yang harus dihormati selain Mama dan Kakek Jo."
"Tapi ... bagaimana kalau Om jahat menyakiti Mama lagi?" tanya Arsenio sembari mendekap boneka jerapah dengan sangat erat. Ada kekhawatiran dalam diri bocah kecil itu bila Xander kembali menyakiti Tania untuk kesekian kali.
Tania mengusap puncak kepala Arsenio dan mendaratkan ciuman penuh cinta. "Mama percaya sama Om Xander, kalau dia enggak bakal nyakitin Mama lagi. Kalaupun itu terjadi, Mama 'kan bisa langsung bilang ke kamu dan Mama yakin kamu pasti langsung memberi pelajaran padanya sama seperti dulu. Menggunakan kepintaranmu untuk meretas sistem keamanan perusahaan, membuat virus hingga nyaris membuat perusahaan V Pramono bangkrut." Wanita cantik berkulit putih bagaikan susu terkekeh pelan saat membayangkan bagaimana sibuknya seluruh tim IT perusahaan saat menghadapi serangan yang dilancarkan anak tercinta. Jauh di lubuk hati yang terdalam merasa bangga karena hacker Little B, terkenal akan virus I Hate You, Dad, adalah darah dagingnya sendiri. Sebagian darahnya mengalir di tubuh bocah genius itu.
Kepalan tangan terangkat ke udara, kemudian memukulkannya pelan ke dada. "Arsen dilawan! Mereka berani macam-macam, virusku akan bertebaran di mana-mana." Arsenio terkekeh menatap mamanya dengan mata berbinar. Bangga dengan kemampuannya.
"Jadi, kesimpulannya ... kamu mau memaafkan Om Xander?" tanya Tania dengan harap-harap cemas.
Dengan cepat Arsenio menganggukan kepala. "Tentu! Tapi aku enggak akan mudah menerima Om jahat sebagai Papaku."
.
__ADS_1
.
.