
Pertemuan kali ini diakhiri dengan makan siang bersama di salah satu restoran bintang lima terkenal di kawasan Jakarta Selatan. Tania yang merupakan perwakilan perusahaan disambut hangat oleh Jonathan, CEO sekaligus pemilik perusahaan V Pramono Grup. Mantan mertua Tania, Laura serta tim yang terlibat dalam proyek pembangunan pusat perbelanjaan memperlakukan ibu kandung Arsenio dengan begitu baik bahkan Jonathan tampak sangat perhatian kepada mantan menantunya tersebut.
"Makanlah makanan bernutrisi agar tubuhmu tidak gampang sakit. Terlebih di musim pancaroba ini banyak sekali penyakit bermunculan akibat cuaca yang tidak menentu," tutur Jonathan kepada Tania. Pria itu tengah duduk berseberangan dengan Tania di sebuah ruangan VVIP.
Laura serta kelima karyawan yang tergabung dalam tim pelaksana proyek pembangunan pusat perbelanjaan tampak begitu terkejut melihat betapa perhatiannya Jonathan terhadap Tania meski wanita anggun dengan tatanan rambut cempol ala orang Korea baru beberapa kali bertemu, tapi sikap keduanya menunjukan seakan mereka telah lama kenal. Maklum saja, Laura maupun kelima karyawan itu mulai bergabung dengan perusahaan setelah Tania dan Xander dinyatakan resmi bercerai oleh pengadilan agama.
Tania merasa kikuk mendapat perhatian lebih dari kliennya. Ada rasa tak nyaman dalam diri wanita itu saat tanpa sengaja ia menangkap basah dua wanita yang tergabung dalam tim proyek menatap sinis ke arahnya.
Tenang Tania, kendalikan emosimu. Jangan mudah terpancing, kemudian melakukan suatu hal konyol yang malah merugikanmu dan juga perusahaan milik Pak Johan. Ingat, kamu berada di posisi saat ini atas kesempatan yang diberikan beliau. Jadi, jangan sampai mengecewakannya, batin Tania.
Tania mengulas senyuman samar. "Terima kasih atas perhatian Tuan Jonathan. Saya yakin para karyawan di perusahaan akan merasa betah dan nyaman karena mempunyai atasan yang begitu baik kepada karyawan."
Gelak tawa pria berdarah Amerika pecah memenuhi penjuru ruangan. Para karyawan perusahaan serta beberapa pelayan bahkan menoleh ke arah mantan mertua Tania. "Kamu terlalu memujiku, Nona Tania. Namun, saya merasa tersanjung atas pujian yang ditujukan kepada saya. Terima kasih, Nona Tania Maharani." Seulas senyuman terlukis di wajahnya yang tampan.
"Oh ya, Nona Tania, saya belum sempat banyak berbincang denganmu setelah lima tahun tak bertemu. Saat itu saya bahkan lupa menyapa dan menanyakan kabarmu," kata Jonathan. Pria itu mengiris daging steak menjadi beberapa potongan, kemudian menyuapkan ke dalam mulut.
"Tidak masalah, Tuan. Saya bisa memaklumi kenapa sampai Tuan Jonathan bersikap begitu kepadaku beberapa waktu lalu."
"Ehm ... ngomong-ngomong, tidak bisakah kamu menggunakan bahasa non formal bila kita berada di luar kantor? Saya merasa kaku bila harus berbincang menggunakan kata 'saya', Tuan, Nona dan Anda. Lidah saya terasa kelu saat hendak mengucapkan kata-kata itu," ujar Jonathan setengah berkelakar.
__ADS_1
Tania menyempatkan diri mencuri pandang ke arah mantan ayah mertuanya. Sikap Jonathan sejak dulu hingga sekarang tak pernah berubah, tetap baik dan ramah meski wanita itu pernah melukai hati perasaan Xander. Namun, tak ada sedikit pun kebencian dalam diri pria berambut keperakan itu.
"Maafkan saya, Tuan. Tapi--"
Belum selesai Jonathan berbicara, tangan lelaki itu telah lebih dulu berada di udara menginterupsi percakapan Tania. "Kamu boleh memanggil saya dengan sebutan 'Tuan', tapi saat kita hanya berduaan saja dan berada di luar kantor panggil saja Om Joe. Bagaimanapun, kita pernah mempunyai sebuah hubungan di masa lalu, Tania."
Tania tertunduk malu. Entahlah, ia tak tahu harus merespon apa perkataan Jonathan. "Ehm ... akan Tania coba, Om." Wanita itu melirih bagai desau angin di musim gugur.
Jonathan melirik ke arah lima orang karyawan yang terlibat dalam tim proyek pembangunan pusat perbelanjaan. Sedari tadi mereka secara diam-diam mencuri pandang serta menajamkan telinga untuk mendengar percakapan antara Jonathan dan Tania. Walaupun ia hanya mempunyai sepasang mata yang terpasang di depan, tetapi lelaki itu dapat mengetahui bahwa saat ini ia dan Tania menjadi pusat perhatian kelima orang tersebut.
"Laura, tolong kamu carikan mereka meja yang kosong sebab saya hanya ingin berbincang bersama Nona Tania secara empat mata," pinta Jonathan kepada Laura, sekretaris Xander yang kini menjadi sekretaris pribadinya selama sang putera diskorsing akibat kelalaiannya.
"Om seharusnya tidak usah mengusir mereka. Bagaimana jika kelima karyawan itu berpikiran negatif tentang kita berdua? Tania takut akan menimbulkan masalah dalam rumah tangga Om dan Tante Miranda," keluh Tania sesaat setelah Laura serta kelima karyawan perusahaan pergi meninggalkan mereka
"Mereka akan sangat lancang bila berpikiran begitu, Tania," balas Jonathan sambil meraih gelas air minum yang ada di atas meja. "Lagi pula jika itu terjadi Om tinggal bilang saja pada mereka bahwa kamu adalah mantan menantuku. Namun, akibat kebodohan anak semata wayangku kalian malah berpisah. Bahkan selama lima tahun ini kamu menghilang begitu saja bagai ditelan bumi."
Perkataan Jonathan membuat rasa sesal di wajah Tania kian bertambah. Perempuan itu semakin mengeratkan genggaman tangannya pada garpu dan pisau yang berada dalam tangannya. Merasa tersindir sebab selama ini ia memang memutuskan kontak dengan keluarga Vincent Pramono. Padahal ia telah berjanji akan memberikan kabar kepada Jonathan sebelum ia dan Xander bercerai.
"Maafkan Tania, Om. Namun, Tania terpaksa melakukan itu semua karena tidak ingin Xander semakin sakit hati bila Tania tetap memberi kabar kepada Om. Dari pada itu terjadi sebaiknya Tania menjauh dari kehidupan kalian semua."
__ADS_1
Jonathan meletakkan gelas kosong di sebelah piring. Ia menatap tajam pada iris coklat milik mantan menantunya itu. "Lalu, bagaimana dengan hatimu sendiri? Apa kamu tidak sakit saat berpisah dengan puteraku, Alexander?"
Detik itu juga mulut Tania bungkam seketika. Lidah wanita itu kelu tak mampu berkata apa-apa. Perkataan Jonathan bagaikan sebuah tamparan keras menghantam tubuhnya.
Alexander atau yang biasa dipanggil Xander merupakan lelaki pertama yang berhasil merebut hatinya. Xander pulalah lelaki satu-satunya yang memberikan cinta dan kasih sayang tulus tanpa memedulikan siapa, status sosial dan di mana kedua orang tua Tania saat ini. Karena itulah Tania jatuh cinta dan bersedia menjadi pendamping lelaki itu meski ia tahu akan banyak kerikil kecil menghadang ketika cinta mereka bersatu dalam sebuah payung bernama pernikahan.
"Tania, Om tahu bagaimana perasaanmu terhadap Xander, Nak. Kamu juga pasti sakit, 'kan karena harus berpisah dengan cara seperti itu?" ucap Jonathan dengan tatapan nanar. "Oleh karena itu, kamu sengaja menghilang dari kami. Benar begitu?"
Lagi dan lagi Tania bungkam. Kepala tertunduk semakin dalam. Bola mata mulai berkaca-kaca dan hidung pun terasa masam. Ia tak ingin menunjukan sikap lemahnya itu di hadapan mantan mertuanya.
Jonathan menghela napas kasar guna menyingkirkan beban berat yang dirasakan selama lima tahun ini. "Tania, anakku. Om tahu bagaimana sakit hatinya kamu saat Xander menghina dan menceraikanmu di hadapan semua orang. Namun, apakah kamu tidak ada keinginan untuk kembali merajut kisah yang pernah kalian ciptakan bersama?"
"Om akan merasa berterima kasih sekali kepadamu jika seandainya saja kamu bersedia bersatu kembali dengan Xander. Kamu dan dia membina kembali rumah tangga harmonis hingga maut memisahkan," sambung Jonathan dengan tatapan mata penuh pengharapan.
Kepala Tania menggeleng. "Maafkan Tania, Om. Namun, sepertinya impian itu tak bisa Tania wujudkan. Tania sudah merasa nyaman hidup seorang diri tanpa ada seseorang yang menemani. Lagi pula, Tania tidak bisa menjadi menantu idaman Tante Miranda karena Tania hanya orang miskin, anak yatim piatu yang sejak kecil tinggal di panti asuhan. Kedua orang tua Tania pun tidak tahu keberadaannya di mana saat ini. Jadi lebih baik Xander menikahi seseorang yang memang sederajat dengan status sosial kalian."
.
.
__ADS_1
.