Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Hadiah untuk Arsenio


__ADS_3

Acara pentas seni yang diadakan taman kanak-kanak tempat Arsenio sekolah berjalan lancar tanpa ada hambatan apa pun. Seluruh murid begitu bersemangat saat menunjukan kehebatan mereka di hadapan semua orang. Pun begitu dengan Arsenio. Walaupun tidak disaksikan oleh sang mama, tapi tak bisa dipungkiri bahwa ia amat bahagia sebab ada Xander yang menemani.


Miss Niken tersenyum bangga karena seluruh murid kelas Matahari menjalankan tugas mereka dengan sangat baik. Ia tidak menduga jika mereka akan memberikan penampilan yang begitu memukau.


"Anak-anak, Miss Niken bangga sekali pada kalian. Kalian memang the best!" Kedua ibu jari Niken terangkat ke udara, memberi pujian kepada Arsenio, Alesha serta anak didiknya yang lain.


Mendapat pujian dari Niken, tentu saja para mudik itu bahagia. Mereka meloncat kegirangan sembari bertepuk tangan. Suara gelak tawa anak-anak terdengar menggema memenuhi ruangan yang berada di belakang panggung.


"Hore, aku pasti dibelikan mainan baru oleh Mama kalau penampilanku hebat!" celetuk salah satu teman Arsenio. Bocah kecil berbadan tambun tampak semringah saat mengatakan hal tersebut. Ia memang terkenal sering menyombongkan diri di hadapan semua orang. Kendati begitu, ia tidak pernah sekalipun mengejek ataupun menghina teman-temannya yang lain.


"Kalau aku mau diajak makan di restoran Jepang, mencicipi sushi yang super lezat," sahut yang lainnya.


Miss Niken hanya mengulum senyum melihat tingah mereka. Menurut wanita itu, biarlah mereka mengekspresikan kebahagiaannya dengan cara apa pun selama tidak merugikan orang lain.


"Ya sudah, sebaiknya kalian ganti kostum. Nanti Miss Niken, Miss Clara dan Miss Bella akan membantu kalian menukar pakaian dengan seragam sekolah. Oke?"


"Oke, Miss!" sahut mereka hampir bersamaan.


Sementara itu, Xander dan Surti tengah berdiri di depan pintu masuk aula sekolah. Suasana di sekitar tampak ramai sebab para murid dan orang tua murid satu per satu mulai meninggalkan ruangan yang dapat menampung 500 orang dalam satu waktu.


"Surti, saya ucapkan terima kasih berkat kamu, hari ini saya dapat menyaksikan betapa hebatnya Arsen saat berperan sebagai pangeran. Dia tampak begitu tampan dan menggemaskan." Wajah Xander yang terbiasa kaku bagai kanebo kering, sikapnya yang dingin bagai gunung es berubah menjadi sosok pria hangat setiap kali membicarakan Arsenio. Seulas senyum tipis terlukis di sudut bibirnya yang seksi.


Senyuman manis itu membuat hati siapa pun meleleh, bagaikan cokelat yang dipanaskan di atas kompor. Pun begitu dengan Surti. Wanita muda itu tersimpul malu melihat senyuman itu. Terlebih bibir seksi itu terus memuji dirinya membuat Surti terbang tinggi ke atas awan.

__ADS_1


Surti wanita normal, mempunyai ketertarikan terhadap lawan jenis. Akan tetapi, ia sama sekali tidak berniat menggunakan kesempatan dalam kesempitan untuk mendekati Xander. Ia hanya mengagumi mantan suami majikannya.


"Jangan sungkan, Tuan! Saya melakukan itu demi kebaikan Den Arsen. Saya hanya kasihan pada Den Arsen, jika di moment spesial begini tak ada satu orang pun datang menemani. Den Arsen pasti sedih melihat teman-temannya ditemani Papa dan Mamanya, sedangkan dia tidak. Padahal dia sudah latihan dengan susah payah demi menampilkan performa terbaik saat di atas panggung. Oleh karena itu, saya memutuskan menghubungi Tuan dan meminta Anda datang."


Xander tampak manggut-manggut mendengar penjelasan Surti. "Kamu benar, Tania memang sangat sibuk semenjak dia berhasil menangani proyek yang diberikan oleh perusahaan orang tua saya. Namun, saya tidak bisa melarang Tania untuk tetap bekerja sebab saya yakin, dia melakukan itu semua demi anak kami."


Keheningan tercipta beberapa saat. Kedua insan itu hampir bersamaan mengalihkan pandangan pada satu titik yaitu pada sebuah pintu kecil di depan sana. Mereka tengah menunggu pangeran tampan yang memerankan tokoh pangeran dalam drama Putri Salju. Namun, sekian lama menunggu, Arsenio belum juga menampakkan batang hidungnya.


"Oh ya, hampir saja saya lupa." Surti mengernyitkan alis tatkala melihat Xander merogok sakunya. "Surti, saya berniat memberi bonus padamu karena kamu telah membantu saya menjalankan misi merebut hati Arsenio. Sebutkan nomor rekening dan nominal uang yang kamu inginkan. Berapa pun, akan saya berikan."


"Hah? Tuan berniat memberi saya bonus?" Pertanyaan Surti dijawab anggukan kepala Xander. "Tidak perlu, Tuan. Saya melakukannya dengan ikhlas, tanpa berniat meminta imbalan apa pun. Sungguh." Jari telunjuk dan jari tengah Surti terangkat ke udara, membentuk huruf V.


"Saya tahu. Namun, apa yang kamu lakukan barusan telah membantu saya agar lebih dekat dengan Arsen dan itu sangat berarti dalam hidup saya, Surti. Oleh karena itu, please, terimalah niat baik saya ini." Xander memohon dengan wajah memelas, berharap pengasuh anaknya bersedia menerima niat baiknya tersebut.


Tampak Surti tengah berpikir keras, haruskan ia menerima niat baik Xander, atau justru menolaknya. Kalau boleh jujur sebenarnya saat ini ia membutuhkan uang banyak untuk membantu biaya pengobatan sang ibu di kampung, tapi apakah tidak masalah jika menerima niatan baik ayah dari anak yang diasuhnya?


Tak berselang lama, notifikasi m-banking dari ponsel Surti berbunyi menandakan ada dana masuk ke rekeningnya.


"Saya harap nominal itu cukup untuk nambahin uang sakumu, Surti. Sekali lagi, terima kasih banyak." Xander benar-benar tulus mengucapkan kalimat terakhir. Ia berhutang budi pada Surti karena membantunya agar dapat lebih dekat dengan Arsenio.



Saat ini Xander ada di dalam mobil, tapi kali ini ia tidak sendirian ada Arsenio dan Surti menemani pria itu. "Boy, kamu ingin pergi ke suatu tempat? Makan, beli mainan atau bermain di arena permainan misalnya?"

__ADS_1


Hingga detik ini Xander masih memanggil dirinya dengan sebutan 'om'. Bukannya tidak ingin membiasakan diri memanggil papa di saat tengah berduaan hanya saja Xander tidak ingin memaksa anak tercinta di saat bocah kecil itu belum bisa menerima dia sepenuh hati. Ia yakin suatu hari nanti akan ada masa di mana Arsenio memanggilnya dengan sebutan ... papa.


Arsenio tampak berpikir, dengan mulutnya yang sibuk menyendokan es krim ke dalam mulut. "Aku ingin pergi ke arena bermain aja, Om, boleh?" tanya bocah kecil itu dengan ragu-ragu.


Xander tersenyum samar lalu tangan sebelah kirinya mengusap puncak kepala Arsenio. "Tentu aja, boleh. Hari ini kamu bebas menentukan sendiri mau pergi ke mana, Om akan mengantarmu. Om juga yang kelak bertanggung jawab jika seandainya Mamamu marah karena kamu pulang telat."


Arsenio segera menurunkan tangan Xander yang mendarat di kepalanya. "Rambut aku jadi berantakan, Om, kalau terus diacak-acak begitu."


Terkekeh pelan. Xander mendaratkan kecupan di puncak kepala Arsenio. Kali ini Arsenio membiarkan papanya melakukan apa pun yang diinginkan. Ya hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih karena pria itu telah bersedia meluangkan waktu untuk datang ke acara sekolah.


Xander melajukan kendaraan roda empat miliknya menuju salah satu mall terbesar di kawasan ibu kota. Tangannya yang kekar menggenggam erat jemari mungil putera tercinta. Jika diperhatikan dari jauh mereka tampak seperti ayah dan anak yang saling menyayangi satu sama lain.


Arena bermain anak yang ada di lantai tertinggi di bangunan itu tampak sepi, hanya beberapa pengunjung saja di dalam sana. Xander mengedarkan pandangan sebelum ia membeli tiket masuk.


Xander meletakkan lututnya di atas lantai, kemudian menyentuh pundak sang anak dengan kedua tangan. "Boy, kamu tunggu di sini bersama Mbak Surti. Om pesankan tiket masuknya dulu. Jangan ke mana-mana sebelum Om kembali, mengerti?" Arsenio mengangguk patuh.


Xander berjalan dengan langkah panjang menuju stand penjualan karcis. "Mas, anak saya baru saja memerankan tokoh pangeran dalam drama Putri Salju. Aktingnya sangat bagus dan begitu menjiwai. Untuk itu saya berniat menyewa arena bermain ini sebagai hadiah karena dia sudah berusaha keras menampilkan hiburan yang menarik bagi saya dan para tamu undangan lain. Apa saya bisa menyewa arena ini selama lima jam ke depan?"


Sontak pria yang berjaga di arena bermain terbelalak sempurna mendengar permintaan Xander. Seumur hidup baru kali ini ada orang yang berani menyewa tempatnya usaha demi membahagiakan anak tercinta.


"Ehm ... tapi bagaimana jika seandainya ada orang yang ingin bermain di sini? Saya tidak tega jika harus mengusirnya, Tuan." Penjaga arena bermain itu mengutarakan isi hatinya kepada Xander.


Dengan ekspresi wajah datar dan sikapnya yang dingin, Xander menjawab, "Jangan diusir, biarkan saja mereka ikut bermain di sini! Ya hitung-hitung mereka menemani anak saya bermain agar suasana tidak sepi seperti di kuburan."

__ADS_1


Setelah terjadi kesepakatan di antara mereka, arena bermain itu resmi disewa Xander untuk anak tercinta. Tidak masalah jika ia mengeluarkan uang banyak untuk membahagiakan Arsenio. Bagi pria itu asalkan anak tercinta bahagia, dapat tersenyum lebar itu sudah cukup membuatnya ikut bahagia.


...***...


__ADS_2