
"Cleo, kamu yakin ini adalah unit apartemen milik Kakakmu, Abraham?" tanya Amanda ketika ia dan sang putri sedang berjalan menyusuri lorong apartemen.
Suasana sangat sepi sebab para penghuni apartemen cenderung individualis, tidak mau mengurusi urusan orang lain dan bersikap masa bodoh sehingga lebih memilih berada di unit apartemen masing-masing daripada bertetangga, bergosip maupun membicarakan keburukan orang lain.
"Yakin seratus persen, Ma. Lah wong aku mendapat alamat ini dari Kak Abraham sendiri. Dia memberikan alamatnya kepadaku sebelum aku melanjutkan study-ku di Amerika," sahut Cleo mantap. "Sudah, Mama tidak usah takut kita salah alamat, aku yakin banget kok ini tempat tinggal Kak Abra."
"Tapi itu lama sekali, Cle. Bagaimana jika seandainya Kakakmu sudah pindah dan tak sempat memberitahumu di mana dia tinggal sekarang? Percuma saja dong datang kalau orang yang hendak ditemui tidak ada di sini. Lebih baik kita pulang daripada membuang tenaga dan waktu untuk hal yang sia-sia." Perkataan Amanda mengandung sarat akan kecemasan dan keraguan membuat wanita itu tidak yakin dengan rencana yang sudah dipilihnya ini.
Mendengkus kesal mendengar jawaban sang mama. Sejak meninggalkan rumah sampai sekarang, terlihat sekali jika Amanda masih ragu dengan keputusannya untuk meminta maaf kepada Abraham, kakak tercinta.
"Ih, Mama, negative thinking mulu jadi orang. Aku 'kan tadi bilang kalau kita tidak mungkin salah alamat. Kalaupun memang Kak Abraham pindah, dia pasti memberitahuku. Buktinya saat kami berkomunikasi via WhatsApp, Kak Abra tak pernah sekalipun menyinggung tempat tinggalnya yang baru. Itu artinya, Kak Abra masih tinggal di sini, Ma."
"Tapi-"
Cleo menghentikan langkahnya kemudian membalikan badan dan menatap intens sepasang mata sang mama. "Mama sebetulnya mau bertemu Kak Abra atau tidak? Jawab dengan jujur!" desak gadis cantik yang baru saja menyelesaikan study S2-nya di Negeri Paman Sam. Sedikit geram akan sikap Amanda yang terkesan plin plan.
Amanda terkesiap mendengar pertanyaan Cleo. Namun, ia dengan cepat menguasai diri.
"Ehm ... s-sebetulnya, mama mau bertemu dengan Kakakmu. Hanya saja ... mama takut jika Kakakmu tak sudi memaafkanku. Kesalahan mama begitu besar sehingga rasanya sulit untuk dimaafkan." Telapak tangan Amanda saling meremas satu sama lain. Menggigit bibir bawah menahan diri untuk tidak meneteskan air mata.
__ADS_1
Timbul rasa penyesalan dalam diri Amanda karena telah mengusir darah dagingnya sendiri. Namun, untuk mempertahankan Abraham di tengah berita miring yang beredar rasanya sulit ada nama baik keluarga besar Pramono dipertahankan. Selain itu, ia pun malu dan tak mempunyai keberanian untuk mengangkat wajah di hadapan semua orang terlebih di depan keluarga kakak kandungnya, Miranda.
"Tau dari mana kalau Kak Abraham tidak akan memaafkan Mama? Memangnya Mama sudah coba menemui Kakak dan meminta maaf kepadanya?"
Amanda menggelengkan kepala cepat sebagai jawabannya. Melihat respon itu Cleo tersenyum lebar, dalam hati menertawakan ekspresi wajah mamanya yang terlihat seperti anak kecil.
"Nah, belum juga mencobanya, tapi Mama sudah pesimis duluan? Hu, payah! Mana nih Mama Amanda yang dikenal tegas dan pantang menyerah, kok sekarang berubah jadi Mama Amanda yang cemen setelah tinggal lama di Jepang." Sengaja menggoda sang mama agar suasana sedikit mencair.
Celetukan itu justru membuat Amanda melotot ke arah Cleo seolah bola mata ibu dua orang anak hendak terlepas dari tempatnya.
Merasa tanda bahaya berbunyi di sekitarnya, Cleo segera meralat kalimatnya. "Aku cuma bercanda, Ma, jangan dianggap serius. Ya sudah, yuk kita lanjutin perjalanannya sebentar lagi sampai di depan unit apartemen Kak Abraham."
Memasukan potongan buah tersebut ke dalam mulut, mengunyahnya hingga menjadi lum*t. Akan tetapi, gerakannya itu terhenti ketika melihat berita trending yang tengah hangat diperbincangkan.
"I-ini ... sejak kapan berita ini beredar di sosial media?" gumam Abraham sambil menatap lurus ke depan pada layar televisi berukuran 43 inch. Ukuran layar televisi itu cukup besar membuat pria itu dapat melihat dengan jelas raut penyesalan dari bola mata Miranda.
Tak jarang buliran kristal jatuh membasahi wajah. Abraham maupun siapa saja yang melihat acara pers conference tersebut dapat menilai bahwa Miranda benar-benar menyesali perbuatannya. Jika tidak mana mungkin dia mau merendahkan diri di depan semua orang.
Bagi Miranda, martabat dan nama baik keluarga jauh lebih penting dibandingkan yang lain. Jadi Abraham dapat menilai kalau Miranda telah berubah menjadi insan yang lebih baik lagi dari sebelumnya.
__ADS_1
Sesi permintaan maaf Miranda telah usai dan memasuki acara selanjutnya yaitu lamaran tuan muda Vincent Pramono. Abraham bergegas mematikan saluran televisi karena belum sanggup menghapus rasa cintanya kepada Tania.
"Kupikir setelah mereka bercerai aku mempunyai kesempatan untuk bisa bersama dengan Tania. Namun ternyata tidak, aku tetap sulit untuk menggapainya." Menarik napas panjang lalu mengembuskan secara perlahan. "Tampaknya Tuhan memang tak menakdirkanku untuk hidup bersamamu, Nia."
Raut kecewa memenuhi wajah Abraham. Sejak dulu ia tahu bahwa cintanya Tania hanya untuk Xander seorang, tetapi entah kenapa di hati kecilnya masih tersimpan harapan untuk bisa memiliki Tania seutuhnya. Namun, harapan itu pupus saat mengetahui kakak sepupunya melamar sang pujaan hati secara live.
Ketika Abraham sedang merenungi nasibnya yang dirasa tidak seberuntung Xander, terdengar bunyi bel pintu membuyarkan konsentrasinya. Asisten rumah tangga yang kebetulan sedang merapikan koleksi alas kaki sang majikan bergegas membuka pintu tersebut.
Sementara itu, Abraham menatap pada pintu penghubung di depan sana. Alis mengerut petanda bingung, berusaha keras berpikir siapakah orang yang datang bertamu di jam istirahat.
Bik Eha berjalan mendekati sang majikan. "Den, di depan ada tamu untuk Aden. Namun, saat saya menanyakan nama, mereka tidak menjawab. Mereka hanya mengatakan ingin bertemu Aden, penting!" tandasnya menirukan perkataan dua tamu misterius yang bertandang ke apartemen Abraham.
"Bik Eha nih ngaco seh. Sudah tahu tamu asing kenapa tidak dipaksa untuk mengatakan siapa tamu tersebut. Bagaimana jika seandainya mereka berniat jahat kepada kita?" Abraham memasang wajah kesal karena malas sekali apabila diminta menemui orang asing.
Menunduk kepala karena merasa telah melakukan kesalahan. "Maafin Bibik, Den."
Abraham melambaikan tangan ke hadapan bik Eha. "Ya sudah, Bibik boleh kembali bekerja. Saya akan menemui orang itu." Lalu ia berjalan mendekati daun pintu.
...***...
__ADS_1