
Selang dua bulan kemudian, hari yang dinantikan pun tiba. Hari di mana Xander dan Tania mengikat janji setia sehidup semati bukan hanya di depan penghulu, para tamu undangan, tetapi juga di hadapan Sang Maha Pencipta.
Tepat pukul delapan pagi, Xander ditemani Jonathan dan Miranda duduk berhadapan dengan pak penghulu yang bertugas menikahkan tuan muda Vincent dengan sang pujaan hati. Sementara Tania berada di ruangan terpisah ditemani Arsenio dan juga Surti. Wanita itu baru akan keluar ruangan setelah semua saksi menyuarakan kata 'sah'.
Menjabat tangan pak penghulu. Dengan suara lantang dan tegas Xander berucap, "Saya terima nikah dan kawinnya Tania Maharani binti Almarhum Bagaskara dengan mas kawin seperangkat alat shalat, cincin berlian serta satu rumah dua lantai di Jakarta Selatan dibayar tunai."
Suara berat itu menggema melalui pengeras suara, membuat semua orang yang hadir menyerukan kata 'sah' sebagai tanda bahwa mulai hari ini Alexander atau yang biasa dipanggil Xander dan Tania telah resmi menjadi pasangan suami istri. Pembacaan do'a bagi kedua mempelai pun diucapkan oleh sang penghulu yang di-aamiini semua orang.
Tetes air mata tanpa terasa meluncur begitu saja di sudut mata Tania saat Xander melafalkan janji suci pernikahan di hadapan semua orang. Wanita itu tak sanggup menyembunyikan perasaannya saat ini. Perasaan haru dan juga bahagia datang dalam waktu bersamaan.
"Bu Tania, selamat akhirnya Ibu dan Pak Xander bersatu lagi. Saya turut berbahagia atas pernikahan kedua kalian. Semoga langgeng sampai akhir hayat," ucap Surti tulus seraya memeluk tubuh majikannya itu.
"Terima kasih banyak, Surti." Lalu pelukan itu terurai ketika terdengar ketukan daun pintu di seberang sana. Rupanya seseorang di luar sana adalah Ibrahim yang diminta pembawa acara untuk meminta mempelai wanita keluar ruangan.
"Ayo, Ma, Arsen bantu Mama menemui Papa!" Bocah kecil berusia enam tahun mengulurkan tangan ke depan lalu disambut antusias oleh sang mama.
Ketua WO (wedding organizer) membuka pintu ruangan, tak lama setelah itu munculah Tania dengan menggenggam jemari tangan Arsenio. Sepasang ibu dan anak berjalan perlahan di atas karpet merah yang mengarahkan mereka pada sebuah kursi yang diduduki oleh Xander.
Ketika Tania melangkah secara perlahan menuju kursi yang diduduki Xander, jepretan kamera wartawan tertuju ke arahnya dan juga si kecil Arsenio yang hari ini terlihat sangat tampan dalam balutan setelan jas berwarna hitam. Bocah kecil itu terus mengulum senyum sambil sesekali melambaikan tangan ke arah kamera.
Saat keduanya tiba di atas panggung, Jonathan membantu menantu kesayangan duduk di sebelah sang putera. Lalu ia duduk kembali di sebelah istri tercinta dengan Arsenio di atas pangkuan.
__ADS_1
"Silakan dipasangkan cincin nikahnya di jemari manis mempelai wanita," ucap Pak Penghulu setelah Tania duduk di sebelah Xander.
Tanpa membuang waktu, Xander menuruti apa yang diperintahkan pria paruh baya dalam balutan setelan serba hitam. Sudah tidak sabar ingin memberi cincin mahar sebagai simbol bahwa Tania kini hanya miliknya seorang.
"Bu Tania dan Pak Xander, saya harap ini merupakan pernikahan terakhir kalian. Semoga pernikahan ini menjadi pernikahan sakinah mawaddah dan warahmah yang akan membawa kalian menuju surga-Nya." Sepasang pengantin serta tamu yang datang meng-aamiinkan doa yang diucapkan pria itu.
Tania mencium punggung tangan Xander dengan penuh cinta yang dibalas ciuman oleh mempelai pria di kening sang mempelai wanita. Jepretan kamera tersorot pada kedua pengantin baru yang baru saja mengucapkan janji suci pernikahan.
Arsenio mengangkat kedua tangan ke udara dan berseru, "Hore, Mama dan Papa menikah lagi! Sebentar lagi Arsen tinggal bersama Papa!"
Sontak semua tamu undangan yang hadir tertawa melihat tingkah laku cucu pertama Jonathan. Sikap si bocah genius begitu menggemaskan.
Miranda tak kuasa menahan air mata. Buliran kristal itu jatuh membasahi pipi. Ia menangis bukan karena bersedih melainkan menangis haru karena akhirnya dapat menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri putera semata wayangnya menikah dengan wanita baik berhati malaikat.
***
Resepsi pernikahan Tania dan Xander digelar sangat meriah, di sebuah ballroom hotel dengan mengusung konsep tema ala fairy tale. Pernikahan itu pun ditayangkan secara live di beberapa stasiun televisi sehingga masyarakat umum dapat menyaksikan penyatuan dua keluarga dalam sebuah ikatan pernikahan.
Ribuan bunga mawar putih mendominasi ruangan ballroom hotel. Dekorasi yang cantik dengan sulur sulur warna senada. Penambahan kereta kencana di tengah ruangan memberikan kesan nyata ala negeri dongeng.
Tania terlihat sangat cantik dengan gaun pengantin warna putih. Gaun berbahan sutera model cutting ball gown dengan bagian dada dibuat lebih tertutup serta penambahan butiran berlian menempel di gaun tersebut membuat gaun tersebut terkesan lebih mewah.
__ADS_1
Meskipun riasan make up flawless, tetapi tak dapat menyembunyikan kecantikan mempelai wanita. Kilauan perhiasan terbuat dari berlian membuat kecantikan Tania bertambah ratusan kali lipat hingga membuat semua mata memandang takjub tanpa dapat berkedip sedikit pun.
Duduk berduaan di pelaminan. Sepanjang acara berlangsung, Xander terus memandangi wajah wanita yang kini resmi menjadi istrinya.
"Hari ini kamu terlihat begitu cantik, Nia. Dalam balutan gaun pengantin berwarna putih, dirimu seperti putri dalam negeri dongeng. Aku bahkan sampai dibuat pangling olehmu."
Tania pura-pura memasang wajah cemberut. "Jadi aku terlihat cantik hanya hari ini saja? Kemarin dan kemarinnya lagi tidak?"
"Tidak. Maksudku hari ini dan kemarin kamu tetap terlihat cantik. Hanya saja untuk hari ini kecantikanmu bertambah seribu kali lipat."
Tania manggut-manggut. "Oh, kupikir hanya hari ini saja aku terlihat cantik. Rupanya kemarin dan kemarinnya lagi tetap cantik toh." Mengulum senyum di bibir, merasa puas sudah mengerjai sang suami.
Merasa dirinya dikerjai Tania, Xander melotot seraya mencubit ujung hidung istrinya dengan gemas. "Ternyata kamu mengerjaiku. Awas ya, nanti malam kuberi hukuman karena berani mengerjaiku!" ancam pria itu seraya mengerlingkan sebelah mata.
Bulu kudu merinding saat menyadari tanda bahaya berada di dekatnya. "Xander, a-aku hanya bercanda. Please, jangan beri hukuman apa pun kepadaku." Menangkup kedua tangan di depan dada. Matanya memelas memohon pengampunan.
Dengan sedikit ketus Xander menjawab, "Enak saja. Pokoknya aku tetap memberimu hukuman. Salah sendiri kenapa gemar sekali menggodaku, sekarang terimalah akibatnya karena telah membangunkan sisi lain dari seorang Alexander Vincent Pramono."
"Tapi, Xander, aku hanya bercanda. Jangan dimasukan dalam hati, dong!" Tania masih mencoba membujuk Xander agar tak menyerangnya nanti malam. Ia belum siap jika mereka bergumul di atas kasur dan selimut yang sama. Maklum, sudah tujuh tahun lamanya hidup menjanda membuat ia malu bila harus memperlihatkan anggota tubuhnya yang paling sensitif kepada seorang pria. Walaupun pria itu adalah Xander, tetap saja ia merasa malu.
Menatap tajam kepada Tania. "Bercanda ataupun tidak, pokoknya nanti malam aku akan meminta hakku sebagai suami."
__ADS_1
Xander mendekatkan bibir di telinga sang istri. "Memangnya kamu tidak mau mengenang kembali masa terindah dalam hidup kita, Nia? Masa di mana kita berdua tidur bersama, saling memeluk tubuh satu sama lain tanpa sehelai kain pun. Kalau aku sudah sangat merindukan momen itu jadi malam ini kita langsung tancap gas memberi adik untuk Arsenio. Bagaimana?" tanya Xander menaik turunkan kedua alis.
...***...